Share

140. Pernikahan Reno dan Maya

Penulis: kopilatte
last update Tanggal publikasi: 2026-10-24 09:53:36

Suasana gedung resepsi bergaya rustic-modern di kawasan Jakarta Selatan mendadak berubah riuh bagaikan area paddock sirkuit balap. Dekorasi bunga-bunga pastel nan anggun yang menghiasi pelaminan mendadak terasa sedikit kontras dengan deretan helm balap kustom dan patung mesin gokart berlapis cat emas yang dipajang di dekat pintu masuk utama.

Hari itu adalah hari bahagia Reno dan Maya—sebuah pernikahan yang sudah diprediksi seluruh rekan mereka tidak akan pernah berjalan dengan tenang, melaink
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   150. Rumah untuk Selamanya (END)

    Sore hari di kediaman Bramantya menjelang senja melukiskan pemandangan yang begitu memesona. Langit Jakarta di atas halaman belakang perlahan berubah warna, memadukan pendar jingga keemasan, semburat ungu lembut, dan biru tua yang mulai turun perlahan. Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma harum bunga melati dan wangi khas rumput basah yang menenangkan.Di atas hamparan rumput hijau yang terawat rapi, sebuah karpet piknik lebarberwarna krem telah digelar. Di atasnya, Nala duduk bersimpuh sambil mengenakan gaun panjang berpotongan longgar berwarna putih gading. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai bebas, membingkai paras cantiknya yang memancarkan pendar kebahagiaan yang begitu sempurna.Tidak jauh dari tempat duduk Nala, Arka kecil—yang kini sudah mulai berlari ke sana ke mari—sedang tertawa renyah mengejar bola mainannya. Langkah kakinya masih tampak sedikit goyah, namun semangatnya luar biasa besar."Arka, sayang... jangan terlalu jauh ke dekat kolam!" seru Nala lembut, meny

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   149. Surat Cinta untuk Nala

    Malam kembali merayap, membawa kesunyian yang menenangkan ke seluruh sudut kediaman Bramantya. Di kamar utama lantai dua, pendar lampu tidur temaram memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Di dalam crib di sudut ruangan, Arka terlelap dalam kedamaian, ditemani napasnya yang teratur dan tenang. Nala baru saja keluar dari kamar mandi. Mengenakan piyama tidur berbahan katun lembut berwarna biru muda, ia berjalan mendekati meja rias. Namun, langkahnya seketika terhenti saat matanya menangkap selembar kertas tebal bertekstur ivory yang diletakkan tepat di atas bantal tidurnya. Di atas kertas mewah itu, terletak sebuah pena fountain klasik bermerk mahal milik suaminya. Nala mengerjap pelan, mengernyitkan dahi heran. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu mengambil kertas tersebut. Di bagian depannya, tertera namanya sendiri yang ditulis menggunakan tangan—goresan pena yang tegas, rapi, namun begitu familiar baginya: Untuk Nala, duniaku. "Mas Axel... apa ini?" gumam Nala pelan, bertan

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   148. Rencana Kehadiran Adik Baru

    Matahari sore baru saja meredup, menyisakan pendar jingga keemasan yang menembus celah jendela kaca ruang keluarga kediaman Bramantya. Suasana rumah terasa begitu hangat dan menenangkan. Di atas karpet bulu tebal, Arka kecil sedang sibuk mendorong mainan truk-trukannya sambil mengeluarkan celotehan riang, ditemani oleh Suster Arini yang mengawasi dari dekat. Beberapa langkah dari sana, di sofa panjang berlapis velvet abu-abu, Nala duduk bersandar sambil melipat beberapa lembar pakaian bayi yang baru disetrika. Wajah cantiknya tampak fokus, diiringi senyum tipis yang terukir di bibirnya setiap kali melihat tingkah lucu sang putra. Langkah kaki tegap terdengar mendekat. Axel baru saja turun dari ruang kerjanya di lantai dua. Kemeja formal yang dikenakannya sudah dilepas, menyisakan kaus polos hitam ketat yang melekat sempurna di tubuh atletisnya, membuat aura dominan dan ketampanan matangnya kian terpancar nyata. Pria berpostur tinggi tegap itu tidak langsung duduk di sofa. Ia ber

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   147. Cinta yang Tak Pernah Pudar

    Suasana malam di kamar utama kediaman Bramantya begitu tenang dan hangat, hanya dihiasi pendar cahaya lampu warm white yang temaram dari sudut ruangan. Di dalam crib kayu jati di dekat jendela, Arka tertidur lelap dengan napas teratur, memeluk boneka kecil kesayangannya. Di atas ranjang king size, Nala duduk bersandar nyaman di balik tumpukan bantal empuk. Ia mengenakan gaun tidur satin berwarna champagne berlengan panjang yang menampilkan keanggunan seorang ibu muda. Di pangkuannya, sebuah buku catatan desain interior terbuka, namun perhatiannya teralihkan sepenuhnya pada sosok pria yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi. Axel berjalan mendekat dengan mengenakan jubah mandi hitam yang sedikit terbuka di bagian dada, menampilkan otot-otot dada bidangnya yang kokoh dan rahang tegas yang dibasahi sisa-sisa air segar. Rambut hitamnya yang basah tersisir rapi ke belakang, memancarkan aura dominan, seksi, dan ketampanan matang yang tak pernah luntur sedikit pun meski usianya

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   146. Janji di Bawah Bintang (Kenangan Lama)

    Malam kian larut di kediaman Bramantya. Setelah Arka terlelap di kamar bayinya usai kumpul keluarga, Axel memboyong Nala ke balkon luar kamar utama. Angin malam Jakarta bertiup lembut dan sejuk, membawa aroma wewangian bunga malam yang bermekaran di taman bawah. Di atas sana, hamparan langit gelap dihiasi pendar jutaan bintang yang bertaburan begitu indah dan jernih. Axel menarik sebuah kursi santai panjang, mendudukkan Nala di pangkuannya, lalu membungkus tubuh mereka berdua di balik selimut tebal berbahan kasmir. Lengan kokoh pria tegap itu melingkar ketat di pinggang Nala, sementara dadanya yang hangat menjadi sandaran sempurna bagi kepala sang istri. Nala mendongak, menatap kilau bintang-bintang di langit malam. Jemari lentiknya menyusup di antara jemari besar Axel yang menggenggam jemarinya erat di atas selimut. "Indah sekali bintangnya malam ini, Mas..." bisik Nala tulus. Suaranya begitu halus, memecah keheningan malam yang syahdu. Axel menyunggingkan senyum tipis yang a

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   145. Reuni Kecil Sahabat

    Sore hari di halaman belakang kediaman Bramantya diselimuti angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Dekorasi outdoor party bernuansa earthy tone menghiasi meja kayu panjang di bawah naungan pohon rindang. Pendar lampu gantung berwarna hangat mulai menyala lembut, memancarkan atmosfer yang begitu ramah dan penuh nostalgia. Hari itu, kediaman Axel dan Nala menjadi tuan rumah untuk kumpul keluarga besar. Papi Bram, Mami Sinta, Papa Surya, dan Mama Rika duduk santai di sudut gazebo sembari asyik memanjakan Arka kecil yang bergantian berpindah dari pangkuan para kakek dan neneknya. Sementara itu, di dekat panggangan barbekyu, riuh percakapan dan aroma daging panggang yang gurih memenuhi udara. Reno, dengan celemek konyol bergambar tubuh berotot yang dipasangkan oleh istrinya, berdiri dengan spatula di tangan seraya membalik lembaran daging. "Bos Axel! Ini daging iga impor kualitas terbaik sudah matang sempurna! Tolong dinilai, apakah tingkat kematangannya sudah sesuai standar direksi Bra

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status