Pelukan Hangat Sang Letnan

Pelukan Hangat Sang Letnan

last update최신 업데이트 : 2026-06-28
작가:  Nyemoetdz Kim연재 중
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
40챕터
581조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

​Salwa Rumi, seorang auditor sukses dengan karier gemilang, selalu merasa ada lubang besar di tengah kebahagiaannya. Saat Letnan Paspampres Galang Baraka datang melamarnya, lubang itu kian menganga, ia tak tahu siapa yang harus menjadi wali nikahnya. ​Ditemani Galang, sang "Elang" yang setia, Salwa menelusuri jejak masa lalu ibunya yang sunyi. Namun, pencarian itu berakhir pada kenyataan pahit di sebuah rumah tua. Lelaki yang ia panggil Ayah justru menatapnya dengan kebencian, menyebut Salwa sebagai personifikasi dosa yang ingin ia hapus dari ingatan. ​Salwa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya adalah anak tanpa nasab, sebuah aib di mata sang ayah, namun sebuah ujian cinta bagi Galang. Di tengah kehancuran identitasnya, Salwa harus memilih, tetap meratapi garis keturunan yang terputus, atau membangun akar baru yang lebih kuat bersama lelaki yang berjanji akan menjadi pelindung seumur hidupnya.

더 보기

1화

01. Letnan Galang Baraka

​Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Jakarta, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Di halaman Istana Merdeka, Galang Baraka berdiri dengan posisi tegak sempurna. Setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya tampak sangat pas, seperti model yang baru saja turun dari panggung runway, namun dengan aura yang jauh lebih mengintimidasi.

​Garis rahangnya yang tegas tampak mengeras saat ia menekan earpiece di telinga kirinya.

​"Elang 1 siap di posisi. Area steril," ucapnya dingin. Suaranya rendah, bariton yang penuh wibawa.

​Sebagai anggota Paspampres Grup A, Galang bukan sekadar perisai hidup. Ia adalah perpaduan antara otak encer lulusan terbaik akademi militer dan ketangkasan fisik yang di atas rata-rata. Di kalangan rekan sejawatnya, Galang dijuluki sebagai "The Ghost Sniper" karena kemampuannya melumpuhkan target dari jarak dua kilometer tanpa sekali pun meleset.

​Malam itu, Presiden dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam kenegaraan yang cukup berisiko. Galang sudah mempelajari denah lokasi selama berjam-jam. Ia tidak hanya menghafal pintu keluar, tapi juga frekuensi udara, kecepatan angin untuk jalur peluru, hingga pola gerakan para pelayan.

​Saat iring-iringan mobil kepresidenan mulai bergerak, Galang duduk di kursi depan mobil pengawal. Matanya terus memindai setiap sudut jalan.

​"Baraka," suara komandannya terdengar lewat radio. "Intelijen mendeteksi adanya pergerakan anomali di sektor empat. Tetap waspada."

​"Diterima. Saya akan mengambil alih pengawasan manual di titik buta," jawab Galang.

​Sesampainya di lokasi, kerumunan wartawan dan pendukung mulai memadati area. Di tengah keriuhan itu, otak pintar Galang menangkap sesuatu yang janggal. Seorang pria di lantai tiga gedung seberang tidak memegang kamera, melainkan sesuatu yang memantulkan cahaya kecil, lensa bidik.

​Dalam hitungan detik, Galang tidak berteriak panik. Ia bergerak dengan kecepatan yang sulit dipercaya oleh mata telanjang.

​"Posisi darurat! Shield up!" perintahnya sambil menarik sang Presiden masuk ke dalam dekapan bahunya yang kokoh, melindunginya dengan tubuhnya sendiri sementara tangan kanannya sudah siap pada posisi mencabut senjata cadangan di balik jasnya.

​Duni seolah melambat bagi Galang. Di antara napas yang teratur dan detak jantung yang tenang, ia harus memutuskan, Bertahan di tempat, atau melumpuhkan sang penembak sebelum peluru pertama melesat?

​*

Galang tidak pernah ragu. Baginya, pertahanan terbaik adalah serangan yang presisi. Dalam hitungan milidetik, ia menghitung variabel di kepalanya: jarak 450 meter, kecepatan angin rendah, dan sudut elevasi 15 derajat.

​"Tetap rendah! Masuk ke barikade!" perintah Galang kepada tim ring satu lainnya.

​Sambil terus memayungi tubuh Presiden dengan bahunya yang lebar, Galang memberikan kode visual kepada rekannya untuk mengambil alih perlindungan fisik. Begitu Presiden aman di balik pintu antipeluru mobil kepresidenan, Galang tidak ikut masuk. Ia justru berputar, memanfaatkan pilar beton gedung sebagai perlindungan.

​Ia tidak menggunakan senjata api laras pendeknya. Di balik bagasi taktis mobil pengawal yang terbuka sedikit, ia meraih custom compact sniper rifle yang sudah ia siapkan untuk situasi darurat seperti ini.

​Satu Tembakan, Satu Jawaban

​Galang menarik napas dalam, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya dan menenangkan denyut nadinya hingga di bawah 60 detak per menit. Paras tampannya yang biasanya tenang kini berubah menjadi sangat dingin dan fokus. Melalui lensa bidik, ia melihat ujung laras senapan musuh menyembul dari jendela lantai tiga.

​Tiga... dua... satu...

​DOR!

​Satu tembakan tunggal dilepaskan. Bukan untuk membunuh, melainkan untuk melumpuhkan. Peluru Galang menghantam tepat pada mekanisme pelatuk senjata lawan, menghancurkannya seketika dan membuat si penembak gelap terjatuh karena syok kinetik.

​"Target dilumpuhkan. Saya bergerak untuk pengamanan subjek," lapor Galang singkat.

​Ia berlari menyeberang jalan, melompati pagar pembatas dengan gerakan seringan model atletis, dan masuk ke gedung tersebut. Ia tidak menunggu lift; ia menaiki tangga darurat dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

​Di lantai tiga, si penembak gelap mencoba melarikan diri melalui pintu belakang. Namun, Galang sudah di sana. Pria itu mencoba menyerang Galang dengan pisau taktis. Dengan gerakan bela diri campuran yang efisien, Galang menangkap pergelangan tangan lawan, memutarnya hingga terdengar bunyi klik tulang yang bergeser, dan membantingnya ke lantai beton dengan satu sapuan kaki.

​"Kamu memilih hari yang salah untuk membuat masalah," bisik Galang dingin, sambil menekan leher lawan dengan lututnya, memastikan pria itu tidak bisa bergerak sedikit pun.

​Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, ancaman telah dinetralkan. Galang merapikan jas hitamnya yang sedikit berdebu, membetulkan letak dasinya, dan kembali ke sisi mobil Presiden seolah tidak terjadi keributan besar.

​Wajahnya kembali tenang, berwibawa, dengan garis rahang yang tampak kokoh di bawah lampu jalanan.

​Presiden menurunkan kaca mobil sedikit, menatap pengawal mudanya itu. "Luar biasa, Galang. Kamu tidak apa-apa?"

​Galang menunduk hormat, sorot matanya tetap waspada memindai sekitar. "Hanya tugas rutin, Pak. Area sudah kembali kondusif. Kita bisa melanjutkan perjalanan."

​Perjalanan pun berlanjut menuju lokasi jamuan. Namun, Galang menyadari bahwa penembak tadi memiliki tato sandi di pergelangan tangannya, sebuah kode yang hanya dipahami oleh orang-orang dengan kecerdasan tingkat tinggi.

Bersambung...

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
40 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status