تسجيل الدخول"Savana?" Hanggara mengulang nama itu dengan suara baritonnya yang berat dan tenang.
"Ya, seingat saya pihak administrasi memang melaporkan ada karyawan cleaning service baru yang bernama Savana hari ini." Mata Savana membelalak sempurna di balik kegelapan. Ia syok setengah mati. Tubuhnya mendadak kaku dan ia hampir saja memekik saking tidak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Hanggara. Pria itu benar-benar gila! Bagaimana bisa dia justru membenarkan pertanyaan Bara secara blak-blakan? Bara yang mendengar jawaban dari sang Direktur Utama langsung mencondongkan tubuhnya ke depan meja. Wajahnya tampak menggebu-gebu dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan sekaligus rasa penasaran yang besar. "A-apakah nama panjangnya Savana Anindya, Dok?" tanya Bara dengan nada memburu. Mendengar nama lengkap yang diucapkan Bara, Hanggara perlahan mengerutkan alisnya. Sorot wajahnya berubah dingin dan kaku. Aura intimidasi yang sangat pekat langsung menguar dari tubuh Hanggara, memenuhi seisi ruangan mewah tersebut. "Kenapa kamu ingin tahu sekali?" tanya Hanggara dengan tatapan mata elang yang menajam, menusuk langsung ke manik mata Bara. Suaranya terdengar sangat dalam dan tidak ramah. "Apa dia kenalanmu?" Nyali Bara seketika menciut drastis melihat perubahan atmosfer dari bos besarnya. Ia menelan ludah dengan gugup, lalu buru-buru menggelengkan kepalanya dengan gestur takut. "B-bukan begitu, Dok. Maaf sebelumnya," jawab Bara dengan suara yang mengecil dan terdengar bergetar. "Saya hanya takut kalau Savana yang baru masuk ini adalah istri saya. Makanya saya mau memastikan langsung." Bara menghela napas pendek sejenak. "Istri saya itu, orangnya tidak bisa bekerja kasar, Dok. Saya menyediakan pembantu di rumah, jadi hidupnya nyaman dan terjamin,” Bara kembali membuka suara yang membuat Savana mematung. “Jangankan mengurus rumah sakit yang besar begini, mengurus rumah kami yang kecil saja dia tidak terbiasa. Jadi, saya cemas kalau dia nekat bekerja di sini, dia hanya akan merepotkan staf yang lain," ujar Bara panjang lebar dengan wajah memelas. Di bawah meja, dada Savana mendadak terasa dihantam oleh batu besar yang teramat sangat berat. Air mata hampir saja menetes dari pelupuk matanya. Rasanya begitu menyesakkan, perih, dan menghancurkan hatinya. Bagaimana bisa pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu dengan enteng berbohong di depan atasan tertinggi tempatnya bekerja? Tidak hanya membuat dirinya terdengar seperti lelaki yang bertanggung jawab, ia juga membuat Savana terdengar seperti istri yang buruk. Hanggara melirikkan matanya sedikit ke bawah, tepat ke arah celah di mana Savana sedang meringkuk pasrah dengan wajah yang murung dan terluka. Rahang tegas Hanggara tampak mengeras sesaat sebelum kembali menatap Bara dengan pandangan yang teramat dingin. "Yang saya tahu, petugas baru bernama Savana itu memiliki nama belakang yang berbeda dari yang Anda sebutkan tadi,” balas Hanggara sambil mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja kerja dengan ritme yang lambat namun penuh penekanan. “Selebihnya tentang data karyawan itu bukan urusan Anda.” Bara menelan ludah. Ia tidak berani bertanya lebih lanjut lagi setelah melihat tatapan mengintimidasi dari sang Direktur. Bara akhirnya berkata pelan, “Baik, Dok. Maafkan saya.” Hanggara menghembuskan napas pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya. "Sekarang, laporan Anda sudah saya terima. Anda boleh keluar dari ruangan saya, Dokter Bara,” perintah Hanggara. "Baik, Dok. Terima kasih banyak. Saya permisi kembali bertugas," cicit Bara patuh sambil membungkukkan badan sedikit, lalu berbalik dan melangkah terburu-buru keluar dari ruangan mewah itu. Suara pintu yang tertutup rapat akhirnya mengembalikan keheningan di dalam ruangan kerja Direktur. Hanggara lalu mengalihkan pandangannya ke Savana yang masih meringkuk di bawah mejanya. "Dia sudah pergi. Anda bisa keluar," ucap Hanggara dengan suara dinginnya yang khas. Savana bergerak perlahan, merangkak keluar dari bawah meja dengan gerakan canggung. Pakaian seragamnya tampak sedikit kusut, dan wajah cantiknya kini sepenuhnya mendung, dihiasi binar mata yang redup karena sisa rasa sakit hati mendengar ucapan Bara tadi. Ia berdiri tegak dengan kepala menunduk, meremas jemarinya sendiri tanpa mengeluarkan suara. Hanggara memutar kursinya menghadap Savana. Kakinya disilangkan dan kedua tangannya terlipat di depan dada. “Saya tidak menyangka Anda akan bekerja di sini tanpa memberitahunya. Pantas saja Anda meminta bersembunyi tadi,” ujar Hanggara, menatap lekat ke arah Savana. Seulas seringai terukir di wajahnya. "Ternyata Anda cukup berani, ya?" Savana tidak menjawab. Ia tetap membisu, membiarkan keheningan menguasai dirinya yang sedang dirundung kesedihan mendalam. Melihat wanita di hadapannya hanya terdiam murung, Hanggara mendengus pelan. "Omong-omong, Nyonya, bukankah dengan kejadian tadi, artinya sekarang Anda memiliki hutang yang cukup besar pada saya?" cetus Hanggara lagi, memecah keheningan dengan nada suara yang terdengar lebih rendah dan berat. Mendengar kalimat itu, kesadaran Savana seolah ditarik kembali ke realitas. Ia perlahan mendongakkan wajahnya, memberanikan diri menatap langsung ke dalam manik mata elang pria di depannya. "I-iya, saya tahu," cicit Savana dengan suara kecil yang terdengar pasrah. Savana tahu betul bahwa jika bukan karena bantuan Hanggara yang bersedia menyembunyikannya dan membohongi Bara, rahasianya pasti sudah terbongkar hari ini. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum berkata lagi. "Lalu, apa yang Anda inginkan dari saya sebagai gantinya, Dokter Hanggara? Saya akan berusaha menuruti apa pun kemauan Anda." Mendengar jawaban patuh dari Savana, sudut bibir Hanggara perlahan terangkat lagi, membentuk sebuah senyuman miring yang begitu menawan namun berbahaya. Tanpa aba-aba, sepasang lengan kekarnya yang kokoh langsung melingkar erat di pinggang ramping Savana, menarik tubuh mungil wanita itu mendekat ke arahnya. Savana tersentak. Bulu kuduknya merinding ketika Hanggara menaikkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Savana hingga deru napasnya yang hangat menyapu kulit leher wanita itu. "Saya ingin melanjutkan hubungan lama kita, Nyonya," bisik Hanggara dengan suara berat yang teramat sensual dan mengikat kuat. "Bukankah permintaan itu sangat mudah untuk Anda turuti?"Sore harinya....Savana berdiri di halte bus yang sepi, mengusap kedua telapak tangannya untuk mengusir lelah usai menyelesaikan jam kerjanya.Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di hadapannya. Kaca jendela bagian belakang perlahan menurun, memperlihatkan figur tegap Hanggara yang duduk santai di kursi penumpang."Masuk," perintah Hanggara singkat tanpa basa-basi.Savana tersentak panik, matanya melirik ke sekeliling khawatir ada staf rumah sakit yang melihat. "Tapi, Dok...""Ini perintah, Savana. Masuk sekarang," potong Hanggara dengan nada suara dingin yang menuntut kepatuhan mutlak.Tak ingin memicu perhatian orang lain, Savana terpaksa patuh. Ia membuka pintu dan duduk di samping sang direktur. Begitu pintu tertutup rapat, mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi Hanggara langsung melaju membelah jalanan kota.Savana menoleh cemas pada Hanggara. "Dokter, saya harus langsung pulang. Nanti kalau Mas Bara sampai di rumah lebih dulu__""Dia sedang sibuk berada di kolon
Hanggara beranjak dari kursi kebesarannya. Langkah kakinya yang tegap dan berbobot mengikis jarak ke arah Karin, memancarkan aura intimidasi yang begitu pekat hingga Dokter cantik itu mendadak kesulitan bernapas. Hanggara mengepalkan jemarinya, mengatupkan rahang keras-keras. Amarah yang membakar dadanya hampir saja membuat pria itu menembakkan kebenaran secara gamblang di hadapan Karin, bahwa wanita yang dituduhnya sebagai pencuri adalah orang yang sama dengan pemilik cincin tersebut.Namun, tepat sebelum kata-kata tajam itu lolos dari bibirnya, Savana memotong cepat dengan nada suara gemetar yang dibuat-buat."Maafkan saya, Dokter! Mohon maafkan saya!" celetuk Savana seraya membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di depan Hanggara dan Karin.Mata Savana menatap Hanggara lekat-lekat, menyalurkan isyarat memohon yang teramat sangat agar direktur rumah sakit itu menahan diri dan tidak membocorkan rahasia mereka.Savana menarik napas panjang, lalu melanjutkan kebohongannya demi menyelamatkan
Bara duduk bersandar di kursi kerjanya di ruang dokter, menghela napas lelah usai menyelesaikan rangkaian operasi yang menguras tenaga. Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk pelan dan seorang perawat melangkah masuk."Dokter Bara, maaf mengganggu. Dokter Hanggara memanggil Anda untuk segera menyusulnya ke ruang rawat pasien nomor 402 di bangsal VIP," ujar perawat tersebut sopan.Bara berkerut dahi, merasa heran. "Ruang 402? Ada masalah apa di sana?""Saya kurang tahu, Dok. Dokter Hanggara hanya berpesan agar Anda segera ke sana," sahut perawat itu sebelum pamit mundur.Meski diliputi kebingungan, Bara tetap berdiri dan merapikan jas dokternya. Ia tidak ingin membuat impresi buruk di depan sang direktur utama. Langkah kakinya membawa Bara menyusuri koridor VIP hingga tiba di depan kamar nomor 402. Begitu mendorong pintu, ia mendapati Hanggara sedang berdiri tegap di samping ranjang pasien yang kebetulan sedang kosong."Selamat siang, Dokter Hanggara. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bara
Tudingan tajam yang meluncur mulus dari bibir Bara seketika membuat pasokan udara di paru-paru Savana terasa tersumbat. Jantungnya berdegup brutal, namun ia memaksakan diri mempertahankan ekspresi wajah sejujur mungkin demi menyembunyikan kenyataan bahwasanya sosok yang dituduhkan Bara saat ini benar-benar sedang bersembunyi di bawah tempat tidurnya."Jangan asal bicara, Mas!" potong Savana dengan nada suara berpura-pura tersinggung dan tegar. "Mana mungkin aku berbuat serendah itu? Jangan menyamakan aku dengan kelakuan burukmu di luar sana!"Mendengar sanggahan tajam itu, raut wajah Bara mendadak berubah. Kilasan keputusan Savana yang ingin meninggalkannya, serta tekad kuatnya untuk berpura-pura menjadi suami yang baik seketika meredam emosinya. Bara tersadar bahwasanya ia tidak boleh memicu pertengkaran baru jika ingin memperbaiki hubungan mereka.Pria itu menghela napas panjang, lalu tersenyum kaku seraya menepuk dahi pelan. "Maaf, Savana. Aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku tahu ka
Cahaya matahari pagi menyusup tipis melalui celah gorden, menyapa mata Savana yang perlahan terbuka. Sensasi hangat dan napas teratur yang berembus di ceruk lehernya membuat Savana tersadar. Di sampingnya, Hanggara masih tertidur pulas dalam posisi menyamping, melingkarkan lengan kokohnya erat-erat di pinggang Savana yang bertelanjang polos sejak semalam.Perlahan, ingatan Savana pulih sepenuhnya. Matanya membelalak lebar sewaktu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi."Dokter... Dokter Hanggara, bangun..." bisik Savana panik, menepuk-nepuk pelan lengan tegap yang melingkari tubuhnya. "Dokter, bangun... Hari sudah pagi, Dokter harus segera pergi dari sini!"Bukannya bergeming, Hanggara justru menggeram rendah, makin membenamkan wajahnya di leher hangat Savana dan memperketat dekapan lengannya.Savana mulai sedikit memberontak, mencoba mengurai cengkeraman lengan itu. "Dokter, tolong. Nanti Mas Bara melihat Dokter di sini! Lagipula, apa Dokter tidak ke rumah sakit? Saya j
Napas Hanggara berembus makin panas saat bibirnya meluncur turun dari bibir Savana, menyusuri garis rahang lalu menyesap leher jenjang wanita itu dengan lapar. Jemarinya yang kekar bergerak sigap, menyusup ke balik daster yang baru saja dikenakan Savana dan melucutinya tanpa ampun hingga kain itu terperosok jatuh ke lantai."Siapa yang menyuruhmu memakai baju ini kembali, hm?" bisik Hanggara parau di ceruk leher Savana, diiringi hisapan menuntut yang meninggalkan bekas keunguan yang kontras di kulit mulus wanita itu.Savana hanya bisa melenguh pasrah sewaktu jemari Hanggara beralih meluncur ke bawah, meremas kuat bokong mulusnya. Sementara itu, bibir sang direktur terus melahap kelembutan dadanya, menyapu dan melumat pucuk payudara Savana yang menegang."D-Dokter... hhh... pelan-pelan..." bisik Savana panik, menahan desahannya agar tak menembus dinding kamar, khawatir Bara yang berada di ruangan lain mendengar ketukan gairah mereka.Namun, Hanggara seolah pekak oleh kebuasan gairahnya







