LOGIN“Mami?” gumam Saras nyaris tak terdengar saat pintu kontrakannya terbuka perlahan.Tangannya masih menggenggam gagang pintu, kaku. Nafasnya tercekat seketika ketika sosok di hadapannya menjadi jelas.Stella, wanita itu berdiri tegak dengan aura dingin yang tak pernah berubah, mata tajamnya menelusuri wajah Saras, seolah sedang menilai sesuatu yang tak pernah cukup baik di matanya.Sekilas, waktu seperti berputar mundur. Semua luka lama yang sudah berusaha Saras kubur dalam-dalam, mendadak terasa hidup kembali.Tanpa permisi, Stella melangkah sedikit lebih dekat. Tatapannya beralih, menyapu bagian dalam kontrakan sederhana itu dengan ekspresi penuh hina.“Kamu tinggal di sini? Tempat seperti ini tidak pantas untuk cucu saya,” ucapnya dingin, lalu tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip sindiran.Setiap kata terasa seperti tamparan.Jantung Saras berdegup semakin cepat, begitu keras hingga seolah bisa terdengar di telinganya sendiri. Tangannya tanpa sadar mengepal, mencoba menahan geme
Setelah berpikir semalaman, Gavin akhirnya menyadari satu hal, egonya tidak lagi penting. Yang terpenting sekarang hanyalah Althaf dan Saras.Ia duduk lama di tepi ranjang, menatap kosong, memikirkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan.Rasa bersalah itu masih ada, tapi kini bercampur dengan tekad untuk memperbaiki semuanya.“Kalau aku terus keras kepala, aku hanya akan menyakiti mereka lagi,” gumamnya lirih.Perlahan, sebuah keputusan terbentuk di benaknya. Keputusan yang mungkin melukai harga dirinya, tapi menyelamatkan orang-orang yang ia cintai. Ia akan melibatkan Dennis.Meski berat, Gavin harus mengakui satu hal, Dennis adalah orang yang paling tulus menjaga Saras dan Althaf. Ia juga memiliki pengaruh dan kekuatan untuk menghadapi Stella.“Aku percaya, dia nggak akan membiarkan Saras dan Althaf disakiti,” ucap Gavin dalam hati.Pagi itu, dengan hati yang masih berdebar dan pikiran yang penuh kecemasan, Gavin bersiap. Ia mengenakan jasnya, menarik napas panjang, lalu melangkah
“Althaf pulang kok nggak ngasih tahu Ayah?” tanya Gavin, nada suaranya terdengar sedikit menyindir, matanya menatap Saras dengan sorot cemas tapi terselip cemburu.Saras menelan napas, sadar Gavin pasti mengira Althaf pulang bersama Dennis. Ia tersenyum tipis, mencoba menenangkan situasi. “Kami tadi pulang naik taksi, nggak mau merepotkan kalian berdua,” jawabnya lembut tapi tegas.“Tapi aku kan ayahnya,” kilah Gavin, suaranya terdengar sedikit terselip kecewa.Saras menatap Gavin lama, menekankan kata-katanya dengan penuh perhatian. “Aku nggak mau kalau kalian berdua saling bersaing. Aku ingin kalian tetap akur, demi aku dan Althaf,” ucapnya pelan tapi mantap, matanya menatap kedua pria itu.Gavin menunduk sejenak, perlahan menarik napas panjang. Ia sadar, Saras tidak salah, yang paling penting adalah Althaf dan hubungan mereka tetap harmonis. Ketegangan di dadanya sedikit mereda, digantikan rasa lega dan tanggung jawab.Dennis, yang berdiri di samping, tersenyum samar, hatinya sed
“Dennis, nanti temani Mama ya?” pinta Irsa, matanya berbinar penuh harap.“Kemana, Ma?” tanya Dennis, nada suaranya setengah waspada.“Arisan,” jawab Irsa santai, tapi ada senyum licik di wajahnya.Dennis terdiam sejenak, matanya menatap ibunya curiga. Ia tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan.“Biasanya Mama pergi sendiri,” katanya hati-hati.“Sekali-kali minta antar kamu kan nggak apa-apa,” sahut Irsa dengan nada manis, seolah tak bisa menolak.Dennis mengernyit, menaruh tangan di pinggang. “Apa yang Mama rencanakan? Mau mengenalkanku dengan anaknya teman Mama? Ma, sudahlah, aku nggak mau.”Irsa tertawa pelan, matanya menatap Dennis dengan lembut tapi penuh tipu daya. “Dennis, maksud Mama baik.”Dennis menghela napas, setengah mengeluh tapi tak bisa menolak senyum ibunya. “Aku tahu maksud Mama itu baik, tapi aku nggak suka. Kok rasanya Mama selalu punya rencana rahasia untuk mengacak-acak hidupku ya?”Irsa hanya tersenyum nakal, menepuk bahu Dennis. “Santai saja, kamu akan me
“Apa mentang-mentang aku belum bisa memberimu anak, terus kamu mengabaikan aku?!” Nora mendebat lagi, suaranya meninggi, mata berbinar marah dan kecewa.Gavin menatapnya sebentar, napasnya teratur, mencoba menahan amarah. “Itu pilihanmu sendiri, Nora. Aku sudah memintamu untuk hamil tapi kamu belum mau. Kamu lebih mementingkan karir daripada rumah tangga kita.”Nora menatapnya, bibirnya bergetar, campuran marah dan tersinggung.“Oh, jadi kamu sekarang menyalahkan ku?”“Tidak! Aku hanya ingin kamu lebih peduli dengan rumah tangga kita.”“Apa kamu juga peduli dengan rumah tangga kita? Kalau kamu benar-benar peduli, kau nggak akan melulu sibuk mengurusi mantan istrimu itu!”Gavin menghela napas panjang, suaranya tetap rendah tapi tegas.“Nora, dengarkan aku. Aku fokus ke Althaf karena dia butuh aku sekarang. Aku nggak mengabaikanmu, tapi kita nggak bisa membuat masalah lain saat anakku sedang sakit.”Nora terdiam sejenak, napasnya tersengal, menyadari bahwa meski marah, ada logika dalam
Gavin menatap Dennis dengan mata menyingkapkan cemburu yang terkendali. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Aku tahu kamu peduli pada Saras dan Althaf. Tapi aku juga ayahnya. Anak ini butuh aku. Jadi jangan salah paham kalau aku tetap di sini.”Dennis menegakkan tubuh, memandang Gavin tanpa kata kasar, tapi sorot matanya menegaskan. “Aku tidak mengganggu, tapi aku ingin kita sama-sama menghormati ruang ini. Untuk Althaf dan Saras.”Gavin mengangguk pelan, menahan emosi yang mulai naik. “Baik, tapi jangan lupa, anak ini juga bagian dari hidupku.”“Dan aku tidak akan melupakan itu,” jawab Dennis singkat, tegas, tapi suaranya tetap halus.Keduanya saling menatap beberapa detik, keheningan memenuhi ruangan. Tidak ada kata-kata yang kasar, tapi ketegangan terasa, dua pria yang sama-sama peduli pada anak dan perempuan yang mereka cintai, saling mengukur, saling menahan ego, di tengah cahaya lampu rumah sakit yang temaram.Saras menunduk, menatap kedua pria itu dengan hat







