Share

Bab 6

Author: Ivy
Intan tersentak mundur oleh bentakan itu.

Sekilas rasa benci dan marah terpancar di matanya, namun ia segera menunduk, kembali kenakan topeng patuh.

“Maaf, Ketua. Aku bicaranya lancang.”

Aku saksikan sandiwara canggung mereka dengan tenang.

“Karena Intan sudah nggak apa-apa, ayo kita kembali,” kata Andi sambil melangkah ke arahku dan coba raih lenganku.

Aku hindari sentuhannya.

“Kalian lanjut dulu saja. Aku mau kembali ke kamar.”

“Sinta, tunggu aku.” Andi bergegas kejar aku.

Waktu sampai di kamar, ia berkata dengan penuh kekhawatiran, “Sayang, wajahmu pucat. Perlu panggil dokter lagi nggak?”

“Nggak perlu. Aku cuma capek.”

“Ini salahku. Seharusnya aku nggak ajak kamu datang ke pesta membosankan ini. Mulai sekarang kamu nggak perlu datang ke acara-acara seperti ini lagi,” katanya menyesal.

Tiba-tiba, HP-ku bergetar berkali-kali.

Intan kirim foto hasil USG.

Teksnya berbunyi:

[Sinta sayang, lihat ini. Aku sudah hamil enam minggu!”

Lalu menyusul pesan panjang.

[Kamu tahu? Andi beneran tergila-gila ke aku. Di ulang tahun pernikahanmu yang ketiga, dia tidurin aku di meja kantornya selama dua jam penuh. Dan di hari ulang tahunmu, dia bilang bosan makan malam dengan kamu. Jadi, dia menyelinap pergi cari aku. Kami coba semua posisi di ranjangmu. Katanya kamu seperti ikan mati yang nggak ada gairah. Hanya aku yang bisa buat dia benar-benar bahagia. Saat dia tahu aku hamil, dia hampir gila karena bahagia. Katanya dia akan kasih aku kejutan paling romantis untuk umumkan kelahiran anak kami pada seluruh dunia.]

Tanganku yang pegang HP sedikit bergetar.

Saat itu juga, kembang api besar meledak di luar jendela.

Aku jalan ke balkon dan menengadah.

Di langit malam, nama Intan dibingkai oleh hati raksasa dari cahaya emas.

Aku menatap kosong ke langit. Aku teringat malam pernikahan kami.

Malam itu, Andi begitu bahagia sampai nyalakan kembang api hingga fajar.

Seluruh langit dipenuhi tulisan “Andi Cinta Sinta.”

Saat itu, ia sumpah kalau aku adalah satu-satunya ratunya.

Kini, langit yang sama sedang rayakan wanita lain dan anaknya.

Andi peluk aku dari belakang, letakkan dagunya ringan di bahuku.

“Pacarnya Intan dengar tentang kehamilannya dan atur perayaan ini,” jelasnya dengan lancar, seolah ia nggak ada hubungannya sama sekali.

“Kamu suka kembang apinya? Kalau kamu suka, lain kali aku akan sewa seluruh langit hanya untuk kamu.” Suaranya lembut berbisik di telingaku.

Aku menatap kembang api yang berkilauan itu, hanya merasakan ironi yang nggak berujung.

“Aku nggak suka barang bekas,” kataku dingin.

“Apa?” Andi nggak dengar dengan jelas.

“Nggak apa-apa.”

Aku lepaskan diri dari pelukannya.

“Aku capek. Aku mau istirahat dulu.”

“Oke, tidurlah lebih awal. Kita akan kembali ke daratan dua hari lagi,” katanya sambil kecup ringan keningku.

Keesokan paginya, ledakan dahsyat bangunkan aku.

Sebelum sempat duduk, pintu kamar ditendang terbuka. Andi menerobos masuk.

“Sinta! Bangun! Kita diserang!”

Ia tarik pergelangan tanganku, seret aku turun dari ranjang.

“Keluarga musuh kita tembakkan granat roket ke kita. Kabin bawah sudah terendam. Kapal ini tenggelam!”

“Kita harus ke sekoci. Sekarang!”

Andi bahkan nggak kasih aku waktu untuk pakai sepatu.

Ia seret aku keluar kamar dengan kaki telanjang.

Lorong itu seperti neraka hidup. Lantai di bawah kami sudah miring penuh bahaya.

“Andi! Tolong! Andi!” Jeritan tajam membelah kekacauan.

Andi membeku. Intan terjebak di balik balok yang runtuh dekat lounge, lambaikan tangan dengan panik.

Genggaman Andi di tanganku mengencang sejenak, lalu mengendur.

“Intan di sana. Dia hamil. Aku harus tolong dia,” katanya tegang.

“Pergi dulu ke sekoci! Lurus ke depan! Aku akan susul kamu!” Ia menunjuk ke haluan.

Nggak tunggu jawabanku, ia berbalik dan lari ke arah Intan, hilang ke dalam asap.

BOOM!

Ledakan lain mengguncang kapal.

Kerumunan tamu yang panik berhamburan lewati aku.

Seseorang dorong aku dari belakang dengan keras.

Tubuhku menghantam pagar logam, dan rasa sakit yang tajam merobek kakiku.

Aku terjatuh, meringkuk dalam kesakitan.

“Andi!” Aku teriak panggil namanya dengan sisa tenagaku.

Sepertinya ia dengar suaraku, ia berhenti dan menoleh cemas, tetapi nggak lihat aku tergeletak di antara kerumunan.

Intan kerutkan dahi di pelukannya dan tampak katakan sesuatu.

Tanpa ragu, ia eratkan pelukannya ke Intan dan lari menuju pintu darurat di sisi lain, hilang dari pandanganku.

Sudut Pandang Andi.

Apa aku tadi dengar Sinta panggil aku? Bukannya tadi dia sudah pergi ke sekoci duluan?

Aku berhenti untuk cari dia, tapi nggak temukan dia.

Apa aku salah dengar?

Saat itu, Intan menjerit kesakitan.

“Ah … perutku sakit sekali .…”

Wajahnya pucat. Hatiku langsung tertekan, apa pun yang terjadi, ini anakku.

Aku nggak ragu lagi dan bergegas menuju sekoci sambil gendong Intan.

“Dokter! Periksa dia!” Aku teriak ke dokter keluarga.

Dokter periksa perut Intan dengan cepat.

“Ketua, nggak usah khawatir. Intan cuma kaget. Janinnya stabil. Dia baik-baik saja.”

Aku menghela napas lega lalu telepon kepala keamananku, Mardi Galar.

“Apa Sinta sama kamu? Aku suruh dia lari ke sekoci. Dia baik-baik saja, kan?” tanyaku sambil menatap kapal pesiar yang kini setengah terendam api.

Di seberang sana, hening.

“Bos … Sinta nggak sama-sama kita. Kami kira dia sama kamu.” Suara Mardi bergetar.

Jantungku berhenti.

Suara yang aku dengar tadi benar-benar Sinta!

Dia masih ada di kapal!

“Putar balik! Putar balik sekarang juga!” Aku teriak ke nahkoda kapal.

BOOM!

Bola api raksasa meledak dari tangki bahan bakar kapal pesiar.

Di depan mata semua orang, kapal mewah itu terbelah dua dan ditelan lautan yang mengamuk.

“Sinta!”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 20

    Sudut Pandang Andi.Setelah tiga hari tiga malam nggak sadarkan diri, akhirnya aku berhasil lolos dari cengkeraman maut.Kesadaranku perlahan kembali, dan rasa sakit yang tajam tembus dadaku.Aku buka mata dengan susah payah.Ruang rumah sakit itu begitu sunyi.Aku menoleh dan lihat Sinta duduk di samping ranjangku.Ia duduk di kursi, sebuah buku berada di tangannya.Rambutnya diikat longgar, wajahnya tenang dan begitu cantik.Rasa bahagia langsung meledak di mata kelabuku.Dia jagain aku. Dia benar-benar jagain aku!Apa ini berarti peluru yang aku terima akhirnya berhasil rebut hatinya lagi?Aku ulurkan tangan gemetar, ingin sentuh ujung jarinya.“Sinta, kamu jagain aku. Apa itu artinya aku masih punya tempat di hatimu?” Suaraku parau dan pecah.Jantungku berdegup kencang penuh harap.Mungkin … mungkin kami masih punya kesempatan. Mungkin dia akan maafkan aku.Mungkin peluru itu benar-benar bisa tebus semua dosaku.Sinta hindari sentuhanku tanpa ekspresi. Ia tutup bukunya dan menatapk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 19

    Sudut Pandang Andi.Aku menerobos lantai paling atas menara jam itu dan lihat Sinta terikat di sebuah kursi.Intan berdiri di belakangnya, genggam detonator di tangannya.Doni tiba hampir bersamaan, dan mata kami saling bertaut sesaat.Intan menatap kami berdua lalu tertawa histeris.“Haha! Lihat ini! Dua pria terkuat di dunia ini sama-sama pertaruhkan nyawa demi satu wanita!”Ia jambak rambut Sinta dengan kasar dan tekan detonator ke dadanya.Sinta meringis kesakitan, tetapi nggak keluarkan suara.Di matanya nggak ada ketakutan, hanya ketenangan yang tegar.Hatiku terasa diremas keras.Dia masih setegar itu, masih secantik itu.“Andi, bukannya demi dia kamu ingin bunuh aku? Sekarang aku kasih kamu kesempatan. Datang ke sini dan tukar nyawamu dengan nyawanya.” Intan tertawa gila.Suara hitung mundur bergema di seluruh gedung.“Sepuluh menit … sembilan menit lima puluh sembilan detik … sembilan menit lima puluh delapan detik ….”Titik-titik cahaya merah menari di wajah kami.Udara teras

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 18

    Sudut Pandang Sinta.Ruang ganti gaun pengantin bermandikan cahaya keemasan.Doni telah terbangkan para penjahit paling bergengsi di dunia hanya untuk momen ini.Mereka bantu aku kenakan gaun pengantin yang bertabur sepuluh ribu berlian.Gaun ini butuh waktu enam bulan untuk diselesaikan.Setiap berlian dipilih satu per satu dan ditempatkan dengan sempurna.Aku berdiri di depan cermin setinggi lantai, menatap bayanganku.Sutra putih itu membalut lekuk tubuhku dengan sempurna.Kilau berlian memantul di bawah cahaya, memukau hingga buat napas tertahan.Doni berdiri di belakangku, betulkan kerudungku dengan sangat hati-hati.Gerakannya lembut dan teliti.“Kamu akan jadi pengantin tercantik di dunia,” bisiknya.Ia kecup dahiku dengan penuh kasih.Aku menatap pantulan kehidupan damai di cermin, hatiku terasa tenang.Akhirnya, mimpi buruk itu berakhir.Besok aku akan jadi istri Doni.“Aku harus terima telepon penting, lima menit lagi aku akan kembali,” kata Doni dengan nada minta maaf.“Ngga

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 17

    Sudut Pandang Sinta.Doni menerobos masuk ke dalam ruangan dengan bau mesiu yang menyengat.Pakaiannya berlumuran darah, dan matanya dipenuhi niat membunuh.Begitu lihat aku dirantai di ranjang, wajahnya langsung berubah murka.“Bajingan terkutuk!”Ia hantam dinding hingga buku-buku jarinya pecah dan berdarah.Namun ia nggak peduli dengan rasa sakit itu. Tangannya gemetar saat buka rantai di pergelangan tanganku.Dengan suara tajam, rantai itu terlepas.Aku bebas.“Sinta, sayangku ….”Matanya memerah saat ia periksa aku berulang kali, pastikan nggak ada luka.“Dia sentuh kamu? Dia sakitin kamu?”Suaranya serak karena ketakutan.“Maaf. Aku gagal lindungi kamu. Ini nggak akan pernah terjadi lagi.”Aku menatap pria yang hampir korbankan segalanya demi selamatkan aku.Ia kerahkan seluruh pasukan tentara bayarannya, hancurkan setengah Sidolang, semuanya hanya demi selamatkan aku.Cinta ini begitu dalam dan membara.“Aku nggak apa-apa kok. Bawa aku pulang.”Doni sembunyikan wajahnya di lekuk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 16

    Sudut Pandang Sinta.Selama beberapa hari berikutnya, Andi penuhi semua kebutuhanku.Setiap pagi ia muncul tepat waktu di kamarku.Bantu aku cuci wajah, ganti pakaian.Gerakannya sangat hati-hati, seolah takut sedikit saja bisa lukai aku.Namun aku tetap diam membisu.Ia masak sendiri hidangan penutup kesukaanku.Puding mangga, es teler, dan pai lemon yang paling aku suka.Lalu ia berlutut di samping ranjang dan suapi aku sedikit-sedikit.“Ayo, buka mulutmu, Sinta, Ini pai lemon kesukaanmu,” katanya lembut.Aku rapatkan bibir, tolak untuk makan.Ia tunggu dengan sabar, sendok itu tetap menggantung di depan bibirku.“Kalau kamu nggak mau makan, nanti kamu sakit.”Aku tiba-tiba buka mulut, bukan untuk makan. Aku gigit jarinya sekuat tenaga.“Ah!” Andi berseru kesakitan.Darah mengalir dari ujung jarinya.Namun ia nggak tarik tangannya, hanya mengernyit pelan.“Sinta, nggak apa-apa kalau kamu mau gigit aku, asal itu bisa buat lega.”Aku lepaskan jarinya dan menatapnya dingin.Ia mengelap

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 15

    Sudut Pandang Sinta.Sebulan kemudian, hari pertunangan itu pun semakin dekat.Aku berdiri di ruang ganti, menatap bayanganku di cermin, mengenakan gaun putih.Gaun itu Doni yang pilih sendiri untuk aku.Sederhana, anggun, tepat seperti seleraku.Besok aku akan jadi tunangannya.Pikirkan itu, hatiku terasa tenang.Dibandingkan pernikahanku yang menyakitkan dengan Andi, pilihan ini terasa begitu benar.Doni cinta aku, hormati aku, dan nggak akan pernah khianati aku.Saat aku hendak lepas gaun itu, pintu ruang ganti tiba-tiba terbuka.Andi masuk.Ia tampak seperti orang yang bukan lagi manusia.Wajahnya cekung, janggutnya nggak terurus. Jelas ia sudah lama nggak tidur nyenyak.“Gimana kamu bisa masuk ke sini? Di mana penjaga keamanannya?” tanyaku waspada.Andi nggak jawab.Ia justru berlutut di hadapan ujung gaun putihku yang bersih.Dengan rendah diri, ia raih kedua tanganku.“Sinta, aku telah hancurkan segalanya di Sidolang. Aku cuma mohon satu hal, kembali ke aku. Ayo kita mulai dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status