Share

Bab 97

Author: Fitri
"Jangan terlalu capek. Kalau kamu terus begini setiap hari, Ibu nggak jadi operasi."

Priya khawatir kondisi penyakitnya membebani Lunara, sampai membuatnya tidak bisa pulang dan harus lembur.

Pada saat yang sama, dia pun mengeluhkan atasan Lunara, "Itu 'kan anak muda yang kemarin yang nyuruh kamu balik tengah malam buat lembur? Aduh, repot banget. Kelihatannya orang baik, kok kerjanya nggak berperikemanusiaan sih?"

Mendengar itu, Lunara merasa agak bersalah. Bagaimanapun juga, dialah yang datang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Gan Ay Lian
kelamaan buka kunci nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 617

    Ketika cinta belum datang, seseorang harus selalu mengizinkan dirinya untuk tetap berharap.Sama seperti Casya. Sebelum mengenal Lunara, dia juga tidak pernah berani membayangkan bahwa suatu hari dirinya benar-benar akan berkarier sebagai desainer perhiasan.Mungkin suatu hari nanti, perasaannya terhadap cinta yang selama ini dipenuhi sikap defensif dan pesimis juga akan memiliki kesempatan untuk bertunas, lalu tumbuh subur di musim semi.Lunara kemudian berkata, "Sekalian, kami juga akan meluncurkan submerek di bawah naungan kami. Desainernya tetap Bu Casya."Perkembangan àl'aube selama ini sangat sehat dan momentumnya sangat kuat. Bahkan setelah mengalami bencana besar, perusahaan itu mampu bangkit kembali dalam waktu yang sangat singkat. Peluncuran submerek baru sepenuhnya merupakan langkah yang mengikuti perkembangan alami perusahaan.Namun, hal itu tetap membuat para media yang hadir terkejut.Harus diketahui, mengelola merek perhiasan mewah kelas atas seperti àl'aube, terlebih de

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 616

    Peluncuran produk baru seri Taman Firdaus dari àl'aube berjalan dengan lancar. Acara peluncuran itu diadakan langsung di pabrik baru mereka.Lunara mengenakan gaun beludru merah dipadukan dengan syal pendek hitam. Di kakinya terpasang sepasang sepatu hak tinggi hitam yang ramping. Seluruh penampilannya memancarkan kesan anggun dan mewah.Di syalnya tersemat desain inti dari seri Taman Firdaus, sebuah bros rubi berbentuk pohon apel.Setiap merek perhiasan biasanya melakukan promosi besar-besaran setiap kali meluncurkan koleksi baru, dan awalnya Lunara cukup mengkhawatirkan urusan pemasaran.Namun karena sebuah kebakaran besar, biaya promosi untuk seri Taman Firdaus malah hampir sepenuhnya terhemat. Kebakaran di pabrik itu disertai ledakan. Kebetulan pada saat yang sama, ada sebuah kru drama yang sedang melakukan syuting sekitar sepuluh kilometer dari lokasi, termasuk adegan ledakan.Saat itu, para anggota kru bahkan mengira tim properti mereka sudah sehebat itu. Beberapa aktor bahkan se

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 615

    Setelah dibandingkan seperti itu, ganjalan yang selama ini menyesakkan dada Silvar langsung menghilang. Dia berkata dengan suara pelan, "Elina, kamu banyak berubah."Dari seseorang yang dulu penakut dan selalu ragu-ragu, menjadi seseorang yang sekarang jujur dan terus terang. Silvar sendiri tidak tahu apakah perubahan itu baik atau buruk. Namun, dia tahu satu hal. Elina tetaplah wanita yang dia sukai.Elina mendorongnya pelan. "Aku harus bangun dan berangkat kerja. Kamu ... mungkin perlu mandi air dingin?"Saat mereka berpelukan rapat seperti itu, setiap sentuhan tubuh satu sama lain menjadi terasa sangat jelas. Silvar menjawab lesu, "Hm."Dia ingin mendekat untuk mencium Elina, tetapi langsung didorong menjauh oleh Elina.Mata Silvar langsung membelalak. Dengan nada protes, dia menatap Elina."Padahal tadi kamu sudah setuju untuk berdamai. Sekarang bahkan ciuman saja nggak boleh? Aku juga nggak berniat melakukan apa-apa. Jangan-jangan kamu cuma menipuku, lalu kamu akan memblokirku lag

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 614

    Silvar baru saja bangun. Tatapannya masih sedikit mengantuk. Begitu membuka mulut, dia langsung bertanya, "Kenapa kamu menghela napas?"Tangan Elina menyentuh wajahnya. "Sudah sadar dari mabuknya?""Hm. Sedikit pusing."Begitulah efek mabuk semalaman. Sakit kepala memang tidak bisa dihindari.Sebenarnya Silvar termasuk orang yang perilakunya cukup baik saat mabuk. Ketika minum terlalu banyak, dia hanya akan mengoceh, bersikeras mencari Elina, lalu bermanja-manja kepadanya.Elina hendak bangun, tetapi Silvar menahannya dan menariknya kembali ke pelukan. "Kenapa kamu menghela napas?" Dia mengulangi pertanyaan itu lagi, seolah tidak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban. Keras kepala dan memaksa.Dipeluk erat dalam lengan Silvar yang kuat, Elina merasa membicarakan hal seperti ini dalam situasi seperti sekarang jelas bukan pilihan yang baik.Namun karena Silvar tidak mau melepaskannya, Elina akhirnya berbicara terus terang, "Aku hanya merasa kita nggak cocok.""Bagian mana yang nggak c

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 613

    "Hm, aku memang sedang mabuk. Tapi kalau aku sedang sadar pun, aku nggak akan datang mencarimu.""Kenapa?"Silvar mengangkat kepala dan menatapnya. Karena pengaruh alkohol, sudut matanya memerah. Dengan tatapan berkaca-kaca, dia menatap Elina tanpa berkedip. "Memangnya aku nggak punya harga diri?"Sebelum Elina sempat menjawab, Silvar sudah lebih dulu menjawab pertanyaannya sendiri. "Aku memang nggak punya harga diri."Elina langsung tertawa karena ulahnya.Dengan posisi satu berdiri dan satu duduk seperti ini, ditambah lagi tubuh Elina masih terkurung dalam pelukan Silvar, jelas sekali dia merasa tidak nyaman."Lepaskan aku.""Nggak. Kalau kulepaskan, kamu akan terbang."Elina hanya bisa terdiam. Dirinya bukan kupu-kupu, mana mungkin bisa terbang? Ini rumahnya. Kalaupun dia mau pergi, memangnya dia bisa pergi ke mana? Kenapa dia malah berdebat dengan orang mabuk?"Silvar, lepaskan."Begitu nada bicara Elina sedikit lebih tegas, Silvar langsung melepaskannya seperti binatang liar yang

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 612

    Sudah larut malam. Jangan-jangan Tamara dan keluarganya datang mencarinya tengah malam? Tidak mungkin. Saat rumah ini dibeli dulu, Tamara dan keluarganya bahkan belum pernah datang ke sini.Elina bangkit dengan hati-hati. Dia tidak memakai sepatu, lalu berjalan ke pintu dan mengintip melalui layar bel pintu video. Di layar, muncul wajah yang sangat dikenalnya.Elina segera membuka pintu. Aroma alkohol yang menyengat langsung menerpa dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Pria tinggi itu langsung menerjang ke arahnya dan jatuh ke dalam pelukannya.Osmar yang berdiri di belakang menggaruk kepalanya."Kak Silvar mabuk berat. Dia ngotot mau datang ke sini, jadi aku antar saja. Tadinya aku kira dia salah ingat alamat dan cuma asal ngomong."Setelah melihat Elina, Osmar baru menghela napas lega. "Orangnya sudah sampai. Aku pergi dulu, ya."Tanpa menunggu jawaban Elina, dia langsung berbalik pergi. Bahkan dia sekalian menutupkan pintu untuk Elina. Dalam sekejap, yang tersisa hanyalah pria beraroma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status