Share

Bab 98 : Sebagai Suami

Author: Xiao Chuhe
last update Last Updated: 2025-07-17 23:15:37

"Ye Qingyu?"

Napasnya masih sedikit memburu. Dahinya basah oleh peluh tipis, seperti baru saja berlari mengejarku sejak aku meninggalkannya di Lianci.

"Apa yang sedang kau lakukan?" suaranya rendah, tapi nadanya tegas. Matanya menatap tajam ke arah papan nama di atas pintu rumah bordil, lalu kembali ke mataku. "Kau tahu tempat macam apa ini, Zhou Jingxi?"

Aku membuka mulut. Tapi tidak ada suara yang keluar.

"Aku—"

"Aku tak butuh alasan sekarang." Suaranya melunak, namun nada khawatirnya tidak bisa disembunyikan. "Lihatlah dirimu. Lari malam-malam hanya untuk mengejar sesuatu yang bahkan belum kau pastikan."

Aku menunduk, tapi genggamanku pada lengan bajunya menguat.

"Aku mencium aroma tinta buatanku, Ye Qingyu. Tinta dafnah yang kupakai untuk menulis surat itu." Suaraku nyaris berbisik. "Orang itu, yang lewat di Lianci …, dia membawanya aroma tinta yang seharusnya hanya aku yang memilikinya. Aromanya mengarah ke sini."

Ye Qingyu menatapku lama, tatapannya sulit ditebak. Campuran bing
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Sang Adipati Berlutut di Bawah Kakiku   Bab 100 : Malam Perayaan Tahun Baru

    Malam Perayaan.Musik petik bersenandung lembut di udara yang mulai dipenuhi wangi lilin bunga persik. Langit Beizhou menjingga, dan aula utama kediaman Jenderal Ye telah bersolek sepenuhnya, lampion-lampion merah digantung rendah, taburan bunga liar menghiasi pilar, serta hiasan emas dan hijau giok menyelubungi meja persembahan di pusat aula.Aku berdiri di sisi aula dengan gaun merah yang menonjolkan keanggunan khas seorang Nyonya Muda, menyambut para tamu yang akan berdatangan dengan iringan suara petasan dan denting lonceng kecil di setiap sudut."Pesta ini terlihat lebih megah dari semua pesta yang pernah digelar di Beizhou," komentar Bibi Chun lirih di sampingku.Aku hanya tersenyum. "Aku tidak ingin mengecewakan siapa pun malam ini.""Ini pertama kalinya Kediaman Jenderal Ye mengadakan perayaan yang semeriah ini. Saya senang sekali dengan kehadiran Nyonya Muda." Bibi Chun tak habis-habisnya memujiku, aku jadi hanya bisa tersenyum canggung menanggapinya. Dan tepat saat itu, su

  • Ketika Sang Adipati Berlutut di Bawah Kakiku   Bab 99 : Kehangatan Keluarga

    Dua belas jam sebelum perjamuan.Langit Beizhou masih diselimuti embun pagi ketika aroma wangi dupa merah muda perlahan memenuhi halaman depan kediaman Jenderal Ye. Pelayan-pelayan tampak sibuk menyiapkan penyambutan sederhana—bunga plum digantung di depan aula utama, dan teko-teko teh baru dipanaskan di dapur barat.Aku sudah berdiri di depan pintu aula utama sejak matahari mulai naik. Gaun sederhanaku bergoyang pelan tertiup angin, dan Chunhua membenarkan selendang tipisku sambil berbisik, "Nyonya Muda terlihat sangat anggun hari ini."Aku tersenyum, gugup. Ini pertama kalinya aku akan menyambut langsung Ibu dan Ayah Mertua setelah resmi menjadi bagian keluarga ini."Apakah aku terlalu mencolok?" tanyaku pada Ye Qingyu yang berdiri tak jauh dariku, dengan jubah hitamnya yang rapi dan rambut diikat tinggi."Sedikit," sahutnya pelan, "tapi Ibu pasti suka. Beliau suka warna merah marun. Kau tampak seperti menantu teladan."Aku mencibir kecil, "Kau bisa memuji lebih manis lagi, Tuan Mu

  • Ketika Sang Adipati Berlutut di Bawah Kakiku   Bab 98 : Sebagai Suami

    "Ye Qingyu?"Napasnya masih sedikit memburu. Dahinya basah oleh peluh tipis, seperti baru saja berlari mengejarku sejak aku meninggalkannya di Lianci. "Apa yang sedang kau lakukan?" suaranya rendah, tapi nadanya tegas. Matanya menatap tajam ke arah papan nama di atas pintu rumah bordil, lalu kembali ke mataku. "Kau tahu tempat macam apa ini, Zhou Jingxi?"Aku membuka mulut. Tapi tidak ada suara yang keluar."Aku—""Aku tak butuh alasan sekarang." Suaranya melunak, namun nada khawatirnya tidak bisa disembunyikan. "Lihatlah dirimu. Lari malam-malam hanya untuk mengejar sesuatu yang bahkan belum kau pastikan."Aku menunduk, tapi genggamanku pada lengan bajunya menguat."Aku mencium aroma tinta buatanku, Ye Qingyu. Tinta dafnah yang kupakai untuk menulis surat itu." Suaraku nyaris berbisik. "Orang itu, yang lewat di Lianci …, dia membawanya aroma tinta yang seharusnya hanya aku yang memilikinya. Aromanya mengarah ke sini."Ye Qingyu menatapku lama, tatapannya sulit ditebak. Campuran bing

  • Ketika Sang Adipati Berlutut di Bawah Kakiku   Bab 97 : Pria Beraroma Dafnah di Lianci

    Malam itu, suara ledakan beruntun mulai menggema di langit. Satu per satu kembang api bermekaran dalam kelopak cahaya yang mengembang seperti bunga musim semi, menyiram langit Kota Beizhou dengan warna merah muda, emas, dan biru safir.Warga yang menyaksikannya berseru senang, aku mendongakkan kepala dan tersenyum lebar. Ternyata langit Beizhou bisa menjadi seindah ini ….Sepanjang hidup, aku tidak pernah keluar untuk menyaksikan pertunjukan kembang api di festival mana pun. Ah, bahkan tahun baru pun, biasanya aku hanya bergaul dengan pelayan yang membakar kambing guling di halaman belakang kediaman. Ye Qingyu tiba-tiba menarik pergelangan tanganku, membawaku melewati keramaian yang menyesaki jalan utama, menuju sebuah jembatan setinggi lantai dua yang membentang di atas jalanan Kota, beberapa jembatan menghubungkan antara lantai dua bangunan dengan bangunan di seberangnya. Di Beizhou, jembatan ini dikenal dengan nama Lianci, penghubung antar-bangunan tua yang dibangun rapat, menjad

  • Ketika Sang Adipati Berlutut di Bawah Kakiku   Bab 96 : Gelang Pasangan

    Tapi aku menatap matanya dengan yakin. Lalu menjawab pelan."I-itu karena aku tidak ingin melihat satu pun rakyat kita mati sia-sia."Ye Qingyu terdiam. Tatapannya menajam, tidak karena amarah, tapi karena keterkejutan yang terlalu dalam untuk diungkapkan lewat kata-kata.Aku menggenggam erat kedua tanganku. Lalu mengangkat dagu sedikit."Kalau kau masih percaya padaku, Ye Qingyu …, tolong lakukan seperti yang kau rencanakan. Bicaralah pada Gubernur. Kirim orang untuk menyisir wilayah itu. Klaim tambangnya. Dan lindungi rakyat kita.""Bukan sebagai seorang panglima. Tapi sebagai seseorang yang sudah memilih untuk hidup bersamaku." Aku menatapnya dengan sungguh-sungguh. Ye Qingyu mengembuskan napas panjang, lalu mengangguk pelan. Dia mengusap pelan puncak kepalaku. "Tidak perlu aku yang pergi sendiri, Liu Yueqing bisa mewakiliku." Aku menatap tidak setuju. "Bagaimana kalau ada kejadian serupa lagi?" "Tenang saja, Liu Yueqing adalah orang yang paling kupercaya. Nyawanya bahkan sudah

  • Ketika Sang Adipati Berlutut di Bawah Kakiku   Bab 95 : Dipalsukan

    Tanggal 31, bulan 12, tahun ke-50 Dinasti Dayu. Aku berdiri di depan gerbang kediaman setelah mendengar kabar kepulangan suamiku. Setelah menunggu dengan harap-harap cemas karena dia sama sekali tidak membalas pesanku yang meminta memeriksa perbatasan Yangzhou, akhirnya aku bisa bertemu dengannya secara langsung dan menanyakannya. Kakak Kedua juga kembali dari inspeksinya kemarin, dia bilang tidak ada masalah apa pun di tempatnya bekerja hingga ia mengirimkan sejumlah pasukan ke Perbatasan Yangzhou. Aku tidak menyinggung apa pun tentang pertambangan padanya. Tidak, kupikir cukup Ye Qingyu saja yang tahu. Karena saat ini, jenderal militer garnisun Yangzhou saja bahkan tidak tahu kalau Kekaisaran Han sedang memikirkan strategi untuk merebut Yangzhou. Di sebelahku, Xin Jian berdiri diam dengan sabar. Aku sempat bercerita padanya tentang surat yang kukirim pada Ye Qingyu. Xin Jian bilang, mungkin seseorang telah menyabotase suratku, dan dia memutuskan untuk menyelidikinya sejak be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status