Share

Bab 140

Penulis: Hiro Sayank
last update Tanggal publikasi: 2026-10-01 12:48:03

Langkah staf cleaning service paruh baya itu terasa begitu tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit menuju area stasiun perawat. Matanya beredar liar hingga menemukan sosok Alex yang sedang berdiri di balik meja konter, sibuk mencatat lembar medis pasien. Tanpa membuang waktu, wanita itu menghampiri Alex dan memberi isyarat agar pria itu mau mengikutinya ke sudut lorong yang lebih sepi.

"Mas Alex," bisik wanita itu setengah terengah-engah begitu mereka berdiri jauh dari jangkauan telinga oran
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Deela Purnama Aditya
suka ceritanya lanjuuut thooor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 166

    Nyonya Suganda langsung melengkingkan tawa sinis yang menggema tajam di sudut kantin rumah sakit yang temaram. Wanita tua itu mendelik jijik, menatap Savana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh penghinaan yang tak tertutupi."Tetap berada di dekat Hanggara, katamu?!" hardik Nyonya Suganda dengan suara tinggi yang menusuk pendengaran pengunjung lain. "Jangan bermimpi di siang bolong, Savana! Kau pikir aku akan membiarkan wanita pembawa sial sepertimu berkeliaran di dekat cucuku setelah semua kekacauan yang kau perbuat? Silakan pungut harga dirimu yang tersisa dan enyah dari sini! Aku tidak akan pernah sudi mengabulkan syarat konyolmu itu!"Savana tidak bergeming sedikit pun. Ia menegakkan dagunya, menatap lurus wajah Nyonya Suganda dengan sorot mata dingin yang menyalang berani. "Kalau Nyonya menolak mentah-mentah syarat saya, jangan salahkan saya jika nanti saya nekat menerobos masuk ke kamar VIP lagi, membongkar seluruh rahasia masa lalu Hanggara di depannya, dan

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 165

    Beberapa jam kemudian.Suasana sudut kantin Rumah Sakit Utama nampak agak lengang di siang menjelang sore yang temaram. Di salah satu meja sudut yang berdekatan dengan dinding kaca besar, Savana duduk termenung dengan pandangan kosong menatap cangkir teh hangat yang uapnya perlahan mulai memudar. Matanya masih terlihat sembap dan merah akibat tangis yang tak kunjung reda, sementara pergelangan tangan kanannya nampak memerah bekas tarikan kasar dan renggutan cincin oleh Dokter Karin tadi pagi.Di hadapannya, Valerie, sahabat setia sekaligus orang yang selalu ada di masa-masa sulitnya, duduk menemani dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang mendalam. Valerie merangkap kedua tangan Savana di atas meja, mengusapnya lembut dengan penuh kasih sayang untuk menyalurkan kekuatan pada sahabatnya yang tengah hancur."Udah ya, Sav... Jangan disiksa terus diri kamu kayak gini," bujuk Valerie dengan nada suara yang begitu lembut, merajuk penuh iba. "Kamu dari tadi pagi belum makan apa-apa sama sek

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 164

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos di antara celah dedaunan rindang di taman belakang Rumah Sakit Utama. Savana duduk sendirian di atas kursi besi yang dingin. Tatapan matanya kosong menembus rumput-rumput hijau yang basah oleh embun.Jemari halusnya yang gemetar tak berhenti mengusap sebentuk cincin bermata berlian melingkar anggun di jari manisnya, cincin pertunangan pemberian Hanggara sebelum musibah ini terjadi."Kenapa harus seperti ini, Tuhan...?" bisik Savana dengan suara parau yang amat teriris. Air mata panas kembali menetes, jatuh tepat di atas permukaan berlian yang berkilau.Savana meremas jarinya sendiri, merasakan dinginnya logam cincin itu menembus dadanya. "Hanggara, bagaimana bisa kamu melupakan aku begitu saja? Bagaimana bisa semua kenangan kita, janji-janji manis kita, dan tatapan matamu yang penuh cinta itu hilang tanpa sisa dalam semalam?"Rasa tidak terima memuncak membakar seluruh kesadarannya."Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak akan membiarkan wanita u

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 163

    Keheningan menakutkan mencengkeram seluruh sudut ruang VIP. Pertanyaan asing yang keluar dari bibir Hanggara menghantam dada Savana bagai hantaman godam yang menghancurkan seluruh harapannya dalam sekejap."H-Hanggara... kau tidak bercanda, kan?" bisik Savana dengan bibir yang bergetar hebat. Air mata baru meluncur membasahi pipinya yang kian pucat. "Ini aku, Hanggara... Aku Savana."Savana melangkah satu pijakan lebih dekat, hendak mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih jemari kekar pria itu. "Aku wanita yang kau cintai, Hanggara. Kita... kita seharusnya menikah kemarin pagi...""Tunggu dulu, Savana!" sela sebuah suara nyaring yang memotong kalimat Savana secara mendadak.Dokter Karin maju melangkah dengan sigap, memotong jarak antara Savana dan ranjang pembaringan Hanggara. Wajah wanita itu dipenuhi oleh tatapan dingin dan merendahkan.Dokter Karin menoleh pada Hanggara yang masih menatap bingung seraya memegangi kepalanya yang berdenyut pening. "Dokter Hanggara, jangan den

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 162

    Savana menahan napasnya. Manik matanya tak berkedip sedikit pun menatap genggaman tangannya. Gerakan di jemari Hanggara terasa kian nyata, bukan lagi sekadar halusinasi atau bunga tidur yang kerap menyiksanya."H-Hanggara...?" bisik Savana dengan suara bergetar pelan.Ia memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah pembaringan. Dilihatnya kelopak mata tebal Hanggara yang terbungkus perban tipis di bagian dahi mulai bergerak-gerak. Bulu matanya yang lebat bergetar pelan, menunjukkan usaha keras dari sang dokter untuk keluar dari kegelapan koma yang membelenggunya berhari-hari."Hanggara! Kamu dengar suara aku, kan? Hanggara, buka matamu, Sayang!" seru Savana seraya mengusap pipi Hanggara yang masih pucat. Air mata kebahagiaan seketika meleleh membasahi pipinya.Melihat kelopak mata Hanggara yang makin bergerak-gerak seperti hendak terbuka, Savana langsung panik dan tergesa-gesa mencari tombol pemanggil perawat di kepala ranjang. Ia menekan tombol berwarna merah itu berulang kali de

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 161

    Matahari pagi kembali menyusup melalui celah gorden ruang perawatan VIP, membiaskan pendar cahaya lembut yang menyiram sebagian tubuh tegap Hanggara di atas ranjang medis. Savana masih setia berada di sana. Ia duduk bersandar di kursi kayu samping pembaringan, jemari halusnya tak pernah melepaskan genggaman pada pergelangan tangan Hanggara yang terasa hangat.Tiba-tiba, kelopak mata Hanggara perlahan melonggar, lalu terbuka lebar. Manik mata pekat yang amat dirindukan itu berkedip perlahan sebelum sepenuhnya mengunci pandangan pada wajah Savana.Savana membeku seketika. Jantungnya berdegup kencang, seolah tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. "H-Hanggara...?"Hanggara menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. Tanpa aba-aba, tubuh tegap itu langsung bangkit dan terduduk tegak. Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, menangkup kedua pipi Savana dengan usapan lembut yang penuh gairah."Aku merindukanmu, Savana... Sangat merindukanmu," bisik Hanggara dengan suara berat nan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status