แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Hiro Sayank
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-17 12:30:28

"Savana?" Hanggara mengulang nama itu dengan suara baritonnya yang berat dan tenang.

"Ya, seingat saya pihak administrasi memang melaporkan ada karyawan cleaning service baru yang bernama Savana hari ini."

Mata Savana membelalak sempurna di balik kegelapan. Ia syok setengah mati. Tubuhnya mendadak kaku dan ia hampir saja memekik saking tidak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Hanggara.

Pria itu benar-benar gila! Bagaimana bisa dia justru membenarkan pertanyaan Bara secara blak-blakan?

Bara yang mendengar jawaban dari sang Direktur Utama langsung mencondongkan tubuhnya ke depan meja. Wajahnya tampak menggebu-gebu dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan sekaligus rasa penasaran yang besar.

"A-apakah nama panjangnya Savana Anindya, Dok?" tanya Bara dengan nada memburu.

Mendengar nama lengkap yang diucapkan Bara, Hanggara perlahan mengerutkan alisnya. Sorot wajahnya berubah dingin dan kaku. Aura intimidasi yang sangat pekat langsung menguar dari tubuh Hanggara, memenuhi seisi ruangan mewah tersebut.

"Kenapa kamu ingin tahu sekali?" tanya Hanggara dengan tatapan mata elang yang menajam, menusuk langsung ke manik mata Bara. Suaranya terdengar sangat dalam dan tidak ramah.

"Apa dia kenalanmu?"

Nyali Bara seketika menciut drastis melihat perubahan atmosfer dari bos besarnya. Ia menelan ludah dengan gugup, lalu buru-buru menggelengkan kepalanya dengan gestur takut.

"B-bukan begitu, Dok. Maaf sebelumnya," jawab Bara dengan suara yang mengecil dan terdengar bergetar.

"Saya hanya takut kalau Savana yang baru masuk ini adalah istri saya. Makanya saya mau memastikan langsung."

Bara menghela napas pendek sejenak.  "Istri saya itu, orangnya tidak bisa bekerja kasar, Dok. Saya menyediakan pembantu di rumah, jadi hidupnya nyaman dan terjamin,” Bara kembali membuka suara yang membuat Savana mematung. 

“Jangankan mengurus rumah sakit yang besar begini, mengurus rumah kami yang kecil saja dia tidak terbiasa. Jadi, saya cemas kalau dia nekat bekerja di sini, dia hanya akan merepotkan staf yang lain," ujar Bara panjang lebar dengan wajah memelas.

Di bawah meja, dada Savana mendadak terasa dihantam oleh batu besar yang teramat sangat berat. Air mata hampir saja menetes dari pelupuk matanya. Rasanya begitu menyesakkan, perih, dan menghancurkan hatinya. 

Bagaimana bisa pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu dengan enteng berbohong di depan atasan tertinggi tempatnya bekerja? Tidak hanya membuat dirinya terdengar seperti lelaki yang bertanggung jawab, ia juga membuat Savana terdengar seperti istri yang buruk.

Hanggara melirikkan matanya sedikit ke bawah, tepat ke arah celah di mana Savana sedang meringkuk pasrah dengan wajah yang murung dan terluka. Rahang tegas Hanggara tampak mengeras sesaat sebelum kembali menatap Bara dengan pandangan yang teramat dingin.

"Yang saya tahu, petugas baru bernama Savana itu memiliki nama belakang yang berbeda dari yang Anda sebutkan tadi,” balas Hanggara sambil  mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja kerja dengan ritme yang lambat namun penuh penekanan. “Selebihnya tentang data karyawan itu bukan urusan Anda.”

Bara menelan ludah. Ia tidak berani bertanya lebih lanjut lagi setelah melihat tatapan mengintimidasi dari sang Direktur. Bara akhirnya berkata pelan, “Baik, Dok. Maafkan saya.”

Hanggara menghembuskan napas pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya.

"Sekarang, laporan Anda sudah saya terima. Anda boleh keluar dari ruangan saya, Dokter Bara,” perintah Hanggara.

"Baik, Dok. Terima kasih banyak. Saya permisi kembali bertugas," cicit Bara patuh sambil membungkukkan badan sedikit, lalu berbalik dan melangkah terburu-buru keluar dari ruangan mewah itu.

Suara pintu yang tertutup rapat akhirnya mengembalikan keheningan di dalam ruangan kerja Direktur. Hanggara lalu mengalihkan pandangannya ke Savana yang masih meringkuk di bawah mejanya.

"Dia sudah pergi. Anda bisa keluar," ucap Hanggara dengan suara dinginnya yang khas.

Savana bergerak perlahan, merangkak keluar dari bawah meja dengan gerakan canggung. Pakaian seragamnya tampak sedikit kusut, dan wajah cantiknya kini sepenuhnya mendung, dihiasi binar mata yang redup karena sisa rasa sakit hati mendengar ucapan Bara tadi. 

Ia berdiri tegak dengan kepala menunduk, meremas jemarinya sendiri tanpa mengeluarkan suara.

Hanggara memutar kursinya menghadap Savana. Kakinya disilangkan dan kedua tangannya terlipat di depan dada. 

“Saya tidak menyangka Anda akan bekerja di sini tanpa memberitahunya. Pantas saja Anda meminta bersembunyi tadi,” ujar Hanggara, menatap lekat ke arah Savana. 

Seulas seringai terukir di wajahnya. "Ternyata Anda cukup berani, ya?"

Savana tidak menjawab. Ia tetap membisu, membiarkan keheningan menguasai dirinya yang sedang dirundung kesedihan mendalam.

Melihat wanita di hadapannya hanya terdiam murung, Hanggara mendengus pelan.

"Omong-omong, Nyonya, bukankah dengan kejadian tadi, artinya sekarang Anda memiliki hutang yang cukup besar pada saya?" cetus Hanggara lagi, memecah keheningan dengan nada suara yang terdengar lebih rendah dan berat.

Mendengar kalimat itu, kesadaran Savana seolah ditarik kembali ke realitas. Ia perlahan mendongakkan wajahnya, memberanikan diri menatap langsung ke dalam manik mata elang pria di depannya. 

"I-iya, saya tahu," cicit Savana dengan suara kecil yang terdengar pasrah. 

Savana tahu betul bahwa jika bukan karena bantuan Hanggara yang bersedia menyembunyikannya dan membohongi Bara, rahasianya pasti sudah terbongkar hari ini. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum berkata lagi.

"Lalu, apa yang Anda inginkan dari saya sebagai gantinya, Dokter Hanggara? Saya akan berusaha menuruti apa pun kemauan Anda."

Mendengar jawaban patuh dari Savana, sudut bibir Hanggara perlahan terangkat lagi, membentuk sebuah senyuman miring yang begitu menawan namun berbahaya.

Tanpa aba-aba, sepasang lengan kekarnya yang kokoh langsung melingkar erat di pinggang ramping Savana, menarik tubuh mungil wanita itu mendekat ke arahnya.

Savana tersentak. Bulu kuduknya merinding ketika Hanggara menaikkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Savana hingga deru napasnya yang hangat menyapu kulit leher wanita itu.

"Saya ingin melanjutkan hubungan lama kita, Nyonya," bisik Hanggara dengan suara berat yang teramat sensual dan mengikat kuat.

"Bukankah permintaan itu sangat mudah untuk Anda turuti?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Mawarr
ga rugi2 amat sama bayarannya Savana, tajir, tampan
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
waw hanggara keren
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 165

    Beberapa jam kemudian.Suasana sudut kantin Rumah Sakit Utama nampak agak lengang di siang menjelang sore yang temaram. Di salah satu meja sudut yang berdekatan dengan dinding kaca besar, Savana duduk termenung dengan pandangan kosong menatap cangkir teh hangat yang uapnya perlahan mulai memudar. Matanya masih terlihat sembap dan merah akibat tangis yang tak kunjung reda, sementara pergelangan tangan kanannya nampak memerah bekas tarikan kasar dan renggutan cincin oleh Dokter Karin tadi pagi.Di hadapannya, Valerie, sahabat setia sekaligus orang yang selalu ada di masa-masa sulitnya, duduk menemani dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang mendalam. Valerie merangkap kedua tangan Savana di atas meja, mengusapnya lembut dengan penuh kasih sayang untuk menyalurkan kekuatan pada sahabatnya yang tengah hancur."Udah ya, Sav... Jangan disiksa terus diri kamu kayak gini," bujuk Valerie dengan nada suara yang begitu lembut, merajuk penuh iba. "Kamu dari tadi pagi belum makan apa-apa sama sek

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 164

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos di antara celah dedaunan rindang di taman belakang Rumah Sakit Utama. Savana duduk sendirian di atas kursi besi yang dingin. Tatapan matanya kosong menembus rumput-rumput hijau yang basah oleh embun.Jemari halusnya yang gemetar tak berhenti mengusap sebentuk cincin bermata berlian melingkar anggun di jari manisnya, cincin pertunangan pemberian Hanggara sebelum musibah ini terjadi."Kenapa harus seperti ini, Tuhan...?" bisik Savana dengan suara parau yang amat teriris. Air mata panas kembali menetes, jatuh tepat di atas permukaan berlian yang berkilau.Savana meremas jarinya sendiri, merasakan dinginnya logam cincin itu menembus dadanya. "Hanggara, bagaimana bisa kamu melupakan aku begitu saja? Bagaimana bisa semua kenangan kita, janji-janji manis kita, dan tatapan matamu yang penuh cinta itu hilang tanpa sisa dalam semalam?"Rasa tidak terima memuncak membakar seluruh kesadarannya."Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak akan membiarkan wanita u

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 163

    Keheningan menakutkan mencengkeram seluruh sudut ruang VIP. Pertanyaan asing yang keluar dari bibir Hanggara menghantam dada Savana bagai hantaman godam yang menghancurkan seluruh harapannya dalam sekejap."H-Hanggara... kau tidak bercanda, kan?" bisik Savana dengan bibir yang bergetar hebat. Air mata baru meluncur membasahi pipinya yang kian pucat. "Ini aku, Hanggara... Aku Savana."Savana melangkah satu pijakan lebih dekat, hendak mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih jemari kekar pria itu. "Aku wanita yang kau cintai, Hanggara. Kita... kita seharusnya menikah kemarin pagi...""Tunggu dulu, Savana!" sela sebuah suara nyaring yang memotong kalimat Savana secara mendadak.Dokter Karin maju melangkah dengan sigap, memotong jarak antara Savana dan ranjang pembaringan Hanggara. Wajah wanita itu dipenuhi oleh tatapan dingin dan merendahkan.Dokter Karin menoleh pada Hanggara yang masih menatap bingung seraya memegangi kepalanya yang berdenyut pening. "Dokter Hanggara, jangan den

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 162

    Savana menahan napasnya. Manik matanya tak berkedip sedikit pun menatap genggaman tangannya. Gerakan di jemari Hanggara terasa kian nyata, bukan lagi sekadar halusinasi atau bunga tidur yang kerap menyiksanya."H-Hanggara...?" bisik Savana dengan suara bergetar pelan.Ia memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah pembaringan. Dilihatnya kelopak mata tebal Hanggara yang terbungkus perban tipis di bagian dahi mulai bergerak-gerak. Bulu matanya yang lebat bergetar pelan, menunjukkan usaha keras dari sang dokter untuk keluar dari kegelapan koma yang membelenggunya berhari-hari."Hanggara! Kamu dengar suara aku, kan? Hanggara, buka matamu, Sayang!" seru Savana seraya mengusap pipi Hanggara yang masih pucat. Air mata kebahagiaan seketika meleleh membasahi pipinya.Melihat kelopak mata Hanggara yang makin bergerak-gerak seperti hendak terbuka, Savana langsung panik dan tergesa-gesa mencari tombol pemanggil perawat di kepala ranjang. Ia menekan tombol berwarna merah itu berulang kali de

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 161

    Matahari pagi kembali menyusup melalui celah gorden ruang perawatan VIP, membiaskan pendar cahaya lembut yang menyiram sebagian tubuh tegap Hanggara di atas ranjang medis. Savana masih setia berada di sana. Ia duduk bersandar di kursi kayu samping pembaringan, jemari halusnya tak pernah melepaskan genggaman pada pergelangan tangan Hanggara yang terasa hangat.Tiba-tiba, kelopak mata Hanggara perlahan melonggar, lalu terbuka lebar. Manik mata pekat yang amat dirindukan itu berkedip perlahan sebelum sepenuhnya mengunci pandangan pada wajah Savana.Savana membeku seketika. Jantungnya berdegup kencang, seolah tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. "H-Hanggara...?"Hanggara menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. Tanpa aba-aba, tubuh tegap itu langsung bangkit dan terduduk tegak. Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, menangkup kedua pipi Savana dengan usapan lembut yang penuh gairah."Aku merindukanmu, Savana... Sangat merindukanmu," bisik Hanggara dengan suara berat nan

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 160

    Berhari-hari telah berlalu sejak insiden berdarah yang menimpa Hanggara, namun tak sedikit pun menyurutkan kesetiaan Savana. Wanita itu menolak untuk beranjak dari ruang perawatan VIP tempat calon suaminya terbaring koma. Bagi Savana, ruangan beraroma antiseptik itu kini telah menjadi dunianya.Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Savana sudah bangun. Dengan telaten dan penuh rasa kasih, ia mengelap tubuh tegap Hanggara menggunakan waslap basah berair hangat. Jemari halusnya menyapu perlahan dada bidang yang dulu kerap memeluknya erat, membersihkan setiap inci kulit pria itu dari debu dan keringat dengan kelembutan yang teramat sangat.Savana juga rutin merapikan rambut hitam Hanggara, memotong kuku-kuku jarinya dengan hati-hati, hingga mengoleskan pelembab pada bibir sang dokter yang pucat dan kering. Ia tak pernah membiarkan penampilan Hanggara tampak kusam sedikit pun.Tak hanya merawat fisiknya, Savana terus mengajak Hanggara berbicara sepanjang hari. Sembari memijat l

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status