LOGINSalwa Rumi, seorang auditor sukses dengan karier gemilang, selalu merasa ada lubang besar di tengah kebahagiaannya. Saat Letnan Paspampres Galang Baraka datang melamarnya, lubang itu kian menganga, ia tak tahu siapa yang harus menjadi wali nikahnya. Ditemani Galang, sang "Elang" yang setia, Salwa menelusuri jejak masa lalu ibunya yang sunyi. Namun, pencarian itu berakhir pada kenyataan pahit di sebuah rumah tua. Lelaki yang ia panggil Ayah justru menatapnya dengan kebencian, menyebut Salwa sebagai personifikasi dosa yang ingin ia hapus dari ingatan. Salwa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya adalah anak tanpa nasab, sebuah aib di mata sang ayah, namun sebuah ujian cinta bagi Galang. Di tengah kehancuran identitasnya, Salwa harus memilih, tetap meratapi garis keturunan yang terputus, atau membangun akar baru yang lebih kuat bersama lelaki yang berjanji akan menjadi pelindung seumur hidupnya.
View MoreWaktu istirahat bagi seorang Paspampres Grup A bukanlah waktu untuk benar-benar melepaskan penat. Di sebuah ruangan taktis semi-permanen yang didirikan di belakang area pengamanan utama, Galang duduk dengan punggung tegak di sebuah kursi lipat militer. Di depannya, sebotol air mineral masih tertutup rapat. Ia baru saja selesai mengirimkan pesan singkat pada Giska, namun instingnya tidak pernah benar-benar "tidur".Rekan-rekan setimnya sedang menikmati jatah nasi kotak sambil sedikit berkelakar untuk mencairkan ketegangan. Namun, Galang berbeda. Kepalanya sedikit miring, matanya yang tajam tidak menatap nasi di depannya, melainkan menatap layar monitor CCTV kecil yang terhubung dengan perimeter luar istana.Tiba-tiba, suara statis terdengar di radio komunikasi pusat."Lapor, ada keributan di gerbang timur. Seorang pria berteriak-teriak membawa tas besar, menolak diperiksa. Petugas ring tiga sedang mencoba melakukan negosiasi."Mendengar laporan itu, anggota lain mulai bersiaga, nam
Matahari Jakarta mulai menyengat, menciptakan fatamorgana panas di atas aspal hitam kawasan protokol. Di sana, di depan gerbang utama istana, Galang Baraka berdiri dengan posisi istirahat di tempat yang sempurna. Tubuhnya yang semampai dibalut setelan jas hitam custom-fit yang tidak menunjukkan lipatan sedikit pun. Kacamata hitam taktis menutupi sorot matanya yang tajam, sementara garis rahangnya yang tegas tampak semakin kokoh di bawah terik matahari.Bagi siapa pun yang melihatnya, Galang adalah personifikasi dari profesionalisme tanpa cela. Tidak ada yang akan menyangka bahwa pria ini baru saja melewati malam yang penuh emosi di bangsal rumah sakit, mengusap punggung wanita yang dicintainya hingga fajar menyingsing.Sebelum iring-iringan kepresidenan bergerak, Galang berada di ruang pengarahan singkat bersama timnya. Di sana, Kolonel Bramantyo sedang memeriksa detail rute melalui tablet digital. Begitu melihat Galang masuk dengan langkah tegap dan wajah "tanpa ekspresi" yang suda
Mentari pagi mulai mengintip dari balik tirai jendela rumah sakit, membawa cahaya terang yang membangunkan kesunyian malam. Galang Baraka sudah berdiri tegak di samping jendela, wajahnya telah dibasuh, dan kemeja putihnya sudah rapi kembali meski gurat kelelahan masih tersisa di matanya yang tajam. Tugas negara memanggilnya kembali ke istana hari ini, namun hatinya masih tertambat pada ranjang tempat Salwa terbaring.Galang tahu ia tidak bisa membiarkan Salwa sendirian. Salwa, sama seperti dirinya, adalah pejuang di rimba beton Jakarta. Wanita itu merantau dari daerah, membawa luka masa lalu yang tidak pernah ia ceritakan pada sembarang orang. Setelah ibunya tiada dan ayahnya pergi tanpa kabar, sebuah luka yang Galang pun tidak tega untuk mengungkitnya, Salwa tumbuh di bawah asuhan paman dan bibinya. Di Jakarta, Galang adalah satu-satunya "rumah" yang ia miliki.Untuk itulah, Galang telah menghubungi satu-satunya keluarga yang ia miliki di kota ini, Giska, adik perempuannya yang sed
Setelah memastikan napas Salwa benar-benar teratur dan rintihan kecil itu hilang ditelan lelap, Galang secara perlahan menarik tangannya. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat halus, seolah sedang menjinakkan bom waktu yang bisa meledak hanya dengan satu getaran kecil. Ia membetulkan letak bantal Salwa, memastikan wanita itu benar-benar nyaman, sebelum akhirnya ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.Layar ponselnya menyala, menampilkan belasan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan singkat dari satu nama: Komandan Bramantyo.Galang menghela napas panjang. Ia tahu ia telah melakukan sesuatu yang di luar protokol. Seorang anggota Paspampres Grup A tidak seharusnya menghilang dari radar tanpa laporan yang jelas, meskipun tugas pengamanan fisik pada objek vital sudah dinyatakan selesai untuk hari itu. Namun, cinta seringkali membuat pria paling disiplin sekalipun melanggar aturan.Ia melangkah perlahan menuju balkon kamar rawat, menutup pintu kaca dengan sangat rapa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.