共有

Jangan Baper

作者: YuRa
last update 公開日: 2025-10-09 09:42:36

Saras menoleh, tetap tersenyum meski sudah bisa menebak arah omongan rekan kerjanya itu.

“Sesekali pengen makan enak, Mbak,” sahut Saras ringan. “Bosen warteg terus.”

Rina dan Teddy saling melirik. Mereka tahu, Winda bukan tipe yang bisa didekati dengan candaan. Meski satu tim, sikap Winda selalu saja membuat suasana mendadak kaku.

“Warteg juga nggak apa-apa, yang penting halal dan nggak numpang senang di atas gaji kecil,” komentar Winda dengan nada menyindir, lalu berjalan lewat mereka seolah
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Ketika Takdir Menyapa   Semoga

    “Adek Althaf?” ulangnya pelan.Alvin mengangguk cepat. Ada kilatan harap di matanya sesuatu yang jarang terlihat.“Iya, Pa. Alvin suka sama Adek. Dia lucu terus Alvin nggak sendirian.”Ada perasaan hangat yang perlahan muncul, bercampur dengan haru yang sulit dijelaskan. Di balik sikap tenangnya, Alvin ternyata menyimpan keinginan kecil, bukan tentang hadiah, bukan tentang pesta tapi tentang kebersamaan.Dennis menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.“Iya, nanti Papa ajak Adek Althaf.”Wajah Alvin langsung berubah cerah. Senyum kecil itu akhirnya muncul, tulus dan tanpa beban.Di sisi lain, Irsa memperhatikan dalam diam. Matanya menyipit sedikit, menangkap satu nama yang tadi disebut dengan begitu mudahnya oleh Alvin.Althaf, nama yang sama anak dari perempuan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan akan masuk ke dalam lingkaran keluarganya.Tangannya perlahan mengepal di atas meja.Dennis melirik ke arah Irsa. Hanya sekilas, namun cukup untuk membaca sesuatu yang tak diucapkan. Wa

  • Ketika Takdir Menyapa   Satu Masalah Lagi

    Tanpa sengaja, pandangan Nora berpapasan dengan Saras.Waktu seolah melambat sesaat.Perempuan itu, yang dulu begitu ia benci, yang pernah ia sakiti tanpa ragu, kini berdiri di hadapannya, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai seseorang yang tampak jauh lebih tenang.Saras menatapnya. Tak ada kebencian di sana. Tak ada luka yang ditunjukkan. Hanya sebuah senyum sederhana, namun cukup untuk membuat hati Nora terasa bergetar.Nora terpaku. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, perasaan yang sulit dijelaskan. Bersalah, mungkin. Atau penyesalan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.Tanpa ia sadari, bibir Nora perlahan ikut melengkung. Senyum kecil, ragu, namun tulus, seolah menjadi jawaban atas masa lalu yang tak pernah benar-benar mereka bicarakan.Akhirnya, waktu kebersamaan itu harus berakhir. Saras dan Dennis bersiap untuk berpamitan. Suasana yang tadi hangat kini perlahan berubah menjadi haru yang tipis, seolah semua orang enggan benar-benar mengakhiri pertemuan hari itu.Stella m

  • Ketika Takdir Menyapa   Berusaha Membahagiakan

    Stella tertegun. Waktu seolah berhenti saat sosok Althaf melangkah perlahan memasuki ruang keluarga rumah itu. Langkah kecilnya terdengar begitu jelas, seakan menggema di dalam dada Stella.Di sampingnya, Saras menunduk sedikit dan berbisik lembut, “Kasih salam sama Opa dan Oma.”Althaf mengangguk pelan. Dengan ragu namun penuh keberanian, ia berjalan mendekat. Matanya menatap dua sosok di depannya, Robin dan Stella, yang kini terpaku, tak mampu berkata apa-apa.“Halo, Opa, Oma,” ucap Althaf polos, sambil mengulurkan tangan kecilnya.Namun sebelum tangan itu sempat benar-benar tergenggam, Stella sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan hangat. Seolah takut momen itu akan hilang jika ia terlambat sedetik saja.Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Bahunya bergetar, memeluk Althaf semakin erat, seakan ingin memastikan bahwa anak itu benar-benar nyata di hadapannya.“Iya, Sayang, ini Oma,” suara Stella pecah, tertahan oleh haru yang menyesakkan dada.Tangis itu bukan sekadar tangis.

  • Ketika Takdir Menyapa   Mengantar Althaf

    Suasana makan siang itu terasa tenang. Saras dan Dennis duduk berhadapan. Di antara mereka, obrolan ringan mengalir pelan, sesekali diselingi senyum kecil yang membuat suasana terasa hangat.Drttt….drtttPonsel Saras bergetar di atas meja.Saras melirik layarnya. Dan seketika, ekspresinya berubah tipis. Nama Gavin muncul di layar ponsel. Ia terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu perlahan menatap Dennis.“Boleh aku terima panggilan ini?” tanyanya hati-hati.Dennis menghentikan gerakannya sesaat. Tatapannya jatuh pada layar ponsel itu, lalu kembali ke wajah Saras. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Cemburu, namun ia menahannya.“Boleh,” jawabnya singkat.Saras mengangguk kecil, lalu mengangkat panggilan itu.“Halo…”“Hallo, Saras.”Suara Gavin terdengar dari seberang. Tenang dan formal. “Aku mau minta tolong,” lanjutnya. “Bisa nggak besok kamu dan Althaf datang ke rumah Mami? Mami ingin bertemu dengannya.”Saras terdiam. Permintaan itu tidak sederhana. Matanya sekila

  • Ketika Takdir Menyapa   Berusaha Lebih Keras

    “Jika seandainya Dennis dibuang keluarga hanya karena memilihmu, apakah kamu masih mau bersamanya?”Pertanyaan Pak Handika kali ini jauh lebih berat. Bukan sekadar menguji perasaan tapi masa depan.Saras terdiam sesaat. Ia tampak berpikir. Mencerna setiap kata dan segala kemungkinan yang menyertainya. Wajahnya perlahan menunduk, namun bukan karena takut, melainkan karena ia sedang menimbang sesuatu yang benar-benar penting.Perlahan, Saras menarik napas dalam. Lalu mengangkat wajahnya kembali.“Dennis tidak akan menyerah begitu saja, Pak.” Suaranya lembut namun jelas.“Ia akan tetap berusaha memperjuangkan restu itu,” lanjutnya. “Itu yang ia ucapkan pada saya.”“Dan saya percaya perjuangan itu bukan hanya dari satu pihak,” tambahnya pelan. “Kalau memang kami harus menghadapi itu.”Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan keyakinan yang perlahan menguat.“Maka kami akan menghadapinya bersama.”Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk menjelaskan segalanya.Beberapa detik berlalu d

  • Ketika Takdir Menyapa   Menjauhi Dennis

    “Pak Handika sudah menunggumu, Saras.”Suara Benny terdengar tenang, namun justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menekan. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi,.hanya pernyataan yang terasa seperti penegasan bahwa ini bukan hal sepele.Saras menelan ludah pelan.“Iya, Pak,” jawabnya singkat, disertai anggukan kecil.Namun di dalam dirinya, kegelisahan semakin membesar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seolah memberi peringatan akan sesuatu yang belum ia ketahui.Dengan gerakan sopan, Benny membuka pintu ruangan Pak Handika. Tempat yang selama ini terasa jauh dan kini, harus ia masuki.Saras melangkah perlahan. Satu langkah, dua langkah, hingga akhirnya ia melewati ambang pintu.Udara di dalam ruangan terasa berbeda. Lebih dingin dan sedikit menakutkan bagi Saras. Belum sempat ia sepenuhnya menyesuaikan diri.Klik.Pintu di belakangnya tertutup. Benny menutupnya dari luar. Suara kecil itu terdengar sederhana, namun cukup untuk membuat Saras merasa seperti bera

  • Ketika Takdir Menyapa   Kedatangan Stella

    “Mami?” gumam Saras nyaris tak terdengar saat pintu kontrakannya terbuka perlahan.Tangannya masih menggenggam gagang pintu, kaku. Nafasnya tercekat seketika ketika sosok di hadapannya menjadi jelas.Stella, wanita itu berdiri tegak dengan aura dingin yang tak pernah berubah, mata tajamnya menelusu

  • Ketika Takdir Menyapa   Anak Kita

    Setelah berpikir semalaman, Gavin akhirnya menyadari satu hal, egonya tidak lagi penting. Yang terpenting sekarang hanyalah Althaf dan Saras.Ia duduk lama di tepi ranjang, menatap kosong, memikirkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan.Rasa bersalah itu masih ada, tapi kini bercampur dengan tek

  • Ketika Takdir Menyapa   Saling Bersaing

    “Althaf pulang kok nggak ngasih tahu Ayah?” tanya Gavin, nada suaranya terdengar sedikit menyindir, matanya menatap Saras dengan sorot cemas tapi terselip cemburu.Saras menelan napas, sadar Gavin pasti mengira Althaf pulang bersama Dennis. Ia tersenyum tipis, mencoba menenangkan situasi. “Kami ta

  • Ketika Takdir Menyapa   Cemburu dan Kesal

    “Dennis, nanti temani Mama ya?” pinta Irsa, matanya berbinar penuh harap.“Kemana, Ma?” tanya Dennis, nada suaranya setengah waspada.“Arisan,” jawab Irsa santai, tapi ada senyum licik di wajahnya.Dennis terdiam sejenak, matanya menatap ibunya curiga. Ia tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status