LOGINStella tertegun. Waktu seolah berhenti saat sosok Althaf melangkah perlahan memasuki ruang keluarga rumah itu. Langkah kecilnya terdengar begitu jelas, seakan menggema di dalam dada Stella.Di sampingnya, Saras menunduk sedikit dan berbisik lembut, “Kasih salam sama Opa dan Oma.”Althaf mengangguk pelan. Dengan ragu namun penuh keberanian, ia berjalan mendekat. Matanya menatap dua sosok di depannya, Robin dan Stella, yang kini terpaku, tak mampu berkata apa-apa.“Halo, Opa, Oma,” ucap Althaf polos, sambil mengulurkan tangan kecilnya.Namun sebelum tangan itu sempat benar-benar tergenggam, Stella sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan hangat. Seolah takut momen itu akan hilang jika ia terlambat sedetik saja.Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Bahunya bergetar, memeluk Althaf semakin erat, seakan ingin memastikan bahwa anak itu benar-benar nyata di hadapannya.“Iya, Sayang, ini Oma,” suara Stella pecah, tertahan oleh haru yang menyesakkan dada.Tangis itu bukan sekadar tangis.
Suasana makan siang itu terasa tenang. Saras dan Dennis duduk berhadapan. Di antara mereka, obrolan ringan mengalir pelan, sesekali diselingi senyum kecil yang membuat suasana terasa hangat.Drttt….drtttPonsel Saras bergetar di atas meja.Saras melirik layarnya. Dan seketika, ekspresinya berubah tipis. Nama Gavin muncul di layar ponsel. Ia terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu perlahan menatap Dennis.“Boleh aku terima panggilan ini?” tanyanya hati-hati.Dennis menghentikan gerakannya sesaat. Tatapannya jatuh pada layar ponsel itu, lalu kembali ke wajah Saras. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Cemburu, namun ia menahannya.“Boleh,” jawabnya singkat.Saras mengangguk kecil, lalu mengangkat panggilan itu.“Halo…”“Hallo, Saras.”Suara Gavin terdengar dari seberang. Tenang dan formal. “Aku mau minta tolong,” lanjutnya. “Bisa nggak besok kamu dan Althaf datang ke rumah Mami? Mami ingin bertemu dengannya.”Saras terdiam. Permintaan itu tidak sederhana. Matanya sekila
“Jika seandainya Dennis dibuang keluarga hanya karena memilihmu, apakah kamu masih mau bersamanya?”Pertanyaan Pak Handika kali ini jauh lebih berat. Bukan sekadar menguji perasaan tapi masa depan.Saras terdiam sesaat. Ia tampak berpikir. Mencerna setiap kata dan segala kemungkinan yang menyertainya. Wajahnya perlahan menunduk, namun bukan karena takut, melainkan karena ia sedang menimbang sesuatu yang benar-benar penting.Perlahan, Saras menarik napas dalam. Lalu mengangkat wajahnya kembali.“Dennis tidak akan menyerah begitu saja, Pak.” Suaranya lembut namun jelas.“Ia akan tetap berusaha memperjuangkan restu itu,” lanjutnya. “Itu yang ia ucapkan pada saya.”“Dan saya percaya perjuangan itu bukan hanya dari satu pihak,” tambahnya pelan. “Kalau memang kami harus menghadapi itu.”Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan keyakinan yang perlahan menguat.“Maka kami akan menghadapinya bersama.”Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk menjelaskan segalanya.Beberapa detik berlalu d
“Pak Handika sudah menunggumu, Saras.”Suara Benny terdengar tenang, namun justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menekan. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi,.hanya pernyataan yang terasa seperti penegasan bahwa ini bukan hal sepele.Saras menelan ludah pelan.“Iya, Pak,” jawabnya singkat, disertai anggukan kecil.Namun di dalam dirinya, kegelisahan semakin membesar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seolah memberi peringatan akan sesuatu yang belum ia ketahui.Dengan gerakan sopan, Benny membuka pintu ruangan Pak Handika. Tempat yang selama ini terasa jauh dan kini, harus ia masuki.Saras melangkah perlahan. Satu langkah, dua langkah, hingga akhirnya ia melewati ambang pintu.Udara di dalam ruangan terasa berbeda. Lebih dingin dan sedikit menakutkan bagi Saras. Belum sempat ia sepenuhnya menyesuaikan diri.Klik.Pintu di belakangnya tertutup. Benny menutupnya dari luar. Suara kecil itu terdengar sederhana, namun cukup untuk membuat Saras merasa seperti bera
Setelah perbincangan panjang yang cukup menguras pikiran, akhirnya Dennis memilih melanjutkan perjalanan. Tangannya kembali mantap di setir, sementara suasana di dalam mobil perlahan berubah menjadi lebih tenang. Di sampingnya, Saras masih terdiam, seolah memikirkan banyak hal.Mobil melaju membelah jalanan pagi yang mulai ramai, hingga akhirnya berhenti tepat di depan gedung kantor Saras. Saras menghela napas panjang sebelum membuka suara.“Aku telat, Mas, pasti bakal kena teguran,” katanya pelan, nada khawatir tak bisa ia sembunyikan.Dennis melirik sekilas, lalu tersenyum santai, seolah hal itu bukan masalah besar.“Sekali-kali nggak apa-apa. Lagipula, nanti kalau sudah menikah kamu pindah saja kerja di kantorku,” ujarnya ringan. Saras langsung menoleh, menaikkan alis dengan ekspresi setengah tidak percaya.“Itu namanya nepotisme, Mas.”Dennis tertawa kecil. Suara tawanya hangat, membuat suasana yang sempat tegang menjadi cair kembali.Saras pun ikut tersenyum tipis. Ia meraih gag
Pagi itu terasa berbeda. Udara masih segar, tapi hati Saras justru terasa berat. Baru saja ia membuka pintu untuk berangkat kerja, langkahnya terhenti. Sebuah mobil sudah terparkir tepat di depan rumahnya, mobil yang sangat ia kenal.Saras menghela napas panjang.Seolah sudah menduga, tapi tetap saja belum siap menghadapinya.Pintu mobil terbuka.“Ayo, aku antar,” suara Dennis terdengar tenang, namun tak memberi ruang untuk penolakan.Saras menggeleng pelan.“Nggak usah, Mas, aku bisa berangkat sendiri,” jawabnya, berusaha terdengar biasa.Namun Dennis tidak bergerak mundur sedikit pun.“Aku tidak menerima penolakan.”Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Saras dan menggandengnya menuju mobil. Saras tidak melawan.Bukan karena setuju, tapi karena terlalu lelah untuk berdebat. Dennis membukakan pintu untuknya dengan hati-hati, lalu berputar ke sisi kemudi.Sementara itu, dari balik jendela,Gayatri memperhatikan semuanya dalam diam. Ia berdiri di sana cukup lama, matanya mengikuti s
“Oke, Ma, kita bahas lagi nanti.” Dennis akhirnya berkata, memilih mundur untuk saat ini.Ia melangkah mundur, suaranya kembali tegas.“Sekarang aku mau mengantarkan Saras pulang.”Tanpa menunggu jawaban, Dennis berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.Di luar, Saras masih berdiri di tempat
“Alvin masuk dulu ya? Papa mau bicara dengan Opa dan Oma,” ujar Dennis lembut, meski ada ketegangan tersembunyi dalam suaranya.Alvin mengangguk, seolah mengerti situasi yang tak sepenuhnya bisa ia pahami.“Baik, Pa. Bye, Tante, nanti kita ngobrol lagi ya?” katanya sambil melambaikan tangan pada Sa
“Seseorang?” Irsa mengernyitkan dahi, tatapannya penuh tanya.Dennis menatap mamanya lurus.“Calon istriku.”Deg! Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dampaknya langsung terasa.“Mama nggak setuju!” potong Irsa cepat, tanpa memberi ruang sedikit pun.Suasana langsung menegang. Dennis menghela napas
“Aku takut bertemu dengan orang tuamu, Mas.”Suara Saras pelan, hampir seperti bisikan yang terbawa angin. Tangannya saling menggenggam, mencoba menenangkan kegelisahan yang sejak tadi tak kunjung reda.Hari ini ia akan melangkah lebih jauh ke dalam kehidupan Dennis. Namun alih-alih tenang, dadanya







