Share

Bab 2

Penulis: Obayantara
Abigail langsung menampilkan wajah ketakutan dan meringkuk ke dalam pelukan Titus. Titus juga tertegun sejenak.

"Kalian ini ...." Abigail menarik tangan Titus. "Kak Titus, jangan tanya lagi, ya? Aku ...."

Aku tidak ingin lagi melihat kepura-puraan Abigail, jadi aku langsung berbalik hendak pergi. Titus kembali menarikku.

"Aku nggak peduli hubungan kalian apa. Kamu menabrak orang, berarti kamu harus minta maaf. Abi itu dokter, tangannya sangat berharga. Tadi tangannya hampir terluka!"

Luka di punggung tanganku terasa seperti digigit semut, perihnya menjalar sampai ke dada. Aku mengangkat tangan, memperlihatkan punggung tanganku yang merah menyala. "Lorongnya selebar ini, aku berdiri di samping tempat dudukku sendiri. Dia yang mendekat dan menabrakku. Lagi pula, aku juga terluka. Kesalahannya bukan di aku, aku nggak akan minta maaf!"

Tatapan Titus tertuju pada punggung tanganku. Mata yang biasanya tenang itu sempat berubah sesaat. Aku langsung mendorong mereka dan meminta satu kantong es pada pelayan.

Saat keluar, aku menoleh sekilas. Di dekat jendela, Abigail duduk dengan wajah murung, Titus duduk di sampingnya dengan raut lembut, memanggang daging untuk Abigail dengan tangannya sendiri.

Dinginnya kantong es seolah-olah meresap ke hatiku. Sisa harapan terakhir di dalam diriku pun lenyap sepenuhnya. Seorang pria dingin yang selalu menjaga jarak, sampai memanggang daging sendiri untuk Abigail. Dalam pengejaran ini, aku kalah total.

Begitu sampai rumah, ibuku langsung menarikku masuk ke kamar, menanyai apakah keputusanku pagi tadi yang menyetujui perjodohan dengan Keluarga Winata itu benar. Berhadapan dengan tatapan ibuku yang penuh kekhawatiran, hidungku terasa perih dan rasa getir kembali memenuhi hati.

Siapa di lingkaran kami yang tidak tahu, aku jatuh cinta pada Titus sejak pandangan pertama dan bersumpah tidak akan menikah dengan siapa pun selain dia. Tak peduli sedingin apa Titus padaku, aku selalu mengejarnya dari belakang.

Ibuku memelukku dengan penuh kasih sayang dan bertanya apakah aku diperlakukan tidak adil. Aku menarik senyuman tipis. "Ibu, aku serius. Aku sudah capek sama Titus. Aku nggak mau kejar dia lagi. Sekarang saatnya aku berbalik."

Tak lama kemudian, suara orang terdengar dari lantai bawah. Ibuku bangkit, lalu tak lama kemudian menutup pintu dengan wajah pucat. Aku mendengar suara Abigail.

Saat aku turun, ayahku sedang duduk di sofa, tertawa terbahak-bahak karena Abigail memeluk lengannya sambil bercerita lucu. Di sampingnya duduk Titus.

Begitu melihatku, Abigail segera meringkuk ketakutan. Ayahku memanggilku dengan nada canggung.

Aku memasang wajah dingin, menatap Abigail tanpa berkedip. "Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku?"

Wajah Abigail langsung pucat, tampak seperti hendak menangis. Ayahku menegurku dengan kesal, "Cukup, Alaina! Dia adikmu!"

Aku mendongak dan membantah dengan suara keras, "Ibuku hanya melahirkan satu anak perempuan. Aku nggak punya adik yang asal-usulnya nggak jelas!"

Plak! Ayahku bangkit dan menamparku dengan keras. Pipiku langsung membengkak.

Ibuku pun terhuyung-huyung berlari turun dan berdiri di depanku. "Kenapa kamu memukul Nana?"

Ayahku terengah-engah karena marah. Dadanya naik turun. Karena masih ada orang luar, dia akhirnya duduk kembali dengan kesal.

Ibuku memelukku sambil menangis. Untuk pertama kalinya, dia tidak lagi menahan diri. "Waktu aku hamil, kamu selingkuh! Kamu dulu bilang dia nggak akan pernah masuk rumah ini. Sekarang kamu masih berani membawanya pulang!"

Orang tuaku menikah karena perjodohan, tanpa dasar perasaan yang kuat, tetapi kehidupan pernikahan mereka tergolong stabil. Tahun saat ibuku melahirkanku, barulah dia tahu ayahku sebelumnya punya pacar dan mereka kembali menjalin hubungan saat ibuku sedang hamil.

Saat aku berusia satu tahun, perempuan itu mengalami persalinan sulit dan melahirkan Abigail. Demi aku, ibuku memaksa ayahku berjanji bahwa Abigail tidak akan pernah diakui dan dibawa pulang. Namun sekarang, Abigail justru masuk rumah dengan terang-terangan.

Aku keluar dari pelukan ibuku dan berdiri tegak. Suaraku dingin dan keras saat berkata, "Pilih salah satu, usir anak harammu itu keluar atau kalian berdua keluar bersama!"

Sejak awal hingga akhir, mendengar rahasia keluarga yang tak pantas diketahui orang luar ini, wajah Titus tetap dingin. Baru setelah aku mengucapkan kalimat itu, dia mengangkat mata. Kilatan kesal melintas di matanya.

Titus berdiri dan melangkah ke depan Abigail yang menangis tersedu-sedu. "Alaina, jaga ucapanmu."

Melihat ekspresi tidak senang di wajah Titus, ingatanku tiba-tiba kembali ke masa lalu. Pertama kali aku bertemu Titus, dia membungkuk tanpa ekspresi, menatap pergelangan kakiku yang bengkak parah, lalu bertanya apakah aku baik-baik saja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 10

    -Epilog-Pertama kali Titus bertemu Alaina adalah di halaman belakang kuil. Gadis itu memegang kertas berisi doa, lalu melemparkannya ke pohon. Karena melompat terlalu tinggi, kakinya tak sengaja terkilir.Titus maju, menanyakan apakah dia baik-baik saja. Wajah gadis itu memerah. Di wajah yang tadinya menahan sakit hingga hampir menangis, justru muncul sebuah senyuman.Sejak hari itu, gadis itu mengatakan ingin mengejarnya.Titus tidak mengerti mengapa Alaina tiba-tiba menyukainya. Jelas-jelas saat dia mengantarnya pulang, gadis itu masih diam-diam mengeluh bahwa dirinya seperti robot, dingin dan kaku. Namun keesokan harinya, dia malah kembali mendekat dengan senyuman cerah di depan Titus.Seperti biasa, Titus menolaknya. Namun, Alaina sangat keras kepala. Tidak peduli seberapa dingin sikap Titus, gadis itu tetap terus mendekat.Tak ada pilihan lain, Titus akhirnya meminta Alaina untuk mengambil hasil ramalan. Jika dia mendapatkan hasil paling mujur, Titus akan menikahinya.Alaina ters

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 9

    Mata Titus berkilat menampakkan sedikit kesedihan. Aku tertawa ringan."Titus, guci keramik yang sudah pecah berarti sudah pecah. Nggak peduli itu buatan tanganmu atau bukan, benda itu bukan lagi yang dulu."Sebelum aku membuka pintu, Titus kembali menarik tanganku. Kali ini, di matanya bahkan terselip permohonan. "Alaina, aku ... aku salah. Dulu aku nggak bisa memahami perasaanku sendiri dengan jelas. Tanpa kusadari, aku sudah menyukaimu sejak lama."Dia mengucapkan kata-kata suka padaku, tetapi ekspresinya tetap penuh keyakinan, seolah-olah dia yakin begitu aku mendengar pengakuannya, aku akan kembali terus mengekornya dengan senang hati.Louis langsung merangkul pinggangku. "Titus, Alaina sekarang adalah tunanganku. Mengaku cinta padanya di hadapanku, rasanya kurang pantas, 'kan?"Titus tertegun sejenak, melirik tangan yang melingkari pinggangku dengan jengkel, lalu menatapku. "Alaina, aku bilang aku menyukaimu."Aku tersenyum kecil. "Terus, kenapa? Titus, aku sudah nggak menyukaimu

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 8

    "Kenapa ini? Abi, kamu kenapa?"Menghadapi ekspresi cemas Titus, Abigail menangis dengan semakin menyedihkan. Sambil menutupi wajahnya, dia berkata bahwa aku tiba-tiba menamparnya.Aku terdiam sejenak, lalu memutar bola mata dengan kesal dan mengangkat tangan memanggil penanggung jawab arena balap. "Permisi, aku ingin melihat rekaman CCTV di sekitar sini, bisa?"Mendengar itu, Abigail terkejut dan mendongak. Penanggung jawab tahu bahwa aku datang bersama Louis, jadi dia segera menyuruh orang untuk mengambil rekaman CCTV.Abigail panik dan buru-buru menghentikan. "Nggak ... nggak boleh!"Saat bertemu dengan tatapan heran Titus, Abigail tergagap-gagap membela diri. "Kak Titus, apa kamu nggak percaya kata-kataku? Kenapa harus melihat CCTV?"Titus hanya mengerutkan kening sedikit, tetapi tidak mengatakan apa-apa.Tatapan Abigail mulai bergerak dengan gelisah ke sana sini. Melihat tidak ada cara untuk menghentikannya, dia kembali berpura-pura lemah. "Kak Titus, kalau kamu nggak percaya pada

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 7

    Mobil balap di samping perlahan berhenti. Tatapan Titus yang suram dan tak terbaca tertuju pada tangan Louis yang melingkari pinggangku.Di sampingnya, Abigail menatapku dengan wajah penuh ketidakpuasan.Louis berkata di dekat telingaku dengan nada penuh minat, "Kalau dari awal kamu pakai gaun seperti ini buat ngejar Titus, biksu itu pasti sudah lama melanggar pantangannya."Aku melirik Titus, lalu menoleh ke Louis. "Cemburu?"Louis tertegun sejenak, lalu segera kembali ke sikap santainya. "Siapa yang cemburu? Kamu pakai gaun, berdiri di samping mobil balap sambil tersenyum semanis itu. Di sirkuit ini siapa yang nggak curi-curi pandang?""Bahkan Titus yang kamu kejar mati-matian selama tiga tahun sampai kehilangan fokus. Cara kamu kejar orang itu ...." Ucapan Louis terhenti, lalu rona merah tipis segera muncul di wajahnya.Karena tanganku sudah berada di tengkuknya, aku menariknya turun dan berbisik di telinganya, "Kalau begitu, sekarang kamu nggak perlu cemburu lagi. Karena gaun ini m

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 6

    Aku mengangguk dengan tenang."Ya, aku tahu. Kalau dari awal aku tahu kamu begitu jengkel denganku, sampai terpikir cara seperti ini untuk membuatku mundur, aku pasti sudah lama menyerah. Jadi Titus, aku nggak akan menyukaimu lagi."Titus menatapku dengan mata terbelalak tak percaya. Wajahnya pucat pasi. Beberapa saat kemudian, dia membuka mulut dengan gugup. "Aku ... bukan, aku nggak merasa terganggu ...."Aku malas mendengarkan omong kosongnya lagi, langsung berbalik dan masuk ke lift.Titus menatapku dalam diam. Seulas rasa sedih melintas di matanya.Keluar dari hotel, aku berpapasan dengan Abigail. Dia merangkul lengan ayahku sambil tersenyum lebar.Saat melihatku serta Louis yang lengannya kugandeng, kilatan iri melintas di mata Abigail.Detik ayahku melihat Louis, raut wajahnya juga menunjukkan keterkejutan. Kemudian, dia segera memasang senyuman dan maju menyapa.Aku menarik Louis. Louis sempat hendak menyapa, tetapi setelah melihat ekspresiku yang tidak senang, dia menelan kemb

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 5

    Begitu kata-kataku selesai, detik berikutnya pintu lift tertutup. Aku melihat sekilas keterkejutan yang melintas di wajah Titus.Lift segera sampai di lantai paling atas. Ibuku sudah berdiri menungguku di depan pintu. Melihatku naik, dia menatapku sekilas. Setelah memastikan aku tidak terlihat aneh, barulah dia menghela napas lega.Aku tersenyum padanya, lalu kami masuk bersama.Louis datang dengan tergesa-gesa. Jasnya bahkan baru dia kenakan satu detik sebelum masuk. Saat berdiri di sampingku, dia bersiul ringan dengan nada menggoda. "Cantik juga."Aku tersenyum sambil menggandeng lengannya. "Oh ya? Aku juga merasa aku cukup cantik. Tapi dibandingkan penampilanmu pakai jas, sepertinya kamu lebih keren waktu pakai baju balap."Sorot mata Louis menampakkan sedikit keterkejutan. "Kamu pernah lihat aku balapan?"Aku mengangguk. "Juara Supercar Championship tahun lalu. Masuk trending sampai tiga hari. Susah kalau nggak melihatnya."Louis tampak sedikit tertarik. "Nanti setelah selesai, mau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status