MasukHidung Zavian terasa perih saat menahan tangis. Kemudian, dia mengangguk sambil terisak. Yang tersisa hanya suara sengau yang berat. Setiap kali melihat Daisy, hatinya terasa sesak.Saking sakitnya sampai kesulitan untuk bernapas.Padahal Daisy sebaik ini ... kenapa Virelle tega menculiknya.Di lengan Daisy, masih ada bekas kemerahan yang tertinggal dari hari itu saat dia dibawa pergi oleh orang tua Virelle.Dokter mengatakan bahwa ini bukan masalah serius. Hanya saja tubuh Daisy lemah, kemampuan pembekuan darahnya jauh lebih buruk dibanding anak-anak lain, jadi bekas di tubuhnya juga hilang lebih lambat.Melihat kondisinya, Zavian hanya merasa pedih dan sesak. Dia merasa bersalah pada Daisy. Akhirnya, Zavian mengusap keras air mata di wajahnya.Debu dan darah, air mata dan rasa sakit, semuanya tercampur jadi satu di wajahnya.Untuk beberapa saat, dia tidak melepaskan tangannya. Beberapa saat kemudian, bahunya bergetar hebat dan dia menangis tersedu-sedu."Lunara itu satu-satunya adikk
"Aku dengar ayahku bilang, katanya ... anak di dalam perut Virelle itu adalah miliknya."Setelah berkata demikian, seluruh tenaganya seolah terkuras habis. Dia terjatuh lemas di kursi. Suara tangisnya tertahan, bercampur dengan rasa sakit yang seakan berdarah.Priya dan Lunara saling bertukar pandang.Dari mata masing-masing, terlihat keterkejutan, kegetiran, dan juga rasa mual.Reaksi pertama Priya adalah pergi menutup pintu. Bagaimanapun juga, ini urusan keluarga Zavian, dan juga sangat memalukan.Setelah pintu ditutup, Priya tidak bisa menahan diri untuk menghela napas panjang. Dia berpikir sejenak, lalu keluar untuk meminta kapas alkohol pada perawat dan memberikannya pada Zavian."Bersihkan dulu. Lututmu sampai lecet begini."Lutut dan sikunya penuh luka gores. Tidak usah ditanyakan lagi bagaimana itu bisa terjadi.Untungnya, kamar rawat Lunara adalah kamar tunggal. Setelah Zavian menangis cukup lama, dia mengambil gelas air yang diberikan Daisy dan langsung menghabiskannya. Priya
Eirene juga tidak tahu detailnya, sehingga dia bertanya, "Ada yang terluka? Kalau begitu mungkin beda. Nanti aku tanya lagi setelah pulang. Polisi nggak cari kamu?"Lunara mengangguk.[ Mereka sudah datang, tapi aku juga nggak tahu banyak. ]Dari sudut pandang Lunara, dia hanya tahu Daisy dan Meidy diculik, Virelle melakukan pemerasan, dan Virelle sekeluarga ditangkap untuk penyelidikan. Kalau ini kasus perdata, berarti Virelle seharusnya tidak dalam bahaya.Sekarang dia sedang hamil. Kalaupun masuk penjara, kemungkinan akan mendapatkan pembebasan bersyarat untuk perawatan medis.Polisi sudah beberapa kali datang. Berdasarkan kesaksian Lunara dan Kayden, ditambah rekaman CCTV di lokasi, kejadian itu sudah bisa direkonstruksi. Semua orang yang melihat Lunara kehilangan suara, merasa cemas dan sedih.Priya dan Saphira sudah menghubungi banyak ahli. Semua mengatakan hal yang sama, biarkan saja berjalan dengan alami. Ini gejala yang muncul tiba-tiba, mungkin suatu saat bisa sembuh sendiri.
Kayden menggeleng."Nggak perlu, kamu suruh dia istirahat yang baik, atur juga konseling psikologi anak. Waktu aku ditusuk, sepertinya Daisy melihatnya."Daisy dan Meidy diberi obat penenang, tapi orang tua Virelle mungkin merasa obat itu mahal, jadi tidak rela memberikannya terlalu banyak.Di tengah jalan, Daisy sempat terbangun.Saat pisau di tangan ayah Virelle menusuk ke arah Kayden, Daisy membelalakkan mata dan memanggilnya. Bukan memanggil "Om Kayden", tapi "Papa".Kayden sendiri tidak tahu apakah dia salah lihat atau salah dengar. Atau mungkin saat hampir mati, dia mengalami halusinasi. Saat itu, dia hanya punya satu pikiran.Harus melindungi Daisy.Kalau sampai terjadi sesuatu pada Daisy, Lunara dan Saphira mungkin akan hancur karena sedih.Sejak Daisy lahir, Kayden selalu tidak menjalankan perannya sebagai ayah. Kalau ada kesempatan untuk menebusnya, dia bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk itu.Kayden bahkan berpikir, untungnya sekarang Lunara tidak lagi terlalu peduli pad
Melihat beberapa kata di layar ponsel itu, Kayden masih belum bereaksi hingga layar padam.Dia bahkan sempat berpikir, apakah dia sudah mati dan yang dilihatnya sekarang hanyalah mimpi, atau ini adalah kilasan terakhir sebelum ajal.Beberapa kata itu, setiap hurufnya dia kenal, tetapi entah kenapa, dia tidak berani menyusunnya menjadi makna yang dia inginkan.Lunara berkata, dia ingin menikah dengannya.Kayden tiba-tiba menoleh, tanpa sengaja menarik masker oksigen. Otot lehernya pun ikut tertarik. Rasa sakit membuat keringat dingin muncul di dahinya.Lunara mengulurkan tangan, membantunya merapikan kembali. Mata mereka saling bertemu. Dari mata satu sama lain, terlihat keraguan, ketidakpastian, dan samar-samar air mata.Jari Lunara menyentuh sudut mata Kayden, menghapus air mata yang mengalir turun. Padahal suhu tubuh manusia hanya sekitar 36 derajat, tetapi Lunara merasa suhu air mata itu seolah-olah bisa membakar kulitnya.Panas, membara.Dengan gerakan bibir tanpa suara, Lunara ber
Dokter masuk. "Efek anestesi seharusnya akan segera hilang, dia akan sadar. Besok pagi baru boleh makan dan minum. Beberapa jam ini harus ditahan dulu."Lunara mengangguk.Baru saja dokter keluar, Kayden perlahan membuka mata. Sepertinya cahaya lampu di atas terlalu silau, dia cepat-cepat menutupnya lagi.Tangan Lunara menutupi kelopak mata Kayden, lalu perlahan-lahan dilepas sedikit demi sedikit, membiarkannya menyesuaikan diri dengan cahaya.Kayden mengedipkan mata. Di bulu matanya yang lebat masih ada sedikit sisa air. Karena terlalu lama menutup mata, dia jadi belum terbiasa. Itu adalah air mata fisiologis.Lunara mengambil kapas lidi, menyekanya dengan hati-hati.Kayden menatap Lunara. Suaranya serak saat bertanya, "Kamu dan Daisy baik-baik saja?"Lunara mengangguk. Tatapannya tertuju pada wajah Kayden. Tanpa perlu berbicara, Kayden tahu apa yang ingin dia katakan."Casya bilang kamu terima telepon, lalu panik dan langsung lari ke luar, bahkan nggak izin atau bilang pergi ke mana.
Berapa pun jumlah yang dia sebutkan, Lunara akan menabung untuk membayarnya. Kalau perlu, dicicil."Kalau begitu aku pamit dulu. Pak Kayden istirahat yang baik."Pintu kamar tertutup dan Lunara pun pergi.Bunyi sepatu hak tinggi yang menjauh perlahan, lalu menghilang dari dunia Kayden.....Kediaman
Perasaan anak kecil memang selalu peka. Lunara tidak tahu harus tertawa atau menangis. Dia hanya menanggapi singkat, "Nggak sampai segitunya."Sayangnya, dunia anak-anak hanya mengenal dua hal, yaitu suka dan tidak suka. Jawaban Lunara membuat Rupert kebingungan.Rupert baru dua tahun lebih. Tubuhny
Mungkin dia juga sadar bahwa sebenarnya Kayden tidak pernah menyukainya. Yang dia dambakan hanyalah sedikit perbedaan. Asal Kayden menganggap dia berbeda dari orang lain, itu sudah cukup.Begini saja sudah baik.Jari-jari Lunara mengerut, seolah-olah dia sedang menyentuh garis pakaian Kayden lewat k
Kayden sedikit mengernyit.Jantung Lunara berdegup sekali. Dia baru hendak menolak, ketika Kayden sudah lebih dulu berkata, "Ya, baik."Lalu, dia menoleh ke Lunara. Suara pria itu yang rendah tidak menunjukkan nada meminta persetujuan sedikit pun. "Tolong jaga Rupert. Anggap saja sebagai ganti rugi







