ANMELDEN"Maksudmu Savana si cleaning service itu?!"Karin membelalakkan matanya lebar-lebar sebelum akhirnya tawa renyah yang sarat akan nada hinaan pecah memenuhan isi ruangan kerjanya. Dokter cantik itu menyandarkan punggungnya ke kursi berputar, tertawa geli hingga membungkuk seolah baru saja mendengar lelucon konyol paling bodoh sepanjang hidupnya."Astaga, kamu ini membuang-buang waktuku saja!" kekeh Karin seraya menyapu air mata fiktif di sudut matanya. "Mana mungkin Hanggara sudi menyentuh wanita rendahan, norak, dan miskin seperti Savana?! Selera Hanggara itu kelas atas, bukan sampah seperti dia! Kamu pikir aku bisa kamu bodohi begitu saja?"Petugas cleaning service itu panik, melangkah lebih dekat dengan wajah memerah. "Saya tidak bohong, Dokter Karin! Saya mendengar sendiri pengakuan Savana di dalam ruangan kami! Dia cerita bagaimana awal mula mereka bertemu di hotel berbintang, salah masuk kamar, sampai hubungan gelap mereka berlanjut di ruangan Pak Direktur selama ini!"Raut wajah
Setelah menumpahkan seluruh rahasia tergelap yang selama ini menghimpit dadanya, Savana menarik napas panjang seraya menyapu sisa-sisa kegugupan di wajahnya. Ia mengusap sudut matanya pelan, membetulkan letak seragam birunya yang sedikit kusut, lalu menatap Valerie."Aku harus lanjut bekerja sekarang, Valerie," tutur Savana dengan suara yang masih agak parau. "Aku mau mengecek area lobi depan dulu, memastikan anak-anak mengerjakan tugasnya dengan benar."Valerie menatap sahabatnya dengan tatapan campur aduk, antara cemas, kasihan, dan masih terperangah. Namun, ia akhirnya hanya mampu mengangguk pelan. "Iya, Savana, hati-hati. Ingat, jaga sikapmu di luar."Savana melangkah beranjak, mendorong pintu ruangan cleaning service dan melangkah keluar menuju lorong utama. Tanpa ia ketahui, begitu pintu luar berderit tertutup, pintu bilik toilet paling ujung perlahan terbuka dengan engsel yang berbunyi halus.***Menyusuri koridor rumah sakit yang serba putih dan beraroma antiseptik tajam, Sava
Valerie menutup mulutnya erat-erat, matanya membelalak lebar seolah irisnya hendak melompat keluar. "J-jadi tebakanku benar?! Kamu wanita yang selama ini dekat dengan Pak Hanggara?!"Savana menarik napas panjang yang terasa menyiksa. Kepalanya tertunduk makin dalam, meremas jemarinya yang dingin di atas pangkuan sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Iya, Valerie... itu aku."Valerie menggeleng-gelengkan kepala dengan raut tak percaya. Ia memajukan duduknya, mencengkeram kedua bahu Savana dengan gemetar. "Tapi bagaimana bisa, Savana?! Kamu kan sudah menikah, kamu kan istrinya Dokter Bara! Bagaimana mungkin kamu bisa menjalin hubungan terlarang dan sesat seperti ini sama Pak Direktur?"Mendengar nama suaminya disebut, raut wajah Savana seketika mengeras. Kepedihan, kebencian, dan rasa terhina yang selama bertahun-tahun ia pendam mendadak meluap mendidih di dadanya. "Mas Bara yang lebih dulu mengkhianatiku dan membunuh harga diriku, Valerie," desis Savana dengan suara bergetar menahan ama
Tangan kekar Hanggara terus menyusup bebas di balik seragam biru tipis yang kini makin berantakan. Jemarinya meremas pinggang payudara dan seluruh lekuk tubuh Savana dengan dominasi tanpa ampun, menuntut kepatuhan mutlak dari wanita di pangkuannya. Desah napas memburu dan sentuhan intens pria itu memacu detak jantung Savana hingga terasa kencang di balik dada."D-Dokter... hentikan, saya mohon..." cicit Savana serak, berusaha memegang kedua pergelangan tangan Hanggara yang terus menggerayangi tubuhnya.Hanggara justru makin gila, menenggelamkan wajahnya di leher halus Savana, memberi gigitan-gigitan kecil yang menyesakkan. "Tidak akan," bisik Hanggara parau, intonasinya kaku namun penuh dengan gairah yang membakar. "Selama kamu masih meragukanku, selama kamu belum mempercayaiku sepenuh hati, saya akan terus menghukummu seperti ini, Savana."Savana memejamkan mata erat-erat. Himpitan tubuh tegap Hanggara di atas meja kerja dan serangannya yang tiada henti membuat pertahanan dirinya run
Tok... Tok... Tok...Ketukan pintu kayu kamar memecah keheningan yang menyesakkan. Suara Bara terdengar dari luar, membawa nada kebingungan. "Savana? Kamu sedang bicara dengan siapa di dalam? Buka pintunya, Savana."Savana tersentak pelan di atas kasur. Isak tangisnya mendadak tertahan sewaktu mendengar panggilan suaminya. Dengan jemari yang gemetar, ia buru-buru menyapu air mata yang mengalir di pipinya, merapikan gaun merahnya seadanya, lalu beranjak memutar knop pintu.Saat pintu terbuka, berdiri sosok Bara yang tampak sangat lelah. Pria itu menyipitkan mata, mengulangi pertanyaannya. "Kamu bicara sama siapa tadi__"Kalimat Bara terhenti seketika. Matanya menatap lekat wajah istrinya. Sisa air mata yang menggenang dan kelopak mata yang membengkak kemerahan tidak bisa dibohongi. Bara menaikkan alisnya, rasa cemas merayap kaku di dadanya. "Savana? Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis seperti ini?""T-tidak apa-apa, Mas..." sahut Savana pelan, berusaha mengulas senyum namun justru bibirn
Tepuk tangan gemuruh para tamu VIP terus bergaung di dalam ballroom, merayakan pengumuman perjodohan megah tersebut. Karin berdiri tegak di panggung dengan senyum anggun yang sarat akan kemenangan. Namun di sisi lain panggung, raut wajah Hanggara menggelap seketika. Sorot matanya memancarkan amarah yang luar biasa, sementara rahangnya mengatup rapat menahan emosi yang memuncak.Beberapa menit setelah pengumuman traumatis itu disampaikan, Hanggara bergegas melangkah lebar menyusuri koridor VIP yang sepi, mengekor di belakang langkah Nyonya Besar Suganda yang berjalan anggun dikawal beberapa pengawal pribadi."Nenek!" panggil Hanggara dengan intonasi rendah yang sarat akan ancaman.Nyonya Suganda menghentikan langkahnya, memutar tubuh dan menatap cucunya dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. "Ada apa, Hanggara? Acara belum selesai."Hanggara mengikis jarak, menatap sang nenek dengan tatapan tajam membakar. "Apa maksud Nenek merencanakan semua sandiwara picik ini di depan publik?! Me







