Partager

Bab 4

Auteur: Hiro Sayank
last update Date de publication: 2026-07-17 12:27:37

Savana sebenarnya sudah menduga sejak awal bahwa cepat atau lambat ia pasti akan berpapasan dengan Alex di dalam gedung rumah sakit yang besar ini.

Ia sudah tahu betul dari beberapa dokumen rumah sakit yang pernah tertinggal di ruang kerja Bara, bahwa selingkuhan suaminya itu bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Harapan.

Namun tetap saja, melihat sosok pria itu berdiri tegak secara langsung di hadapannya membuat dada Savana kembali berdenyut nyeri luar biasa. Pertemuan fisik ini memicu rasa sakit hati dan luka batin yang kembali menganga lebar, mengingatkannya pada adegan tabu yang ia saksikan hampir tiap malam.

Alex menghentikan langkah kakinya tepat di depan troli kebersihan mereka. Pria muda itu menurunkan selembar dokumen yang dipegangnya, lalu tersenyum ramah menyapa mereka. Pria itu terlihat bersahabat meski ia seorang tenaga medis senior.

"Oh, pagi, Val. Ada petugas kebersihan baru lagi di bagian kita, ya? Kok aku baru lihat?" tanya Alex dengan nada suara yang terdengar hangat dan bersahabat.

"Iya, Mas Alex. Ini Savana, rekan baruku yang baru mulai masuk kerja hari ini. Kebetulan dia ditempatkan di lantai dua ini juga untuk membantuku," jawab Valerie dengan nada ceria.

“Savana?”

Alex menolehkan kepalanya ke Savana. Savana buru-buru menundukkan kepalanya sopan. 

“Salam kenal, Mas Alex. Saya Savana yang mulai hari ini bekerja di sini. Mohon bantuannya,” ucap Savana dengan seulas senyum di wajahnya. 

Meski nadanya terdengar tenang, tapi detak jantungnya terasa menggila sekarang. Ketegangan membanjirinya. Khawatir setengah mati jika Alex mengenalinya dan akan langsung melaporkan keberadaannya di rumah sakit ini kepada Bara.

Tapi, pria itu justru mengerutkan alisnya dalam-dalam. Meski tatapannya penuh selidik sekarang, tapi Savana bisa melihat jelas kebingungan di gurat wajahnya.

Saat itulah Savana tersadar kalau Alex belum pernah melihatnya secara langsung.

Selama ini, Bara selalu membawa Alex ke rumah saat Savana sedang pergi atau sudah tidur, membuat Alex sama sekali tidak pernah melihat perawakan wajah istri sah Bara secara langsung. Bara juga pasti tidak akan menceritakan tentang dirinya ke pacarnya itu.

Dengan kata lain, Alex kemungkinan besar tidak mengenali dirinya sekarang. Ia mungkin hanya mengetahui nama Savana saja.

Perasaan lega perlahan menyusupi hati Savana. Tubuhnya kini lebih rileks berhadapan dengan Alex.

Di sisi lain, Alex terlihat menyerah untuk mencari tahu. Ia akhirnya mengulas senyum tipis untuk membalas Savana.

"Ah, iya, selamat pagi, Savana. Selamat bekerja, ya," ujarnya ramah sebelum akhirnya melanjutkan langkah kakinya pergi begitu saja menuju ruang rawat inap.

Setelah memastikan langkah kaki Alex benar-benar menjauh dari mereka, Valerie langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Savana. Wajahnya tampak penuh antusiasme untuk membagikan gosip hangat.

“Mas Alex itu sangat terkenal di sini, Sav! Semua orang menyukainya karena dia sangat ramah. Bahkan ke petugas kayak kita!” cerita Valerie menggebu-gebu.

“Dengar-dengar dari gosip para suster di kantin, Mas Alex itu juga sangat dekat dengan suamimu. Bahkan sampai menjadi favoritnya, loh! Pokoknya di mana ada Dokter Bara pasti ada Mas Alex juga!”

Savana tersenyum miris mendengarnya. Dalam hati, ia tertawa sinis.

'Sangat dekat? Tentu saja mereka sangat dekat, Valerie. Bahkan mereka sudah berbagi ranjang, pelukan, dan tubuh di dalam rumah yang aku tinggali sebagai istri sah,' batinnya sarkas.

Savana dan Valerie kemudian berpisah jalan menuju area kerja masing-masing. Savana langsung fokus membersihkan ruangan bagiannya dengan cepat dan rapi, berusaha melupakan pertemuan tadi.

Begitu selesai dan bersiap pindah ke tempat lain, langkahnya terhenti karena kepala petugas kebersihan mendadak datang menghampirinya dengan wajah serius.

"Savana!" panggil kepala petugas itu. Savana segera menegakkan tubuhnya dan menatap atasannya itu.

"Iya, Bu? Ada apa?" tanya Savana.

“Kamu sudah selesai merapihkan di sini?” tanya kepala petugas itu balik. Savana mengangguk.

“Baiklah. Kalau begitu, tolong bersihkan ruangan Direktur Utama sekarang. Beliau sudah selesai operasi dan mau datang kemari, pastikan ruangan sudah rapih sebelum beliau masuk,” titah kepala petugas itu. 

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
sapa ea direktur utama nya apa laki2 simpanan savana
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 79

    Pesan singkat bernada ancaman nyawa itu seketika membuat darah di tubuh Bara berdesir hebat. Kepanikan luar biasa melingkupi dadanya, membakar seluruh ketenangan yang tersisa. Bara tidak mencintai Alex lagi, namun bayangan bahwa ia akan disalahkan atas kematian pria itu, serta skandal besar yang pasti meledak dan menghancurkan reputasinya, membuat tangannya gemetar hebat.Bara beranjak berdiri dari kursi kerjanya dengan sentakan kasar hingga kursi itu terdorong ke belakang. Pandangannya memaku foto sudut gedung di layar ponsel. Ia mengenali sudut pembatas dan tiang pemancar di gambar tersebut; itu adalah atap gedung tertinggi rumah sakit ini, lantai teratas unit pelayanan terpadu. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bara berlari kencang membelah pintu ruangannya, mengabaikan tatapan heran beberapa perawat di koridor yang melihat sang dokter bedah berpacu dengan waktu menuju tangga darurat.Langkah kaki Bara bergaung nyaring menaiki anak tangga satu per satu dengan napas memburu. Begi

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 78

    Pautan bibir Hanggara kian menuntut dan tak memberi ruang bagi Savana untuk menghela napas. Gejolak amarah yang bertransformasi menjadi gairah pekat membuat setiap gerakan sang direktur terasa begitu penuh dominasi. Di sela-sela lumatan beringasnya, tangan tegap Hanggara mulai bergerilya secara agresif. Jemari kekarnya menyusup masuk ke balik seragam cleaning service yang dikenakan Savana, menepis keraguan dan meremas payudara wanita itu dengan penuh sensasi gemas."Ahn... Dokter..." desah Savana menyertai setiap remasan yang kian kuat.Hanggara menatap wajah merona Savana dengan manik mata yang menggelap oleh gairah. Jemarinya yang lihai bergerak memilin puting tegang Savana di balik kain, membuat tubuh wanita itu terkulai pasrah dan gemetar di atas pangkuannya. Tak berhenti di sana, tangan Hanggara bergerak meluncur turun, merayapi paha mulus Savana dan menyibak rok seragamnya ke atas hingga ke batas pinggang. Jemarinya dengan cepat menyentuh area sensitif Savana yang terasa mulai h

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 77

    Sentuhan lembut dan hangat bibir Savana terasa begitu kontras dengan kebekuan yang menyelimuti atmosfer ruangan direktur tersebut. Savana menolak melepaskan pautannya. Jika biasanya Hanggara yang mengambil alih kontrol secara dominan dan agresif, kali ini Savana-lah yang secara berani bertindak impulsif. Ia melumat bibir Hanggara dengan ritme yang dalam dan mendesak, menumpahkan segala keputusasaan serta rasa takut akan kehilangan yang menghimpit dadanya sejak semalam.Di sela-sela pergulatan bibir mereka yang kian intim, Savana tak menghentikan usahanya untuk bersuara. Napasnya terengah, berbisik tepat di depan permukaan bibir Hanggara yang kini setengah terbuka."Maafkan saya, Dokter. Mohon maafkan saya," bisik Savana parau, sebelum kembali menyesap bibir atas Hanggara dengan lembut. "Saya terpaksa, saya terpaksa batal keluar dari rumah itu kemarin..."Hanggara belum membalas, namun tubuh tegapnya kian kaku, mendengarkan setiap patahan kata yang dilontarkan wanita di pangkuannya."A

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 76

    Keesokan harinya... Savana turun dari bus kota yang membawanya menuju rumah sakit. Hawa dingin udara pagi menusuk hingga ke tulang, namun rasa kebas di dadanya jauh lebih menyiksa. Sepanjang perjalanan, bayangan nada suara dingin Hanggara saat memutus sambungan telepon secara sepihak kemarin terus berputar di kepalanya. Setiap dentut di pelipisnya menegaskan betapa buruknya malam yang baru saja ia lewati tanpa tidur sekejap pun.Savana melangkah gontai membelah pelataran, melangkah masuk ke area rumah sakit tempatnya menggantungkan hidup.Saat berjalan gontai menyusuri koridor samping yang biasanya sepi, mata Savana menangkap sosok tinggi tegap di ujung lorong. Itu Hanggara. Pria itu melangkah tegap dengan wibawa pimpinan yang dingin, mengenakan kemeja dan jas putih yang terpasang sempurna di tubuhnya. Jalur langkah mereka membuat keduanya hampir berpapasan di koridor sepi tersebut.Melihat jarak yang kian dekat, jantung Savana berdegup kencang secara impulsif. Keberanian yang tersis

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 75

    Savana bukan wanita bodoh yang bisa dengan mudah terkecoh oleh sekadar deretan kata penyesalan. Pengalaman pahit selama membina rumah tangga bersama Bara telah mengajarkannya satu hal: janji pria itu tak pernah lebih dari hembusan angin lalu. Rasa perih akibat tindakan brutal Bara pagi tadi masih membekas nyata di kulit dan ingatannya. Bagi Savana, maaf tidak akan pernah cukup untuk menghapus trauma dan rasa jijik yang telanjur mengakar."Aku tidak peduli," sahut Savana dingin, menolak untuk memberikan setitik pun ruang simpati. "Simpan semua kata-kata manismu itu, Mas. Aku tidak akan pernah mempercayaimu lagi."Savana mempererat genggamannya pada gagang koper, lalu membulatkan tekad untuk melanjutkan langkahnya keluar. Namun, Bara yang dilanda kepanikan hebat kembali bergerak menepis jarak. Pria itu mengulurkan tangan dan meraih lengan Savana secara refleks, berusaha menahannya."Lepaskan!" sentak Savana keras seraya mengibaskan tangannya dengan sentakan kuat hingga pegangan Bara ter

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 74

    Alex membelalakkan matanya tak percaya. Pengakuan Bara barusan terasa bagai petir di siang bolong yang menghantam harga dirinya. Dengan bertelanjang bulat, ia melangkah maju mendekati Bara, menatap pria itu dengan raut penuh kecemasan dan kebingungan yang meluap."Apa maksudmu, Dokter Bara?! Jangan bercanda!" seru Alex, suaranya naik satu oktaf. "Bagaimana bisa kamu bilang sudah kembali normal?! Kita sudah menjalin hubungan ini sekian lama, dan kamu selalu bergairah padaku!"Bara mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin secara kasar. Ia memalingkan pandangannya dari tubuh Alex yang terekspos tanpa busana. "Aku tidak sedang bercanda, Alex. Akhir-akhir ini, aku merasakan perubahan besar dalam diriku. Sentuhanmu, godaanmu, semuanya tidak lagi memicu hasrat apa pun dalam dadaku. Gairahku padamu benar-benar telah menghilang tanpa sisa."Alex menggelengkan kepalanya keras-keras, menolak mentah-mentah kenyataan pahit tersebut. Menurutnya, ini hanyalah fase sesaat yang dipicu oleh te

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status