LOGINDi pagi hari, suara bel apartemen yang berbunyi nyaring membuat Lovelle mengerang pelan di atas tempat tidur.Kelopak matanya masih terasa begitu berat. Ia pun tidak ingat pukul berapa dirinya baru tertidur semalam.Yang ia ingat hanyalah mata kelabu gelap, suara renda dan wajah Xavian yang terlalu mirip dengan seseorang yang seharusnya tidak mungkin ada di dunia ini.Suara bel kembali berbunyi, tapi Lovelle malah menarik selimut menutupi kepalanya.Namun beberapa detik kemudian, otaknya perlahan mulai bekerja.Bel? Siapa yang datang pagi-pagi begini?Dengan rambut yang berantakan dan wajah yang linglung karena masih mengantuk, Lovelle segera beranjak keluar kamar untuk membuka pintu depan apartemen.Dan di sana... Nathan sedang berdiri sambil membawa dua gelas kopi dan Lovelle hanya menatapnya dengan ekspresi kosong.Pria itu berkedip heran beberapa kali. "...Lovelle?"Nathan mengerutkan kening."Kamu... tidak bekerja hari ini?"Butuh waktu sekitar tiga detik hingga otak Lovelle akhi
Jantung Lovelle berdetak semakin keras.Sulit dipercaya.Pertanyaan itu... keluar dari bibir pria yang memiliki wajah yang sama persis dengan Xeyren. Bibir yang sama, mata yang sama, dan suara rendah yang sama.Namun entah kenapa, semuanya terasa berbeda.Untuk sesaat, pikirannya seperti ditarik jauh ke masa lalu. Ke sebuah ruangan yang diterangi cahaya lilin. Ke sepasang mata kelabu yang tidak pernah sedingin ini.Tatapan yang selalu berubah gelap setiap kali memandangnya, sorot yang pernah membuat seluruh tubuhnya gemetar.Ia teringat jemari kokoh yang menggenggam tangannya, pelukan hangat yang nyaris mencekik karena begitu erat, serta kecupan-kecupan lembut yang pernah mendarat di sekujur tubuhnya. Pria itu... Pria yang sama sekali tidak pandai mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, tetapi selalu menunjukkan segalanya melalui tindakan.Namun sekarang... mata yang sama itu justru memandangnya dengan rasa ingin tahu yang dingin...... seolah mereka benar-benar orang asing."Jad
Lovelle merasa seluruh darah di tubuhnya seolah mengalir ke wajahnya. Karena sekarang, bukan hanya Xavian yang menatapnya. Para pengawal yang berdiri di dekat pria itu ikut memandang ke arahnya. Beberapa karyawan yang sedang berjalan di lobi pun ikut berhenti dan memperhatikan mereka. Untuk sesaat, suasana menjadi canggung. Lovelle menelan ludah, lalu perlahan melangkah keluar dari balik pilar. "...Anda sedang berbicara denganku?" tanyanya ragu. Xavian sedikit menelengkan kepala sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tentu saja." Tatapan mata kelabu itu tetap tenang dan datar. "Ada hal penting mengenai pekerjaan yang ingin kudiskusikan denganmu." Lovelle sedikit mengernyit. "Sekarang?" "Ya. Sekarang." "Kalau memang tentang pekerjaan..." Lovelle mencoba tersenyum sopan. "Apa tidak bisa besok saat jam kerja?" "Tidak." Jawaban Xavian datang dengan cepat. "Aku perlu mendiskusikannya malam ini." Kali ini Lovelle terdiam, dan ia bisa merasakan tatap
"Aku penasaran," lanjut Xavian tenang. "Apakah model itu cukup kuat untuk dipertahankan jika aku mengganti seluruh variabel pasar yang Anda gunakan?" Jantung Lovelle kembali berdetak keras, karena kini ia sadar bahwa pria itu memang tidak menatapnya sebagai seseorang yang dikenalnya. Namun untuk alasan yang tidak ia pahami... Xavian Claine baru saja mengalihkan seluruh perhatian Lovelle kepadanya. Jam kerja hari itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Bahkan setelah presentasi selesai dan Daniel Carter mengucapkan kalimat penutup, Lovelle masih belum sepenuhnya kembali ke kenyataan. "Presentasi yang sangat baik, Nona White." Salah satu eksekutif mengangguk puas. Daniel tersenyum lega dan segera menjawab, "Terima kasih. Sebagian besar analisis ini memang disusun oleh Lovelle." Lovelle hanya mengangguk kecil secara refleks, namun pikirannya masih tertinggal di ujung meja rapat... pada pria yang duduk di sana. Xavian Claine. Atau... Xeyren. Ketika Daniel memberi isya
Lovelle bahkan tidak menyadari jika sejak tadi ia sedang menahan napasnya. Beberapa detik yang lalu, dunia masih terasa normal. Lalu sekarang... Xeyren Crow sedang berada di ruangan yang sama dengannya. Tidak. Bukan Xeyren. Nama pria itu adalah Xavian Claine. Pemilik C-Works Industries. Pemimpin perusahaan raksasa yang baru saja mengakuisisi tempatnya bekerja. Seorang pebisnis. Seorang CEO. Seorang manusia nyata yang seharusnya tidak memiliki hubungan apa pun dengan dunia yang pernah ditinggalkan Lovelle. Namun semakin lama ia memandang pria itu, semakin sulit baginya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Xeyren dan Xavian terlalu mirip... Bukan hanya wajah, tapi juga bola mata, ukiran tattoo di kulitnya, bahkan cara pria itu duduk dengan postur yang tegak dan tenang. Mereka berdua sama-sama memiliki aura dominan yang secara alami membuat seluruh ruangan fokus mengelilinginya. Lovelle pun mengepalkan kedua tangannya, berusaha mengendalikan jantungnya yang terus berd
Lovelle baru mengangkat wajahnya ketika pintu lift telah tertutup sepenuhnya, memantulkan bayangan dirinya yang terlihat samar pada dinding logam yang mengkilap. Untuk sesaat, ia hanya berdiri diam dengan ponsel yang masih berada di tangan. Setelah membaca pesan Nathan sekali lagi, jemarinya pun kini bergerak cepat di atas layar untuk mengetik jawaban. "Terima kasih. Semoga harimu juga menyenangkan." Singkat, namun cukup tulus untuk mewakili apa yang ingin ia sampaikan. Beberapa detik selanjutnya pesan itu pun terkirim, dan Lovelle pun memutuskan untuk menyimpan ponselnya kembali di saku. Ketika pintu lift terbuka beberapa menit kemudian, Lovelle pun segera melangkah keluar. Namun keningnya sontak mengernyit saat baru menyadari sesuatu yang tidak biasa. Lorong kantor di lantai ini tampak jauh lebih ramai daripada biasanya. Beberapa orang berdiri berkelompok sambil berbicara dengan suara pelan, sedangkan sebagian lain terlihat mondar-mandir dengan tablet atau laptop di tangan.
Di sisi lain kota... Lampu-lampu laboratorium milik Seraphine Houston masih menyala terang, meskipun waktu sudah melewati tengah malam. Ruangan itu dipenuhi layar holografik, deretan server, dan data yang terus bergerak tanpa henti. Seraphine berdiri di depan monitor utama dengan kedua tangan t
Namun seseorang sudah lebih dulu melangkah masuk dengan tenang.Seorang pria muda dengan rambut pirangnya yang sedikit basah terkena hujan, sementara mantel hitam panjang yang dikenakannya meneteskan air ke lantai marmer.Wajahnya tampan dan tenang.Lalu matanya… Mata emas pucat itu terlihat aneh,
Tubuh Lovelle pun tersentak pelan saat matanya terbuka.Napasnya masih terasa sedikit memburu, sementara bayangan samar dari mimpi barusan perlahan memudar dari kepalanya.Nathan.Nama itu masih terasa asing, namun anehnya juga familiar di saat bersamaan.Lovelle menatap kosong ke arah langit-langi
Bel istirahat baru saja berbunyi.Halaman sekolah dasar itu langsung dipenuhi oleh suara anak-anak yang berlarian ke sana kemari.Lovelle kecil tertawa sambil mengejar teman-temannya di dekat lapangan. Rambut gelapnya yang diikat kuncir kuda bergoyang mengikuti langkah kecilnya.“Ayo cepat! Yang ka







