Share

Fifth Story: Nama Panggilan

Penulis: _yukimA15
last update Terakhir Diperbarui: 2022-11-19 09:33:08

"Yu!?" gumamku. Aku baru sadar bahwa Pangeran Agnreandel menyebut nama singkatku yang hanya dipanggil saudariku. "Bukankah anda dari tadi memanggil saya dengan nama yang disebutkan adikku tadi? Anda tidak perlu memanggil nama terlalu singkat itu, Yang Mulia! Nama panggilanku itu Viyura."

"Apa saya tidak boleh memanggil anda dengan nama itu? Kalau begitu, panggil saja aku dengan nama yang kamu inginkan!" ucap pangeran Agnreandel.

"Saya tidak keberatan karena itu hanyalah nama. Terserah anda!" ucapku.

"Baiklah, My Lady!" Pangeran Agnreandel segera berdiri. "Saatnya saya kembali."

Aku ikut berdiri, "Terima kasih atas waktu berharga anda, Yang Mulia!"

Bukannya segera keluar, Pangeran Agnreandel malah menghampiri ku yang merupakan tunangannya. Tatapannya tajam dan senyuman kejam khasnya, terukir di wajahnya tampannya. Aku hanya merundukkan kepalaku untuk menghindari tatapan Pangeran Agnreandel.

Aku terkejut saat pangeran menarik tanganku hingga tubuhku tertarik mendekat kepadanya.

"Yang Mulia!!!??" Lalu, aku merasakan sentuhan yang mendorong pinggangku untuk membuat tubuhku tertarik.

"Ekh?!" Aku terkejut dan tubuhku menjadi kaku.

"Panggil aku dengan nama yang singkat yang langsung ada di pikiranmu, Yu! Pikirkan sekarang!" Pangeran Agnreandel memegang daguku dan memaksakan ku menaikkan wajahku hingga aku tidak ada pilihan lain untuk memandangi hal lain kecuali wajah tampan pangeran itu.

'Terlalu dekat!' batinku berteriak. Dan tentu saja posisinya saat ini sangat membuat wajahku merona dengan jantung yang berdebar-debar. "Ba-baiklah, em.. Apa, ya?!"

"Sampai hitungan ketiga. Kalau tidak kamu bisa pikirkan aku akan melakukan apa, satu..." Pangeran Agnreandel semakin mendekatkan wajahnya.

"Huh?! Se se setidaknya beri aku waktu!" Aku mulai panik.

"Dua..."

"Huh?! Aku tidak bisa berpikir secepat itu, bodoh!"

Aku pun semakin berdebar saat ia mendekatkan bibirnya. Sudut bibir pangeran Agnreandel semakin tajam dan jaraknya sekitar lima centimeter dari bibirku.

"Ti..."

"Rean," gumamku dengan suara yang kecil. Aku pun tercengang disaat sadar dengan nama yang barusan ku sebut.

"Bagus," ucap Pangeran Agnreandel dengan wajah kejamnya. Ia segera melepaskan pegangannya hingga aku bisa bernafas lega.

"..."

Lalu, aku terdiam dan terbenam dalam pikiranku. Pangeran Agnreandel pun bertanya-tanya kenapa aku tiba-tiba tidak bergerak setelah itu dan jelas kalau aku terlihat sedang memikirkan hal lain.

Pangeran Agnreandel menyentuh beberapa helai rambutku, lalu ia segera berdiri sehingga telapak tangannya bergesek lembut dengan rambutku. Aku pun kembali tersadar dari lamunan.

"Saya akan menemuimu nanti, Yu!" Sang Pangeran segera berbalik dan melangkah.

'Tidak perlu!' batinku berbicara. 'Padahal, ia baru berumur empatbelas tahun. Tapi, ia dengan mudahnya menggodaku. Pantesan saja kalau Viyuranessa yang sebelumnya rela mati demi pangeran ini. Aku harus lebih berhati-hati dengan perasaan ini!'

***

Usai di hari mulainya perubahan keseharian dan tentunya duniaku yang sangat sangat melelahkan ini, di malam ini setelah jam makan malam, aku langsung memasuki kamar yang merupakan tempat ternyaman bagiku saat ini untuk mengademkan pikiran. Meskipun begitu, sosok pria itu terus-terusan terpikirkan oleh otakku ini.

'Ayok sadar, pria mempesona itu tidak akan tertarik kepadamu, Viyuranessa!'

'Pangeran Agnreandel Leansane itu sengaja menggoda Viyuranessa untuk memanfaatnya hingga wanita bangsawan lain tidak mendekatinya. Hingga saat ia bertemu Si Protagonis, ia segera membuang Viyuranessa hingga Viyuranessa berakhir hancur.'

'Jika pertunangan itu bisa dibatalkan, mungkin aku tidak akan berhubungan dengan pangeran yang merupakan putra mahkota kerajaan Diamondver ini dan yang sering dikatakan pangeran kejam oleh orang-orang. Jadi..., aku bisa menyelamatkan diriku dari akhir buruk dan mungkin...,'

Tatapanku turun hingga akan terlihat jelas aku sedang sedih apabila dilihat orang lain.

'...untuk dirinya juga.'

'Tetapi malah tidak bisa! Terpaksa jalan lain lagi.'

Di kamar yang membuatku leluasa bergerak ini, aku segera menghela nafas dan duduk di tepi kasur. Mengangkat wajahku menghadap langit-langit ruangan, aku tidak henti memikirkan cerita itu.

'Seorang pangeran yang dendam terhadap tunangannya. Wanita itu tulus mencintainya namun pangeran tidak pernah menghargai tunangannya dan ia terus bersikap kasar terhadapnya. Padahal kalau dilihat dari cerita itu, pangeran bisa saja mencintai Viyuranessa. Tetapi, cerita itu tidak pernah menceritakan secara detail mengenai perasaan pangeran. Keseluruhan cerita dari sudut pandang protagonis wanita.'

'My Story with Sadistic Prince, begitulah judul novel tersebut.'

'Bad ending. Diakhiri eksekusi Sang Pangeran dikarenakan banyak kudeta yang terjadi setelah Viyuranessa dieksekusi.'

'Duke Roseary memiliki banyak dukungan penduduk. Ia tidak akan terima putrinya yang diperlakukan tidak adil seperti itu.'

Tatapan yang murung memikirkan dirinya, aku benar-benar tidak tega dengan ending seperti ini.

***

Langit biru sangat silau terlihat dengan matahari bersinar terang. Saat ini, aku dan adikku sedang berlatih menggunakan pedang di taman. Kami dilatih oleh seorang mantan kesatria yang di sewa oleh orang tua. Rambut kesatria itu sudah beruban dan wajahnya sudah berkerut. Sudah satu Minggu pria paruh baya itu mengajari kami. Saat ini, ia mengajak kami latihan sambil piknik di padang rumput luas yang ada beberapa pohon.

"Kalian berdua sangat hebat karena langsung menyerap semua teknik yang sudah kakek ajari!"

"Kakek Holbet juga sangat hebat dalam mengayunkan pedang! Whus, whus!" ucap adikku.

"Kamu juga Lady Viyuranessa! Kamu sudah bekerja keras!" Kakek itu seperti biasanya, ia sering menatap diriku dengan tatapan yang iba. Lalu, ia tersenyum lebar sambil mengusap ubun-ubunku. "Kamu bahkan bisa mengalahkan kakek dengan taktik cerdasmu!"

"Um! Terima kasih atas pujiannya, kakek Holbet!" Aku sedikit tersenyum. Namun, saat ku lihat tatapan kakek dan merasakan telapak tangannya yang menyentuh ubun-ubunku, aku tahu ia seperti berhati-hati terhadap memperlakukan ku seolah-olah tidak ingin menghancurkan gelas yang rapuh.

"Tetapi, lady Celzurunessi sangat terampil bahkan bisa terbang dengan menggunakan sihir apinya," ucap kakek Holbet.

"Ya, pastinya aku sangat terampil! Tapi, kak Yu yang mengatakan cara melakukannya!"

Adikku mengangkat tangan kanannya lurus ke depan tubuhnya. Ia membentuk jarinya seperti senapan hingga seperti ia ingin menembak.

"Aku bahkan bisa melakukan ini!" Zu mengaktifkan sihirnya dan ia mengumpulkan gumpalan api yang kecil di ujung jari telunjuknya. Lalu, tekanan di bola api kecil itu semakin besar sehingga bentuknya semakin kecil hingga dapat menyerap udara di sekitarnya karena tekanannya. Lalu, ia mengarahkannya ke sebuah pohon besar di samping kakek Holbet.

"Dor!" Celzuru melepaskan bola api itu ke tengah pohon itu. Bola itu bergerak sangat cepat sehingga kakek Holbet tidak dapat melihat lintasannya.

Duar!

Kakek itu tercengang melihat lubang besar di tengah pohon itu. Pohon tersebut mulai tumbang. Kakek Holbet mengucek matanya hingga menampar pipinya sendiri untuk berharap kembali sadar ke kenyataan.

"Itu bukan mimpi, kakek Holbet!" Ucapku dengan ekspresi datar. "Zu! Kamu tidak usah membuat kakek Holbet jantungan! Teknik itu pasti akan mengejutkan orang-orang! Kalau ada yang ada masalah dengan jantungnya itu bahaya, bodoh!"

"Te he'!" Celzuru malah terkekeh.

'Komandan! Apa kamu bisa lihat ini?!' batin kakek Holbet berbicara. Lalu ia memperhatikan sosokku yang sedang menghampiri adikku. 'Anak ini lebih diluar dugaan. Ia memang dibilang jenius. Tapi, ia sangat menakutkan!'

"Jangan khawatir, kakek Holbet! Nanti aku bisa ajari kakek!" ucap Zu sambil tersenyum lebar. "Dan tenang saja, kek! Kekuatan ini tidak akan kami salah gunakan! Ini untuk perlindungan! Dan..."

Celzurunessi Roseary menunjukkan wajahnya yang serius. Ia menancapkan pedang yang ia pegang ke tanah lalu ia menyentuh kedua pinggangnya sendiri dengan menegakkan tubuhnya.

"Apabila ada yang berani melawan keluarga kami bahkan kerajaan ini sendiri, aku tidak akan tinggal diam!" Adikku tersenyum dengan iris pink diamond yang tertampak sempurna.

Kakek Holbet pun tersenyum, "Ya kakek juga harap kerajaan tidak akan menggangu kalian! Dan kalian tahu juga tentang rumor putra mahkota yang sikapnya bisa dikatakan sangat kejam itu. Walaupun kalian mampu melawannya, jangan sampai mengorbankan orang lain!"

"Kakek Holbet memberi nasihat, wah!" Adikku malah memuji nasihat kakek Holbet. "Tapi tenang, kek! Hati Zu ini sangat rapuh hingga tidak akan mampu membunuh orang yang tidak bersalah!"

"He.. masa sih?" ucapku dengan ekspresi datar.

"Iya dong!" Ucap Zu dengan percaya diri. Aku dan kakek Holbet tersenyum.

Setelah itu, kami melakukan aktivitas lain seperti berlatih menari, berkuda dan kemudian berlatih piano hingga bernyanyi. Setelahnya, aku dan adikku menuju ruang pertemuan yang mana tamu akan menunggu kami disana.

Pangeran Agnreandel sering mengunjungi mansion ini hingga melakukan aktivitas bersama kami seperti berkuda, berpiknik hingga pergi mengunjungi suatu tempat. Saat aku bersamanya, selalu saja hormon adrenalinku tiba-tiba meningkat apalagi ia sering sengaja menggodaku. Tetapi, ia juga sering menjaga jarak dan hubungan kami hingga saat aku tersandung dan hampir terjatuh, ia tidak bertindak apapun dan hanya melihat dengan ekspresi yang dingin.

'Aku tidak mengerti jalan pikirannya?!' batinku saat kereta kuda kerajaan meninggalkan mansion ini.

"Sikapnya menggelikan, kapan ia berhenti datang kesini?!" ucap Celzuru dengan raut wajah yang kesal.

"Mungkin beberapa Minggu kedepan," ucapku dengan raut wajah yang murung.

***

Suatu malam hari, aku diam-diam ke luar mansion dengan sebuah jubah yang menutupi rambut dan tubuhku. Saat sudah berhasil mencapai gerbang, aku bergerak secepat kilat.

Saat Klea mengetuk pintu kamarku, ia tidak mendengar ada respon dari dalam.

"Permisi nona!" Klea pun memutuskan memasuki kamarku dengan membuka pintu secara perlahan. Saat tidak ada terlihat sosok ku di dalam kamar, ia pun menepuk jidatnya sendiri. Ia tersenyum kaku dan bergumam, "Nona Viyura pergi diam-diam, lagi!"

Celzuru yang ada di dekat Klea mengatakan, "Lagi?"

"Lady Viyura suka sekali pergi keluar diam-diam! Dan Lady sendiri yang menyuruhku untuk tidak melaporkan kepada Duke tentangnya pergi diam-diam."

"Oh gitu."

"Lady Celzuru sendiri kenapa ingin memanggil Lady Viyura?"

"Mau ngajak ke pesta ulang tahun temanku."

"Nanti saya saja menyampaikannya, Lady Celzuru! Jarang-jarang Lady Viyura pergi ke pesta undangan!"

'Itu karena Celzurunessi yang dulu selalu takut dengan kakaknya sendiri hingga tidak pernah mengajaknya ke pesta undangan. Dan karena itu Viyuranessa tidak pernah datang ke pesta apapun itu dikarenakan ia tidak memiliki teman sebayanya. Viyuranessa selalu diam dan sendiri, bahkan tidak ada yang mendukung dirinya saat terpuruk yang terutama sebagai teman bicara,' batin Celzuru.

_____

See U...

- This is My Story -

by: yukimA15

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    164th Story: Inginkan Kekuasaan

    "Mohon maaf, saya adalah Cistine Moontel, putri pertama Duke Moontel! Baru sekarang saya berkesempatan bertemu dengan anda.... Setelah sekian lama saya berada di luar kerajaan ini. Walaupun saya sudah lama kembali ke kerajaan ini semenjak kelulusan, baru kali ini saya berkesempatan menemui anda. Mengingat, anda yang sering berada di sisi Putra Mahkota...." "Saya mengerti, senang bertemu dengan anda lagi, Lady." Leitte memberikan salam dengan gerakan tubuhnya. "Tapi, saya cukup senang berhadapan dengan anda lagi seperti ini!" "Iya, Lady Cistine Moontel. Senang bertemu dengan anda." Putri pertama Verk bertunangan dengan Putra Kedua Duke Moontel, Tristante Moontel. Dikarenakan itu, diadakan pertemuan kedua keluarga tersebut atas pertemuan pelamaran dari Duke Moontel ke kediaman mereka. Dengan rasa penasaran, Leitte segera memasuki ruang pertemuan dan memperkenalkan dirinya hingga pusat perhatian mereka ke sosok Leitte Verk. Pembicaraan sempat menjadi membicarakan Leitte hingga ke

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    Second Side Story: Kisah Horor

    Angin malam di hutan menerpa rambut Soft Pink yang terurai meskipun Celzuru berada di dalam tenda yang dibangun oleh para pasukan prajurit kerajaan Diamondver. Ia dan Riliana Verk menginap di tenda yang sama. Pintu tenda masih terbuka dan Celzuru memperhatikan suasa luar tenda yang mana hutan yang gelap tertangkap oleh mata pink Diamondnya yang bulat sempurna. "Mengingat suasana ini, aku jadi teringat suatu hal..." Celzuru terdiam dan Riliana tersentak melihat raut wajah Celzuru yang terlihat suram. "I, i, ingat hal apa, zzzz Zu!?" Riliana merasa merinding apalagi suara hutan membuatnya bulu kuduknya berdiri. "Rilia! Bagaimana kalau kita menceritakan kisah horor!?" "Ja, jangan menceritakan kisah horor di tempat menyeramkan seperti ini, Zu! Aku tidak bisa tidur! "Humm... Ataukah kamu mau mendengar kisah Croinel selama ia menjadi pelayanku?" Riliana tersentak. Ia menggelengkan kepalanya dengan malu. Rasa takutnya hilang sesaat. "Ba, baiklah kisah horor saja!" Celzur

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    163rd Story: Tidak Sebaik itu

    "Daerah sini kah." Dari ketinggian Zennofer berhasil menemukan kereta kuda kerajaan yang akan berpulang ke istana dari kediaman Roseary menuju istana. 'Dia benar-benar terlihat berbeda dibandingkan waktu melupakan pria itu.' 'Aku jadi penasaran saja. Apa aman-aman saja aku datang ke tempat tinggalnya ini?' 'Tapi untungnya orang itu tidak tahu aku sering menemuimu, Viyuranessa.' 'Menganggap dunia ini ada di genggamannya. Ia terlalu percaya semua akan berjalan atas pemikirannya.' *** "Terasa panjang juga hari ini." Baru saja aku merebahkan diriku di kasur untuk melepaskan semua penat di hari ini, angin mulai berhembus masuk ke dalam kamarku. Aku tentunya mengenali angin ini. Tanpa beranjak dari berbaring, aku hanya menoleh ke arah jendela. "Wah wah, kamarmu membosankan juga, Viyuranessa." "Kamu bahkan berani datang ke rumahku, Zenno." Aku sedikit sentak menggelengkan kepala memang sempat kepikiran sebelumnya di ada di sini. "Aku sempat berpikiran sih kamu bakal menem

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    162nd Story: Sulit Untuk Jujur

    "Kamu benar-benar santai, Rean. Yang mereka incar sebenarnya adalah kamu." Rean tersentak dan tentunya terheran. "Bagaimana kamu tahu itu, Yu!?" Aku tentunya terheran dengan keterkejutannya yang jelas-jelas terlihat. "Kenapa kamu jadi berpikir aku tidak bakalan menyadari hal seperti ini." "Tunggu dulu, Yu. Apa saja yang sudah kamu ketahui mengenai hal ini?" Termenung memikirkan Zennofer yang masih berada disana, aku hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dengan keadaan yang rumit ini. 'Dia juga bisa lebih gila lagi jika dibiarkan lebih lama. Aku tidak ingin tangannya jadi kotor lagi akibat ulah keserakahan orang itu.' 'Aku tidak bisa melakukannya sendirian.' 'Karena itu waktu itu aku mencoba membicarakannya dengannya, tetapi malah...!' "Itu-" "Viyura!" Lina melihatku dan segera menghampiriku. Aku menoleh ke arah Lina sambil mengatakan, "Kita bicarakan nanti ya, Rean," ucapku yang hanya didengar oleh Rean. "Jelaskan saja sekarang, Yu!" "Nanti saja!" Memberikan tatapan

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    161st Story: Kejutan

    "Racunkah." "Bagaimana kamu yakin, Yu?" "Rasa minuman sangat berbeda! Chiii, nyebelin juga ya makan diganggu gini!" Sedikit tarikan nafas dalam untuk meredam kekesalan ini, pikiran jernih pun jernih hingga sempat terpikirkan banyak hal. "Tapi bagus sih, kita bisa memanfaatkan percobaan ngeracun gini, mwehehe!" Aku tersenyum dengan mata yang menyipit. "Bagaimana?" "Bagaimana kalau kita berpura-pura meminumnya sampai habis sehingga mereka menganggap kalau kita memiliki resistensi terhadap racun?" "Kamu yakin kalau mereka yang menaruh racun?" "Bagaimana ga yakin, rasanya aja jadi jelek gini!? Mungkin saja kan mereka pembunuh profesional yang menghalalkan segala cara untuk membunuh targetnya. Untungnya soal rasa makanan aku bisa membedakannya. Orang yang tidak cicip dulu dari aromanya dulu lalu mulai masuk mulut, cuma lihat penampilan saja kayak kamu ini, mudah teracuni! Dasar ga pekaan!" "Jangan nusuk gitu roasting tunanganmu ini, Yu. Tak apa sih, masih tetap sayang."

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    160th Story: Gangguan

    Di tengah keramaian kota, di taman kota banyak yang membangun stand-stand yang menjual berbagai macam terutama makanan dan minuman. Melihat kesana kemari dengan bersemangat. Aku cukup bingung ingin menghampiri stand yang mana dulu. Satu hal yang paling menarik perhatian yaitu... Aku segera melangkah menghampiri kedai minuman dingin. Meskipun mereka memiliki menu yang banyak, tetap saja aku memilih, "Es teh!" Sambil menyeruput minuman menyegarkan bagi tubuh dan pikiran, aku melirik sosok Rean yang melihat diriku dan terlihat bersemangat entah kenapa. 'Masa sih ia terlihat bersemangat gitu hanya melihatku? Hem....' 'Iya sih, aku juga gitu....' 'Ia jauh lebih keren padahal.' 'Tidak ku sangka ia bisa mengubah kerajaan ini dengan sesingkat ini.' 'Aku bahkan dengar ada beragam pelatihan dilakukan untuk mengurangi pengangguran.' 'Meskipun aku juga sering melihat perkembangan cepat di Lezarion, tapi disini lebih cepat!' Mataku kembali bergeser ke arah Rean yang mana ia terli

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status