/ Romansa / Khair dan Khaira / Tangis Khaira

공유

Tangis Khaira

작가: Eneng Susanti
last update 최신 업데이트: 2021-05-30 11:07:21

Di dalam kendaraan yang dikemudikan Ustaz Ahsan, Khair hanya diam. Ustaz Ahsan lah yang memulai pembicaraan.

“Kamu kenal Riang?” tanya dia.

“Tidak, Ustaz.”

“Tapi dia kenal kamu.”

Khair mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan soal gadis berpashmina pink yang selalu membuat dia terganggu itu.

“Dia sering titip salam buat kamu ke saya.” Ustaz Ahsan nyengir. “Riang memang begitu. Riang seperti namanya. Saya kenal dia karena sering ketemu dengan umminya yang sahabat ibu saya. Ustaz Rofiq juga sering cerita tentang keponakannya itu. Tolong jangan salah paham soal dia dan saya, ya!”

Khair diam saja. ‘Apa sih maksud pembicaraan Ustaz ini?’ pikirnya. Dia tampak tegang. Berbeda dari saat berangkat, kali ini hanya Khair sendiri yang menumpang mobil sang dosen.

“Santai aja, Khair!” ucap Ustaz Ahsan seolah mampu membaca pikiran pemuda itu.

“Iya, Ustaz.”

“Di luar perkuliahan, kamu enggak perlu panggil saya ustaz,” ujar Ustaz Ahsan ringan, “Saya lebih suka jadi seorang sahabat daripada seorang guru, terutama dengan kamu.”

Khair seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.

Ustaz Ahsan menoleh sesaat sambil melengkungkan senyum khas sebelum mengutarakan kalimat yang akan membuat pemuda di sebelahnya itu tambah heran.

“Itu karena saya merasa sudah begitu mengenal kamu dari cerita Rumaysha.”

Bak disambar petir, Khair yang sebelumnya tegang menjadi tambah kaku. AC yang dingin malah tambah membuatnya beku.

“Kalian ….”

“Tidak, Ustaz,” gugup Khair memotong kalimat Ustaz Ahsan.

“Lho, bukannya kalian satu SMA? Rumi bilang kamu dulu adalah saingannya di kelas.”

Khair menghela nafas. Mendadak dia lega mendengar penuturan Ustaz Ahsan. Dia kira Rumaysha mengungkapkan semua kepada tunangannya.

“Oh, iya Ustaz. Rumi memang teman sekelas saya waktu SMA.”

Senyum Ustaz Ahsan makin lebar.

“Jadi kamu kenal dengan calon istri saya, kan?”

“Iya.” Mau tidak mau Khair mengakuinya.

“Makanya saya lebih suka jadi sahabat kamu.”

“Iya, Ustaz.” Khair mengangguk.

“Jangan sungkan sama saya, Khair,” ujar Ustaz Ahsan, “Rumi itu sepupu jauh saya. Saya kenal dia sejak masih kecil. Bahkan, waktu dia baru lahir, saya dan keluarga termasuk jadi rombongan pertama yang menjenguknya ke rumah sakit. Rumi selalu cerita apapun kepada saya. Jadi, saya tahu semua.”

Khair terdiam. Dalam hati dia menyesal karena mau saja ikut diajak pulang bersama calon suami Rumaysha ini.

“Saya harap kita bisa ngobrol banyak di lain waktu,” pungkas Ustaz Ahsan.

Ketika dari kejauhan gedung kampus terlihat, Ustaz Ahsan bertanya, “Rumah kamu di mana? Saya antar sampai rumah saja, ya!”

Rupanya dia tidak berniat mampir ke kampus.

“Tidak usah, Ustaz. Rumah saya masuk gang. Harus memutar kalau lewat jalan besar,” cegah Khair. Perasaan tak enak melingkupi dirinya. Bukan hanya soal fakta bahwa dia pernah menyimpan nama Rumaysha di hatinya. Melainkan juga fakta bahwa kondisi ekonominya tak cukup pantas diperlihatkan kepada orang lain.

Rumah tinggal Khair dan Khaira hampir tak terlihat karena berada tepat di bawah bayang-bayang sebuah apartemen megah. Hanya tembok beton tinggi  menjulang yang jadi pembatas area apartemen dan halaman belakang rumah mereka.

Rumah seukuran petak itu merupakan peninggalan orang tua Khair dan Khaira. Rumah impian ibunya yang menyimpan banyak kenangan.

Khair tak mau menunjukkan rumah itu bukan karena merasa malu atas kemiskinannya, dia hanya tak mau Ustaz Ahsan mengasihaninya. Maka dia meminta turun di depan kedai kopi dekat kampus saja.

“Terima kasih, Ustaz,” ucap Khair seperti melepas beban berat saat dia turun dari mobil sang dosen, “Apa Ustaz berkenan mau mampir dulu untuk minum kopi?” tawar Khair basa basi.

Dia yakin, kedai kopi sederhana milik kakaknya itu bukan tempat yang dinilai cukup berkelas untuk disambangi seorang putra pengusaha kaya macam Ustaz Ahsan.

Di balik jendela, pria berwajah jernih itu sekilas menatap kedai kopi sederhana bernuansa hitam putih tak jauh dari tempat mobilnya berhenti. Disana tampak sebuah container booth berdiri menghadap sebuah ruangan kecil. Dinding ruangan itu juga terbuat dari seng yang dicat hitam dengan gambar dekoratif berwarna putih. Di tengahnya terpasang kaca yang bisa digeser ke atas, seperti jendela kereta api.

Tampak dari luar, tulisan ‘Kedai Kopi Khaira’ terpampang dengan bentuk huruf K dekoratif yang cantik.

Dari balik jendela tampak beberapa set kursi dan meja tersebar di dalam ruangan. Tidak banyak hiasan terpajang di dalam sana. Dekorasinya sederhana saja. Namun, tampak rapi dan menyenangkan untuk dilihat. Ustaz Ahsan sendiri sepertinya cukup tertarik dengan desain kedai kopi tersebut hingga ia cukup lama mengamati tempat itu.

Sore itu, beberapa pengunjung ‘nangring’ di kedai Khaira. Kebanyakan anak muda, sisanya ojol (ojek online). Terlihat dari jaketnya. Mereka mengantre di container booth yang sekaligus difungsikan sebagai meja kerja barista. Ada seorang wanita memakai apron putih berdiri di dalam booth itu. Dia melayani pelanggan dengan cekatan.  

Kedai kopi itu memang bukan tempat asing bagi mahasiswa dan dosen serta orang-orang yang kerap lalu lalang di sekitar kampus. Meski masih terbilang baru, orang-orang jelas tahu tentang keberadaan kedai itu. Pun demikian Ustaz Ahsan.

Dulu ketika dia baru mulai kariernya sebagai dosen di kampus itu, kedai kopi tadi belum berdiri. Lokasi tempat kedai kopi itu dulu adalah bekas bengkel yang sudah tutup. Namun, aroma kopi memang sudah jadi ciri khasnya karena memang ada booth sederhana yang menjual kopi di sana.  

“Khair, apa kamu kerja sampingan di sana?” tanya Ustaz Ahsan sebelum dia menjawab tawaran Khair.

“Bisa dibilang begitu, Ustaz. Saya bagian delivery order ke kampus.” Khair nyengir walau hatinya ketar-ketir. Dia merasa Ustaz Ahsan kini tahu tentang masalah pribadinya. Jika sebelumnya saja perbedaan status mereka seperti langit dan bumi. Apalagi sekarang, setelah semuanya terungkap. Makin jauhlah Rumaysha dari genggamannya. Demikian yang Khair pikirkan.

“Kalau begitu, lain kali saja saya mampir,” ucap Ustaz Ahsan. “Lain kali saya akan minta traktir,” candanya seraya pamit.

Sebelum memutar kendaraan, dia kembali menoleh sejenak ke arah container booth yang dihuni barista. Dia seolah ingin memastikan sesuatu. Namun, akhirnya memutuskan untuk segera berlalu.

***

Khair yang baru saja kembali, tidak mendapati Khaira di kedai kopi. Bi Ocih yang menggantikan Khaira di meja barista mengatakan, “Tadi habis belanja, Neng Khaira pulang duluan. Katanya pusing dan mau istirahat.”

Ini tidak biasa. Khair tahu itu. Dia segera menyusul Khaira ke rumah dan berjanji kembali lagi ke kedai untuk membantu Bi Ocih beres-beres jika nanti kedai sudah mau tutup.

Saat Khair membuka pintu rumah mungil seukuran petak yang mereka tinggali, tercium bau terbakar.

“Astaghfirullah,” gumam Khair. Dia langsung melesat ke halaman belakang. Bau terbakar itu datang dari arah sana.

Khaira, wanita satu-satunya yang Khair khawatirkan, tengah duduk memeluk lutut di depan unggun. Sebelah tangannya terangkat memegang sebuah buku. Ya, itu buku harian bersampul kulit berwarna cream yang baru selesai Khaira baca. Buku itu hendak dia bakar.

“Teteh!” Pekik Khair tepat saat buku berdesain klasik itu jatuh dalam unggun.

Khaira menoleh. Wajahnya tampak pucat padahal di hadapannya nyala api sedang memanaskan udara. Nampak jelas jejak air mata di pipi seputih salju itu, mengering dipanaskan suhu unggun.

Khair bergegas. Bukan Khaira yang dituju, melainkan buku harian itu. Dia nekat menyelamatkan buku itu dari amukan api unggun.

“Khair, ngapain kamu?” hardik Khaira dengan suara serak. Diraihnya tangan Khair yang selamat dari bakaran api. Gadis itu khawatir adiknya terluka. Namun, dia malah mendapatkan respon yang tak diharapkan.

“Teteh kenapa?” Pemuda itu menatap sang kakak. Sesaat lalu dia menghawatirkan nyawa wanita itu. Kini, dia justru mengkhawatirkan jiwanya. “Kenapa Teteh bakar buku ini?”

Manik mata Khaira berembun lebih tebal. Suaranya tersekat di kerongkongan. Tak mungkin dia ceritakan kejadian yang menimpanya tadi siang. Kejadian yang menurutnya terkait erat dengan buku harian tak bertuan itu.

***

이 책을 계속 무료로 읽어보세요.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Dito Adimia
baru kali ini Nemu orang mau bakar buku harian
댓글 모두 보기

최신 챕터

  • Khair dan Khaira   Catatan Penutup

    Dear Good Novel readers, Terima kasih saya ucapkan untuk pembaca setia Khair dan Khaira. Semoga ending kisah ini menyenangkan. Saya harap pembaca bisa mengambil sesuatu di dalamnya. Bukan sekedar hiburan yang menyenangkan, tetapi saya juga ingin pembaca merasakan manfaat dari bacaannya. Semoga ada hikmah atau pelajaran yang bisa diambil dalam cerita ini dan bisa menjadi kebermanfaatan bagi semua pembacanya. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekeliruan yang mungkin tertulis di dalamnya. Saya sangat mengharapkan masukan dan saran dari semuanya sehingga saya bisa melakukan perbaikan pada karya-karya berikutnya. Oh, iya ... apakah Khair dan Khaira perlu dibuat sekuelnya? Sebenarnya, ide untuk melanjutkan kisah ini sudah ada. Namun, saya perlu pendapat dari pembaca juga. Tolong berikan masukan dan saran di kolom komentar, ya. Sekali lagi, terima kasih bayak atas dukungannya, baik dalam bentuk vote, komentar, maupun ulasan tentan

  • Khair dan Khaira   Surat Riang

    “Jangan nangis, Teh,” bisik Khair saat mereka berpelukan. “Khair enggak bawa sapu tangan.” Pemuda itu tertawa. Namun, matanya jelas berkaca-kaca. Dia juga merasa berat meninggalkan kakaknya.Khaira menggelengkan kepala. “Awas kamu ... jangan kangen sama tumis kangkung Teteh loh, ya ...!”Tanpa sadar keduanya sesenggukan.“Khair mau minta sesuatu sama Teteh ....” ucap dia sebelum melepas pelukan.“Apa?”“Khair minta keponakan!” Dia terkekeh sambil mengusap bulir yang jatuh jatuh dari sudut matanya.“Kamu mah ....” Khaira melepas pelukan sambil mencubit lengan adiknya.Khair meringis.“Kenapa?” tanya Ahsan khawatir.“Khair lupa minum obat,” sahut Khaira sekenanya. Mukanya sudah kemerah-merahan menahan malu campur kesal. Jika tidak ingat bahwa hari itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang Adik sebelum pergi dalam

  • Khair dan Khaira   Perpisahan

    Sehari setelah pernikahan Khaira dengan Ahsan, Khair dijadwalkan terbang ke Malaysia. Pemuda yang akan menjalani perkuliahan pascasarjana itu sudah menyiapkan koper dan bekal.Dia sudah janjian dengan Ahsan dan Khaira yang akan datang menjemput dan mengantarnya ke Bandara. Jadi, begitu terdengar ketukan di pintu, Khair langsung keluar dengan wajah ceria. Namun, langkahnya terhenti kala mendapati seseorang berdiri di dekat pintu masuk. Orang itu bukan kakaknya.Khair menatap heran. Keberadaan orang tersebut sungguh di luar dugaannya.“Hm ....” Khair jadi speechless. “Kenapa kamu ada di sini?” tanyanya kepada sosok wanita bercadar yang tampak sudah lama berdiri di depan pintu itu. Dari mata dan tatapannya saja Khair langsung bisa mengenali siapa wanita itu.“Riang ke sini hanya mau menyampaikan sesuatu.”Heran bercampur penasaran membuat jantung Khair sedikit berdebar. “Apa yang mau disampaikan Riang?”

  • Khair dan Khaira   Haru

    Ekspresi muka Khaira tidak berubah. Dia belum dapat jawaban yang diinginkannya. Eh, malah ditertawakan. Menyebalkan sekali suaminya. Mana bisa Khaira percaya.“Saya sudah suka sama kamu sejak lama,” kata Ahsan. Kali ini mukanya serius supaya bisa dipercaya.“Sejak kapan?” Khaira sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Selama ini dia pikir Ahsan bahkan tidak pernah memperhatikannya sama sekali. Boro-boro jatuh cinta, jika saling bertatapan saja dia langsung buang muka.Ahsan nyengir lagi. “Hm ... itu sepertinya sejak nama kita tertulis di lauhul mahfudz.”Khaira menghela napas. Lelah hayati dia mengharapkan jawaban serius dari orang serius yang ternyata suka bercanda.Ekspresi kesal itu terbaca. Ahsan lantas berkata, “Saya tidak tahu tepatnya, tapi sejak melihat kamu sepuluh atau sebelas tahun lalu, saya tidak bisa melupakan kamu.”Khaira memicingkan mata sambil menghitung mundur ke

  • Khair dan Khaira   Mitsaqan Ghaliza dan Ungkapan Cinta

    Ketika segala sesuatu berlaku sesuai kehendak-Nya, maka segala jalan terbuka dengan sendirinya. Tidak ada aral apapun yang merintangi perjalanan sang Waktu hingga menyatukan Ahsan dan Khaira di depan penghulu.Sebagai wali dari kakaknya, Khair menjabat tangan Ahsan dan mengucap ijab dengan mantap. Demikian juga Ahsan, mengucap qabul dengan mantap dalam satu tarikan napas. Saat itu, tepat sehari sebelum jadwal keberangkatan Khair, arasy berguncang tersebab sebuah ikrar yang beratnya seperti perjanjian ketika Allah mengangkat seorang rasul bagi manusia. Itulah akad yang disebut sebagai mitsaqan Ghaliza.Hari itu, telah Khair tunaikan sumpahnya. Telah tunai pula tanggung jawabnya menjaga sang Kakak sebagaimana diamanahkan orang tuanya. Meski bahagia, air matanya tumpah juga. Apalagi ketika Khaira dan Ahsan bergantian memeluknya.“Teteh jangan nangis!” kata Khair sambil mengusap pipi kakaknya. Padahal air mata dia lebih deras daripada bulir bening di mat

  • Khair dan Khaira   Bahagia

    Persoalan nikah membuat Khaira gelisah, terutama karena calon suaminya adalah Ahsan. “Kenapa harus dia sih?” pikir Khaira. Lama-lama wanita itu jadi greget ingin mengintrogasi adiknya. Namun, sejak acara lamaran di kedai waktu itu, Khaira menahan keinginan itu demi kelancaran Khair dalam menempuh studinya. Meski hari pernikahannya kian dekat, Khaira berusaha tidak terlalu memikirkannya. Meski begitu, masih ada satu ganjalan di hatinya yakni tentang seseorang yang dia lihat tanpa sengaja di rumah sakit tempo hari. “Apa Ahsan mengenalnya?” Pertanyaan itu terus berkelindan di kepalanya tanpa berani dia utarakan kepada siapapun. Sampai pada jadwal terapi berikutnya, Khaira datang ke rumah sakit. Untuk pertama kalinya, dia bertemu psikiater baru pengganti dokter Huda. Di sana, seusai terapi, tanpa sengaja Khaira berpapasan dengan Ahsan. Dia merasa sangat canggung. Namun seulas senyum hangat yang disuguhkan lelaki di depannya itu mampu mencairkan suasana. “

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status