Share

Bab 5. Anjing Kecil

Bella masuk ke dalam rumah sambil memegang dadanya yang berdegup kencang akibat berlari, bahkan dia tidak mengkhiraukan orang-orang yang melihatnya berlari begitu saja.

"Aku malah bertemu pria mesum yang lebih mengerikan," rutuk Bella menghela nafas.

"Apa Ibu tidak tidur?" suara Aria mengejutkannya, dia berjalan mendekati anak gadisnya yang terbangun mendengar ibunya masuk sambil menutup pintu dengan keras.

"Apa ibu membangunkanmu?" balas Bella.

"Aku hanya kaget saja ibu menutup pintu."

"Kembali tidur, besok masih harus sekolah kan?" Aria mengangguk kembali tidur meski ibunya masih duduk di hadapannya.

Bella merutuki pria yang menariknya tadi, padahal dia berniat untuk melihat apa saja yang dilakukan tantenya hingga ada begitu banyak pelanggan pria berdatangan dan juga para wanita yang ikut berpasangan keluar masuk membuat dia merasa risih mengetahuinya.

"Apa dia masih waras membuka tempat seperti ini apalagi ada anakku di sini?" rutuk Bella menyesal setuju untuk tinggal di tempat Mona.

Malam yang membuat Bella tidak bisa tidur sama sekali ketika dia harus mendengarkan kelakuan oran-orang yang berpesta poya di luar. Hingga saat pagi tiba, Bella terkejut saat melihat jam dinding sudah siang. Dia juga tidak melihat Aria di sana, di atas meja ada segelas susu bersama roti tawar yang sudah di taburi coklat kasar.

"Sepertinya Kau lelah, Bu. Aku berangkat sekolah tanpa pamit ya, nanti pulang baru aku cium keningmu."

Tulisan yang rapi dari Aria membuat Bella tersenyum, dia tidak tahu jika putrinya bisa berbicara semanis ayahnya dulu. Bella bergegas membereskan rumah dan berniat kembali pergi berharap ada hal yang bisa dia kerjakan dan menghasilkan uang.

Kali ini dia tidak lagi terpaku dengan perusahaan besar yang sering dia lewati. Bella masuk ke sebuah restaurant yang terdapat sebuah kertas yang terpasang di dinsing depan dekat pos jaga. Ada lowongan pekerjaan di sana yang membutuhkan seorang pelayan. Bella bersemangat masuk hingga di ajak ke ruang manager membicarakan tentang lamarannya.

"Di sini juga menerima pekerja yang mau mengambil shif malam, apa Kamu juga bisa melakukannya?"

"Ya, saya bisa." Bella menjawab meyakinkan kemampuannya di depan atasannya.

"Mulai bekerja malam ini, selama 4 jam mulai dari sore. Setelah itu baru ambil hari kerja pertamamu di pagi sampai sore," jelas Manager.

"Hari ini malam hari?" tanya Bella.

"Kenapa, Kamu keberatan?"

"Tidak, hanya saja ..." Bella berpikir keras. "Saya akan mengambilnya," sambungnya.

Hal yang tidak pernah Bella duga bisa langsung bekerja hari ini juga meski bagiannya di malam hari, tapi tidak masalah selama itu pekerjaan yang tidak sulit baginya. Tatapan tajam nya tampak tidak suka dengan perusahaan yang sering dia lewati, apalagi setiap paginya ada banyak orang yang berbaris rapi meski orang yang mereka sambut belum datang.

"Mungkin bos mereka orang bodoh yang gila penghormatan, kalo mau di hormati ya mati saja sana." Bella berbicara sendiri sambil meninggalkan perusahaan dia berniat akan bersiap untuk berangkat kerja nanti malam.

Bella melihat ada beberapa orang yang datang ke rumah Mona membuat dia khawatir, dia menghampiri tantenya yang sedang berbicara dengan seorang pria.

"Aku tidak mau tahu, jika tidak ada wanita yang sesuai seleranya Anda akan menanggungnya sendiri." Ancaman seorang pria membuat Mona hanya diam membuat Bella penasaran.

Baru beberapa langkah hendak pergi, pria yang sempat bicara dengan Mona menatap tajam memperhatikan tubuh Bella dan berlalu pergi.

"Gila, mana ada gadis perawan di tempat seperti ini. Hanya pria gila yang berpikir tempat gelap isinya gadis," gerutu Mona.

"Kau menjual manusia seharusnya pasal hukum tuntutanmu sudah cukup dengan nyawa," tatap Bella.

"Ck, keponakan sialan. Bisanya cuma mengutuk aku saja! Aku sedang tidak mau berdebat denganmu pergi ke tempat amanmu sana, bicarakan kebutuhanmu pada pembantu di belakang." Biasanya, Mona akan bersemangat bagaimana pun situasi keadaannya.

Bella hanya tersenyum tipis pergi ke arah dapur mencoba untuk mencari sesuatu yang dapat dia makan.

"Rumah besar tapi tidak ada makanan sama sekali." Bella membuka semua lemari di dapur.

"Aku hanya kebetulan saja punya keponakan yang tukang acak-acak rumah dan mengomentari dapurku," balas Mona sambil melihat-lihat album poto dihadapannya.

"Aku titip anakku malam ini, ada pekerjaan yang harus aku lakukan hari ini," ucap Bella.

"Malam hari?" tanya Mona penasaran.

"Jangan sampai anak buahmu mengganggu anakku," tegas Bella.

"Mereka sudah aku beritahu."

Bella tidak lagi bicara setelah memakan sebuah apel membuat Mona menatapnya.

"Apa?"

"Sebaiknya Kau saja yang pergi menemui klien aku malam ini," ucap Mona.

"Sekali lagi Kau bicara, aku tidak akan ragu mengacaukan bisnismu."

"Hahaha, aku sudah duga Kau akan mengatakannya. Memang Kamu bekerja di mana?" Mona beralih bertanya, tidak mungkin baginya meminta Bella untuk ikut bekerja sebagai wanita penghibur.

Malam harinya setelah Bella menitipkan putrinya pada Mona yang mengatakan jika malam ini mereka libur. Ada hal yang harus Mona urus untuk menghadapi klien yang sangat sulit dihadapi. Bella sudah siap dengan pakaian kerjanya, pergi sebagai pelayan tidak membuat dia kesulitan, hanya saja saat hendak menyimpan nampan kotor, Bella melihat deretan wanita berbaris di depan sebuah ruangan membuatnya merasa tidak asing dengan apa yang dia lihat.

"Apa semua orang memiliki kebiasaan sama yang aneh, belum datang harus meminta orang lain berbaris menyambutnya." Bella menggerutu tapi dia di panggil manager.

"Kamu antar makanan dan minuman yang ada di kertas ini ke ruangan paling ujung," tegas Manager.

"Baik."

Bella masih bersemangat selama itu aman dia kerjakan. Tapi ternyata ruangan yang harus dia kirim pesanannya adalah ruangan di mana ada begitu banyak wanita yang antri sana. Tidak jarang juga para wanita itu bersaing hanya untuk mendapatkan perhatian dari satu pria. Bella berjalan melewati mereka dan masuk sambil membawa nampan makanan dan minuman masuk ke ruangan yang banyak di nantikan orang.

"Argh, maaf Tuan. Saya akan melakukannya lagi." Seorang wanita menyadari kesalahannya tidak bisa membuat pria yang menjadi tamu besar di sana tunduk padanya.

"Keluar!" tegas Noah mengeluh kesal.

Wanita itu berlari pergi sambil menatap tajam pada Bella yang berhasil masuk dengan pakaian pelayan mengabaikannya. Bella berjongkok sambil menyimpan botol dan beberapa camilan di atas meja.

"Aku sudah bilang tidak membutuhkannya!" Noah berbalik kesal hendak bicara pada anak buah yang ternyata pergi keluar.

Noah terkejut melihat Bella ada di hadapannya dengan wajah tidak bersalahnya. "Heh, anjing kecil untuk apa Kau di sini?" teriak Noah meremehkan wanita yang sempat membuat tangannya terluka.

Bella terkejut ternyata pria yang di nantikan banyak orang ternyata pria malam kemarin yang membuat jantungnya hampir copot.

"Kau ...."

Noah dan Bella saling tatap satu sama lain menilai tentang apa yang sedang dilakukan Bella dan juga Noah tidak kalah melihat wanita itu semakin jauh hingga berlomba mendapatkan perhatiannya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status