Masuk"K-kamu ... Direktur Utama?" Savana terbata-bata. Matanya menatap tidak percaya pada papan nama di meja dan wajah pria di hadapannya secara bergantian.
"Tidak mungkin. Jangan bercanda! Kamu pasti cuma pura-pura untuk menakut-nakuti aku, kan?" Mendengar sangkalan Savana yang terdengar gemetar dan ketakutan, Hanggara mendengus pelan. Sudut bibirnya naik kembali, membentuk senyuman miring yang mengintimidasi. "Pura-pura?" Hanggara terkekeh pelan, sebuah suara bariton rendah yang membuat bulu kuduk Savana merinding. Pria itu perlahan memajukan wajahnya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Apakah saya perlu membuktikan kalau saya memang pria yang bersama Anda selama ini, Nyonya?" Sebelum Savana sempat mencerna kalimat itu, Hanggara mencondongkan tubuhnya lebih dekat, berniat mengklaim bibir ranum Savana yang tampak bergetar. Savana panik setengah mati. Tubuh mungilnya refleks meronta di dalam dekapan Hanggara. "Jangan! Tolong lepas!" cicitnya dengan suara sangat kecil, berusaha sekuat tenaga mendorong dada bidang pria itu. Namun, kekuatannya sama sekali bukan tandingan Hanggara. Pria itu menahan kedua tangannya dengan mudah, mengunci pergerakan Savana hingga wanita itu akhirnya hanya bisa memejamkan mata pasrah, bersiap menerima ciuman panas tersebut. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu yang keras dan tiba-tiba seketika memecah ketegangan di antara mereka. "Dokter Hanggara? Saya Bara. Boleh saya masuk untuk menyerahkan laporan operasi hari ini?" Suara bariton di balik pintu itu membuat Savana bagai disambar petir di siang bolong. Itu suara Bara! Suaminya sendiri! Kepanikan yang luar biasa menyerang seluruh kesadarannya. Jika Bara masuk dan melihatnya berada di dalam ruangan ini, terlebih dalam posisi sedekat ini dengan sang Direktur, maka habislah riwayatnya. Seluruh rencananya bisa hancur lebur! "D-dokter, tolong saya!" bisik Savana dengan wajah pias tanpa darah. Matanya berkaca-kaca menatap Hanggara, memohon dengan sangat pasrah. "Suami saya, jangan sampai dia melihat saya di sini. Tolong sembunyikan saya!" Melihat raut ketakutan yang begitu nyata di wajah Savana, Hanggara mengangkat satu alisnya. “Kenapa harus bersembunyi? Bukankah itu suami Anda sendiri?” tanyanya. Senyum miringnya kembali terukir di wajahnya. “Selain itu, bukankah ini kesempatan bagus juga untuk memberitahukannya kalau kita berpasangan?” “Dokter Hanggara, saya mohon!” Suara ketukan pintu kembali terdengar. Savana semakin panik. Ia mencengkram kemeja Hanggara, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Memohon lewat tatapan agar Hanggara bergerak membantunya. Hanggara menatapnya sejenak sebelum menghela napas pelan. Ia akhirnya menurunkan Savana dari gendongannya, lalu mengendikkan dagunya ke arah kolong meja kerjanya yang besar dan tertutup rapat di bagian depan. "Masuk ke bawah sana. Dan jangan bersuara sedikit pun," perintah Hanggara dengan suara dingin berbisik. Tanpa berpikir dua kali, Savana langsung merangkak masuk ke bawah meja kerja kayu jati tersebut. Tubuhnya ditekuk sekecil mungkin, meringkuk pasrah di dekat kaki kursi kebesaran sang Direktur. Setelah memastikan Savana tersembunyi dengan sempurna, Hanggara dengan tenang memposisikan dirinya duduk di kursi kerjanya. Ia merapikan kemeja hitamnya sebentar, mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi datar dan mengintimidasi seperti sedia kala. "Masuk," ujar Hanggara dengan suara dingin yang lantang. Pintu terbuka. Bara melangkah masuk dengan sikap sangat sopan dan penuh hormat, pemandangan yang sangat kontras dengan sikap angkuh yang biasa ia tunjukkan di rumah. Di bawah meja, Savana menahan napasnya rapat-rapat, meremas ujung rok seragamnya hingga tangannya gemetar hebat saat melihat sepasang sepatu pantofel hitam Bara berhenti tepat di depan meja. "Ini laporan hasil operasi bedah pasien di ruang ICU pagi tadi, Dok," ucap Bara seraya meletakkan map dokumen di atas meja. Hanggara mengambil map tersebut, membacanya sekilas dengan dahi sedikit berkerut, lalu membubuhkan tanda tangan dengan gerakan tegas. "Baik. Laporan saya terima. Kerja bagus, Dokter Bara. Anda boleh kembali ke ruangan Anda," ucap Hanggara datar tanpa riak emosi. "Baik, terima kasih, Dok," sahut Bara. Namun, sepasang sepatu pantofel itu tidak kunjung bergerak pergi. Bara tampak berdiri diam di tempatnya dengan gestur ragu-ragu. Rahangnya sedikit mengencang, seolah ada sesuatu yang mengganjal di kepalanya. "Ada hal lain yang ingin Anda sampaikan?" tanya Hanggara dingin, matanya menatap tajam ke arah Bara. Bara berdehem pelan, berusaha menetralisir rasa canggungnya. "Maaf sebelumnya jika saya menanyakan hal di luar medis, Dok. Tapi, apakah pihak HRD baru saja menerima karyawan cleaning service bernama Savana hari ini?" Deg. Di dalam kegelapan bawah meja, tubuh Savana seketika menegang sempurna. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut suaranya akan terdengar sampai ke luar. Alex pasti menceritakan pertemuan mereka tadi kepada Bara! Ia pasti ingin memastikan apakah dirinya memang istri sah Bara atau bukan. Kini, nasib Savana sepenuhnya berada di ujung lidah sang Direktur yang sedang mengulas senyum miring misterius di atas sana."D-dokter serius akan seperti itu?" suara Savana bergetar hebat, matanya menatap Hanggara dengan binar ketakutan dan luka yang nyata.Hanggara mendadak tertawa kecil. Kekehannya terdengar renyah sewaktu ia menepuk pelan paha Savana. "Tentu saja saya hanya bercanda. Kenapa wajahmu sampai sepucat itu?"Savana menghela napas lega, namun kebingungan masih melingkupi benaknya. "Bercanda? Tapi suara Dokter tadi sungguh terdengar serius..."Hanggara mengikis jarak, menatap manik mata Savana dengan binar pekat yang sarat akan dominasi dan kepemilikan. "Jika kamu benar-benar hamil anak saya, itu justru hal paling bagus. Hal yang memang sangat saya nanti-nantikan sejak awal. Saya memang sengaja menyemburkannya di dalam rahimmu tanpa pengaman."Dahi Savana berkerut makin dalam. "Kenapa, Dokter?""Karena dengan begitu, saya punya alasan mutlak untuk secepatnya menikahi kamu," bisik Hanggara dengan intonasi rendah yang mengikat. "Agar kamu bisa lekas bebas dan terlepas dari Bara."Jantung Savana b
Savana melangkahkan kakinya menembus pintu ruang khusus cleaning service yang terletak di lantai dasar rumah sakit. Udara pagi itu menyambutnya dengan riuh rendah suara rekan-rekan kerjanya yang sedang bersiap-siap sebelum memulai sif. Lemari-lemari loker terbuka lebar, menampilkan kesibukan para petugas yang sibuk merapikan seragam dan menyiapkan alat pembersih.Savana menghampiri lokernya sendiri, membuka pintunya, lalu perlahan melepas kemeja kasualnya untuk digantikan dengan seragam cleaning service berwarna biru muda. Saat kancing atas seragamnya ia sematkan, bayangan memar kemerahan di balik kain sutra tadi pagi sempat berkelebat di benaknya, membuat pipinya kembali merona hangat."Savana!"Sebuah tepukan pelan di bahunya membuyarkan lamunan wanita itu. Valerie, rekan sesama cleaning service yang paling heboh, menyenderkan tubuhnya pada barisan loker di samping Savana dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme.Savana menoleh seraya mengulas senyum tipis. "Ada apa, Valerie?""K
Pagi harinya, cahaya matahari menyusup samar menembus celah gorden. Savana perlahan terbangun dari tidur lelapnya. Tubuhnya terasa pegal dan lelah usai pergulatan panas sepanjang malam, namun kepuasan bersisa hangat di dadanya. Saat meraba sisi tempat tidur yang kosong, Savana tersadar bahwa Hanggara sudah tidak berada di sampingnya.Savana perlahan merubah posisinya menjadi terduduk. Pandangannya tak sengaja tertuju pada meja nakas di samping kasur, di mana secarik kertas putih tergeletak disangga oleh botol parfumnya. Dengan jemari yang masih sedikit lemas, Savana meraih kertas tersebut dan membaca tulisan tangan dengan goresan tegas dan rapi milik sang direktur:Saya harus pergi lebih awal karena ada jadwal operasi mendadak pagi-pagi sekali. Jangan lupa periksa cermin. Saya meninggalkan banyak noda merah di payudaramu sebelum pergi tadi.Mata Savana membelalak seketika. Ia buru-buru menyibakkan selimut dan menatap area dadanya sendiri. Benar saja, beberapa bekas gigitan dan bercak
Beberapa saat sebelumnya... Hanggara perlahan menegakkan tubuh tegapnya dari posisi berjongkok, bergerak merayap naik menelusuri lekuk tubuh Savana yang gemetar pasrah. Bibirnya mendarat hangat di atas permukaan kulit perut Savana yang rata, menyapukan kecupan-kecupan halus yang meninggalkan jejak panas, sebelum akhirnya naik merambati dada wanita itu.Dengan dominasi yang intens, mulut Hanggara melahap salah satu puncak payudara Savana yang mengeras. Lidahnya menyapu licin, menyesap dan mengulumnya penuh gairah, sementara jemarinya yang bebas meremas lembut kelopak dada sebelahnya. Savana membusungkan dadanya refleks, membiarkan jemarinya meremas kuat bahu kokoh Hanggara seraya meloloskan desahan napas yang makin memburu dan tak berdaya.Setelah memuaskan dahaganya di sana, Hanggara menarik wajahnya naik, menyergap bibir Savana dalam lumat melingkar yang menuntut. Di sela tautan bibir mereka yang kian memanas, tangan Hanggara bergerak cekatan melepas kemeja mewahnya sendiri, melempa
Setelah meninggalkan warung pecel lele pinggir jalan, mobil mewah Hanggara membelah malam yang makin sepi menuju kawasan perumahan tempat Savana tinggal. Keheningan menguasai kabin belakang sedan tersebut, hanya menyisakan deru halus mesin yang menemani perjalanan mereka.Tak berapa lama, mobil Hanggara berhenti tepat di depan gerbang rumah Savana.Savana menoleh pada pria tegap di sampingnya, menguraikan senyum tipis yang memendam ragu. "Dokter Hanggara... saya pamit turun ya?"Hanggara hanya mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. "Mmm. Hati-hati."Savana tertegun sejenak. Dahi mulusnya berkerut tipis menahan keheranan. Biasanya, Hanggara selalu menahannya, mencium bibirnya secara paksa dan dominan sebelum membiarkannya pergi dari jangkauannya. Namun kali ini, pria itu tampak begitu tenang dan acuh tak acuh.Merasa ada yang mengganjal, Savana mencoba sekali lagi seraya menyentuh gagang pintu mobil. "Sa-saya masuk dulu, Dokter."Hanggara tetap diam, sama seka
Bara masih menyusupkan setengah tubuhnya di kolong tempat tidur pasien. Tubuhnya kaku, sementara debu tipis yang beterbangan membuat tenggorokannya gatal tak tertahankan. Sudah berjam-jam ia merayap di lantai dingin, berputar-putar di celah sempit yang menguras tenaga dan meremukkan harga dirinya. Namun, bolpoin kustom edisi terbatas milik Hanggara sama sekali tidak menunjukkan keberadaannya.Bara menarik tubuhnya keluar dengan napas memburu. Jas dokter yang dikenakannya kini kotor berjelaga, kemeja putihnya lusuh, dan dahinya dipenuhi keringat bercampur debu. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kaki ranjang, menatap telapak tangannya yang hitam kotor dengan tatapan putus asa.Jam di dinding sudah menunjukkan larut malam. Tubuhnya lelah luar biasa, sementara rasa jengkel dan hina bergolak di dalam dada."Bangsat! Ke mana sebenarnya bolpoin sialan itu?" gumam Bara parau seraya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri.Dengan sisa tenaga dan gengsi yang kian merosot, Bara merog







