Share

Kunjungan dari Anggun

Penulis: De Sore
last update Tanggal publikasi: 2026-08-21 17:13:32

Sehari setelah pembicaraan menyakitkan di meja makan itu, Joshua berubah menjadi sosok yang makin banyak diam. Pria itu menenggelamkan diri sepenuhnya dalam tumpukan pekerjaan kantor. Kiara yang biasanya terbiasa dengan keheningan Joshua, kali ini merasa sesak luar biasa.

Joshua memang bukan tipe pria yang obral kata-kata, tetapi perhatian kecilnya—seperti memindahkan cangkir teh hangat ke dekat tangan Kiara atau memastikan AC ruangan tidak terlalu dingin—selalu mampu mengalirkan kehangatan. Kini, kehangatan itu menguap tanpa sisa, digantikan oleh dinding es yang dipasang Joshua rapat-rapat.

Suasana hening di apartemen mendadak terusik ketika bel pintu berbunyi siang itu. Kiara terpaku saat mendapati Anggun, ibu mertuanya, berdiri di ambang pintu sembari membawa sekeranjang anggur hijau.

“Kamu sudah membicarakannya pada Joshua?” tanya Anggun tanpa basa-basi, begitu mereka duduk di ruang tengah. Anggun meletakkan keranjang buah itu di atas meja—buah kesukaan Kiara yang rasanya absurd dibawakan oleh wanita yang tak pernah menganggapnya ada.

“Sudah,” jawab Kiara singkat.

“Dia setuju?”

“Setuju,” sahut Kiara, memotong nada mendesak dari mertuanya.

Anggun menyipitkan mata, menatap Kiara penuh selidik. “Kenapa aku merasa kamu berat berpisah dengan putraku? Jangan lupa, Kiara, pernikahanmu dengan Joshua sejak awal hanyalah sebuah kontrak!”

“Saya tahu diri, Ma. Saya sangat mengerti posisi saya,” ujar Kiara, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Joshua bilang, dia yang akan meminta pengacaranya menyiapkan semua berkas perceraian.”

“Baguslah kalau begitu!” Anggun merogoh tas mewahnya, mengeluarkan selembar kertas berharga, lalu menggesernya di atas meja kaca ke arah Kiara. “Satu miliar. Ambil ini, dan menjauhlah sejauh-jauhnya dari putraku.”

Mata Kiara tertuju pada cek di hadapannya. Rasa tawar menyengat dadanya. Tanpa ragu sedikit pun, Kiara menggeser kembali cek tersebut ke hadapan Anggun.

“Saya pasti menjauhi Joshua, tapi saya tidak butuh uang ini.”

“Bagaimana saya bisa yakin kamu tidak akan mengganggu Joshua lagi kalau kamu menolak uang ini? Terimalah sebagai jaminan!” desak Anggun, suaranya meninggi.

“Saya setuju bercerai karena saya menghormati janji dan perjanjian kita dua tahun lalu,” tegas Kiara, menatap lurus mata mertuanya.

“Tapi saya tidak mau Joshua berpikir saya mengurusnya selama dua tahun ini—lalu pergi—hanya demi uang satu miliar.”

Jawaban itu rupanya menyulut kemarahan Anggun. Baginya pernikahan ini adalah transaksi, dia tidak peduli bagaimana Joshua memandang Kiara kecuali Kiara menyimpan perasaan lain terhadap putranya.

Tanpa diduga, Anggun berdiri dan memajukan tubuhnya. Jemarinya mencengkram rahang Kiara dengan keras, memaksa Kiara mendongak.

“Kamu jangan lancang berpikir bisa mencintai putra saya, Kiara!” ucap Anggun geram, matanya menatap tajam penuh ancaman. “Melihat keteguhanmu menolak uang ini, saya makin curiga... kamu memang menyukai Joshua, kan?”

Anggun menghentakkan tangannya, mendorong tubuh Kiara hingga wanita itu terhuyung dan hampir jatuh dari sofa.

Pipi Kiara terasa panas bekas cengkeraman keras itu. Matanya berkaca-kaca, namun ia menahan air matanya agar tidak jatuh di depan wanita sombong ini. Kiara justru menyunggingkan senyum tipis yang getir.

“Saya hanya tidak mau membuat Joshua kecewa pada saya di akhir hubungan ini.”

Kalimat itu semakin membuat Anggun yakin kalau Kiara menaruh hati pada putranya dan itu tidak boleh terjadi.

“Tidak mau membuat dia kecewa? Atau kamu hanya takut Joshua punya penilaian buruk tentangmu?” cemooh Anggun dingin.

Kiara bungkam. Ia mengepalkan tangannya di atas pangkuan, menahan rasa sakit yang menumpuk di dadanya.

Melihat diamnya Kiara, Anggun tersenyum sinis. “Buka matamu lebar-lebar, Kiara. Laura itu jauh lebih setara dibandingkan kamu dalam segala hal. Dia adalah wanita yang disukai Joshua sejak SMA. Kamu tahu kenapa Joshua dulu rela kuliah ke Boston? Dia mengikut Laura ke sana!”

Pernyataan Anggun bagai belati yang menusuk tepat di jantung Kiara. Pengakuan itu meluluhlantakkan sisa-sisa harapannya.

“Hm... iya. Saya mengerti,” bisik Kiara lirih, menundukkan kepala dalam-dalam.

“Bagus kalau sadar diri. Pengacara akan mengurusnya cepat, dan saya mau kamu angkat kaki secepatnya—”

“Siapa yang mengizinkan Mama mengatur hidup, pernikahan dan perceraianku?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Nama untuk Chery

    Setelah dua bulan melakukan renovasi rumah, dengan desain klasik eropa sesuai keinginan Joshua akhirnya rampung juga.Sedangkan Kiara tidak ingin ambil pusing soal itu. Dia menyerahkan semuanya pada Joshua. Siang itu Kiara dan Joshua berada di toko perlengkapan bayi. Mengingat usia kandungan Kiara yang sudah memasuki minggu ke 28, mereka akan mempersiapkan pakaian dan segala kebutuhan untuk Chery.“Sayang, kamu yakin ini ukurannya?” Joshua melirik Kiara dan baju bayi yang sedang ia pegang bergantian.“Kenapa kamu ngomong kayak gitu?” Dahi Kiara bertaut tipis menoleh pada Joshua yang terlihat ragu.“Ini kecil banget, sayang. Apa muat untuk Chery pas udah lahir nanti?” Joshua meletakkan baju itu di telapak tangannya. “Lihat, cuma setelapak tangan aku loh, sayang,” bisik Joshua sedikit menunduk.“Astaga, Mas, aku kirain kenapa kamu ngomong kayak gitu, ternyata. Ya iya lah, sayangku, memang ini ukuran baju untuk bayi baru lahir. Kamu pikir nanti anak kamu lahir langsung gede?” Kiara memu

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Pertanyaan yang sulit

    Pertanyaan Kiara membuat Joshua membeku, ia tidak pernah berpikir akan dihadapkan dalam situasi seperti itu. Setiap saat dia berdoa agar Kiara dan buah hati mereka lahir dengan sehat dan selamat.Kali ini hening turun cukup berat. “Kenapa kamu nanya kayak gitu?” Joshua mencoba mengulur waktu untuk menjawab.“Nggak kenapa-kenapa, kita gak tau apa yang akan terjadi nanti. Dokter tidak akan menunggu lama, dia bakal meminta kamu memilih dengan cepat.” Sebenarnya Kiara juga tidak akan bisa jika dihadapkan dalam situasi seperti itu, Membayangkannya saja sudah membuat hatinya nyeri seperti diremas dari dalam.Apa lagi harus benar-benar disuruh memilih, hanya bisa menyelamatkan satu di antaranya, Joshua atau anak mereka.“Mas…” panggil Kiara melihat Joshua tak kunjung memberi jawaban.Joshua mengelus perut Kiara, tendangan Chery menyapa telapak tangannya yang besar. Jelas dia tidak ingin kehilangan buah hati yang sudah lima bulan ini dia ajak bicara serta selalu ia sapa. Namun, kehilangan Kia

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Mas Joshua

    Malam hari setelah survei dua lokasi rumah, Joshua menghampiri Kiara yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang, wanita itu terlihat asyik bermain ponsel.“Sayang,” panggil Joshua lembut, lalu naik ke atas ranjang dan duduk tepat di samping Kiara.Kiara menoleh pada Joshua, ia mematikan layar ponsel dan meletakkan benda pipih itu ke atas nakas, “Kenapa, sayangku?” sahut Kiara tak kalah lembut.“Aku mau ngomong sesuatu, kamu lagi sibuk gak?” ujar Joshua basa-basi.“Nggak kok, emangnya kamu mau ngomong apa?” Kiara menatap lekat pria itu.Joshua berdehem kecil, mengusir kegugupannya sebelum memulai bicara. “Sekarang kan kita juga tinggal di lantai dua puluh, sayang. Jadi gak ada bedanya dong dengan rumah yang cuma dua lantai?” ucap Joshua membalas tatapan Kiara.Kiara mengerti arah pembicaraan itu, merujuk pada perbedaan pendapat mereka tentang selera rumah.“Jelas beda dong, sayang. Walau pun kita tinggal di apartemen setinggi ini, tapi rumah kita tetap satu lantai, tidak ada tang

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Berbeda pendapat

    Siang itu Joshua sengaja pulang lebih awal, ia menjemput Kiara di kantornya. Setelah obrolan tentang membeli rumah satu minggu lalu, hari ini mereka akan mulai survei mencari yang sesuai dengan dengan selera keduanya. “Selamat siang, Bu Kiara,” suara berat Joshua mengalun di ruang kerja Kiara yang hening. Kiara menoleh pada Joshua yang berjalan mendekat, ia tertawa kecil, “Gak sopan ya anda, Pak Joshua. Tidak mengetuk pintu sebelum masuk,” Kiara menanggapi gurauan Joshua. “Maaf, Bu, wanita yang ada di dalam ruangan ini membuat saya sedikit tidak sabaran ingin berjumpa dengannya.” Joshua tiba di sebelah Kiara, ia memegang dagu wanita itu lalu mencium pipinya berkali-kali. Kiara hanya tersenyum, “Udah ah, kamu kalau nyium basah gini,” gerutu Kiara gemas melihat tingkah suaminya. Joshua tidak menjawab, ia tertawa puas kemudian menghapus bekas ciumannya yang sengaja dia buat basah. Suara seseorang berdehem sengaja sedikit keras di sudut ruangan. Hal itu membuat Joshua terkejut, s

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Hadiah terima kasih

    Pagi ini hal pertama yang Kiara lakukan setelah bangun tidur adalah mengecek suhu tubuh Joshua. “Hari ini kamu jangan kerja dulu, ya. Demam nya sudah turun sih, tapi istirahat aja dulu,” ucap Kiara saat telapak tangannya berada di dahi Joshua.Pria itu mengangguk pelan dengan tubuh masih di balut selimut. Sedangkan Kiara bergegas membersihkan diri ke kamar mandi, lalu melangkah menuju dapur.“Selamat pagi, Mbak Ririn. Ya ampun kangen banget sama, Mbak,” sapa Kiara ramah. Suara Kiara memecah keheningan dapur, membuat Ririn menoleh pada sumber suara.“Pagi, Bu Kiara. Saya juga kangen banget, Bu. Hampir dua minggu ya kita gak ketemu,” sahut Ririn sama ramahnya seperti Kiara.“Bener, Mbak,” Kiara mengangguk setuju. “Oya, Mbak masak bubur yang aku minta tadi malam kan?” timpal Kiara.“Sudah, Bu. Ini buburnya. Semoga Bapak cepat sembuh, ya, Bu,” Ririn mengulurkan mangkuk porselen putih.“Terima kasih, Mbak.” Kiara mengulas sebuah senyuman. Kemudian berlalu kembali ke kamar.“Jo, sarapan dul

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Demam

    Kiara merasa ada yang aneh dengan Joshua. Hawa tubuh pria itu terasa panas, kepalanya kian berat bersandar di bahu Kiara. “Joshua,” panggil Kiara pelan. “Hmm,” Joshua hanya bergumam singkat. Tangan Kiara yang tadi mengusap-usap punggung Joshua, kini menyusup masuk ke dalam baju pria itu, lalu meraba kulit punggung Joshua yang mengeluarkan hawa panas. “Jo, kamu demam, ya?” Kiara menjauhkan kepala Joshua dari bahunya, mendapati wajah pucat pria itu. Pantas saja dari tadi wajah Joshua sendu, Kiara pikir itu hanya karena mereka sedang cekcok kecil tadi. Tapi ternyata pria itu sedang menahan sakit di fisiknya juga. “Ayo pindah ke kamar dulu, Jo. Biar aku ambil kompres. Badan kamu anget banget ini,” Kiara berdiri memapah Joshua menuju kamar. Dengan langkah kecil yang tersendat-sendat akhirnya Kiara berhasil membaringkan Joshua di atas ranjang. Kiara meletakkan telapak tangannya di dahi Joshua, mengecek suhu tubuh pria itu, “Tunggu bentar, ya,” Kiara mencari kotak P3K di laci nakas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status