Share

Bab 5

Author: Ivy
Aku menatapnya dengan tenang, pria yang dulu aku cintai sepenuh hati.

Kini, di mataku, ia nggak lebih dari sosok munafik yang buat aku jijik.

“Ketemu teman untuk belanja,” jawabku dingin.

“Teman yang mana? Kenapa aku nggak tahu?”

“Kamu nggak kenal dia.”

Andi berhenti tanya.

Ia mendekat dan peluk aku, kecup sisi leherku seperti biasa.

“Sayang, hari ini kamu pasti capek sekali, yah?” Suaranya selembut madu.

Namun aku cium sisa parfum di tubuhnya, serta aroma manis khas setelah bercinta.

Aku dorong dia menjauh dengan keras.

“Jangan sentuh aku!”

Andi tampak terluka.

“Sinta, kenapa? Kenapa kamu jauhin aku?”

“Aku lagi nggak enak badan,” kataku.

Tiba-tiba dunia terasa berputar.

Aku hampir nggak bisa tidur beberapa hari ini, dan tubuhku akhirnya nyerah.

Segalanya menghitam dan tubuhku terkulai.

Sebelum pingsan, aku lihat wajah Andi yang panik saat ia menangkapku sambil teriak, “Cepat! Panggil dokter!”

Saat aku terbangun, aku sudah berada di ruang medis kapal.

Andi nggak terlihat di mana pun.

“Sinta, kamu sudah sadar?” Gimana perasaanmu?” tanya dokter dengan hormat.

“Andi, di mana?”

“Ketua baru saja keluar. Katanya ada urusan mendesak.”

Aku menyeringai dalam hati.

'Urusan mendesak? Pasti Intan yang panggil dia lagi.'

“Aku mau jalan-jalan sebentar,” kataku sambil bangkit dari ranjang.

“Sinta, sebaiknya kamu istirahat dulu saja.”

“Aku sekarang sudah nggak apa-apa kok.”

Aku tinggalkan ruang medis dan menyusuri lorong.

Di depan ruang medis lain di dek bawah, aku lihat Andi lagi topang Intan yang berwajah pucat.

Gerakannya begitu lembut, seolah sedang pegang porselen rapuh.

“Pelan-pelan, jangan sampai jatuh,” katanya penuh perhatian.

Intan bersandar lemah di dadanya, tampak sangat menyedihkan.

Begitu lihat aku muncul, Andi segera lepaskan tangannya dari Intan.

Wajahnya terlihat canggung.

“Sinta! Kenapa kamu turun ke sini? Bukannya dokter bilang kamu perlu lebih banyak istirahat? Aku kebetulan lihat Intan hampir jatuh, jadi aku tolong dia. Akhir-akhir ini urusan pekerjaan sangat banyak, tapi karena aku ingin lebih sering sama-sama kamu, jadi aku minta Intan bantu aku urus sebagian pekerjaan.” jelasnya tergesa.

Intan lalu angkat bicara, suaranya lemah dan manja.

“Sinta, maafkan aku. Tadi aku agak pusing. Kalau bukan karena Andi bantu topang aku, aku pasti sudah jatuh.”

Ia lalu dengan sengaja belai perut bagian bawahnya, kilatan kemenangan tampak di matanya.

“Tapi wajar saja, aku kan sedang hamil sekarang. Jadi sering nggak enak badan.”

“Hamil?” Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Iya, sudah sebulan! Pacarku senang banget waktu tahu. Dia langsung kasih aku sebuah vila dan uang 1,6 triliun sebagai hadiah,” kata Intan bersemangat.

Ia menatapku dengan provokatif.

“Sinta, kalau suatu hari kamu punya waktu, mau nggak makan malam dengan aku dan pacarku? Biar aku kenalkan kamu ke dia.”

Wajah Andi langsung muram.

“Intan! Tahu diri sedikit dong. Emang kamu pikir kamu pantas makan satu meja dengan istriku?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 20

    Sudut Pandang Andi.Setelah tiga hari tiga malam nggak sadarkan diri, akhirnya aku berhasil lolos dari cengkeraman maut.Kesadaranku perlahan kembali, dan rasa sakit yang tajam tembus dadaku.Aku buka mata dengan susah payah.Ruang rumah sakit itu begitu sunyi.Aku menoleh dan lihat Sinta duduk di samping ranjangku.Ia duduk di kursi, sebuah buku berada di tangannya.Rambutnya diikat longgar, wajahnya tenang dan begitu cantik.Rasa bahagia langsung meledak di mata kelabuku.Dia jagain aku. Dia benar-benar jagain aku!Apa ini berarti peluru yang aku terima akhirnya berhasil rebut hatinya lagi?Aku ulurkan tangan gemetar, ingin sentuh ujung jarinya.“Sinta, kamu jagain aku. Apa itu artinya aku masih punya tempat di hatimu?” Suaraku parau dan pecah.Jantungku berdegup kencang penuh harap.Mungkin … mungkin kami masih punya kesempatan. Mungkin dia akan maafkan aku.Mungkin peluru itu benar-benar bisa tebus semua dosaku.Sinta hindari sentuhanku tanpa ekspresi. Ia tutup bukunya dan menatapk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 19

    Sudut Pandang Andi.Aku menerobos lantai paling atas menara jam itu dan lihat Sinta terikat di sebuah kursi.Intan berdiri di belakangnya, genggam detonator di tangannya.Doni tiba hampir bersamaan, dan mata kami saling bertaut sesaat.Intan menatap kami berdua lalu tertawa histeris.“Haha! Lihat ini! Dua pria terkuat di dunia ini sama-sama pertaruhkan nyawa demi satu wanita!”Ia jambak rambut Sinta dengan kasar dan tekan detonator ke dadanya.Sinta meringis kesakitan, tetapi nggak keluarkan suara.Di matanya nggak ada ketakutan, hanya ketenangan yang tegar.Hatiku terasa diremas keras.Dia masih setegar itu, masih secantik itu.“Andi, bukannya demi dia kamu ingin bunuh aku? Sekarang aku kasih kamu kesempatan. Datang ke sini dan tukar nyawamu dengan nyawanya.” Intan tertawa gila.Suara hitung mundur bergema di seluruh gedung.“Sepuluh menit … sembilan menit lima puluh sembilan detik … sembilan menit lima puluh delapan detik ….”Titik-titik cahaya merah menari di wajah kami.Udara teras

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 18

    Sudut Pandang Sinta.Ruang ganti gaun pengantin bermandikan cahaya keemasan.Doni telah terbangkan para penjahit paling bergengsi di dunia hanya untuk momen ini.Mereka bantu aku kenakan gaun pengantin yang bertabur sepuluh ribu berlian.Gaun ini butuh waktu enam bulan untuk diselesaikan.Setiap berlian dipilih satu per satu dan ditempatkan dengan sempurna.Aku berdiri di depan cermin setinggi lantai, menatap bayanganku.Sutra putih itu membalut lekuk tubuhku dengan sempurna.Kilau berlian memantul di bawah cahaya, memukau hingga buat napas tertahan.Doni berdiri di belakangku, betulkan kerudungku dengan sangat hati-hati.Gerakannya lembut dan teliti.“Kamu akan jadi pengantin tercantik di dunia,” bisiknya.Ia kecup dahiku dengan penuh kasih.Aku menatap pantulan kehidupan damai di cermin, hatiku terasa tenang.Akhirnya, mimpi buruk itu berakhir.Besok aku akan jadi istri Doni.“Aku harus terima telepon penting, lima menit lagi aku akan kembali,” kata Doni dengan nada minta maaf.“Ngga

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 17

    Sudut Pandang Sinta.Doni menerobos masuk ke dalam ruangan dengan bau mesiu yang menyengat.Pakaiannya berlumuran darah, dan matanya dipenuhi niat membunuh.Begitu lihat aku dirantai di ranjang, wajahnya langsung berubah murka.“Bajingan terkutuk!”Ia hantam dinding hingga buku-buku jarinya pecah dan berdarah.Namun ia nggak peduli dengan rasa sakit itu. Tangannya gemetar saat buka rantai di pergelangan tanganku.Dengan suara tajam, rantai itu terlepas.Aku bebas.“Sinta, sayangku ….”Matanya memerah saat ia periksa aku berulang kali, pastikan nggak ada luka.“Dia sentuh kamu? Dia sakitin kamu?”Suaranya serak karena ketakutan.“Maaf. Aku gagal lindungi kamu. Ini nggak akan pernah terjadi lagi.”Aku menatap pria yang hampir korbankan segalanya demi selamatkan aku.Ia kerahkan seluruh pasukan tentara bayarannya, hancurkan setengah Sidolang, semuanya hanya demi selamatkan aku.Cinta ini begitu dalam dan membara.“Aku nggak apa-apa kok. Bawa aku pulang.”Doni sembunyikan wajahnya di lekuk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 16

    Sudut Pandang Sinta.Selama beberapa hari berikutnya, Andi penuhi semua kebutuhanku.Setiap pagi ia muncul tepat waktu di kamarku.Bantu aku cuci wajah, ganti pakaian.Gerakannya sangat hati-hati, seolah takut sedikit saja bisa lukai aku.Namun aku tetap diam membisu.Ia masak sendiri hidangan penutup kesukaanku.Puding mangga, es teler, dan pai lemon yang paling aku suka.Lalu ia berlutut di samping ranjang dan suapi aku sedikit-sedikit.“Ayo, buka mulutmu, Sinta, Ini pai lemon kesukaanmu,” katanya lembut.Aku rapatkan bibir, tolak untuk makan.Ia tunggu dengan sabar, sendok itu tetap menggantung di depan bibirku.“Kalau kamu nggak mau makan, nanti kamu sakit.”Aku tiba-tiba buka mulut, bukan untuk makan. Aku gigit jarinya sekuat tenaga.“Ah!” Andi berseru kesakitan.Darah mengalir dari ujung jarinya.Namun ia nggak tarik tangannya, hanya mengernyit pelan.“Sinta, nggak apa-apa kalau kamu mau gigit aku, asal itu bisa buat lega.”Aku lepaskan jarinya dan menatapnya dingin.Ia mengelap

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 15

    Sudut Pandang Sinta.Sebulan kemudian, hari pertunangan itu pun semakin dekat.Aku berdiri di ruang ganti, menatap bayanganku di cermin, mengenakan gaun putih.Gaun itu Doni yang pilih sendiri untuk aku.Sederhana, anggun, tepat seperti seleraku.Besok aku akan jadi tunangannya.Pikirkan itu, hatiku terasa tenang.Dibandingkan pernikahanku yang menyakitkan dengan Andi, pilihan ini terasa begitu benar.Doni cinta aku, hormati aku, dan nggak akan pernah khianati aku.Saat aku hendak lepas gaun itu, pintu ruang ganti tiba-tiba terbuka.Andi masuk.Ia tampak seperti orang yang bukan lagi manusia.Wajahnya cekung, janggutnya nggak terurus. Jelas ia sudah lama nggak tidur nyenyak.“Gimana kamu bisa masuk ke sini? Di mana penjaga keamanannya?” tanyaku waspada.Andi nggak jawab.Ia justru berlutut di hadapan ujung gaun putihku yang bersih.Dengan rendah diri, ia raih kedua tanganku.“Sinta, aku telah hancurkan segalanya di Sidolang. Aku cuma mohon satu hal, kembali ke aku. Ayo kita mulai dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status