ログインDi tengah ruangan, ada sebuah foto diletakkan. Hitam putih, terlihat jelas itu adalah pekerja dari tahun itu.Lunara meletakkan buket bunga di depan foto almarhum.Seorang wanita paruh baya menuangkan air dan meletakkannya di atas meja. "Duduklah. Dulu banyak media datang, sekarang sudah nggak ada lagi. Aku kira kejadian ini sudah dilupakan."Setelah duduk, Lunara mengeluarkan sebuah alat. Ini adalah alat perekam dan alasan yang sudah dia siapkan sebelumnya.Kalau dia datang atas nama Keluarga Angkasa, kemungkinan besar keluarga korban tidak akan menyambutnya. Bahkan bisa saja karena emosi, perkataan mereka menjadi subjektif.Lunara memulai percakapan. "Dua tahun ini, apakah pihak Keluarga Angkasa pernah mencari kalian?""Nggak. Katanya sudah bangkrut, jadi untuk apa menghubungi kami." Wanita paruh baya itu tersenyum sinis. "Hukum karma memang berputar."Di matanya hanya tersisa kehampaan setelah melalui peristiwa besar. "Suamiku orang yang jujur. Waktu itu manajer bernama Damar bilang
Lunara bergeser sedikit untuk memberi ruang. Casya memegang cangkir kopi dan menatap layar sambil berdecak. "Sayang sekali, Nenek yang ini bilang dia nggak tertarik sama Pak Zafran. Lihat deh, jadi ribet begini."Gaia menatap wanita cantik yang tiba-tiba muncul itu, lalu mengamatinya dari atas ke bawah dan bertanya heran, "Sis, kamu siapa?""Aku Casya. Untuk sementara jadi direktur timnya Lunara dan Eirene."Casya mengatakan hanya sementara karena dia yakin, begitu dirinya sudah tidak dibutuhkan di sini, Kayden pasti akan menyuruhnya pergi. Perusahaannya sendiri juga tidak mungkin dia abaikan.Gaia tidak menyangka atasan baru yang tiba-tiba datang ini malah tampak sesantai itu. Bahkan tahu detail gosip perjodohan lansia."Kalau yang ini gimana?"Casya menggeleng, "Yang ini sih bagus, anak-anaknya juga setuju. Tapi, dia minta nikah pagi, lalu sorenya Pak Zafran sudah harus meninggal. Memangnya siapa yang bisa jamin itu?"Dengan status keluarga dan kekayaan seperti Zafran ... kalau bisa
Grup Narasoma.Pagi-pagi sekali, Gaia sudah terlihat misterius."Lunara, hari ini di departemen kita ada karyawan baru lagi. Ada yang nama belakangnya Sankara, dia akan menggantikan posisi Nia sebelumnya."Nia adalah atasan langsung Gaia. Minggu lalu ada rotasi internal dan demi bisa berkumpul dengan suaminya, dia juga pindah ke Kota Calros.Awalnya Gaia masih merasa tidak nyaman. Bukan karena Nia orangnya sebaik itu, melainkan karena kalau Nia pergi, berarti dia harus langsung melapor ke Kayden!Membayangkan situasi itu saja, Gaia sudah merasa jantungnya berdebar-debar seperti hampir terkena serangan jantung. Untung saja, ada atasan baru yang langsung ditugaskan.Di seberang, Eirene sedang berdandan. Matanya terbelalak saat dia memasukkan softlens dengan minus tinggi ke dalam matanya. Ekspresinya terlihat agak mengerikan."Aku dengar, cewek ini adalah kandidat tunangan yang dicarikan oleh Keluarga Narasoma untuk Pak Kayden."Gaia mendecak. Dia tidak terlalu menganggap serius. "Yang di
Daisy sudah tertidur sambil memeluk boneka panda kecil di pelukannya.Lunara awalnya sedang mengejar deadline gambar, tapi saat itu dia juga mulai merasa sedikit mengantuk. Namun setelah berbaring, dia malah tidak bisa terlelap. Dia teringat pertama kali merayakan ulang tahun Kayden.Kalau dipikir-pikir, rasanya waktu itu agak tidak masuk akal. Lunara sudah memesan kue, tapi toko malah melupakan pesanannya. Saat kuenya tiba, waktunya sudah lewat lama.Saat Kayden melihat kue itu, dia terlihat sedikit terkejut. Kayden mencubit pipinya dan bertanya, "Kamu tahu dari mana kalau hari ini ulang tahunku?"Waktu itu Lunara sangat bangga, lalu berkata dengan ekspresi penuh ceria, "Kamu 'kan pacarku, mana mungkin aku nggak tahu ulang tahunmu! Aku lihat KTP-mu!"Tak disangka, belum sempat dia lama-lama bangga, Kayden sudah memeluknya dan berkata, "Hari ini bukan ulang tahunku. Tanggal di KTP itu salah, besok baru yang benar."Lunara langsung merasa kecewa sekaligus malu, dia menatap Kayden dengan
Api lilin berkedip-kedip. Kayden segera menutupinya dengan tangan, agar nyalanya tidak padam. Daisy mengembungkan pipi dan mencoba meniup cukup lama, tapi tetap tidak berhasil memadamkan api lilin.Kayden diam-diam membantunya.Lilin pun padam, Kayden lalu menyalakan lampu."Kamu tahu dari mana hari ini ulang tahun Om?""Karena hari ini bukan ulang tahunku, Mama, atau Nenek. Jadi pasti ulang tahun Om."Kue itu hanya berukuran kecil. Daisy memegang piring, tapi tidak tega memotongnya.Lunara yang mendengar suara dari luar, juga bunyi piring dari dapur, mengira Daisy sedang melakukan sesuatu. Dia segera keluar untuk melihat. Barulah dia melihat Kayden duduk di sana sambil menatap Daisy dengan penuh perhatian, di antara mereka ada sebuah kue kecil.Ulang tahunnya ... tidak dirayakan bersama Keluarga Narasoma?Kue itu juga tidak terlihat seperti sesuatu yang akan dibeli keluarga seperti mereka. Mungkin Kayden membelinya di jalan saat pulang, khusus untuk Daisy.Melihat Lunara keluar, Daisy
Orang yang selalu dilarang untuk makan makanan seperti ini saat kecil, setelah beranjak dewasa hanya ada dua kemungkinan. Yaitu antara sangat menyukai makanan manis atau tidak menyentuhnya sama sekali.Saat ini, Kayden malah jadi sedikit tertarik."Anak perempuan kecil bakal suka sama kue begini nggak?"Casya mengangkat alis dan berkata, "Aku yang umur 20-an saja suka. Kalau anak dua tiga tahun, pasti lebih suka lagi.""Kasih kotaknya."Casya langsung menyerahkan seluruh kotak kue itu kepada Kayden. Setelah menutup kotaknya dengan hati-hati, Kayden seperti teringat sesuatu, lalu menatap Casya."Putri Keluarga Sankara yang dimaksud Kakek itu siapa?""Elina. Kakek kelihatannya suka sekali sama dia, bahkan bilang mau menempatkannya di Grup Narasoma untuk kerja, supaya bisa dekat dengan Kakak .... Om juga sudah setuju."Alis Kayden sedikit mengernyit. Ponselnya berdering, itu panggilan dari sepupunya yang kedua, Frans. Bahkan sebelum sempat mengucapkan selamat ulang tahun, ucapannya telah
"Begitu rupanya. Kalian berdua memang kelihatan serasi."Kayden tersenyum tipis, tidak menanggapi.Di sisi lain, Lunara baru saja mengambil minuman ketika tanpa sengaja seorang pelayan menumpahkan anggur ke arahnya.Anggur merah menodai gaun satin putih, tampak semakin mencolok.Sorot mata Kayden te
Ignas berpikir sejenak. Lunara memang kandidat yang cukup baik. Cantik, cekatan dalam bekerja, jarang bicara, dan tidak kepo.Dia juga cukup mengenal klien. Dua rekan kerja sama itu memang belum pernah berhubungan langsung dengannya, tetapi proyek-proyek sebelumnya juga pernah ditangani oleh Lunara.
"Kenapa nggak minum? Kamu dari perusahaan mana?"Sambil berbicara, tangan pria itu mengarah ke punggung Lunara yang terbuka. Belum sempat menyentuh, seluruh tubuh Lunara sudah merinding.Dia segera menghindar ke samping. Setelah berhasil menghindar, sambil memegang sampanye, dia berkata, "Aku dari d
Wajahnya memerah sesaat, menahan detak jantung yang bergejolak. "Tapi ...."Kayden tidak sabar. "Toh bukannya aku nggak pernah lihat juga. Anggap saja ini pembayaranmu untuk gaun itu."Meski Lunara membelakanginya untuk melepas pakaian yang dikenakan, tetap saja dia harus berbalik badan untuk mengam







