Share

Terlalu Tenang

Author: YuRa
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-28 12:23:17

Sampai rumah terjadi pertengkaran hebat antara Risa dan Dennis.

“Jadi selama ini kamu diam-diam dekat dengan wanita itu?!” bentak Risa, matanya memerah menahan amarah, sekaligus luka yang belum sembuh.

“Aku nggak dekat dengan siapa-siapa, Risa. Tapi aku memang sudah nggak bisa pura-pura baik-baik saja setelah tahu kamu menggugurkan anak kita.”

Risa mengepalkan tangan. “Aku punya alasan! Kamu pikir aku bahagia hamil di tengah semua tekanan ini? Kamu sibuk dengan pekerjaan, dengan Alvin, bahkan d
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Three Family
updatenya ndak tiap hari
goodnovel comment avatar
Three Family
blm update juga
goodnovel comment avatar
Three Family
kapan sih mereka cerainya... jgn lama2 dong thor.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Ketika Takdir Menyapa   Detik-detik

    Begitu mobil berhenti di depan lobi rumah sakit, petugas medis langsung sigap menyambut mereka. Saras sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk punggung bawahnya. Dennis dengan sigap membantu istrinya pindah ke kursi roda, lalu mendorongnya dengan hati-hati namun cepat menuju ruang persalinan.Di dalam ruangan yang beraroma antiseptik itu, tim perawat dan bidan sudah bersiap. Dokter keluarga mereka, dr. Setiawan, kebetulan sedang bertugas pagi itu dan menyambut mereka dengan senyum tenang yang sedikit mengurangi ketegangan."Pak Dennis mau menemani prosesnya di dalam, kan?" tanya dokter itu sambil mengenakan sarung tangan medis.Dennis terdiam sejenak. Ia menatap wajah Saras yang kini dibanjiri peluh. Istrinya meringis, mencengkeram sisi tempat tidur dengan buku jari yang memutih. Melihat Saras dalam kondisi seperti itu, hati Dennis terasa seperti diremas. Ia tidak tega, ada rasa ngeri sekaligus cemas yang hebat menghantam dada

  • Ketika Takdir Menyapa   Kontraksi Palsu

    Sembilan bulan berlalu, dan perut Saras kini sudah terasa begitu berat. Hari-hari penantian terasa mendebarkan, namun kehadiran Dennis sebagai suami siaga benar-benar menjadi kekuatannya. Bukan hanya Dennis, Alvin dan Althaf pun tak kalah antusias, mereka sering mengelus perut Saras, tak sabar menyambut anggota keluarga baru.Langkah Dennis terhenti saat melihat wajah Saras tiba-tiba berubah pias. "Kenapa, Sayang?" tanyanya sigap, tangannya langsung memeluk bahu sang istri.Saras meremas lengan Dennis, matanya terpejam sesaat. "Perutku mules sekali.""Apa sudah waktunya? Kita ke rumah sakit sekarang?" Suara Dennis terdengar panik, matanya menyiratkan kekhawatiran yang besar.Saras menarik napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya sampai rasa nyeri itu perlahan memudar. "Sepertinya hanya kontraksi palsu. Sekarang sudah hilang," ucapnya sambil mengembuskan napas lega."Benar tidak apa-apa?" Dennis memastikan, jemarinya mengusap keringat dingin di dahi Saras."Iya, nanti saja k

  • Ketika Takdir Menyapa   Menyenangkan Anak

    Meninggalkan meja kantor yang selama bertahun-tahun menjadi dunianya bukan hal mudah bagi Saras. Namun, setiap kali rasa mual itu menghantam atau saat ia merasakan denyut kehidupan baru di rahimnya, ia tahu keputusannya sudah tepat. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi calon buah hatinya, juga bagi Alvin dan Althaf yang kini menjadi prioritas utamanya.Namun, pengunduran diri Saras ternyata menjadi "lampu hijau" bagi Dennis untuk memperketat penjagaannya."Mas, aku hanya ingin ke taman depan sebentar dengan anak-anak. Kenapa harus dijaga Bik Wati dan supir juga?" protes Saras suatu sore ketika ia sudah rapi dengan daster hamil yang cantik.Dennis yang baru saja pulang kantor, bahkan belum sempat melepas dasinya, langsung menghampiri Saras. Ia berlutut di depan istrinya yang sedang duduk di sofa, mengusap perut Saras yang mulai membuncit dengan saksama."Taman itu licin kalau habis hujan, Sayang. Kalau kamu pusing dan tidak ada yang memegangi bagaimana?" ujar Dennis dengan nada rendah

  • Ketika Takdir Menyapa   Positif

    Dennis mengerutkan kening saat tangannya hanya meraba sisi ranjang yang dingin. Kesadaran sepenuhnya pulih saat pendengarannya menangkap suara gemericik air dari balik pintu kaca yang buram."Mungkin dia sedang mandi," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.Tak lama, pintu terbuka. Uap hangat tipis merayap keluar, membawa serta aroma sabun yang sangat ia kenali. Dennis tersenyum lebar, bersandar pada bantalnya dengan tatapan memuja."Wanginya istriku," goda Dennis, matanya mengikuti gerak-gerik Saras yang tampak terburu-buru meraih handuk kering.Namun, senyum Dennis perlahan memudar. Saras hanya membalas dengan senyum tipis yang tampak dipaksakan, wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Gerakannya saat mengenakan pakaian pun tampak gontai, seolah seluruh energinya telah terkuras habis di dalam kamar mandi tadi."Sayang, kamu sakit?" Dennis langsung beranjak dari tempat tidur. Rasa kantuknya hilang seketika, berganti dengan kekhawatiran yang mendesak.Saras menggele

  • Ketika Takdir Menyapa   Keluarga Sempurna

    Begitu pintu utama terbuka, kesunyian rumah yang megah itu langsung pecah oleh suara langkah kaki kecil yang berlari di atas lantai kayu."Bunda!" seru Althaf. Bocah kecil itu menghambur, memeluk kaki Saras dengan erat hingga membuat Saras hampir kehilangan keseimbangan jika Dennis tidak sigap menahan pinggangnya dari belakang.Saras berlutut, menyambut pelukan hangat Althaf. Aroma sabun bayi yang segar langsung tercium. "Sudah mandi ya? Kok harum sekali anak Bunda," ucap Saras sambil menghujani wajah Althaf dengan ciuman gemas. Althaf tertawa cekikikan, sebuah suara yang seketika menghapus lelahnya kegiatan yang dilakukannya bersama Dennis tadi siang.Alvin berjalan menyusul di belakang adiknya dengan langkah yang lebih tenang, namun matanya memancarkan kelegaan melihat kepulangan mereka."Sudah, Bun. Tadi Alvin yang mandiin Althaf," sahut Alvin bangga, sambil menyalami tangan Dennis dan Saras bergantian.Dennis melepas jasnya, tampak sedikit terkejut namun ada binar bangga yang t

  • Ketika Takdir Menyapa   Mencapai Puncak

    Begitu pintu apartemen tertutup dan terkunci otomatis, keheningan mewah langsung menyelimuti mereka. Dennis tidak membuang waktu. Ia melangkah masuk ke dalam kamar utama, melempar kunci mobil ke atas nakas, dan langsung menyalakan AC.Dennis melepas dasinya dengan satu tangan, menariknya kasar hingga kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat maskulin. Saras masih berdiri mematung di ambang pintu kamar. Ia memperhatikan punggung lebar Dennis yang membelakanginya. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana terasa sangat berbeda dengan di rumah utama. Di sini, tidak ada suara tawa Althaf atau celoteh Alvin. Hanya ada mereka berdua.Dennis berbalik, mendapati Saras yang masih tampak ragu. Ia berjalan perlahan mendekat, setiap langkahnya terasa penuh intimidasi yang menggoda."Kenapa masih di sana?" suara Dennis terdengar lebih rendah, bergema di ruangan yang mulai mendingin itu.Ia berhenti tepat di depan Saras, menutup jarak hingga

  • Ketika Takdir Menyapa   Cemburu

    “Bu Saras, ada paket untuk Ibu,” kata seorang OB sambil menyerahkan plastik makanan yang dibungkus rapi.Saras mengernyit.“Dari siapa ya?”“Di dalam ada kartunya, Bu,” jawab OB itu sopan.“Baik, terima kasih.”Saras meletakkan plastik itu di mejanya. Aroma makanan hangat langsung menyelinap keluar

  • Ketika Takdir Menyapa   Mencari Nafkah

    “Bu Dita, Mbak Sinta, saya benar-benar nggak apa-apa,” ujar Saras lembut. “Saya cuma kaget saja. Saya sudah maafkan Veni.”Sinta menepuk bahu Saras pelan, seperti memberi dukungan. “Yang penting kamu jangan simpan di hati, Sar. Orang baik biasanya memang paling sering diuji.”Dita mengangguk setuju

  • Ketika Takdir Menyapa   Mulutmu Harimaumu

    “Kamu kenapa?” suara lembut Sinta memecah lamunannya.Saras terkejut, buru-buru menghapus sisa air mata dengan ujung jari.“Nggak apa-apa, Mbak,” jawabnya gugup, suaranya sedikit bergetar. Ia berusaha menghindari tatapan Sinta, takut jika ketulusannya justru membuat tangisnya pecah.Namun sebelum S

  • Ketika Takdir Menyapa   Menuduh Selingkuh

    Dennis baru pulang dari kantor ketika ia mendapati Clarissa, istrinya, sedang duduk di ruang tamu bersama Wike, ibunya Clarissa, yang tampak menunggunya sejak tadi.“Baru pulang kamu, Dennis?” tanya Wike dengan nada yang sulit ditebak.“Iya, Ma. Banyak kerjaan di kantor,” jawab Dennis sambil melepa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status