Share

Bab 02

Author: De Sore
last update publish date: 2026-08-21 17:08:19

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

Jawaban Joshua membuat air mata Kiara akhirnya lolos membasahi pipinya. Dengan kasar, ia mengusapnya menggunakan punggung tangan, berusaha mengumpulkan sisa ketegaran yang tersisa.

“Nggak bisa, Jo. Kita harus tetap cerai,” bisik Kiara, suaranya bergetar menahan sesak.

Joshua bergeming. Manik hitamnya menatap Kiara tajam, seolah sedang mencari kebohongan di balik wajah lembut yang selama dua tahun ini selalu menyambutnya saban pagi. Pria itu menarik napas panjang, menekan gejolak di dadanya agar tetap terlihat tenang.

“Jadi... apa arti aku buat kamu, Kiara?” tanya Joshua pelan, suaranya sarat akan kekecewaan yang tersirat. “Dua tahun kita tinggal bersama. Aku yang bergantung padamu, dan kamu yang selalu ada untukku. Apa semua itu cuma bagian dari tugas dalam perjanjian?”

Kiara mengepalkan jemarinya di bawah meja makan hingga memutih. Hatinya menjerit. Mana mungkin Joshua hanya sekadar tugas? Pria ini adalah suaminya, pria yang perlahan-lahan memenuhi seluruh ruang di hatinya.

Setiap kali ia mendampingi Joshua terapi, menyuapinya saat tangan pria itu masih lemah, hingga melihat Joshua kembali berdiri tegak—rasa cinta itu tumbuh tanpa bisa ia cegah.

Namun, Kiara tidak punya pilihan. Perjanjian dengan Mama Anggun terikat rapat oleh rasa hutang budi keluarganya. Ditambah lagi, Laura sudah kembali. Kiara hanyalah pemeran pengganti yang tahu kapan harus turun dari panggung.

“Rasa kasihan,” bohong Kiara dengan tatapan dingin yang dipaksakan. “Aku merawatmu karena kasihan, dan karena keluargaku butuh bantuan finansial saat itu. Sekarang kamu sudah sembuh total, Jo. Tugasku selesai.”

Joshua tertawa sumbang, sebuah tawa getir yang jarang sekali terdengar dari bibirnya. Ia memajukan badannya, menatap Kiara dari jarak yang begitu dekat.

“Jangan bohong,” potong Joshua halus, namun menusuk. “Sekarang, tatap mataku dan tanya pada hatimu sendiri... apa benar kamu ingin kita bercerai?”

Dada Kiara bergemuruh hebat. Sorot mata Joshua yang teduh dan penuh perhatian—sikap green flag yang selalu membuat Kiara merasa dicintai walau tanpa kata-kata romantis—kini justru terasa menekan jiwanya. Kiara memalingkan wajah, tak sanggup bertatap mata lebih lama.

“Iya. Aku ingin kita cerai,” dusta Kiara mantap, meski rasanya seperti meremas organ dalamnya sendiri.

“Kalau ini cuma masalah perjanjian dengan Mama, aku bisa batalkan itu hari ini juga. Kamu tidak perlu memikirkan Laura atau siapa pun,” tegas Joshua. Ia memegang pergelangan tangan Kiara, mengusapnya lembut dengan ibu jarinya. Pria itu memberi penawaran, memberi jalan keluar agar Kiara tidak perlu pergi.

Kiara menarik tangannya perlahan dari genggaman Joshua. Ia menggeleng pelan.

“Nggak bisa begitu, Jo. Tolong... jangan bikin ini makin sulit buat aku,” racau Kiara dengan suara menahan tangis. “Pernikahan yang diawali dengan transaksi tidak akan pernah berakhir bahagia. Tolong hargai keputusanku.”

Joshua terdiam lama. Pegangan tangannya yang terlepas meninggalkan dingin yang membeku di antara mereka. Pria itu memperhatikan Kiara yang terus menunduk, menyadari ketetapan hati—atau ketakutan—wanita di hadapannya yang begitu keras.

Joshua menatap plafon ruang makan sejenak, menghembuskan napas berat. Kehangatan yang sempat terpancar di matanya perlahan menyusut, berganti dengan tatapan dingin khas dirinya. Jika bertahan hanya akan membuat Kiara merasa tersiksa dan tertekan, Joshua tidak akan memaksa.

Pria itu berdiri dari kursinya, merapikan jas yang tersampir di sandaran.

“Baik,” kata Joshua datar, suaranya berubah dingin tanpa ekspresi. “Karena kamu begitu kukuh ingin bercerai... okay, ayo kita bercerai.”

Joshua berbalik dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan meja makan, tanpa berpaling lagi.

Tepat saat langkah kaki Joshua menjauh dan menghilang di balik pintu kamar, pertahanan Kiara runtuh sepenuhnya. Air matanya menetes deras membasahi meja makan. Ia mendapatkan apa yang ia minta, namun hatinya hancur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 08

    “Demi Papa, jangan tanda tangani, Kiara!”Suara Arman terdengar tegas dan keras menembus hening ruang tamu. Kiara yang baru saja hendak membungkuk mengambil salinan kertas berserakan di lantai membeku seketika.“Oooh… ternyata serakah juga ya kamu? Bapak dan anak sama-sama serakah dan tidak tahu malunya!” sindir Anggun tajam, melipat tangan di dada.Pria paruh baya yang biasanya selalu bersikap tenang dan mengalah itu melangkah tegas ke depan. Dengan sisa tenaga di tubuhnya yang makin ringkih, Arman memasang badan, berdiri tepat di hadapan Anggun dan Laura—memblokir akses kedua wanita itu ke arah Kiara.“Saya tidak begitu, Bu Anggun. Kalau memang mereka mau bercerai, biarkan mereka bercerai. Tapi tidak bisakah semua dilakukan dengan kepala dingin? Kenapa harus membuat masalah sebesar ini?”“Itu karena putrimu yang melanggar kontrak!” gertak Anggun, matanya menyalang penuh kemarahan. “Surat pengakuan itu satu-satunya cara agar kamu dan anakmu tidak membusuk di penjara!”“Saya yang puny

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 07

    “Apa pun yang terjadi dengan pernikahanmu, ini tetap rumahmu. Maafkan kami, Nak... yang dulu sudah sangat egois memanfaatkanmu.”Suara Arman—Papa Kiara bergetar saat kalimat itu terucap. Pria paruh baya yang kini tampak makin ringkih itu memeluk Kiara erat, disusul elusan lembut Ibu di punggungnya. Suasana ruang tamu rumah sederhana mereka mendadak diliputi haru yang menyayat dada.Pagi tadi di apartemen, dekapan hangat Joshua di depan Anggun dan Laura sempat menghentikan detak jantung Kiara. Namun, ia tak ingin membiarkan keributan tak berujung itu berlarut-larut. Dengan suara lirih namun mantap, Kiara meminta izin pada Joshua untuk pulang sementara waktu ke rumah orang tuanya demi menenangkan diri.Joshua—meski berat hati dan sempat menahan lengannya—akhirnya luluh dan membiarkan Kiara pergi, memberi ruang yang wanita itu butuhkan.Keputusannya melangkah sejenak dari lingkaran kehidupan Joshua membawa Kiara kembali ke satu-satunya tempat ia bisa bernafas lega.Kiara menyandarkan kep

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 06

    “Ternyata apartemenmu tidak banyak berubah ya, Jo, masih sama seperti selera minimalismu yang dulu.”Suara renyah nan elegan itu bergetar halus di udara, memecah ketenangan ruang tengah. Kiara yang baru saja selesai menyusun cangkir teh di atas nampan membeku.Pagi baru saja merambat naik, namun pintu apartemen sudah diketuk keras. Anggun datang tanpa pemberitahuan, dan kali ini ia tidak sendirian. Ia membawa Laura—sosok anggun dan cerdas dari berita bisnis kemarin malam.Laura berdiri anggun membelakangi jendela kaca. Gaun pastel berpotongan haute couture membalut tubuh semampainya dengan sempurna, berpadu erat dengan riasan wajah halus yang memancarkan aura kelas atas.Perhiasan berlian berukuran kecil berkedip lembut di leher dan pergelangan tangannya. Dibandingkan dengan Kiara yang hanya mengenakan kemeja katun kelabu dan celana kain sederhana, jurang perbedaan di antara mereka terlihat sangat nyata.“Laura, kamu duduk dulu. Biar Kiara membuatkan minum untukmu,” cetus Anggun santa

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 05

    “Jo, jika pertanyaan itu aku balik ke kamu... apa kamu bisa menjawabnya?” Mendengar Kiara membalikkan pertanyaan itu, Joshua terkekeh pelan. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya, meski sorot matanya sarat akan kerapuhan yang amat dalam. “Saat kamu datang ke dalam kehidupanku, aku sedang dalam keadaan sangat buruk,” ucap Joshua, suaranya mengalun lembut memecah hening malam. “Tidak banyak perempuan yang mau bertahan bersamaku. Apalagi saat itu rumor di luar sana menyebutkan kalau aku punya kekasih lain... dan kemungkinan besar lumpuh permanen.” Joshua menjeda kalimatnya. Ia menatap lurus ke dalam netra cokelat Kiara yang kini berkaca-kaca, memantulkan bayangan lampu gantung meja makan. “Tapi kamu bersedia di sini, Kia...” “Itu karena...” Kiara berusaha memotong, namun lidahnya terasa kufur. “Aku tahu, karena investasi Papaku di perusahaan Papa kamu, kan?” sahut Joshua menyambung cepat. Pria itu menggeleng pelan. “Tapi kalau kamu memang tidak punya ketulusan itu dari awal, kam

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 04

    “Siapa yang mengizinkan Mama mengatur hidup, pernikahan dan perceraianku?” Suara berat, dingin, dan sarat akan intimidasi memotong kalimat Anggun dari arah pintu masuk. Kiara dan Anggun membeku secara bersamaan. Di sana, Joshua berdiri tegap dengan setelan jas kerjanya, menatap sang mama dan Kiara dengan sorot mata yang begitu pekat dan berbahaya. Menit berikutnya Anggun menetralkan raut wajahnya. Melangkah tenang dengan senyuman manis menghampiri putra kesayangannya. “Joshua, Laura sudah kembali. Kamu bisa melanjutkan hidup bersamanya. Hubungan mu dengan Kiara sudah selesai,” ucap Anggun penuh percaya diri. Joshua melirik Kiara yang masih membeku di sofa. Ia dapat merasakan desir aliran darahnya saat melihat rona merah di pipi Kiara akibat perbuatan ibunya. “Aku sendiri yang akan memutuskannya Ma. Tidak ada yang bisa mengatur pilihan ku.” Joshua menatap dingin Anggun. “Tapi perjanjiannya tidak seperti itu Josh—” “Mama dan Kia yang membuat perjanjian! Bukan aku,” potong Jos

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 03

    Sehari setelah pembicaraan menyakitkan di meja makan itu, Joshua berubah menjadi sosok yang makin banyak diam. Pria itu menenggelamkan diri sepenuhnya dalam tumpukan pekerjaan kantor. Kiara yang biasanya terbiasa dengan keheningan Joshua, kali ini merasa sesak luar biasa.Joshua memang bukan tipe pria yang obral kata-kata, tetapi perhatian kecilnya—seperti memindahkan cangkir teh hangat ke dekat tangan Kiara atau memastikan AC ruangan tidak terlalu dingin—selalu mampu mengalirkan kehangatan. Kini, kehangatan itu menguap tanpa sisa, digantikan oleh dinding es yang dipasang Joshua rapat-rapat.Suasana hening di apartemen mendadak terusik ketika bel pintu berbunyi siang itu. Kiara terpaku saat mendapati Anggun, ibu mertuanya, berdiri di ambang pintu sembari membawa sekeranjang anggur hijau.“Kamu sudah membicarakannya pada Joshua?” tanya Anggun tanpa basa-basi, begitu mereka duduk di ruang tengah. Anggun meletakkan keranjang buah itu di atas meja—buah kesukaan Kiara yang rasanya absurd d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status