Share

Bab 357

Author: Cathy
Sudut Pandang Felicia:

Aku tak mampu menghapus senyum di wajahku saat melihat orang-orang yang sudah membesarkanku begitu sibuk memperhatikan si kembar. Aku sama sekali tidak menyangka mereka akan menyambut cucu-cucu mereka dengan begitu hangat.

Mereka bahkan seolah enggan melepaskan kedua bayi itu.

Kami duduk di gazebo sambil menunggu makanan yang dipesan Ayah dari koki pribadi kami. Makan malam kali ini terasa begitu istimewa karena aku dikelilingi oleh orang-orang yang kusayangi.

Seluruh Kelu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 550

    "Apa katamu? Aku bukan anak mami! Tarik kembali ucapanmu!" bentak Aaron kepada Megan.Sepertinya Megan benar-benar sudah melukai harga dirinya. Namun, pria mana yang senang disebut anak mami? Apalagi kalau dia sedang berusaha membuat para wanita terkesan?"Kenapa aku harus menarik ucapanku? Berikan satu alasan yang masuk akal kenapa aku harus menuruti perkataanmu! Itu penilaianku sendiri, jadi kamu nggak bisa berbuat apa-apa!""Lagian, ibumu yang memulai semua keributan ini sampai kami harus berada dalam situasi seperti sekarang! Kami cuma sedang berbelanja, lalu ibumu yang haus perhatian itu tiba-tiba datang menghampiri kami! Menyebalkan sekali!" kata Megan dengan suara nyaris berteriak.Wajahnya mulai memerah karena marah. Jelas sekali dia sudah hampir kehabisan kesabaran."Diam! Siapa kamu sampai berani ngomong hal-hal seperti itu tentang Mama? Kamu nggak mengenalnya, jadi kamu nggak berhak menghinanya seperti itu!" bentak Aaron dengan marah.Padahal mereka bahkan tidak saling menge

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 549

    Ketika kami tiba di kantor polisi, Alexis dan Margaret terus-menerus memaki Megan dan aku.Sementara itu, Megan hanya memutar bola mata dan mencibir ke arah mereka berdua. Dia masih saja ingin melawan, padahal kami sudah berada dalam situasi yang menakutkan.Ini pertama kalinya aku dibawa ke kantor polisi, jadi wajar saja kalau aku merasa gugup.Sebelumnya, aku sudah berbicara dengan Joseph dan dia berkali-kali memintaku untuk tenang. Aku bilang padanya bahwa aku takut dipenjara, tetapi dia meyakinkanku bahwa hal itu tidak akan terjadi. Dia berjanji akan mengurus semuanya.Joseph juga sudah mengetahui bahwa ibu tirinya, Alexis, adalah orang yang memulai keributan itu. Wanita itu menghampiri Megan dan aku, lalu melontarkan berbagai hinaan. Namun ketika mendapat balasan yang setimpal, malah dia sendiri yang marah."Kalian akan dibawa ke ruangan kepala polisi! Siapa pun yang lebih dulu melakukan kekerasan, kami nggak akan ragu menjebloskannya ke penjara!" kata polisi yang membawa kami ke

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 548

    Sebelum Mama dan Papa meninggalkan kami di mal, mereka memberikan banyak sekali pesan dan instruksi kepada Megan. Dia hanya terus mengiyakan semuanya, mungkin supaya mereka mengizinkanku tetap berada di mal bersamanya."Pakai kartu ini untuk bayar semua belanjaanmu," kata Mama sambil menyerahkan sebuah kartu padaku. Kartu itu terlihat seperti kartu yang diberikan Joseph padaku, jadi aku langsung menolaknya."Aku sudah punya kartu seperti itu, Mama. Joseph yang kasih," kataku sambil menggeleng."Kartu dari suamimu itu lain, sedangkan kartu dari kami juga lain. Baiklah, Sayang. Adik-adikmu sudah capek, jadi kami pulang duluan, ya. Jaga diri baik-baik!" pesan Mama.Seluruh anggota keluargaku memeluk dan menciumku sebelum akhirnya meninggalkanku bersama Megan, yang terlihat begitu bersemangat."Kita mau ke mana dulu? Kamu baru punya pakaian, tas, sepatu, dan beberapa perhiasan, Beatrice. Itu masih belum cukup!" kata Megan sambil kembali menggandeng tanganku.Kami memasuki sebuah butik yang

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 547

    "Aku akan mengundang mereka ke pesta ulang tahunmu supaya mereka tahu siapa sebenarnya orang yang selama ini mereka injak-injak dan perlakukan seperti sampah," kata Mama dengan marah.Aku sampai meringis mendengarnya. Ucapan Mama terdengar begitu dramatis."Mama kenal mereka?" tanyaku bingung.Mama terdiam sejenak, lalu menatap Papa."Itu gampang. Tinggal kirim undangannya, mereka pasti datang," kata Papa santai. Dia menghabiskan kopinya, lalu berdiri."Bersiaplah. Hari ini kita akan mengajak Beatrice jalan-jalan," kata Papa sebelum meninggalkan ruang makan.Aku menatap Mama dengan penuh tanda tanya."Papa berencana mengajak kita semua berbelanja. Kamu boleh beli apa saja yang kamu mau, jadi nanti masukkan semua barang yang kamu suka ke keranjang belanja," kata Mama bersemangat sehingga membuatku tersenyum.Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik berbelanja di mal, tetapi aku senang bisa pergi bersama mereka. Ini kesempatan kami menghabiskan waktu bersama keluarga, jadi aku yakin pasti a

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 546

    Sudut Pandang Beatrice:"Kamu benar-benar nggak mau menuruti permintaan Mama?" tanya Mama padaku.Mereka sudah bersiap untuk pulang dan ingin aku ikut bersama mereka. Namun, aku menolak.Alasan yang kuberikan adalah aku akan berkunjung besok saja. Hari sudah malam dan Joseph harus tidur karena besok pagi dia ada rapat.Joseph sebenarnya tidak keberatan kalau aku pergi ke rumah orang tuaku. Bahkan, seharusnya dia ikut bersamaku. Namun kalau kami pergi sekarang, waktu tidurnya akan semakin berkurang. Karena itu, aku berencana mengunjungi rumah keluargaku besok pagi saja.Apalagi mereka berencana merayakan ulang tahunku yang ke-19 bersama saudara kembarku, Bernard. Kami masih harus membicarakan detail acaranya.Acara itu juga akan menjadi penampilan pertamaku di hadapan publik sebagai anggota Keluarga Sandiaga. Aku harus mempersiapkan diri agar tidak mempermalukan orang tuaku. Aku dibesarkan di tempat yang jauh oleh keluarga miskin, jadi segala hal tentang kehidupan sebagai putri keluarga

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 545

    Sudut Pandang Betty:"Kamu nggak apa-apa? Kenapa suamiku kelihatan serius banget sih?"Akhirnya, aku menemukan waktu luang dan menghampiri Joseph. Dia berdiri diam di tepi kolam renang dengan tatapan menerawang. Jelas sekali benaknya sedang dipenuhi pikiran.Aku tak mampu menahan diri untuk memeluknya dari belakang. Aku tahu orang tua, saudara-saudara, dan kerabatku sedang memperhatikan kami, tetapi aku tidak peduli. Aku ingin menunjukkan kepada mereka betapa besar cintaku kepada pria ini.Siapa pun dia, bagiku dia adalah penyelamatku. Jika dia tidak memaksaku ikut ke Kota Marina, mungkin sampai sekarang aku masih belum tahu siapa orang tua kandungku. Dunia ini begitu luas. Menemukan seseorang akan sangat sulit jika kita bahkan tidak tahu siapa mereka."Aku sudah ingin menghampirimu sejak tadi, tapi kamu terlalu sibuk. Kamu sudah makan belum?" tanya Joseph. Dia menggenggam tanganku yang melingkar di perutnya.Aku menggeleng meskipun dia tak mampu melihatnya."Belum. Tadi aku menunggumu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status