تسجيل الدخولTudingan tajam yang meluncur mulus dari bibir Bara seketika membuat pasokan udara di paru-paru Savana terasa tersumbat. Jantungnya berdegup brutal, namun ia memaksakan diri mempertahankan ekspresi wajah sejujur mungkin demi menyembunyikan kenyataan bahwasanya sosok yang dituduhkan Bara saat ini benar-benar sedang bersembunyi di bawah tempat tidurnya."Jangan asal bicara, Mas!" potong Savana dengan nada suara berpura-pura tersinggung dan tegar. "Mana mungkin aku berbuat serendah itu? Jangan menyamakan aku dengan kelakuan burukmu di luar sana!"Mendengar sanggahan tajam itu, raut wajah Bara mendadak berubah. Kilasan keputusan Savana yang ingin meninggalkannya, serta tekad kuatnya untuk berpura-pura menjadi suami yang baik seketika meredam emosinya. Bara tersadar bahwasanya ia tidak boleh memicu pertengkaran baru jika ingin memperbaiki hubungan mereka.Pria itu menghela napas panjang, lalu tersenyum kaku seraya menepuk dahi pelan. "Maaf, Savana. Aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku tahu ka
Cahaya matahari pagi menyusup tipis melalui celah gorden, menyapa mata Savana yang perlahan terbuka. Sensasi hangat dan napas teratur yang berembus di ceruk lehernya membuat Savana tersadar. Di sampingnya, Hanggara masih tertidur pulas dalam posisi menyamping, melingkarkan lengan kokohnya erat-erat di pinggang Savana yang bertelanjang polos sejak semalam.Perlahan, ingatan Savana pulih sepenuhnya. Matanya membelalak lebar sewaktu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi."Dokter... Dokter Hanggara, bangun..." bisik Savana panik, menepuk-nepuk pelan lengan tegap yang melingkari tubuhnya. "Dokter, bangun... Hari sudah pagi, Dokter harus segera pergi dari sini!"Bukannya bergeming, Hanggara justru menggeram rendah, makin membenamkan wajahnya di leher hangat Savana dan memperketat dekapan lengannya.Savana mulai sedikit memberontak, mencoba mengurai cengkeraman lengan itu. "Dokter, tolong. Nanti Mas Bara melihat Dokter di sini! Lagipula, apa Dokter tidak ke rumah sakit? Saya j
Napas Hanggara berembus makin panas saat bibirnya meluncur turun dari bibir Savana, menyusuri garis rahang lalu menyesap leher jenjang wanita itu dengan lapar. Jemarinya yang kekar bergerak sigap, menyusup ke balik daster yang baru saja dikenakan Savana dan melucutinya tanpa ampun hingga kain itu terperosok jatuh ke lantai."Siapa yang menyuruhmu memakai baju ini kembali, hm?" bisik Hanggara parau di ceruk leher Savana, diiringi hisapan menuntut yang meninggalkan bekas keunguan yang kontras di kulit mulus wanita itu.Savana hanya bisa melenguh pasrah sewaktu jemari Hanggara beralih meluncur ke bawah, meremas kuat bokong mulusnya. Sementara itu, bibir sang direktur terus melahap kelembutan dadanya, menyapu dan melumat pucuk payudara Savana yang menegang."D-Dokter... hhh... pelan-pelan..." bisik Savana panik, menahan desahannya agar tak menembus dinding kamar, khawatir Bara yang berada di ruangan lain mendengar ketukan gairah mereka.Namun, Hanggara seolah pekak oleh kebuasan gairahnya
Di tempat lain di dalam rumah yang sama, keheningan melingkupi kamar tidur utama yang dihuni oleh Bara. Pria itu bersandar santai di kepala ranjang, memegang ponsel pintarnya dengan tatapan fokus. Jemarinya bergerak lincah menelusuri menu pengaturan, lalu membuka sebuah folder rahasia bermateri terkunci yang ia sembunyikan rapat-rapat dari siapa pun.Di dalam folder tersembunyi itu, tersimpan puluhan koleksi foto kebersamaannya dengan Alex. Bara menggeser layar satu per satu, memperhatikan jepretan kenangan mereka, mulai dari momen kemesraan biasa saat berlibur, hingga foto-foto vulgar dan adegan hubungan intim yang pernah mereka lakukan bersama secara tersembunyi.Bara menatap layar itu dengan dalam, mencoba memancing kembali gairah dan hasrat yang belakangan ini mendadak padam. Ia berharap rekaman visual kenangan liarnya bersama Alex bisa membakar kembali gairahnya yang kian mendingin. Namun, sebanyak apa pun foto syur Alex yang ia pandangi, tubuhnya tetap bergeming. Tidak ada senga
Perintah dingin yang dilontarkan Hanggara dengan tatapan penuh intensitas itu membuat dada Savana berdebar tak karuan. Keraguan mendalam menahannya untuk bergerak. Bibirnya menyunggingkan senyum canggung, bermaksud mencari celah untuk menghindar."D-Dokter... aku takut. Bagaimana kalau nanti ada yang melihat?" bisik Savana pelan, jemarinya meremas selimut erat-erat."Aku tidak menerima penolakan, Savana. Lepas pakaianmu sekarang," titah Hanggara tanpa memberi ruang untuk negosiasi, suaranya berat dan mengikat.Savana menggigit bibir bawahnya, akhirnya meluluh pada dominasi pria yang amat dicintainya itu. "B-baiklah... tapi aku melepaskan pakaianku di kamar ganti saja ya, Dokter.""Tidak. Jangan coba-coba bersembunyi. Lepas di depanku, di depan kamera ponselmu," potong Hanggara tegas, mengunci fokus pandangannya pada layar.Tak punya pilihan lain, Savana akhirnya patuh. Dengan tangan sedikit gemetar, ia beranjak dari ranjang dan berjalan pelan menuju meja rias. Ia menyandarkan ponselny
"Maaf, Mas. Jangan membicarakan hal itu," bisik Savana parau di sela-sela batuknya.Bara dengan sigap menggeser duduknya mendekat, menepuk-nepuk pelan punggung Savana seraya menyodorkan gelas air. Dahinya berkerut dalam, memancarkan rasa heran sekaligus kebingungan. "Kenapa, Savana? Kenapa aku tidak boleh membicarakan hal ini? Bukankah wajar jika sepasang suami istri merencanakan kehadiran seorang anak? Lagipula, Mama dan Papaku menginginkannya."Savana meneguk air putihnya hingga tandas, berusaha membasuh rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya. Ia menepis pelan tangan Bara dari punggungnya, lalu menatap pria itu dengan pandangan dingin."Sejak kamu menolakku berkali-kali, aku sama sekali sudah tidak memiliki rencana seperti itu, Mas," tegas Savana, suaranya terdengar begitu berjarak. "Tidak untuk saat ini, dan tidak juga di masa depan."Bara terbelalak kaget. "Savana, dengar dulu__""Aku sudah kenyang, Mas. Permisi, aku mau ke kamar," potong Savana cepat.Tanpa menunggu balasan ata







