MasukPada hari pernikahan Khaira, seseorang yang mengaku sebagai adiknya muncul dan menggagalkan pernikahan tersebut. Pemuda berseragam putih abu-abu itu datang tepat pada saat Khaira mengiris nadi di pergelangan tangannya karena tidak mau dinikahkan paksa dengan lelaki yang pernah mencoba merenggut kehormatannya. Kemunculan adik yang belum pernah dikenalnya itu menjadi penyelamat masa depan Khaira. Bersama Khair, dia meninggalkan keluarga toxic yang selama ini mengungkung hidupnya. Namun, siapa sangka mantan calon suami Khaira mencari dan mengusik kembali kehidupannya. Sementara Khair harus pergi meninggalkan Khaira, demi melanjutkan kuliah ke luar negeri setelah dia merasa sakit hati karena kekasihnya dijodohkan dengan lelaki yang tak lain adalah dosen di kampus Khair sendiri. Maka, tercetuslah sebuah sumpah yang membuat Khaira menelan simalakama, serba salah, bahkan hampir kehilangan arah, hingga langkahnya terbentur pada pilihan untuk segera menikah. Tapi dengan siapa? Bagaimana Khaira mengatasi trauma dan nasib malangnya?
Lihat lebih banyakDear Good Novel readers, Terima kasih saya ucapkan untuk pembaca setia Khair dan Khaira. Semoga ending kisah ini menyenangkan. Saya harap pembaca bisa mengambil sesuatu di dalamnya. Bukan sekedar hiburan yang menyenangkan, tetapi saya juga ingin pembaca merasakan manfaat dari bacaannya. Semoga ada hikmah atau pelajaran yang bisa diambil dalam cerita ini dan bisa menjadi kebermanfaatan bagi semua pembacanya. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekeliruan yang mungkin tertulis di dalamnya. Saya sangat mengharapkan masukan dan saran dari semuanya sehingga saya bisa melakukan perbaikan pada karya-karya berikutnya. Oh, iya ... apakah Khair dan Khaira perlu dibuat sekuelnya? Sebenarnya, ide untuk melanjutkan kisah ini sudah ada. Namun, saya perlu pendapat dari pembaca juga. Tolong berikan masukan dan saran di kolom komentar, ya. Sekali lagi, terima kasih bayak atas dukungannya, baik dalam bentuk vote, komentar, maupun ulasan tentan
“Jangan nangis, Teh,” bisik Khair saat mereka berpelukan. “Khair enggak bawa sapu tangan.” Pemuda itu tertawa. Namun, matanya jelas berkaca-kaca. Dia juga merasa berat meninggalkan kakaknya.Khaira menggelengkan kepala. “Awas kamu ... jangan kangen sama tumis kangkung Teteh loh, ya ...!”Tanpa sadar keduanya sesenggukan.“Khair mau minta sesuatu sama Teteh ....” ucap dia sebelum melepas pelukan.“Apa?”“Khair minta keponakan!” Dia terkekeh sambil mengusap bulir yang jatuh jatuh dari sudut matanya.“Kamu mah ....” Khaira melepas pelukan sambil mencubit lengan adiknya.Khair meringis.“Kenapa?” tanya Ahsan khawatir.“Khair lupa minum obat,” sahut Khaira sekenanya. Mukanya sudah kemerah-merahan menahan malu campur kesal. Jika tidak ingat bahwa hari itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang Adik sebelum pergi dalam
Sehari setelah pernikahan Khaira dengan Ahsan, Khair dijadwalkan terbang ke Malaysia. Pemuda yang akan menjalani perkuliahan pascasarjana itu sudah menyiapkan koper dan bekal.Dia sudah janjian dengan Ahsan dan Khaira yang akan datang menjemput dan mengantarnya ke Bandara. Jadi, begitu terdengar ketukan di pintu, Khair langsung keluar dengan wajah ceria. Namun, langkahnya terhenti kala mendapati seseorang berdiri di dekat pintu masuk. Orang itu bukan kakaknya.Khair menatap heran. Keberadaan orang tersebut sungguh di luar dugaannya.“Hm ....” Khair jadi speechless. “Kenapa kamu ada di sini?” tanyanya kepada sosok wanita bercadar yang tampak sudah lama berdiri di depan pintu itu. Dari mata dan tatapannya saja Khair langsung bisa mengenali siapa wanita itu.“Riang ke sini hanya mau menyampaikan sesuatu.”Heran bercampur penasaran membuat jantung Khair sedikit berdebar. “Apa yang mau disampaikan Riang?”
Ekspresi muka Khaira tidak berubah. Dia belum dapat jawaban yang diinginkannya. Eh, malah ditertawakan. Menyebalkan sekali suaminya. Mana bisa Khaira percaya.“Saya sudah suka sama kamu sejak lama,” kata Ahsan. Kali ini mukanya serius supaya bisa dipercaya.“Sejak kapan?” Khaira sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Selama ini dia pikir Ahsan bahkan tidak pernah memperhatikannya sama sekali. Boro-boro jatuh cinta, jika saling bertatapan saja dia langsung buang muka.Ahsan nyengir lagi. “Hm ... itu sepertinya sejak nama kita tertulis di lauhul mahfudz.”Khaira menghela napas. Lelah hayati dia mengharapkan jawaban serius dari orang serius yang ternyata suka bercanda.Ekspresi kesal itu terbaca. Ahsan lantas berkata, “Saya tidak tahu tepatnya, tapi sejak melihat kamu sepuluh atau sebelas tahun lalu, saya tidak bisa melupakan kamu.”Khaira memicingkan mata sambil menghitung mundur ke
Khair bolak-balik memikirkan perkataan kakaknya. Dia pun memutuskan untuk menemui seseorang untuk dimintai pendapat.“Ada apa?” tanya orang tersebut ketika dihubungi Khair via telepon.“Ada yang ingin saya konsultasikan,” ungkap Khair.Mereka kemudian sep
“Mang Ajat!” Khair memanggil kerabat Bi Ocih yang sedang mangkal di disi jalan itu dari pelataran kedai kopi kakaknya. Dia mengacungkan bungkusan kopi yang harus diantarkan oleh lelaki sepantaran pamannya itu. “Siap grak!” Mang Ajat sigap mengampiri Khair yang sepertinya sibuk pada hari it
Khair sedang berjalan di trotoar saat melihat mobil Ahsan melintas dengan kencang dari arah kedai. Kecepatannya membuat sang Pengemudi tidak memperhatikan apapun selain jalanan di depannya. Dia bahkan tidak melihat Khair yang tertegun sejenak karena dosennya itu tidak berhenti untuk menyapa, bahk
Entah untuk kali kesekian, Khaira kembali duduk di mobil Ahsan. Mereka tidak saling kenal secara personal, namun Khaira sendiri heran kenapa dosen Khair itu selalu ada di mana-mana, tepatnya dimana pun Khaira berada. Setiap kali menumpangi mobil mewah Ahsan, kondisi Khaira selalu dalam kea
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak