Share

160th Story: Gangguan

Author: _yukimA15
last update publish date: 2025-03-15 02:42:21
Di tengah keramaian di ibu kota kerajaan Diamondver ini, di taman kota banyak yang membangun stand-stand yang menjual berbagai macam terutama makanan dan minuman. Aku melihat kesana kemari dengan bersemangat.

Aku cukup bingung ingin menghampiri stand yang mana dulu. Satu hal yang paling menarik perhatian yaitu...

Aku segera melangkah menghampiri kedai minuman dingin. Meskipun mereka memiliki menu yang banyak, tetap saja aku memilih, "Es teh!"

Sambil menyeruput minuman menyegarkan bagi tub
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    168th Story: Selalu Mendebarkan

    Tiba-tiba datang ke ruangannya, Rean tersentak aku tiba-tiba berada di balik pintu. "Yu?" "Ku rasa tidak ada yang menyadarinya, kan?" ucapku di kala membuka sedikit pintu tersebut dengan pelan, lalu perlahan masuk ke dalam. "Kamu sudah datang ke sini, belum sempat aku merasakannya." "Aku langsung lompat dari gedung pertunjukkan teater tadi hingga ke sini." Rennel tidak dapat membayangkan maksud perkataan ku. Ia melihat ke luar jendela dan membayangkan jarak gedung tersebut dengan tempat ini. "Oh begitu," ucap Rean. Lalu ia terpikirkan hal yang mesti ia tingkatkan, "Sepertinya aku harus melatih kecepatan sensorku ini lagi." "Bukankah kamu langsung menyadari keberadaanku tadi- Oh, jika saja musuh memberikan serangan kejutan seperti itu, serem juga ngebayanginnya." Lalu aku langsung terpikirkan hal menarik. "Pasang barier saja! Sebelumnya itu, apa kamu mengkhawatirkan suatu hal?" "Khawatir anda akan melupakannya lagi," ucap Rennel, dari raut wajahnya aku sudah mengerti ma

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    167th Story: Bergerak Maju

    Para penonton ikut terbawa dengan pertunjukan cerita yang belum pernah mereka ketahui ini. Seperti layaknya etika di bioskop pada zaman modern, mereka menonton dengan serius. Aku memerankan karakter antagonis yang merupakan kakak tiri pertama, awalnya Jesshiena memintaku memerankan karakter utamanya, tentunya aku menolaknya karena tidak ingin menjadi pusat perhatian. Terutama mengingat diriku ini sedang menyamar. "Apaan ini!? Pakaianku sudah menggunung begini! Cinderella!!!" Sang Cinderella ditindas oleh ibu tiri dan kedua saudara tirinya. Ibunya telah tiada dan hanya ada ayahnya yang jarang pulang karena pekerjaannya. Dimanfaatkan sebaliknya oleh mereka, yang mana diharapkan oleh ayahnya mereka bisa mengurus dan menemani anak kesayangannya. Namun, ia malah dijadikan sebagai pembantu rumah tangga. Walaupun bisa mengadu ke Sang Ayahnya, ia tidak memiliki bukti untuk meyakinkannya. 'Baik boleh tapi bodoh jangan ya. Aku tidak terlalu menyukai cerita ini. Di manapun tempat yang tid

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    166th Story: Tempat Pertunjukan

    "Ini tempat pertunjukan Jesshiena Frossel itu? Kita lihat saja langsung, bagaimana caranya menjatuhkannya nanti, hahahaha!" Cistine Moontel masih kesenangan atas kepercayaan dirinya. Bagiku hal menjijikan seperti dirinya ini, membuatku tidak ingin berurusan sedikitpun terhadap mereka. Mengingat kelakuannya yang selalu saja menghasilkan banyak korban, aku tidak seharusnya hanya tinggal diam. Seperti waktu diriku yang tidak memiliki pengetahuan apapun itu. Dan, hanya bisa melihat kelakuan sampah ini. Aku ikut memasuki gedung pertunjukan itu. 'Memang tidak bisa dibiarkan wanita ini bertingkah seenaknya ini.' Karena penampilanku yang agak usang ini dan kebanyakan para pengunjung yang memasuki tempat ini sangat berpenampilan menarik dibandingkan biasa, Cistine Moontel melihat ku dan menghampiri ku. Tanpa menghentikan langkah, aku langsung menyadarinya. Kala itu, aku berpikir, 'Tentunya tempat ini masih bisa dikatakan tidak terjangkau oleh masyarakat umumnya. Walaupun mereka yang menabun

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    165th Story: Orang yang Licik

    Terdiam sejenak dengan wajah yang merunduk dengan kipas tangan yang terbuka ia menutupi ekspresi wajahnya. Yang mana ia sedang menyeringai di kala berpikir, 'Ku pastikan kamu juga hancur! Tidak akan ku buatkan kamu mati. Tapi lebih menarik jadi budakku seumur hidup. Hahahahaha! Kamu bisa menjadi bonekaku yang lebih tinggi kedudukannya di kerajaan ini. Semuanya akan jadi milikku!' Cistine dengan penuh ketenangan segera melangkah mendekati Leitte dan berbisik suatu kalimat kepada Leitte. "Kamu tidak mungkin menebakkannya, kan? Hahahahaha, kamu jangan lupa dengan kemampuanku selama ini! Sampai jumpa, Le- it- te." Cistine mulai melangkah dan semakin jauh. "Datanglah kepadaku. Karena- Hanya orang sepertimu yang cocok untukku." Leitte Verk tersentak dalam diam. Alfrelina Yarne terheran dengan hal yang dibisikkan wanita membuat tunangannya terdiam seperti ini. "Ada apa?" "Bukan apa-apa, Lina sayangku. Hanya saja, kenapa harus ada orang segila ini? Padahal aku tahu dia memang segila

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    164th Story: Inginkan Kekuasaan

    "Mohon maaf, saya adalah Cistine Moontel, putri pertama Duke Moontel! Baru sekarang saya berkesempatan bertemu dengan anda.... Setelah sekian lama saya berada di luar kerajaan ini. Walaupun saya sudah lama kembali ke kerajaan ini semenjak kelulusan, baru kali ini saya berkesempatan menemui anda. Mengingat, anda yang sering berada di sisi Putra Mahkota...." "Saya mengerti, senang bertemu dengan anda lagi, Lady." Leitte memberikan salam dengan gerakan tubuhnya. "Tapi, saya cukup senang berhadapan dengan anda lagi seperti ini!" "Iya, Lady Cistine Moontel. Senang bertemu dengan anda." Putri pertama Verk bertunangan dengan Putra Kedua Duke Moontel, Tristante Moontel. Dikarenakan itu, diadakan pertemuan kedua keluarga tersebut atas pertemuan pelamaran dari Duke Moontel ke kediaman mereka. Dengan rasa penasaran, Leitte segera memasuki ruang pertemuan dan memperkenalkan dirinya hingga pusat perhatian mereka ke sosok Leitte Verk. Pembicaraan sempat menjadi membicarakan Leitte hingga ke

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    Second Side Story: Kisah Horor

    Angin malam di hutan menerpa rambut Soft Pink yang terurai meskipun Celzuru berada di dalam tenda yang dibangun oleh para pasukan prajurit kerajaan Diamondver. Ia dan Riliana Verk menginap di tenda yang sama. Pintu tenda masih terbuka dan Celzuru memperhatikan suasa luar tenda yang mana hutan yang gelap tertangkap oleh mata pink Diamondnya yang bulat sempurna. "Mengingat suasana ini, aku jadi teringat suatu hal..." Celzuru terdiam dan Riliana tersentak melihat raut wajah Celzuru yang terlihat suram. "I, i, ingat hal apa, zzzz Zu!?" Riliana merasa merinding apalagi suara hutan membuatnya bulu kuduknya berdiri. "Rilia! Bagaimana kalau kita menceritakan kisah horor!?" "Ja, jangan menceritakan kisah horor di tempat menyeramkan seperti ini, Zu! Aku tidak bisa tidur! "Humm... Ataukah kamu mau mendengar kisah Croinel selama ia menjadi pelayanku?" Riliana tersentak. Ia menggelengkan kepalanya dengan malu. Rasa takutnya hilang sesaat. "Ba, baiklah kisah horor saja!" Celzur

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    Eighth Story: Di Perkebunan Stroberi

    Saat kami akan pulang, Countess Vivicy Lobart mengatakan kepadaku,"Terima kasih banyak, Lady Viyuranessa! Saya sangat berterima kasih atas bantuannya! Padahal saya sangat hina di waktu itu dan pastinya saya akan dilihat sangat menjijikan! Tetapi hanya anda yang berbeda! Saya sungguh berterima kasi

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    Seventh Story: Nyawa yang Berharga

    "Bagaimana kalau bibi bekerja denganku saja?!"Mendengar penawaran ku, ia menyilang kan tangannya di depan dadanya. "Bekerja dengan mu?! Dunia orang dewasa bukan taman bermain, anak kecil!"Aku segera membuka tudung jubah yang ku kenakan sehingga ia bisa melihat warna dan iris mataku. Ia tersentak,

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    Sixth Story: Di Ibukota

    Aku pergi ke ibu kota untuk pergi menjelajahi ibu kota. Di perjalan melintasi tengah kota yang tentunya banyak yang berlalu lalang di sekitarku. Semua hal menarik di sini aku hiraukan karena aku terus terbenam di pikiranku.'Kenapa di ingatan Viyuranessa hanya ada sosok pangeran itu, sih? Dan juga,

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    Fifth Story: Nama Panggilan

    "Yu!?" gumamku. Aku baru sadar bahwa Pangeran Agnreandel menyebut nama singkatku yang hanya dipanggil saudariku. "Bukankah anda dari tadi memanggil saya dengan nama yang disebutkan adikku tadi? Anda tidak perlu memanggil nama terlalu singkat itu, Yang Mulia! Nama panggilanku itu Viyura." "Apa saya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status