LOGINTangan kekar Hanggara terus menyusup bebas di balik seragam biru tipis yang kini makin berantakan. Jemarinya meremas pinggang payudara dan seluruh lekuk tubuh Savana dengan dominasi tanpa ampun, menuntut kepatuhan mutlak dari wanita di pangkuannya. Desah napas memburu dan sentuhan intens pria itu memacu detak jantung Savana hingga terasa kencang di balik dada."D-Dokter... hentikan, saya mohon..." cicit Savana serak, berusaha memegang kedua pergelangan tangan Hanggara yang terus menggerayangi tubuhnya.Hanggara justru makin gila, menenggelamkan wajahnya di leher halus Savana, memberi gigitan-gigitan kecil yang menyesakkan. "Tidak akan," bisik Hanggara parau, intonasinya kaku namun penuh dengan gairah yang membakar. "Selama kamu masih meragukanku, selama kamu belum mempercayaiku sepenuh hati, saya akan terus menghukummu seperti ini, Savana."Savana memejamkan mata erat-erat. Himpitan tubuh tegap Hanggara di atas meja kerja dan serangannya yang tiada henti membuat pertahanan dirinya run
Tok... Tok... Tok...Ketukan pintu kayu kamar memecah keheningan yang menyesakkan. Suara Bara terdengar dari luar, membawa nada kebingungan. "Savana? Kamu sedang bicara dengan siapa di dalam? Buka pintunya, Savana."Savana tersentak pelan di atas kasur. Isak tangisnya mendadak tertahan sewaktu mendengar panggilan suaminya. Dengan jemari yang gemetar, ia buru-buru menyapu air mata yang mengalir di pipinya, merapikan gaun merahnya seadanya, lalu beranjak memutar knop pintu.Saat pintu terbuka, berdiri sosok Bara yang tampak sangat lelah. Pria itu menyipitkan mata, mengulangi pertanyaannya. "Kamu bicara sama siapa tadi__"Kalimat Bara terhenti seketika. Matanya menatap lekat wajah istrinya. Sisa air mata yang menggenang dan kelopak mata yang membengkak kemerahan tidak bisa dibohongi. Bara menaikkan alisnya, rasa cemas merayap kaku di dadanya. "Savana? Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis seperti ini?""T-tidak apa-apa, Mas..." sahut Savana pelan, berusaha mengulas senyum namun justru bibirn
Tepuk tangan gemuruh para tamu VIP terus bergaung di dalam ballroom, merayakan pengumuman perjodohan megah tersebut. Karin berdiri tegak di panggung dengan senyum anggun yang sarat akan kemenangan. Namun di sisi lain panggung, raut wajah Hanggara menggelap seketika. Sorot matanya memancarkan amarah yang luar biasa, sementara rahangnya mengatup rapat menahan emosi yang memuncak.Beberapa menit setelah pengumuman traumatis itu disampaikan, Hanggara bergegas melangkah lebar menyusuri koridor VIP yang sepi, mengekor di belakang langkah Nyonya Besar Suganda yang berjalan anggun dikawal beberapa pengawal pribadi."Nenek!" panggil Hanggara dengan intonasi rendah yang sarat akan ancaman.Nyonya Suganda menghentikan langkahnya, memutar tubuh dan menatap cucunya dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. "Ada apa, Hanggara? Acara belum selesai."Hanggara mengikis jarak, menatap sang nenek dengan tatapan tajam membakar. "Apa maksud Nenek merencanakan semua sandiwara picik ini di depan publik?! Me
Langkah kaki Savana bergegas membelah kerumunan tamu, menembus deretan pilar megah menuju sebuah lorong sepi yang minim pencahayaan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipinya yang terpoles make-up tebal. Rasa malu dan terhina menekan dadanya begitu sesak.Namun baru beberapa langkah ia menyusuri lorong yang sunyi itu, derap langkah tergesa bergaung dari arah belakang. Sebelum Savana sempat menoleh, sebuah jemari kokoh menyambar lengannya, menahan langkah wanita itu seketika."Savana, tunggu," panggil Hanggara dengan napas yang sedikit berpacu. Pria tegap itu telah menyusulnya, menatap wajah basah Savana dengan raut kebingungan. "Kamu kenapa berlari seperti ini?"Savana menolak menatap mata Hanggara. Dengan sisa keberaniannya, ia mengibaskan tangan sang direktur dengan kasar hingga pegangan itu terlepas. "Lepaskan saya, Dokter!"Merasa geram dan tak menyukai penolakan tersebut, raut wajah Hanggara seketika mengeras. Tanpa membiarkan Savana melangkah lebih jau
"D-dokter serius akan seperti itu?" suara Savana bergetar hebat, matanya menatap Hanggara dengan binar ketakutan dan luka yang nyata.Hanggara mendadak tertawa kecil. Kekehannya terdengar renyah sewaktu ia menepuk pelan paha Savana. "Tentu saja saya hanya bercanda. Kenapa wajahmu sampai sepucat itu?"Savana menghela napas lega, namun kebingungan masih melingkupi benaknya. "Bercanda? Tapi suara Dokter tadi sungguh terdengar serius..."Hanggara mengikis jarak, menatap manik mata Savana dengan binar pekat yang sarat akan dominasi dan kepemilikan. "Jika kamu benar-benar hamil anak saya, itu justru hal paling bagus. Hal yang memang sangat saya nanti-nantikan sejak awal. Saya memang sengaja menyemburkannya di dalam rahimmu tanpa pengaman."Dahi Savana berkerut makin dalam. "Kenapa, Dokter?""Karena dengan begitu, saya punya alasan mutlak untuk secepatnya menikahi kamu," bisik Hanggara dengan intonasi rendah yang mengikat. "Agar kamu bisa lekas bebas dan terlepas dari Bara."Jantung Savana b
Savana melangkahkan kakinya menembus pintu ruang khusus cleaning service yang terletak di lantai dasar rumah sakit. Udara pagi itu menyambutnya dengan riuh rendah suara rekan-rekan kerjanya yang sedang bersiap-siap sebelum memulai sif. Lemari-lemari loker terbuka lebar, menampilkan kesibukan para petugas yang sibuk merapikan seragam dan menyiapkan alat pembersih.Savana menghampiri lokernya sendiri, membuka pintunya, lalu perlahan melepas kemeja kasualnya untuk digantikan dengan seragam cleaning service berwarna biru muda. Saat kancing atas seragamnya ia sematkan, bayangan memar kemerahan di balik kain sutra tadi pagi sempat berkelebat di benaknya, membuat pipinya kembali merona hangat."Savana!"Sebuah tepukan pelan di bahunya membuyarkan lamunan wanita itu. Valerie, rekan sesama cleaning service yang paling heboh, menyenderkan tubuhnya pada barisan loker di samping Savana dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme.Savana menoleh seraya mengulas senyum tipis. "Ada apa, Valerie?""K







