Share

Anak Siapa?

Author: YuRa
last update publish date: 2025-10-20 10:29:32

“Aborsi? Jadi ia memilih jalan itu? Bagaimana kondisinya sekarang?” Else tidak menyangka dengan kenekatan sahabatnya itu.

“Dia sekarang di rumah sakit. Jadi kamu tahu kalau ia akan aborsi? Kenapa? Dia kan punya suami, apa yang ia takutkan?”

“Aku pikir ia hanya main-main. Yang aku tahu, ia tidak mau nanti kasih sayang untuk Alvin terbagi dengan adiknya.” Tentu saja Else tidak bicara dengan jujur. Karena ada rahasia besar yang harus ia simpan dengan rapat.

Dennis menghela napas berat. Kali ini bu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Takdir Menyapa   Makan Bersama

    “Maaf ya, kalau Alvin sering nggak nurut sama Opa dan Oma,” tambahnya sambil nyengir.Ucapan polos itu langsung mencairkan suasana. Pak Handika dan Irsa saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum hangat. Dennis pun ikut tersenyum bangga, sementara Saras hanya bisa memandang Alvin dengan perasaan yang sulit dijelaskan.“Terima kasih juga, Tante Saras sama Adek Althaf, sudah mau datang,” lanjut Alvin, kali ini dengan nada lebih ceria. Matanya berbinar penuh semangat. “Habis ini kita main bareng ya?”Althaf yang sejak tadi duduk di samping Saras langsung tampak lebih hidup. Ia menatap ibunya seolah meminta izin, sementara senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. Saras menatap keduanya, lalu perlahan mengangguk.“Iya,” jawabnya singkat, tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih hangat.Saras yang semula tersenyum kecil, perlahan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun tanpa sengaja, matanya justru bertemu dengan tatapan Irsa.Sesaat, waktu seperti berhenti.Irsa yang tadi terse

  • Ketika Takdir Menyapa   Permintaan Alvin

    Saras menutup pintu taksi online itu perlahan, seolah memberi dirinya waktu lebih lama untuk bersiap. Di sampingnya, Althaf menggenggam tangannya erat, hangat, polos, tanpa beban seperti yang sedang ia rasakan.Hari ini mereka datang ke ulang tahun Alvin. Undangan itu terasa sederhana di luar, tapi bagi Saras, ini seperti melangkah ke medan yang belum tentu menerimanya.Sebenarnya, Dennis tadi bersikeras ingin menjemputnya. Namun Saras menolak. Dengan langkah pelan, Saras berjalan mendekati pintu masuk. Matanya langsung menangkap sosok yang berdiri di sana, Dennis.Pria itu memang sengaja menunggu. Tatapannya langsung tertuju pada Saras, seolah memastikan bahwa mereka benar-benar datang.Dennis tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat.“Ayo, kita temui Alvin,” ucapnya lembut.Saras mengangguk kecil, tapi sebelum melangkah lebih jauh, ia bertanya dengan suara yang sedikit tertahan.“Opa dan Omanya sudah datang?”“Sudah dari tadi,” jawab Dennis tenang.Jawaban itu membuat langkah Saras

  • Ketika Takdir Menyapa   Semoga

    “Adek Althaf?” ulangnya pelan.Alvin mengangguk cepat. Ada kilatan harap di matanya sesuatu yang jarang terlihat.“Iya, Pa. Alvin suka sama Adek. Dia lucu terus Alvin nggak sendirian.”Ada perasaan hangat yang perlahan muncul, bercampur dengan haru yang sulit dijelaskan. Di balik sikap tenangnya, Alvin ternyata menyimpan keinginan kecil, bukan tentang hadiah, bukan tentang pesta tapi tentang kebersamaan.Dennis menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.“Iya, nanti Papa ajak Adek Althaf.”Wajah Alvin langsung berubah cerah. Senyum kecil itu akhirnya muncul, tulus dan tanpa beban.Di sisi lain, Irsa memperhatikan dalam diam. Matanya menyipit sedikit, menangkap satu nama yang tadi disebut dengan begitu mudahnya oleh Alvin.Althaf, nama yang sama anak dari perempuan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan akan masuk ke dalam lingkaran keluarganya.Tangannya perlahan mengepal di atas meja.Dennis melirik ke arah Irsa. Hanya sekilas, namun cukup untuk membaca sesuatu yang tak diucapkan. Wa

  • Ketika Takdir Menyapa   Satu Masalah Lagi

    Tanpa sengaja, pandangan Nora berpapasan dengan Saras.Waktu seolah melambat sesaat.Perempuan itu, yang dulu begitu ia benci, yang pernah ia sakiti tanpa ragu, kini berdiri di hadapannya, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai seseorang yang tampak jauh lebih tenang.Saras menatapnya. Tak ada kebencian di sana. Tak ada luka yang ditunjukkan. Hanya sebuah senyum sederhana, namun cukup untuk membuat hati Nora terasa bergetar.Nora terpaku. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, perasaan yang sulit dijelaskan. Bersalah, mungkin. Atau penyesalan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.Tanpa ia sadari, bibir Nora perlahan ikut melengkung. Senyum kecil, ragu, namun tulus, seolah menjadi jawaban atas masa lalu yang tak pernah benar-benar mereka bicarakan.Akhirnya, waktu kebersamaan itu harus berakhir. Saras dan Dennis bersiap untuk berpamitan. Suasana yang tadi hangat kini perlahan berubah menjadi haru yang tipis, seolah semua orang enggan benar-benar mengakhiri pertemuan hari itu.Stella m

  • Ketika Takdir Menyapa   Berusaha Membahagiakan

    Stella tertegun. Waktu seolah berhenti saat sosok Althaf melangkah perlahan memasuki ruang keluarga rumah itu. Langkah kecilnya terdengar begitu jelas, seakan menggema di dalam dada Stella.Di sampingnya, Saras menunduk sedikit dan berbisik lembut, “Kasih salam sama Opa dan Oma.”Althaf mengangguk pelan. Dengan ragu namun penuh keberanian, ia berjalan mendekat. Matanya menatap dua sosok di depannya, Robin dan Stella, yang kini terpaku, tak mampu berkata apa-apa.“Halo, Opa, Oma,” ucap Althaf polos, sambil mengulurkan tangan kecilnya.Namun sebelum tangan itu sempat benar-benar tergenggam, Stella sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan hangat. Seolah takut momen itu akan hilang jika ia terlambat sedetik saja.Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Bahunya bergetar, memeluk Althaf semakin erat, seakan ingin memastikan bahwa anak itu benar-benar nyata di hadapannya.“Iya, Sayang, ini Oma,” suara Stella pecah, tertahan oleh haru yang menyesakkan dada.Tangis itu bukan sekadar tangis.

  • Ketika Takdir Menyapa   Mengantar Althaf

    Suasana makan siang itu terasa tenang. Saras dan Dennis duduk berhadapan. Di antara mereka, obrolan ringan mengalir pelan, sesekali diselingi senyum kecil yang membuat suasana terasa hangat.Drttt….drtttPonsel Saras bergetar di atas meja.Saras melirik layarnya. Dan seketika, ekspresinya berubah tipis. Nama Gavin muncul di layar ponsel. Ia terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu perlahan menatap Dennis.“Boleh aku terima panggilan ini?” tanyanya hati-hati.Dennis menghentikan gerakannya sesaat. Tatapannya jatuh pada layar ponsel itu, lalu kembali ke wajah Saras. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Cemburu, namun ia menahannya.“Boleh,” jawabnya singkat.Saras mengangguk kecil, lalu mengangkat panggilan itu.“Halo…”“Hallo, Saras.”Suara Gavin terdengar dari seberang. Tenang dan formal. “Aku mau minta tolong,” lanjutnya. “Bisa nggak besok kamu dan Althaf datang ke rumah Mami? Mami ingin bertemu dengannya.”Saras terdiam. Permintaan itu tidak sederhana. Matanya sekila

  • Ketika Takdir Menyapa   Mengenalkan Seseorang

    “Aku takut bertemu dengan orang tuamu, Mas.”Suara Saras pelan, hampir seperti bisikan yang terbawa angin. Tangannya saling menggenggam, mencoba menenangkan kegelisahan yang sejak tadi tak kunjung reda.Hari ini ia akan melangkah lebih jauh ke dalam kehidupan Dennis. Namun alih-alih tenang, dadanya

  • Ketika Takdir Menyapa   Menagih Janji

    Hari itu terasa berbeda. Saras tidak tahu pasti kenapa sejak pagi hatinya terasa lebih ringan. Seolah ada beban yang perlahan terangkat, meski ia belum benar-benar tahu jawabannya. Sampai akhirnya,Gavin datang membawa kabar itu.“Mami sudah membatalkan gugatannya.”Kalimat sederhana itu, seketika

  • Ketika Takdir Menyapa   Merasa Tersentuh

    Robin menarik napas panjang, lalu menatap Saras dengan penuh keyakinan.“Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu.”Saras mengernyit pelan, jantungnya kembali berdebar, bukan karena takut, tapi karena menunggu.“Gugatan itu,” Robin berhenti sejenak, memastikan setiap kata yang ia ucapkan terdengar je

  • Ketika Takdir Menyapa   Jangan Pisahkan

    “Saras, ada yang ingin Papi bicarakan sama kamu.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dunia Saras seakan berhenti sejenak. Jantungnya berdegup lebih keras. Tidak nyaman dan tidak tenang.Ada sesuatu dalam nada suara Robin yang membuatnya bersiap, untuk kemungkinan terburuk.Ia menatap p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status