Share

Anak Siapa?

Author: YuRa
last update publish date: 2025-10-20 10:29:32

“Aborsi? Jadi ia memilih jalan itu? Bagaimana kondisinya sekarang?” Else tidak menyangka dengan kenekatan sahabatnya itu.

“Dia sekarang di rumah sakit. Jadi kamu tahu kalau ia akan aborsi? Kenapa? Dia kan punya suami, apa yang ia takutkan?”

“Aku pikir ia hanya main-main. Yang aku tahu, ia tidak mau nanti kasih sayang untuk Alvin terbagi dengan adiknya.” Tentu saja Else tidak bicara dengan jujur. Karena ada rahasia besar yang harus ia simpan dengan rapat.

Dennis menghela napas berat. Kali ini bu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Takdir Menyapa   Interogasi Halus 2

    “Tidak, Bu,” jawabnya cepat, suaranya sedikit bergetar namun tegas. “Kami hanya beberapa kali bertemu. Tidak ada hubungan apa-apa.”Irsa tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap lurus ke depan, wajahnya sulit ditebak.Sementara Saras menggenggam keranjang belanja lebih erat, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu, satu jawaban saja yang salah, bisa mengubah segalanya. Kini sedang diuji.“Jawab dengan jujur, apa yang kamu inginkan dari Dennis?”Pertanyaan itu jatuh begitu saja, dingin, tajam, dan tak terduga.Glek! Saras menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa kering. Untuk sesaat, ia hanya bisa diam, mencoba mengumpulkan keberanian yang tercecer. Ia menarik napas pelan.“Saya memang berasal dari keluarga sederhana, Bu, bahkan bisa dibilang sangat sederhana,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan namun berusaha tetap teguh. “Dan saya juga punya keinginan yang sederhana.”Irsa tidak menyela. Tatapannya lurus, menunggu.“Saya hanya ingin hidup tenang dan damai, bersama ibu dan anak saya.”

  • Ketika Takdir Menyapa   Interogasi Halus

    Makan siang akhirnya usai. Sesuai keinginannya, Alvin langsung mengajak Althaf menuju area permainan. Dengan langkah ringan dan penuh semangat, mereka berdua berjalan meninggalkan tempat makan, menuju deretan wahana anak yang dipenuhi tawa dan warna-warni ceria.Namun, tidak semua suasana terasa menyenangkan. Saras masih diliputi rasa canggung. Tatapan Irsa yang sejak tadi terasa dingin dan sinis, seolah terus mengikutinya. Meski langkahnya tetap maju, ada kegelisahan yang diam-diam ia pendam di dalam hati.“Mama mau ke supermarket dulu, ada yang perlu dibeli,” ujar Irsa singkat.Saras segera menoleh. “Boleh saya temani, Bu?” tawarnya hati-hati. Senyum tetap ia pasang, meski dadanya terasa penuh oleh kegugupan yang sulit ia redam.“Boleh.” Jawaban Irsa datar, tanpa banyak ekspresi.Dennis dan Pak Handika saling berpandangan, jelas terkejut melihat Irsa menerima tawaran itu tanpa penolakan.“Kalian tunggu saja anak-anak. Biar kami yang ke supermarket,” lanjut Irsa, lalu langsung mela

  • Ketika Takdir Menyapa   Makan Bersama

    “Maaf ya, kalau Alvin sering nggak nurut sama Opa dan Oma,” tambahnya sambil nyengir.Ucapan polos itu langsung mencairkan suasana. Pak Handika dan Irsa saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum hangat. Dennis pun ikut tersenyum bangga, sementara Saras hanya bisa memandang Alvin dengan perasaan yang sulit dijelaskan.“Terima kasih juga, Tante Saras sama Adek Althaf, sudah mau datang,” lanjut Alvin, kali ini dengan nada lebih ceria. Matanya berbinar penuh semangat. “Habis ini kita main bareng ya?”Althaf yang sejak tadi duduk di samping Saras langsung tampak lebih hidup. Ia menatap ibunya seolah meminta izin, sementara senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. Saras menatap keduanya, lalu perlahan mengangguk.“Iya,” jawabnya singkat, tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih hangat.Saras yang semula tersenyum kecil, perlahan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun tanpa sengaja, matanya justru bertemu dengan tatapan Irsa.Sesaat, waktu seperti berhenti.Irsa yang tadi terse

  • Ketika Takdir Menyapa   Permintaan Alvin

    Saras menutup pintu taksi online itu perlahan, seolah memberi dirinya waktu lebih lama untuk bersiap. Di sampingnya, Althaf menggenggam tangannya erat, hangat, polos, tanpa beban seperti yang sedang ia rasakan.Hari ini mereka datang ke ulang tahun Alvin. Undangan itu terasa sederhana di luar, tapi bagi Saras, ini seperti melangkah ke medan yang belum tentu menerimanya.Sebenarnya, Dennis tadi bersikeras ingin menjemputnya. Namun Saras menolak. Dengan langkah pelan, Saras berjalan mendekati pintu masuk. Matanya langsung menangkap sosok yang berdiri di sana, Dennis.Pria itu memang sengaja menunggu. Tatapannya langsung tertuju pada Saras, seolah memastikan bahwa mereka benar-benar datang.Dennis tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat.“Ayo, kita temui Alvin,” ucapnya lembut.Saras mengangguk kecil, tapi sebelum melangkah lebih jauh, ia bertanya dengan suara yang sedikit tertahan.“Opa dan Omanya sudah datang?”“Sudah dari tadi,” jawab Dennis tenang.Jawaban itu membuat langkah Saras

  • Ketika Takdir Menyapa   Semoga

    “Adek Althaf?” ulangnya pelan.Alvin mengangguk cepat. Ada kilatan harap di matanya sesuatu yang jarang terlihat.“Iya, Pa. Alvin suka sama Adek. Dia lucu terus Alvin nggak sendirian.”Ada perasaan hangat yang perlahan muncul, bercampur dengan haru yang sulit dijelaskan. Di balik sikap tenangnya, Alvin ternyata menyimpan keinginan kecil, bukan tentang hadiah, bukan tentang pesta tapi tentang kebersamaan.Dennis menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.“Iya, nanti Papa ajak Adek Althaf.”Wajah Alvin langsung berubah cerah. Senyum kecil itu akhirnya muncul, tulus dan tanpa beban.Di sisi lain, Irsa memperhatikan dalam diam. Matanya menyipit sedikit, menangkap satu nama yang tadi disebut dengan begitu mudahnya oleh Alvin.Althaf, nama yang sama anak dari perempuan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan akan masuk ke dalam lingkaran keluarganya.Tangannya perlahan mengepal di atas meja.Dennis melirik ke arah Irsa. Hanya sekilas, namun cukup untuk membaca sesuatu yang tak diucapkan. Wa

  • Ketika Takdir Menyapa   Satu Masalah Lagi

    Tanpa sengaja, pandangan Nora berpapasan dengan Saras.Waktu seolah melambat sesaat.Perempuan itu, yang dulu begitu ia benci, yang pernah ia sakiti tanpa ragu, kini berdiri di hadapannya, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai seseorang yang tampak jauh lebih tenang.Saras menatapnya. Tak ada kebencian di sana. Tak ada luka yang ditunjukkan. Hanya sebuah senyum sederhana, namun cukup untuk membuat hati Nora terasa bergetar.Nora terpaku. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, perasaan yang sulit dijelaskan. Bersalah, mungkin. Atau penyesalan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.Tanpa ia sadari, bibir Nora perlahan ikut melengkung. Senyum kecil, ragu, namun tulus, seolah menjadi jawaban atas masa lalu yang tak pernah benar-benar mereka bicarakan.Akhirnya, waktu kebersamaan itu harus berakhir. Saras dan Dennis bersiap untuk berpamitan. Suasana yang tadi hangat kini perlahan berubah menjadi haru yang tipis, seolah semua orang enggan benar-benar mengakhiri pertemuan hari itu.Stella m

  • Ketika Takdir Menyapa   Bukan Ego

    Gavin menatap Dennis dengan mata menyingkapkan cemburu yang terkendali. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Aku tahu kamu peduli pada Saras dan Althaf. Tapi aku juga ayahnya. Anak ini butuh aku. Jadi jangan salah paham kalau aku tetap di sini.”Dennis menegakkan tubuh, memandang G

  • Ketika Takdir Menyapa   Cemburu

    “Kak Alvin sekolah, Nak. Nanti kalau sudah Althaf, bisa main lagi dengan Kak Alvin,” kata Dennis sambil tersenyum hangat, menatap Althaf dengan penuh kasih.“Bener ya, Pa?” tanya Althaf dengan mata berbinar-binar, senyumnya merekah seperti matahari pagi.Dennis mengangguk, hatinya terasa meledak ha

  • Ketika Takdir Menyapa   Tiga Hati

    “Halo, Sayang,” kata Gavin lembut sambil melangkah mendekati Althaf, menatap anaknya dengan mata yang hangat tapi penuh kewaspadaan.“Eh… Pak Dennis.” Gavin mengulurkan tangannya ke Dennis. Ia mencoba tersenyum, tapi hatinya dipenuhi cemburu saat melihat kedekatan Dennis dengan Saras.Dennis menat

  • Ketika Takdir Menyapa   Penyesalan

    “Kamu mau ngapain?” tanya Nora, suaranya sedikit meninggi saat melihat Gavin merapikan pakaiannya. Mereka sedang menginap di hotel karena urusan pekerjaan Gavin, dan Nora bersikeras ikut.“Kita pulang sekarang,” jawab Gavin singkat, matanya fokus pada tas yang ia kemas.Nora mengerutkan dahi. “Ng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status