LOGINDikhianati dan dijatuhi hukuman mati atas tuduhan yang tak pernah ia lakukan, Zhou Jingxi kembali ke masa sepuluh tahun lalu, tepat sebelum takdir menghancurkannya. Kali ini, ia bertekad melepaskan diri dari permainan keluarga yang kejam dengan menikahi seorang pria misterius demi mengubah nasibnya. Namun, tanpa ia sadari, takdir yang ia ubah justru mengarahkannya pada kenyataan yang tak pernah ia bayangkan!
View MoreDi usia kehamilannya yang memasuki 24 minggu, Sinta malah menyaksikan suaminya melepaskan hasrat sendirian sambil mendesahkan nama wanita lain.
Setiap malam sejak ia hamil, biasanya Sinta menyiapkan dua botol minuman di atas meja di samping tempat tidurnya. Namun, karena terlalu mengantuk setelah makan malam, Sinta pun tertidur tanpa menyiapkannya. Ia turun dari ranjang dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Saat baru saja keluar kamar, Sinta melihat cahaya lampu dari lorong ruang kerja Abimanyu masih menyala, sementara ruangan lainnya sudah gelap gulita. Berpikir jika suaminya sudah pulang, Sinta akhirnya berjalan mendekat untuk memastikan. Saat jaraknya semakin dekat, Sinta malah mendengar suara-suara aneh dari dalam ruang kerja Abimanyu hingga membuat bulu kuduknya berdiri. “Rashta…” Sinta membeku di depan pintu. Itu jelas suara Abimanyu. Pintu ruang kerja itu kebetulan tidak tertutup rapat. Sinta bisa melihat dari sela pintu, sosok Abimanyu yang duduk di kursi kerjanya, tengah bermain sendiri sambil memandangi foto seseorang. Jantung Sinta seakan merosot ke tanah melihat pemandangan itu, terutama saat menyadari nama yang disebutkan oleh suaminya. Rashta? Kenapa suaminya itu melakukannya sambil menyebutkan nama Rashta? Rashta Djaja. Anak angkat kesayangan keluarga Djaja. Adik angkat yang paling dimanjakan oleh Abimanyu. Sinta hampir tidak bisa menerima kenyataan. Tubuhnya limbung ke belakang dan tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga dari atas rak hiasan yang ada di sudut lorong. Prang! Sinta tersentak saat pecahan beling itu mengenai kulit kakinya. Belum sempat ia melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, pintu ruang kerja Abimanyu terbuka. “Sinta?” Sinta yang tengah menunduk membelakangi Abimanyu segera mengusap air matanya dengan cepat, lalu berbalik menghadap ke arah pria itu. “Maaf, tadi aku—” “Apa yang kamu lakukan di depan ruanganku?” Sinta meneguk ludahnya dengan kasar sebelum akhirnya menjawab, “Tadi aku haus dan ingin mengambil minum di dapur. Lalu aku melihat lampu ruang kerja Mas masih menyala, jadi aku pikir—” “Kamu pikir, kamu harus mengintip apa yang sedang aku lakukan?” Sinta mendongak, menatap netra biru pria itu dengan saksama. Wajah Abimanyu tetap datar, tanpa ada rasa malu ataupun bersalah darinya. Padahal yang dia lakukan tadi... “M-maaf, lain kali tidak akan aku ulangi.” Sinta akhirnya kehilangan energi untuk berkata-kata. Kenyataan pahit yang baru saja menghantamnya sudah cukup membuatnya terpukul. Sinta tidak menyadari tatapan Abimanyu yang penuh tanda tanya, sebelum pria itu kembali berbicara dengan ketus, “Kembalilah ke kamarmu. Jangan berkeliaran tengah malam dan mengagetkan orang.” Setelah berkata demikian, Abimanyu masuk kembali ke ruangan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sinta. Sinta kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Setelah menutup pintu, tubuhnya merosot ke lantai. Sambil memeluk perutnya yang membuncit, Sinta melampiaskan kesedihannya karena kejadian mengejutkan yang barusan ia lihat. Abimanyu adalah seorang pengacara terkenal sekaligus pemain saham yang sangat sukses. Tampan, berbakat, sukses di usia muda—pria idaman semua wanita, termasuk Sinta. Sinta sudah mencintai Abimanyu selama 10 tahun, sejak masih duduk di bangku SMA. Ia begitu tergila-gila padanya, sedangkan pria itu memang tidak pernah tertarik padanya. Namun, ayah Abimanyu sendirilah yang melamar Sinta untuk putranya. Abimanyu, meski sosok yang dingin dan acuh, tidak pernah bisa membantah keinginan ayahnya. Jadilah mereka menikah dengan kondisi terpaksa. Meski Abimanyu selalu bersikap dingin semasa pernikahan mereka, Sinta tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik. Apalagi, sebentar lagi akan ada anak di antara mereka. Sinta yakin Abimanyu akan pelan-pelan menerimanya jika ia menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak mereka. Belakangan, ia menyadari, Abimanyu bersikap dingin padanya bukan hanya karena terpaksa menikahinya, melainkan karena pria itu mencintai orang lain. Sinta mengerti. Abimanyu tampan dan menawan, dengan postur tubuh yang sangat ideal serta kesuksesan di usia muda. Tentu saja pria itu pasti sudah punya seseorang yang dicintai. Yang tidak ia duga adalah; orang yang dicintainya adalah Rashta, perempuan yang diangkat sebagai anak oleh keluarga Abimanyu sejak masih bayi. Perasaan Abimanyu pada adik angkatnya tidak mungkin diresmikan; itukah sebabnya ia mau-mau saja menerima pernikahan ini? Hati Sinta terasa begitu perih. Ia menatap perutnya yang membuncit, mengelusnya pelan. Tok, tok, tok! Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Sinta. Ia yang tengah duduk di balik pintu seketika menoleh ke samping. “Sinta.” Abimanyu memanggilnya. Sinta hanya melirik ke arah pintu sebentar, lalu memutuskan untuk mengabaikannya. Lagipula, mereka sudah pisah ranjang sejak sebulan yang lalu. Saat itu, Sinta tiba-tiba mengalami kontraksi palsu tengah malam, yang terjadi karena efek kelelahan setelah Sinta membantu ibu mertuanya menyiapkan acara pesta anniversary. Sejak itu, Abimanyu memutuskan untuk pisah kamar dengan alasan khawatir ia menendang atau melukai Sinta saat sedang tidur. Sekarang, Sinta tahu alasan sebenarnya kenapa Abimanyu tiba-tiba bersikeras meminta pisah kamar. Setelah beberapa saat, akhirnya suara ketukan itu berhenti, diikuti dengan langkah kaki yang menjauh. Malam itu, Sinta tidak bisa tidur karena terus menangis hingga baru bisa benar-benar terlelap setelah hampir pukul empat dini hari. Keesokan paginya, Sinta bangun tidur seperti biasa karena tidak terbiasa bangun lewat dari jam tujuh. Ia sengaja keluar dari kamar saat waktu menunjukkan pukul sembilan pagi dengan harapan Abimanyu sudah pergi ke kantor. Namun, baru saja melangkahkan kakinya dua jengkal, Sinta malah melihat Abimanyu duduk di ruang makan, menatapnya dengan dingin. “Baru bangun?” tanya Abimanyu tiba-tiba. Tumben sekali. Biasanya ia tidak pernah menyapa Sinta terlebih dahulu. “Hm,” Sinta menjawab dengan gumaman. Karena sarapan untuknya telah disiapkan, Sinta pun terpaksa duduk untuk sarapan bersama suaminya, meskipun kejadian semalam membuatnya tiba-tiba merasa mual. Melihat wajah murung Sinta, ekspresi Abimanyu pun ikut meredup. Sejak dulu, Sinta selalu tersenyum di hadapannya untuk menjaga suasana. Kali ini, Sinta tidak melakukannya. “Kamu masih marah?” tegurnya dingin. “Kalau kamu sangat ingin aku menemanimu periksa kandungan, untuk jadwal periksa selanjutnya, aku akan mengosongkan jadwalku.” Ternyata, Abimanyu mengira istrinya itu masih marah karena tidak ditemani periksa kehamilan kemarin, karena Rashta meminta dia untuk menonton film bersama dengan Orion dan Jupiter. Sinta memang sempat merajuk, tapi itu kemarin, saat ia masih berpikir pernikahan ini layak untuk dipertahankan. Sekarang, perasaannya pada Abimanyu terasa hambar. Lima tahun pernikahannya seperti berakhir sia-sia. “Nggak perlu. Aku bisa pergi sendiri.” Sinta menjawab datar tanpa menghentikan gerakannya memotong sandwich. Mendengar jawaban istrinya, ekspresi Abimanyu mengeras. “Apakah kamu harus semarah ini hanya karena masalah sepele? Kamu akan menjadi seorang ibu, berhentilah bersikap kekanak-kanakan.” Sinta menatap Abimanyu dengan tatapan kosong, “Masalah sepele?” “Apalagi kalau bukan masalah sepele? Masih ada banyak waktu ke depan sebelum tanggal kelahiran. Jangan membuat orang lain lelah karena sikapmu.” Mendengar itu, Sinta menarik napas panjang, “Kalau kamu selelah itu, mungkin sebaiknya kita akhiri saja semua ini. Ayo kita bercerai.”Salju tipis menghiasi atap-atap kediaman Ye, namun hawa dingin itu sama sekali tidak terasa di dalam halaman utama. Lima tahun telah berlalu sejak hari yang menyesakkan di Ibukota itu. Hari ini, suasana kediaman Ye dipenuhi oleh aroma harum sup hangat, tawa yang tak putus-putus, dan cahaya lampion merah yang menandakan perayaan Tahun Baru.Aku duduk di samping Ye Qingyu, menatap meja bundar besar yang dipenuhi hidangan lezat. Di sekelilingku, Ayah dan Ibu tampak jauh lebih muda dengan senyuman yang terus menghiasi wajah mereka sejak cucu pertama mereka lahir. Ye Tinghan dan Ye Xuanqing juga kembali dari perbatasan untun merayakan tahun baru bersama keluarga. Di tengah-tengah kami, seorang gadis kecil berusia enam tahun dengan kuncir dua yang rapi sedang sibuk mengunyah pangsit. Ye Zhaoyu, putriku. Dialah pusat semesta kami sekarang."Zhaoyu, jangan makan terlalu cepat. Nanti tersedak," tegurku lembut sambil mengusap sudut bibirnya."Tapi pangsit buatan Nenek sangat enak, Ibu!" seru
Perjalanan menuju Ibukota memakan waktu berhari-hari, namun bagiku, setiap detiknya terasa seperti ribuan tahun yang berputar kembali. Di atas kuda, di samping Ye Qingyu yang tak pernah melepaskan pandangannya dariku, aku melewati jalanan berbatu dan hutan-hutan sunyi yang dulu pernah kusaksikan dengan mata penuh kebencian. Namun kali ini, pemandangannya berbeda. Aku tidak lagi melihat dunia sebagai tempat yang harus kuhancurkan, melainkan sebagai tempat yang harus kuselamatkan dari kegelapan masa laluku sendiri.Selama perjalanan, aku terus menggenggam buku harian Ayah di balik jubahku. Kata-kata di dalamnya seolah berdenyut, memberitahuku bahwa waktu hampir habis. Ayah kandungku, Yu Yan, sang Kaisar Satu Hari yang malang, setelah melewati satu minggu penuh penderitaan di penjara, kini tengah menunggu ajalnya di lapangan eksekusi yang sama, tempat yang menjadi titik nol penderitaan kami.Aku sungguh sudah mengira dirinya mati beberapa hari yang lalu. Tapi proses hukum di negara in
Ingatanku perihal hari itu kembali menonjol di kepalaku. Hari saat aku mengembuskan napas terakhirku …, sepersekian detik sebelum mataku tertutup, aku melihat seorang pria. Dan itu adalah ayah kandungku yang menyaksikan kematianku di kehidupan sebelumnya? Aku menutup mulutku dengan perasaan tidak percaya. Ini terlalu sulit untuk diterima …."Aku membantai mereka. Semuanya. Termasuk Zhou Ye dan istrinya. Di hadapan Kaisar. Di lapangan eksekusi itu. Kemudian, cahaya hitam menelanku lagi ….""Aku mati di tangan prajurit Kekaisaran. Dalam hatiku, aku masih tidak rela melihat kepergian putriku yang begitu tidak adil. Siapa sangka setelah identitasnya sebagai seorang putri lenyap, dia justru mengalami kemalangan yang lebih buruk dari itu." "Yang kurasakan saat itu persis seperti saat istriku mati. Rasanya menyakitkan dan aku sangat tidak rela …, aku ingin mengubahnya jika bisa …. Kematian putriku …, aku ingin mengubahnya.""Dia terbangun," kata Ye Qingyu, melanjutkan ke entri berikutnya.
Kami berdua kembali ke Paviliun, meninggalkan bayangan pohon Ginkgo yang abadi di belakang. Udara di dalam ruangan terasa pengap, seolah semua rahasia yang terperangkap selama bertahun-tahun kini dilepaskan bersama kami. Ye Qingyu meletakkan kotak kayu pipih itu di atas meja kayu tua. Cahaya lilin hanya mampu menerangi permukaan buku bersampul kulit menguning yang menjadi inti dari semua pencarian ini.Aku duduk di sampingnya, jantungku berdebar kencang, diselimuti campuran duka, harapan, dan ketakutan. Ye Qingyu, dengan tenang yang selalu menenangkanku di tengah badai, mengambil buku harian itu."Jingxi," bisiknya, suaranya pelan tetapi penuh bobot, "ini bukan buku harian biasa. Ini adalah Penanggalan Kuning (Huáng Lì), catatan harian yang hanya digunakan oleh anggota keluarga kekaisaran dan mencatat tanggal-tanggal penting dengan sistem kalender kuno. Dan tulisan ini …, ini memang milik Ayahmu."Aku mengangguk, membiarkan Ye Qingyu membalik halaman-halaman yang rapuh. Dia berhenti
Karena sudah berada di luar, aku dan Xin Jian memutuskan untuk berkeliling kota terlebih dulu sebelum kembali ke kediaman. Udara sore di Bailiang terasa hangat, matahari condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di atap-atap bangunan, dan suara roda kereta kuda berbaur dengan riuh obrolan para
"Wajahmu sampai merah begitu, padahal aku kan diam saja. Hanya mengatakan hal yang memang harus dikatakan saja." Ye Qingyu mengedikkan bahu dengan santai seolah perkataannya itu bukan apa-apa. Padahal aku sampai semalu ini …."Wah, jadi kau benar-benar menyukaiku?" Ye Qingyu mendekatkan wajahnya p
"Akhirnya kamu datang juga, A-Xi!" Nyonya Besar Ye berdiri dan segera menyambutku. Aku terdiam mematung, dengan pipi hangat, dan telinga merah. Dia memanggilku dengan sangat akrab …, panggilan yang hanya kudengar dari Ibu ketika dia menginginkan sesuatu dariku. Nyonya Besar Ye …."Ada apa? Duduk
Aku nyaris berseru takjub seperti orang yang baru mengenal dunia. Ye Qingyu sampai menyuruhku menutup mulut sampai ribuan kali. Dia terlihat sedikit kesal karena aku tidak mendengarkan perkataannya dengan baik. Aku segera mengontrol ekspresiku. Meski terlihat menakjubkan, tempat ini tetap saja me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore