Share

Bab 3

Penulis: Gilva Afnida
last update Tanggal publikasi: 2026-05-02 22:05:29

Zahwa merasakan dadanya sesak. Ia meremas flashdisk di tangannya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.

Valerie yang sejak tadi diam, menyesap minumannya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan anggun.

"Sudahlah, jangan bahas itu. Aku nggak keberatan, kok. Bagiku, berada di sisi Devan seperti sekarang sudah lebih dari cukup. Aku senang bisa mendukungnya, meski tanpa status resmi di atas kertas."

"Aku nggak butuh pengakuan publik kalau nyatanya Devan hanya milikku seorang."

"Dengar itu, Dev? Valerie itu malaikat," timpal Alex. "Beda jauh sama istrimu yang cuma tahu cara menghabiskan uang dan bikin malu keluarga."

Zahwa memejamkan mata erat-erat. Air matanya mendesak ingin keluar.

Ucapan di dalam memang benar membuatnya marah, namun dia tidak ingin menjadi pengecut. Ia akan menyerahkan flashdisk itu secara langsung sebelum pulang.

Zahwa mengusap pipinya, menegakkan bahu, lalu mengetuk pintu itu dengan keras.

Suara percakapan di dalam seketika senyap.

Zahwa mendorong pintu itu lebar-lebar, melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Permisi..."

Ketiga orang di dalam ruangan itu menoleh serentak.

Devan tampak terkejut, matanya membelalak melihat kehadiran istrinya secara tiba-tiba di sana.

Alex langsung memperbaiki posisi duduknya dengan wajah kikuk, sementara Valerie hanya melempar senyuman tipis.

"Zahwa? Sedang apa kamu di sini?" Devan mengerutkan keningnya.

Zahwa berjalan mendekat, lalu meletakkan flashdisk di atas meja kerja Devan.

"Kamu meninggalkan ini di bawah meja ruang tengah, Mas," ucap Zahwa lirih, matanya menatap tepat ke manik mata Devan. "Aku tahu ini sangat penting untuk proyekmu, jadi aku mengantarkannya."

Devan terdiam sejenak, tatapannya beralih dari flashdisk ke wajah Zahwa.

"Lain kali kirim pesan dulu dan jangan sembarangan datang ke kantor," ucap Devan nampak kikuk.

Zahwa merapatkan bibirnya.

Alex hanya berdeham, pura-pura sibuk dengan ponselnya, sementara Valerie sedikit memperbaiki posisi duduknya dengan tersenyum puas.

"Devan, jangan begitu sama istrimu. Seharusnya kamu berterima kasih karena dia sudah jauh-jauh mengantar flashdisk itu ke sini." Suara Valerie terdengar lembut dan halus.

Lalu ia beralih menatap Zahwa, "Zahwa, kamu jangan memedulikan sikap Devan yang jutek gitu ya. Biasanya Devan nggak begitu kok."

Zahwa mengepalkan tangannya di sisi baju. Baginya, ucapan Valerie seperti sebuah hinaan untuknya.

"Maaf. Aku cuman nggak ingin kamu kesusahan," bisik Zahwa pelan.

"Sekarang kamu bisa pergi," pungkas Devan, lalu membalikkan badan dan kembali sibuk dengan koper.

Zahwa segera berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.

Di belakangnya, ia masih bisa mendengar sayup-sayup suara tawa yang kembali pecah.

***

Malamnya, Zahwa mulai fokus mencari pekerjaan. Ia harus mencari uang untuk mengembalikan seratus juta pada Devan. Selain itu, ia juga akan mengembalikan beberapa uang yang sejak awal sudah diminta oleh Abinya pada Devan.

Meski jumlahnya tak terlalu besar, tapi Zahwa tetap merasa keberatan.

Untuk kedepannya, Abinya pasti akan meminta lagi uang padanya. Saat itu terjadi, Zahwa harus memiliki uang dan tidak akan mengandalkan Devan.

Sebagai lulusan Manajemen Bisnis, Zahwa tahu ia memiliki potensi.

Selama tiga bulan ini, ia seolah dicap sebagai istri tidak berguna yang disematkan keluarga dan suaminya sendiri.

"Aku nggak bisa terus seperti ini," bisiknya pada diri sendiri. "Uang yang diminta Abi harus segera aku kembalikan. Aku nggak mau berhutang satu rupiah pun pada Mas Devan."

Zahwa mulai memperbarui CV-nya. Zahwa memfokuskan pencariannya pada pekerjaan remote karena ia harus tetap ada di rumah.

Ia membuka berbagai situs lowongan kerja profesional. Satu per satu, profil dan lamarannya ia kirimkan.

Setelah mengirim lamaran terakhir, Zahwa menghembuskan napas panjang.

Kepalanya berdenyut karena terlalu lama menatap angka-angka dan kolom kualifikasi.

Untuk meregangkan pikirannya yang tegang, ia membuka ponsel dan mulai menggulir beranda media sosial.

Saat jemarinya menggulir lebih jauh, sebuah postingan dari akun yang direkomendasikan muncul di barisan teratas.

Foto itu menampilkan dua tangan yang sedang bertautan di atas meja makan dengan latar belakang lampu kota dari ketinggian.

Zahwa tertegun. Ia mengenali jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan pria itu.

Tanpa harus menebak, ia tahu persis siapa pemilik tangan itu.

Selama tiga bulan ini, Zahwalah yang selalu menyiapkan kebutuhan Devan. Mulai dari menyiapkan baju, sarapan hingga bersih-bersih rumah.

Jadi, tentu saja Zahwa tahu jam tangan edisi terbatas yang dibeli di Singapura itu adalah milik Devan.

Dengan jantung yang berdegup tidak keruan, ia mengetuk profil akun tersebut.

Nama Valerie_Renata muncul di layar. Foto yang baru saja diunggah sepuluh menit yang lalu itu adalah foto yang ia lihat tadi.

Zahwa membaca caption yang tertulis di bawahnya.

"Finally, quality time with my favorite person. Siapa yang peduli dengan selembar kertas kalau hatimu ada di tempat yang seharusnya? Jarak bukan berarti apa-apa ketika jiwa saling bertautan.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Semicolon
Ayo Zahwa, mulai hidup baru!
goodnovel comment avatar
Ting Ting
Valerie pede banget ...
goodnovel comment avatar
Tinta_Jojon
"jarak bukan berarti apa-apa ketika jiwa saling bertautan." mantappp kak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Tamat

    ​​Zahwa terperanjat pelan. Rona merah seketika merayap cepat memenuhi kedua pipinya hingga menjalar ke ujung telinga. Desir hangat dan perasaan membuncah menghantam dadanya, merasa dimanjakan oleh kecemburuan manis dari suaminya.​"Mas Devan... apaan sih, malu dilihat orang," bisik Zahwa seraya menepuk pelan dada Devan.​Devan terkekeh rendah. Ia mendaratkan satu kecupan singkat di kening Zahwa sebelum akhirnya merangkul bahu istrinya.​"Yuk... kita makan dulu, takutnya kamu nanti keburu pingsan karena belum makan apa-apa sejak tadi pagi.""Mas Devan... ih!"Devan terkekeh pelan, lalu mengajak Zahwa menuju ke meja prasmanan.***Empat tahun kemudian.Pagi itu berjalan seperti biasanya. Bedanya, Zahwa kini hidupnya terasa makin lengkap dan rumahnya terdengar makin semarak dengan adanya derap langkah kaki kecil yang kini meramaikan setiap sudut rumah.​Di ruang tengah, Zayyan yang kini sudah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia empat tahun tampak begitu aktif. Wajahnya makin tampan, m

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 325

    Pagi hari di kediaman, tepatnya di hari ketujuh Zayyan lahir, Devan dan Zahwa melaksanakan syukuran. Halaman rumah telah dihiasi dekorasi bernuansa pastel dan putih.​Seluruh keluarga besar dan tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ruangan. Irfan dan Debby menyambut para tamu dengan ramah, tak henti-hentinya menerima ucapan selamat atas kelahiran cucu pertama mereka.​Lia hadir bersama Lusi sedang di samping mereka, Hilda menggandeng tangan Zio yang begitu aktif dan menggemaskan. Zio tampak penasaran melihat boks bayi tempat Zayyan terbaring mengenakan pakaian berwarna putih.​"Bajunya lucu banget, Mbak Zahwa," puji Hilda lalu menunduk ke arah anaknya. "Zio, lihat nih Dik Zayyan... nanti kalau udah besar bisa main bareng Zio ya."​Tak lama kemudian, Kinara dan Alex datang. Mereka datang bersama Kania serta Alea yang membawakan kado besar untuk Zayyan.​"Selamat ya, Zahwa, Devan..." sapa Kania ramah seraya memeluk Zahwa. "Tante senang banget lihat kamu sudah sehat begini."​"Terima

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 324

    Setelah sesi menyusui pertama selesai, Zayyan yang sudah kenyang perlahan tertidur di dada Zahwa. Napasnya teratur dan tenang. Dengan kehati-hatian, perawat membantu memindahkan Zayyan kembali ke tempat tidur observasi sementara sebelum persiapan kepindahan sore nanti.Siang harinya, Devan akhirnya pamit untuk menuju ke kantor sebentar guna menyelesaikan urusan penandatanganan berkas yang sempat tertunda.​"Aku berangkat dulu ya, Sayang." Devan merengkuh tubuh Zahwa yang kini sudah bisa berdiri dan berjalan perlahan. "Nanti sore aku balik sebelum Zayyan dipindahkan ke kamar."​"Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan ngebut," pesan Zahwa seraya mencium tangan suaminya.Tepat pukul empat sore. ​Rombongan perawat masuk, mendorong sebuah boks bayi yang di dalamnya terbaring Zayyan Dewangga Sakti, terbungkus bedong kain biru langit.​"Selamat sore Bu Zahwa... Baby Zayyan sudah siap untuk rooming-in bersama Mama," tutur suster.Mbok Minah langsung menyambut dan menggendong Baby Zayyan. Setelah

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 323

    ​"Makasih, Hilda. Makasih udah diingatkan," tutur Zahwa, mencoba mengukir senyum kembali di wajahnya."Sama-sama, Mbak."​"Zahwa, kita jalan dulu ya, mau langsung mampir ke rumah sakit tempat Sherly dirawat untuk menyampaikan belasungkawa," ujar Tante Lia.​"Iya, Tante. Hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di sana," balas Zahwa.Mbok Minah pun mengantar keluarga Tante Lina sampai ke depan pintu.​Malam harinya, sekitar pukul delapan, Devan kembali datang, masih mengenakan kemeja kerjanya yang bagian lengannya sudah tergulung hingga siku. Wajahnya terlihat lelah, namun seketika kembali berbinar begitu melihat istrinya sedang duduk bersandar.​"Assalamu'alaikum..." ​"Wa'alaikumsalam..."​Devan segera membasuh wajah dan mencuci tangannya di kamar mandi. Begitu kembali ke sisi ranjang, ia langsung mengecup dahi Zahwa.​"Maaf ya, Sayang... aku agak malam baliknya. Tadi ada diskusi tambahan sama tim di kantor," tutur Devan parau. "Gimana kondisimu malam ini? Ada yang kerasa sakit gak?"

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 322

    Tante Lia terkekeh pelan melihat ekspresi terkejut Zahwa. Ia mendekati sisi ranjang, lalu mengusap bahu Lusi yang tersenyum malu-malu.​"Iya, Zahwa... Lusi sekarang lagi hamil tiga bulan," jawab Tante Lia. "Alhamdulillah, Lusi udah dikasih rezeki secepat ini. Tante minta doanya ya, Zahwa, supaya Lusi dan calon bayinya selalu sehat, diberi kelancaran sampai hari persalinan nanti."​Rasa terkejut Zahwa seketika berganti menjadi keharuan. ​"Masya Allah... selamat ya, Lusi! Tante Lia juga selamat! Aku ikut senang dengarnya. Aku doakan semoga Lusi sehat-sehat terus, nggak mual parah, dan debay di dalam kandungan tumbuh kuat serta lancar sampai lahiran nanti."​"Amin. Makasih banyak ya, Zahwa," sahut Lusi seraya memeluk Zahwa dengan hati-hati.​Setelah melepas pelukannya, Lusi mengambil sebuah bingkisan dari tas jinjing yang dibawanya. Ia menyerahkan bingkisan tersebut pada Mbok Minah.​"Ini ada sedikit bingkisan dariku sama Mama buat kamu dan baby Zayyan. Tadi sebelum ke sini, Tante Debby

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 321

    ​"Zayyan sekarang lagi dirawat di ruang NICU, Ra, Lex," jawab Devan, mengambil alih.​Mata Kinara membelalak, sementara Alex mengerutkan alisnya. "NICU? Kenapa, Dev?" ​"Waktu proses persalinan tadi pagi, asma Zahwa sempat kambuh sampai kadar oksigennya drop," terang Devan. "Kondisi itu berpengaruh ke pernapasan si Kecil pas masih di dalam kandungan. Begitu lahir, dokter anak harus langsung pasang bantuan pernapasan di NICU."​Kinara menutup mulutnya, matanya kembali berkaca-kaca menatap Zahwa. "Ya Allah, Wa..."​"Tapi kalian nggak usah khawatir," sela Zahwa, tersenyum tipis untuk menenangkan sahabatnya. "Zayyan anak yang kuat. Tadi aku sama Mas Devan baru aja dari NICU buat lihat dia. Dia udah bisa genggam telunjuk aku kencang banget, Ra.""Jadi... keponakanku namanya Zayyan?"​"Zayyan Dewangga Sakti," sahut Devan memperkenalkan nama putra pertamanya. "Itu nama yang disiapkan Zahwa buat jagoan kami."​"Zayyan Dewangga Sakti..." bisik Kinara mengulang nama itu, lalu mengusap sudut mat

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 1

    [Aku minta maaf kalau harus kirim ini, tapi foto ini mulai ramai di media sosial. Bukannya ini suamimu, si Devan?]Zahwa menatap nanar isi pesan yang dikirim oleh sahabatnya, Kinara. Ia menggeser layar ke bawah dan membaca judul dari tautan berita yang terlampir: "Arsitek Muda, Devan Buana Sakti,

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 7

    "Apa? Devan memintamu mencarikan kado untuk Valerie? Apa dia masih waras?" Zahwa sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar lengkingan suara Kinara."Dan kamu menerima permintaan itu begitu saja?" Suara Kinara terdengar tak terima."Mau bagaimana lagi?" Zahwa menghela napasnya

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 6

    Zahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie."Resepsionis tadi langsung menund

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 5

    Setelah pertemuannya dengan Kinara, Zahwa pulang dan kembali masuk kamar. Ucapan Kinara di kafe tadi terus terngiang-ngiang dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang."...Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"Zahwa tak tahu akan keman

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status