Share

Interogasi Halus

Penulis: YuRa
last update Tanggal publikasi: 2026-04-15 19:52:47

Makan siang akhirnya usai. Sesuai keinginannya, Alvin langsung mengajak Althaf menuju area permainan. Dengan langkah ringan dan penuh semangat, mereka berdua berjalan meninggalkan tempat makan, menuju deretan wahana anak yang dipenuhi tawa dan warna-warni ceria.

Namun, tidak semua suasana terasa menyenangkan. Saras masih diliputi rasa canggung. Tatapan Irsa yang sejak tadi terasa dingin dan sinis, seolah terus mengikutinya. Meski langkahnya tetap maju, ada kegelisahan yang diam-diam ia pendam d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ketika Takdir Menyapa   Mulai Lelah

    Hubungan Saras dan Dennis masih berjalan tenang, terlalu tenang, bahkan. Hari demi hari berlalu tanpa perubahan yang berarti, seolah waktu ikut berhenti bersama mereka. Tidak ada langkah maju, tapi juga tidak benar-benar mundur. Hanya diam di tempat.Di balik ketenangan itu, Saras mulai merasakan sesuatu yang mengganjal. Restu dari Irsa, mamanya Dennis, masih belum terlihat jelas. Sikapnya tetap sama, tidak menolak, tapi juga tidak benar-benar menerima. Dan justru itu yang membuat Saras semakin tidak tenang.Malam-malamnya kini tak lagi sesederhana dulu. Ia sering terjaga lebih lama, memikirkan hal-hal yang sebelumnya berusaha ia abaikan. Tentang masa depan. Tentang kepastian. Tentang dirinya sendiri di dalam hidup Dennis.Saras menghela napas panjang.Ia lelah menebak-nebak.“Apa aku harus terus nunggu?” gumamnya pelan.Perasaannya pada Dennis tidak berubah. Justru semakin dalam. Tapi bersamaan dengan itu, muncul juga keraguan yang perlahan mengikis keyakinannya. Saras mulai goyah.B

  • Ketika Takdir Menyapa   Takut Khilaf

    Selesai mengantarkan kedua orang tuanya pulang, Dennis kembali memutar setir mobilnya, kali ini menuju rumah Saras, perempuan yang mungkin sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Perjuangan belum selesai.Jalanan sore itu lengang. Sesekali Dennis melirik ke arah Saras yang duduk di sampingnya, diam dengan pikiran yang entah ke mana.“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Dennis, suaranya lembut meski matanya tetap fokus menatap jalan.Saras tersenyum tipis, namun tidak sepenuhnya menyembunyikan kegelisahan di wajahnya.“Macam-macam, Mas.”Dennis menghela napas pelan.“Ada yang bikin kamu kesal?”Saras menggeleng cepat.“Enggak ada.”Mobil terus melaju, tapi suasana di dalamnya terasa sedikit berat. Dennis mencoba mencairkan suasana.“Aku lihat, hati Mama mulai luluh,” katanya dengan nada penuh harap. “Mudah-mudahan restu itu segera kita dapat. Aku pengin kita menikah tanpa beban.”Saras menunduk, jemarinya saling bertaut di pangkuannya.“Kalau seandainya tetap nggak dapat res

  • Ketika Takdir Menyapa   Interogasi Halus 2

    “Tidak, Bu,” jawabnya cepat, suaranya sedikit bergetar namun tegas. “Kami hanya beberapa kali bertemu. Tidak ada hubungan apa-apa.”Irsa tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap lurus ke depan, wajahnya sulit ditebak.Sementara Saras menggenggam keranjang belanja lebih erat, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu, satu jawaban saja yang salah, bisa mengubah segalanya. Kini sedang diuji.“Jawab dengan jujur, apa yang kamu inginkan dari Dennis?”Pertanyaan itu jatuh begitu saja, dingin, tajam, dan tak terduga.Glek! Saras menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa kering. Untuk sesaat, ia hanya bisa diam, mencoba mengumpulkan keberanian yang tercecer. Ia menarik napas pelan.“Saya memang berasal dari keluarga sederhana, Bu, bahkan bisa dibilang sangat sederhana,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan namun berusaha tetap teguh. “Dan saya juga punya keinginan yang sederhana.”Irsa tidak menyela. Tatapannya lurus, menunggu.“Saya hanya ingin hidup tenang dan damai, bersama ibu dan anak saya.”

  • Ketika Takdir Menyapa   Interogasi Halus

    Makan siang akhirnya usai. Sesuai keinginannya, Alvin langsung mengajak Althaf menuju area permainan. Dengan langkah ringan dan penuh semangat, mereka berdua berjalan meninggalkan tempat makan, menuju deretan wahana anak yang dipenuhi tawa dan warna-warni ceria.Namun, tidak semua suasana terasa menyenangkan. Saras masih diliputi rasa canggung. Tatapan Irsa yang sejak tadi terasa dingin dan sinis, seolah terus mengikutinya. Meski langkahnya tetap maju, ada kegelisahan yang diam-diam ia pendam di dalam hati.“Mama mau ke supermarket dulu, ada yang perlu dibeli,” ujar Irsa singkat.Saras segera menoleh. “Boleh saya temani, Bu?” tawarnya hati-hati. Senyum tetap ia pasang, meski dadanya terasa penuh oleh kegugupan yang sulit ia redam.“Boleh.” Jawaban Irsa datar, tanpa banyak ekspresi.Dennis dan Pak Handika saling berpandangan, jelas terkejut melihat Irsa menerima tawaran itu tanpa penolakan.“Kalian tunggu saja anak-anak. Biar kami yang ke supermarket,” lanjut Irsa, lalu langsung mela

  • Ketika Takdir Menyapa   Makan Bersama

    “Maaf ya, kalau Alvin sering nggak nurut sama Opa dan Oma,” tambahnya sambil nyengir.Ucapan polos itu langsung mencairkan suasana. Pak Handika dan Irsa saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum hangat. Dennis pun ikut tersenyum bangga, sementara Saras hanya bisa memandang Alvin dengan perasaan yang sulit dijelaskan.“Terima kasih juga, Tante Saras sama Adek Althaf, sudah mau datang,” lanjut Alvin, kali ini dengan nada lebih ceria. Matanya berbinar penuh semangat. “Habis ini kita main bareng ya?”Althaf yang sejak tadi duduk di samping Saras langsung tampak lebih hidup. Ia menatap ibunya seolah meminta izin, sementara senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. Saras menatap keduanya, lalu perlahan mengangguk.“Iya,” jawabnya singkat, tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih hangat.Saras yang semula tersenyum kecil, perlahan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun tanpa sengaja, matanya justru bertemu dengan tatapan Irsa.Sesaat, waktu seperti berhenti.Irsa yang tadi terse

  • Ketika Takdir Menyapa   Permintaan Alvin

    Saras menutup pintu taksi online itu perlahan, seolah memberi dirinya waktu lebih lama untuk bersiap. Di sampingnya, Althaf menggenggam tangannya erat, hangat, polos, tanpa beban seperti yang sedang ia rasakan.Hari ini mereka datang ke ulang tahun Alvin. Undangan itu terasa sederhana di luar, tapi bagi Saras, ini seperti melangkah ke medan yang belum tentu menerimanya.Sebenarnya, Dennis tadi bersikeras ingin menjemputnya. Namun Saras menolak. Dengan langkah pelan, Saras berjalan mendekati pintu masuk. Matanya langsung menangkap sosok yang berdiri di sana, Dennis.Pria itu memang sengaja menunggu. Tatapannya langsung tertuju pada Saras, seolah memastikan bahwa mereka benar-benar datang.Dennis tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat.“Ayo, kita temui Alvin,” ucapnya lembut.Saras mengangguk kecil, tapi sebelum melangkah lebih jauh, ia bertanya dengan suara yang sedikit tertahan.“Opa dan Omanya sudah datang?”“Sudah dari tadi,” jawab Dennis tenang.Jawaban itu membuat langkah Saras

  • Ketika Takdir Menyapa   Menagih Janji

    Hari itu terasa berbeda. Saras tidak tahu pasti kenapa sejak pagi hatinya terasa lebih ringan. Seolah ada beban yang perlahan terangkat, meski ia belum benar-benar tahu jawabannya. Sampai akhirnya,Gavin datang membawa kabar itu.“Mami sudah membatalkan gugatannya.”Kalimat sederhana itu, seketika

  • Ketika Takdir Menyapa   Merasa Tersentuh

    Robin menarik napas panjang, lalu menatap Saras dengan penuh keyakinan.“Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu.”Saras mengernyit pelan, jantungnya kembali berdebar, bukan karena takut, tapi karena menunggu.“Gugatan itu,” Robin berhenti sejenak, memastikan setiap kata yang ia ucapkan terdengar je

  • Ketika Takdir Menyapa   Jangan Pisahkan

    “Saras, ada yang ingin Papi bicarakan sama kamu.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dunia Saras seakan berhenti sejenak. Jantungnya berdegup lebih keras. Tidak nyaman dan tidak tenang.Ada sesuatu dalam nada suara Robin yang membuatnya bersiap, untuk kemungkinan terburuk.Ia menatap p

  • Ketika Takdir Menyapa   Menjilat Ludah Sendiri

    “Mami, apa yang Mami lakukan? Kenapa Mami setega itu?!”Suara Gavin menggema di ruang tamu, penuh amarah yang selama ini ia tahan. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah sosok wanita yang berdiri tak jauh darinya.Stella yang sedang berbincang santai dengan suaminya langsung terdiam. Wajah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status