Masuk"Hay, Sudah pulang, Sayang!?“ Sambut Renata mama Jeslyn yang sedang membaca buku di ruang tamu.
“Hmm, iya, Ma.“ "Gimana hari pertama masuk sekolahnya, Sayang, masih sama kayak dulu apa ada perubahan?“ Tanya Renata. "Yaa begitulah, Ma,” ucap Jeslyn menghembuskan napas pelan. “Loh, kok gitu ekspresinya, kenapa? Cerita dong. Apa kamu gak suka sekolah lagi di sekolah kamu dulu?“ Tanya Renata lembut. "Enggak kok, Ma. Ya namanya masih hari pertama masuk setelah pindahan, masih menyesuaikan lagi kan,” ungkap Jeslyne, dan tidak menceritakan pertemuannya kembali pada Sagara. “Serius? Gak ada masalah kan?“ Renata memastikan. “Enggak, Ma.“ “Ya udah, sana bersih-bersih dulu, habis itu turun makan siang ya.“ Jeslyne masuk ke dalam kamarnya, ia melempar tasnya sembarangan lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Ia memandangi atas langit-langit kamarnya, pikirannya berkelana saat pertemuannya kembali dengan Sagara. Ia benar-benar tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Sagara, karena dirinya juga berusaha semaksimal mungkin untuk melupakan kenangan masalalunya bersama Sagara. “Aku tahu ini menyakitkan, tapi aku juga tidak bisa mengahindari takdir atas kejadian itu,” gumamnya pelan. Drrrrtt… Handphone Jeslyne berbunyi, panggilan telepon dari sahabatnya tertera di layar handphonenya. Terdapat nama Rhea terpampang di layar handphonenya. “Hallo, Jes, lo udah nyampe rumah?“ Tanya Rhea di seberang telephonenya. “Udah, kenapa emang?“ Jawab Jeslyne. “Eh, ntar lo ada acara gak? Kita jalan yuk, gue tadi di ajak Rachel dan di suruh telepon lo!?“ Ajak Rhea. “Emm, gue tanya nyokap dulu deh boleh gaknya.“ “Okey, ntar lo wa gue ya!“ Jam tujuh malam, Jeslyne bersiap-siap untuk pergi bersama teman-temannya setelah dapat ijin dari Mamanya. Ia mengenakan dress berwarna nude dengan menenteng tas selempangnya, membawa langkahnya keluar kamarnya. “Ma, Jeslyne pamit keluar dulu ya,” pamit Jeslyne pada Mamanya. “Iya, hati-hati ya, Sayang. Inget jangan pulang malam-malam. Kalau ada apa-apa telepon, Mama, ya!“ “Siap, Mama, cantik! Papa, belum pulang, Ma?“ “Belum, nanti, Mama, sampein ke Papa, kalau kamu keluar.“ “Okey, makasih, Ma,” Jeslyne berjalan keluar rumah, terlihat mobil Rhea sudah parkir di depan rumahnya. “Haaay, seneng banget gue kita bisa keluar bertiga lagi,” teriak Rhea gembira saat Jeslyne masuk ke dalam mobilnya. “Yo'ii, sumpah selama gak ada lo, bosen banget gue kelaur sama ni kadal mulu,” ejek Rachel membuat Jeslyne terkekeh. “Sialan, lo tikus got,” balas Rhea tak kalah tajam. Jeslyne menghembuskan napasnya kasar, “Jadi keluar gak nih? Kalau lo mau lanjut berantem gue turun nih!“ Sahut Jeslyne yang sudah jengah. “Eits, santai dong, okey kita lets go,” Rhea langsung menancapkan gasnya. Mobil merah memasuki pelataran Mall besar dan mewah. Setelah memarkirkan mobilnya, tiga gadis ini pun turun dari mobilnya dan memasuki pusat pembelanjaan. “Kita liat baju dulu yuk!“ Ajak Rachel. “Cuss lah, gue juga mau cari daleman.“ “Pelankan suara lo ege, malu di lihatin orang,” tegus Jeslyne dengan menampol bahu Rhea. “Tahu nih betina atu, heran gue kecil-kecil suaranya cempreng banget dah,” sindir Rachel. Setelah puas belanja dan juga makan bersama, ketiganya memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di dalam mobil ketiganya asyik bercerita juga sesekali bercanda. Banyak hal yang di ceritakan Rhea dan juga Rachel, terutama saat menceritakan perubahan Sagara yang selama di tinggal Jeslyne pindah satu tahun yang lalu. Begitupun Jeslyne yang juga sudah menceritakan alasan kenapa ia harus pindah dan apa yang sudah ia lalui setahun yang lalu. Bahkan Rachel dan Rhea sampai nangis sesenggukan mendengar cerita pilu sahabatnya. Tidak menyangka jika Jeslyne sudah melalui hal paling berat di hidupnya. “Eh, itu ada apa ya rame-rame di depan? Duh takut gue!“ Tanya Rhea memelankan laju mobilnya. Membuat Rachel dan Jeslyne menatap ke depan. “Astaga, itu keknya lagi ada baku hantam deh, gimana ini, apa kita puter balik aja ya,” saran Rachel yang sudah ketakutan. “Eh, tapi itu bukannya temen sekolah kita ya?“ Tanya Jeslyne yang mengamati para cowok-cowok yang tengah adu jotos di depan. “Lah iya, itu kan Nando,” tunjuk Rhea pada salah seorang cowok. “Wait! Itu juga ada, Sagara, woy. Fix ini mah gengnya Sagara lagi tawuran. Udah kita cabut aja lah, cepet-cepet,” Rachel memberi intrupsi Rhea untuk segera pergi. *** Tok, tok, tok Rhea yang baru saja ingin melajukan mobilnya pergi, lansung terjingkat menatap ke samping, begitu juga Jeslyne dan Rachel. Ketiga gadis tersebut langsung beringsut ketakutan. “Woy, keluar lo,” teriak salah seorang laki-laki dari depan mobilnya, namun ketiga gadis dalam mobil tersebut tidak ada yang berani untuk keluar. “Aduh, gimana ini, kita bakal celaka kalo nurutin tuh cowok keluar,” cerocos Rachel yang panik dan ketakutan. “Keluar gak lo, kalo gak keluar gue pecahin nih kaca mobil lo,” ancam cowok tersebut dengan membawa tongkat besballnya. “Gue bakal keluar, kalian tunggu di dalam aja ya,” Jeslyne hendak membuka pintu mobilnya namun langsung di tahan oleh Rachel. “Eh, jangan gila ya lo, Jes! Ini tuh bahaya tau gak,” teriak Rachel masih menahan tangan Jeslyne. “Udah gak pa-pa, dari pada kita di cegat gini gak bisa pulang-pulang,” Jeslyne langsung menarik tangannya dari Rachel hingga terlepas, dan melangkah keluar dari mobil membuat Rhea dan Rachel langsung syok dan ketakutan. “Aduh, Re, gimana nih?“ Rachel sudah panik dan bingung mau keluar tapi takut. Begitu juga Rhea yang sudah ketakutan dari tadi. Jeslyne yang sudah keluar dengan tatapannya yang tajam, menghampiri pemuda yang teriak-teriak di depan mobilnya. “Wow, cantik banget, bolehlah kita ajak main-main,” ucap salah seorang cowok dari tiga pemuda di depannya. “Kita cuma mau lewat dan gak ada urusan sama kalian, jadi gak usah ganggu kita,” ketus Jeslyne pada pemuda di depannya. “Okey, tapi lo ikut sama kita,” cowok tersebut menarik tangan Jeslyne membuat Jeslyne panik dan mencoba melepaskan tangannya. “Lepasin gue, gue gak kenal sama lo, brengsek,” teriak Jeslyne yang memberontak saat tangganya di tarik. Di tengah ketegangan tawuran antara geng Sagara dan musuhnya, Sagara samar-samar mendengar teriakan yang tidak jauh dari seseorang yang sangat ia kenal suaranya. Sagara menoleh pada satu titik di mana membuat jantungnya berdetak begitu kencang. Deg “Jeslyne,” gumamnya dengan tatapan tajam dan tangannya yang sudah mengepal kuat. Sagara langsung berlari ke arah Jeslyne, dengan emosi yang sudah menggebu. Bugghh “Bangsat,” teriak salah seorang saat tersungkur di jalan setelah di tendang dari belakang. “Lepasin dia,” suara dingin Sagara dengan tatapan tajamnya mampu membuat nyali musuhnya sedikit menciut. “Emang sepenting apa lo nyuruh kita buat lepasin dia,” ejeknya sembari tertawa mengejek. Sagara hanya tersenyum sinis mendengarnya. “Banci” hina Sagara pada musuhnya. “Brengsek,” Sang musuh yang tersulut emosi langsung menyerang Sagara secara bersamaan. Sagara dengan sigap langsung menepis dan menghalau pukulan yang di layangkan musuhnya. Sagara yang tersulut emosi melihat Jeslyne di sentuh orang lain tidak memberi ampun dan meberi bogeman satu persatu, hingga salah seorang tumbang saat mendapat tendangan kuat dari Sagara. Tersisa satu musuh yang harus Sagara hadapi, tidak sulit melumpuhkan lawan yang tak sebanding dengan Sagara yang memang sudah terlatih bela dirinya. Setelah Sagara berhasil melumpuhkan lawannya tiga sekaligus, Sagara langsung menghampiri Jeslyne. Ia menatap dengan pandangan yang sulit di artikan. Tangannya terulur menarik tangan Jeslyne di bawa masuk ke dalam mobil, Jeslyne sempat terpaku dengan genggaman tangan Sagara begitu juga jantungnya yang berdegub kencang. “Masuk, dan langsung pulang,” Tukas Sagara dengan membuka pintu mobil, menyuruh Jeslyne masuk dalam mobilnya. Setelah menutup pintu mobil, Sagara langsung melangkah pergi meninggalkan mobil tersebut tanpa sepatah kata apapun. ***Jeslyne tengah menyiapkan makan siangnya, karena jam sarapannya sudah lewat. Jeslyne menata hidangannya di atas meja, hanya masakan simple saja. Sagara menghampiri Jeslyne dan memeluknya dari belakang, “masak apa, Sayang?“ Tanya Sagara dengan mengendus leher Jeslyne. Jeslyne sudah mengetahui jejak merah yang di tinggalkan Sagara, membuat dirinya sangat malu, terlebih waktu membukakan pintu dan Jeslyne belum mengetahui. Pantas saja teman-teman Sagara sampe melongo waktu dirinya membukakan pintu. “Iiiissh, minggir. Malu tau di liatin temen-temen kamu,” omel Jeslyne mencoba melepas pelukan dari Sagara. “Waaaaah, masak apa nih, Bu Bos?“ Tanya Nando saat ketiganya menghampiri meja makan. “Masakan simple aja, ayam saus asam manis. Ayo makan,” ajak Jeslyne pada ketiganya. “Ck, mereka doang yang di ajak,” sewot Sagara menatap sinis para sahabatnya. Jeslyne langsung mengapit lengan Sagara dan ia dudukkan di depan meja makan, “duduk,” titah Jeslyne yang d
Sagara dan Jeslyne sampai di vila penginapan mereka, keduanya berjalan sembari tertawa mengingat kejadian lucu dan menyenangkan di pantai tadi. Sagara tidak melepas dekapannya dari Jeslyne, mengingat banyak yang melirik istrinya kagum. Sagara menatap tajam siapa saja yang berani menatap sang istri, karena hatinya langsung panas dengan api cemburunya. Ceklek Jeslyne langsung masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Sagara duduk di ruang tamu vila sembari menerima telepon dari sahabatnya. Sagara yang sudah selesai menerima teleponnya beranjak dari kursinya, ia masuk ke dalam kamar, namun kamar masih kosong, menandakan jika Jeslyne belum selesai dengan mandinya. Sagara berjalan pelan mendekati pintu kamar mandi, dengan pelan ia menekan handle pintu kamar mandinya. Sagara tersenyum riang seperti mendapat jackpot, karena pintu kamar mandi terbuka tanpa di kunci oleh Jeslyne. Tanpa pikir panjang, Sagara langsung masuk dengan mengendap-endap. Sagara tersenyum miring melihat
Ceklek Sagara masuk membawa nampan berisi makanan, Jeslyne yang masih merasakan sakit di bawahnya menjadi cemberut karena dirinya tidak jadi pergi jalan-jalan. Jeslyne yang teringin sarapan pagi dengan di temani pemandangan indah jadi mengurungkan niatnya, karena masih merasakan nyeri di bawahnya bahkan sampai ia kesulitan untuk berjalan. “Sayang, jangan cemberut gitu dong,” ucap Sagara sembari mengelus pipinya. “Padahal kan aku pengen jalan-jalan,” rengek Jeslyne membuat Sagara gemas. “Iya, nanti kalau udah gak sakit aku janji bakal ajak kamu jalan-jalan ke manapun kamu mau,” bujuk Sagara membuat Jeslyne akhirnya tersenyum senang. “Awas kalau bohong.“ Sagara terkekeh gemas melihat wajah sang istri, “udah, makan dulu,” Sagara dan Jeslyne menyantap makanannya dalam hening. Setelah selesai makan, Sagara tidak membiarkan Jeslyne beranjak dari tempat duduknya. Sagara langsung membereskan bekas makanannya. Sagara kembali dengan membawa kantong plasti
'Warning 21+ “Terimakasih, Sayang,” ucap Sagara di sela ciumannya. Sagara masih menjamah tubuh sang istri dengam ciuman-ciuman panasnya. Jeslyne yang sudah di buat panas akan sentuhan Sagara hanya bisa melenguh dengan mata tertutup, Jeslyne bahkan sudah tidak bisa lagi menolak, karena merasakan sensasi yang tidak pernah ia rasakan. Decapan dari ciuman keduanya menggema di suasana malam yang hening dan dingin ini. Tangan Sagara tidak tinggal diam, tangannya ia gunakan untuk meremat buah dada Jeslyne. Sagara masih asyik melumat bibir ranum sang istri, melesakkan lebih dalam ke rongga mulut Jeslyne. Puas bermain di bukit kembar Jeslyne, Sagara kembali memainkan tangannya di perut Jeslyne, mengusapnya pelan, membiarkan Jeslyne yang menggelinjang menikmati sentuhan yang ia berikan. Saat Jeslyne merasa semakin panas dengan permainan, Sagara kembali memainkan barang yang belum pernah ia sentuh. Tangannya dengan berani memasukkan
Setelah selesai dengan acara makannya, Sagara dan Jeslyne kini kembali ke Vila yang mereka tempati saat ini. Jeslyne masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Sagara memilih membersihkan diri di kamar mandi luar. Sagara masuk ke dalam kamarnya setelah selesai membersihkan tubuhnya. Namun ketika masuk, Sagara mengerutkan keningnya pasalnya ia melihat Jeslyne tengah mengacak-acak kopernya. “Kamu cari apa, Sayang, kok belum ganti baju?“ Tanya Sagara menghampiri Jeslyne yang masih memilah-milah bajunya yang masih di koper. “Ini, aku perasaan masukin baju tidur piyama deh, tapi kenapa kok gak ada satupun piyama tidur aku ya di koper. Malah yang ada baju-baju kurang bahan semua kayak gini sih,” heran Jeslyne, padahal ia ingat jelas bahwa dia memasukkan baju-baju piyama untuk dirinya tidur, tapi setelah membongkar bajunya justru tidak ada satupun baju piyamanya di dalam koper. "Kamu yakin gak lupa?" Tanya Sag
Terik siang memancarkan sinar matahari yang begitu cerah, jalanan nampak ramai di padati pengguna jalan yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Sama seperti halnya dengan perjalanan Sagara dan Jeslyne, saat ini keduanya sedang melakukan perjalanan menuju bandara. Seperti pada umumnya, suasana jalan sekarang sedikit macet, karena menunjukkan jam istirahat para pekerja kantoran. Satu jam perjalanan, dengan menghadapi macet jalanan yang cukup padat, Sagara dan Jeslyne akhirnya sampai di bandara. Sang sopir dengan sigap membukakan pintu mobilnya, dan setelah itu melangkah ke belakang untuk menurunkan koper majikan mudanya. “Terimakasih ya, Pak! Ini buat beli makan siang, Pak Ujang, nanti,” ucap Jeslyne dan memberikan selembar uang biru kepada sopirnya. “Aduh, Non, Gak usah repot-repot atuh, ini kan udah tugas, Pak Ujang,” tolak Pak Ujang tidak enak dengan majikannya. “Gak pa-pa, Pak Ujang, terima aja. Kalau gitu kita masuk dulu ya, Pak Ujang,” sahut Sa







