LOGINSavana tidak memiliki keberanian untuk membantah perintah atasannya. Sebagai pekerja baru yang berada di posisi paling bawah, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Baik, Bu. Saya akan segera kesana," jawab Savana. Kepala petugas kemudian meninggalkannya. Savana segera menaruh peralatan kebersihannya di troli, lalu mendorong trolinya menuju lift untuk menuju lantai teratas tempat ruangan Direktur Utama berada sambil. Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, suasana sunyi langsung menyambutnya. Savana menyusuri lorong berlantai marmer berkilau hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu jati besar yang tampak sangat mewah dan elegan. Di bagian tengah pintu, terdapat ukiran emas yang menegaskan privasi tempat itu. Savana menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu tersebut dengan sangat perlahan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara bising. Keadaan di dalam ruangan itu ternyata sangat luas, rapi, dan hening. Suasananya terasa sedikit mencekam. Ia bisa membayangkan setegang apa situasi di dalam ruangan itu jika Sang Direktur ada di sana. Savana mengambil ember kecil berisi air bersih dan selembar kain lap baru dari troli kemudian berjalan menuju tengah ruangan. Ia mencelupkan kain lap ke dalam ember lalu mulai mengelap permukaan meja kerja kayu jati berukuran besar yang ada di sana dengan gerakan teliti. Saat sedang membersihkan permukaan meja dengan fokus, tatapan mata Savana mendadak terpaku pada sebuah papan nama berbahan kaca akrilik tebal yang diletakkan di sudut meja kerja. Netranya membaca tulisan ukiran emas yang tertera di sana dengan seksama: Dr. Hanggara Maheswara, Sp.B (Direktur Utama / Spesialis Bedah). Namanya terdengar begitu megah. Melihat namanya saja, Savana sudah bisa membayangkan bagaimana perawakan Sang Direktur dan itu membuatnya merinding sedikit. Sebaiknya ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya sebelum sang direktur datang. Usai menyelesaikan seluruh bagian permukaan meja kerja, pandangan Savana beralih ke sebuah rak buku kayu besar yang menjulang sangat tinggi di pojok ruangan. Bagian atasnya tampak berdebu. Karena postur tubuhnya yang kurang tinggi, Savana menyadari bahwa ia tidak akan bisa menjangkau bagian atas rak tersebut. Ia berinisiatif mengambil kursi kayu berukir yang ada di dekat meja kerja, lalu menggesernya tepat di depan rak buku tersebut. Savana menaiki kursi itu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ia mulai menjinjitkan kedua kakinya sembari mengulurkan tangan kanannya setinggi mungkin untuk mengelap bagian atas rak kayu tersebut. Ia begitu serius dan terfokus pada debu di atas rak hingga sama sekali tidak menyadari suara engsel pintu ruangan yang bergerak membuka dari arah luar. CKLEK. Suara pintu itu seketika mengejutkan Savana. Ia hendak menoleh tapi karena gerakannya terlalu tiba-tiba, kursi kayu di bawah pijakan kakinya bergoyang hebat hingga keseimbangan tubuh Savana di atas kursi langsung hilang seketika. Tubuh mungil Savana oleng ke arah belakang. Ketakutan menjalar cepat dan Savana refleks memejamkan kedua matanya rapat-rapat, bersiap merasakan benturan keras dengan lantai marmer dingin di bawahnya. Namun, rasa sakit yang sudah dibayangkannya itu tidak pernah kunjung datang. Sebelum tubuh mungilnya menyentuh lantai marmer, sepasang lengan kekar yang teramat kuat dan kokoh berhasil menangkap tubuh Savana dengan sempurna. Dalam sekejap mata, tubuh Savana sudah didekap dengan sangat erat. Digendong ala bridal style oleh seseorang yang baru saja masuk tersebut. “Anda tidak apa-apa, Nyonya?” tanya orang itu dengan suara berat. Savana perlahan membuka kedua matanya yang terpejam erat. Ia hendak mengucapkan terima kasih ke orang yang sudah menolongnya itu, tapi malah terbelalak ketika melihat rupa penolongnya itu. “Ka-Kamu …. Kenapa kamu ada di sini?!” pekik Savana. Sosok pria tinggi dengan rahang tegas dan mata elang tajam memenuhi pandangannya. Wajah rupawan itu segera membuat Savana terbayang dengan sosok yang dikenalnya dengan jelas. Sosok yang ia pakai selama ini untuk mencari kehangatan tiap Bara bercumbu dengan pacarnya. Sosok yang bahkan baru ditemuinya semalam. Tidak salah lagi. Pria di hadapannya ini adalah pria simpanannya! Melihat ekspresi wajah Savana yang pucat dan terkejut setengah mati di dalam dekapannya, rahang tegas pria itu tampak bergerak pelan. Sudut bibirnya perlahan terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman miring penuh yang membuat Savana tercekat. Tatapan matanya yang tajam menatap langsung ke dalam manik mata Savana yang bergetar. "Apa Anda terkejut, Nyonya?" bisik pria itu dengan suara dalam yang sangat berat, dingin, namun sarat akan nada intimidasi yang membuat bulu kuduk Savana merinding seketika. “Saya Hanggara Maheswara. Dokter bedah sekaligus direktur rumah sakit ini,” ucap rendah pria itu. Senyum miring di wajahnya terukir semakin lebar melihat Savana membelalak kaget. “Saya juga pria yang memuaskan Anda selama ini, Nyonya. Senang bertemu dengan Anda lagi.”Sinar matahari pagi yang hangat menerobos di antara celah dedaunan rindang di taman belakang Rumah Sakit Utama. Savana duduk sendirian di atas kursi besi yang dingin. Tatapan matanya kosong menembus rumput-rumput hijau yang basah oleh embun.Jemari halusnya yang gemetar tak berhenti mengusap sebentuk cincin bermata berlian melingkar anggun di jari manisnya, cincin pertunangan pemberian Hanggara sebelum musibah ini terjadi."Kenapa harus seperti ini, Tuhan...?" bisik Savana dengan suara parau yang amat teriris. Air mata panas kembali menetes, jatuh tepat di atas permukaan berlian yang berkilau.Savana meremas jarinya sendiri, merasakan dinginnya logam cincin itu menembus dadanya. "Hanggara, bagaimana bisa kamu melupakan aku begitu saja? Bagaimana bisa semua kenangan kita, janji-janji manis kita, dan tatapan matamu yang penuh cinta itu hilang tanpa sisa dalam semalam?"Rasa tidak terima memuncak membakar seluruh kesadarannya."Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak akan membiarkan wanita u
Keheningan menakutkan mencengkeram seluruh sudut ruang VIP. Pertanyaan asing yang keluar dari bibir Hanggara menghantam dada Savana bagai hantaman godam yang menghancurkan seluruh harapannya dalam sekejap."H-Hanggara... kau tidak bercanda, kan?" bisik Savana dengan bibir yang bergetar hebat. Air mata baru meluncur membasahi pipinya yang kian pucat. "Ini aku, Hanggara... Aku Savana."Savana melangkah satu pijakan lebih dekat, hendak mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih jemari kekar pria itu. "Aku wanita yang kau cintai, Hanggara. Kita... kita seharusnya menikah kemarin pagi...""Tunggu dulu, Savana!" sela sebuah suara nyaring yang memotong kalimat Savana secara mendadak.Dokter Karin maju melangkah dengan sigap, memotong jarak antara Savana dan ranjang pembaringan Hanggara. Wajah wanita itu dipenuhi oleh tatapan dingin dan merendahkan.Dokter Karin menoleh pada Hanggara yang masih menatap bingung seraya memegangi kepalanya yang berdenyut pening. "Dokter Hanggara, jangan den
Savana menahan napasnya. Manik matanya tak berkedip sedikit pun menatap genggaman tangannya. Gerakan di jemari Hanggara terasa kian nyata, bukan lagi sekadar halusinasi atau bunga tidur yang kerap menyiksanya."H-Hanggara...?" bisik Savana dengan suara bergetar pelan.Ia memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah pembaringan. Dilihatnya kelopak mata tebal Hanggara yang terbungkus perban tipis di bagian dahi mulai bergerak-gerak. Bulu matanya yang lebat bergetar pelan, menunjukkan usaha keras dari sang dokter untuk keluar dari kegelapan koma yang membelenggunya berhari-hari."Hanggara! Kamu dengar suara aku, kan? Hanggara, buka matamu, Sayang!" seru Savana seraya mengusap pipi Hanggara yang masih pucat. Air mata kebahagiaan seketika meleleh membasahi pipinya.Melihat kelopak mata Hanggara yang makin bergerak-gerak seperti hendak terbuka, Savana langsung panik dan tergesa-gesa mencari tombol pemanggil perawat di kepala ranjang. Ia menekan tombol berwarna merah itu berulang kali de
Matahari pagi kembali menyusup melalui celah gorden ruang perawatan VIP, membiaskan pendar cahaya lembut yang menyiram sebagian tubuh tegap Hanggara di atas ranjang medis. Savana masih setia berada di sana. Ia duduk bersandar di kursi kayu samping pembaringan, jemari halusnya tak pernah melepaskan genggaman pada pergelangan tangan Hanggara yang terasa hangat.Tiba-tiba, kelopak mata Hanggara perlahan melonggar, lalu terbuka lebar. Manik mata pekat yang amat dirindukan itu berkedip perlahan sebelum sepenuhnya mengunci pandangan pada wajah Savana.Savana membeku seketika. Jantungnya berdegup kencang, seolah tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. "H-Hanggara...?"Hanggara menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. Tanpa aba-aba, tubuh tegap itu langsung bangkit dan terduduk tegak. Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, menangkup kedua pipi Savana dengan usapan lembut yang penuh gairah."Aku merindukanmu, Savana... Sangat merindukanmu," bisik Hanggara dengan suara berat nan
Berhari-hari telah berlalu sejak insiden berdarah yang menimpa Hanggara, namun tak sedikit pun menyurutkan kesetiaan Savana. Wanita itu menolak untuk beranjak dari ruang perawatan VIP tempat calon suaminya terbaring koma. Bagi Savana, ruangan beraroma antiseptik itu kini telah menjadi dunianya.Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Savana sudah bangun. Dengan telaten dan penuh rasa kasih, ia mengelap tubuh tegap Hanggara menggunakan waslap basah berair hangat. Jemari halusnya menyapu perlahan dada bidang yang dulu kerap memeluknya erat, membersihkan setiap inci kulit pria itu dari debu dan keringat dengan kelembutan yang teramat sangat.Savana juga rutin merapikan rambut hitam Hanggara, memotong kuku-kuku jarinya dengan hati-hati, hingga mengoleskan pelembab pada bibir sang dokter yang pucat dan kering. Ia tak pernah membiarkan penampilan Hanggara tampak kusam sedikit pun.Tak hanya merawat fisiknya, Savana terus mengajak Hanggara berbicara sepanjang hari. Sembari memijat l
Hari berikutnya... Suasana di dalam ruang perawatan Intensive Care Unit (ICU) terasa begitu sunyi dan dingin, hanya didominasi oleh denting konstan dari monitor pendeteksi jantung serta deru halus mesin respirator.Savana duduk di kursi samping tempat tidur medis. Wajahnya yang pucat nampak begitu tirus, dengan lingkaran hitam tebal mengitari matanya yang sembap. Ia mengenakan pakaian kasual kusam, sama sekali tak memedulikan penampilannya sendiri sejak peristiwa mengerikan kemarin.Jemari halus Savana bergerak gemetar, menggenggam erat telapak tangan kanan Hanggara yang terbebat jarum infus dan terasa begitu dingin. Di atas ranjang, tubuh tegap yang biasanya memancarkan dominasi dan kekuasaan mutlak itu kini terbaring lemah tak berdaya. Kepala Hanggara terbungkus perban putih tebal, sementara selang pernapasan terpasang menutupi mulut dan hidungnya.Air mata yang seolah tak pernah kering kembali menetes pelan dari sudut mata Savana, jatuh tepat di atas jemari kekar Hanggara."Hangga







