Aku menatapnya dengan tenang, pria yang dulu aku cintai sepenuh hati.Kini, di mataku, ia nggak lebih dari sosok munafik yang buat aku jijik.“Ketemu teman untuk belanja,” jawabku dingin.“Teman yang mana? Kenapa aku nggak tahu?”“Kamu nggak kenal dia.”Andi berhenti tanya.Ia mendekat dan peluk aku, kecup sisi leherku seperti biasa.“Sayang, hari ini kamu pasti capek sekali, yah?” Suaranya selembut madu.Namun aku cium sisa parfum di tubuhnya, serta aroma manis khas setelah bercinta.Aku dorong dia menjauh dengan keras.“Jangan sentuh aku!”Andi tampak terluka.“Sinta, kenapa? Kenapa kamu jauhin aku?”“Aku lagi nggak enak badan,” kataku.Tiba-tiba dunia terasa berputar.Aku hampir nggak bisa tidur beberapa hari ini, dan tubuhku akhirnya nyerah.Segalanya menghitam dan tubuhku terkulai.Sebelum pingsan, aku lihat wajah Andi yang panik saat ia menangkapku sambil teriak, “Cepat! Panggil dokter!”Saat aku terbangun, aku sudah berada di ruang medis kapal.Andi nggak terlihat di mana pun.“
Mehr lesen