MasukHari terus berganti. Tanpa terasa, Giska sudah menjalani pekerjaannya selama dua bulan. Selama itu pula, ratusan artikel berhasil ia terbitkan. Beberapa di antaranya bahkan sempat viral di media sosial, termasuk sebuah tulisan karya salah satu penulisnya yang mengangkat fenomena depresi di kalangan anak muda.Tingginya interaksi di media sosial membuat Ruang Cerita mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Salah satunya adalah YK Entertainment yang menaungi Narendra, seorang penyanyi yang sedang naik daun dan digemari pemuda-pemudi Nusantara. Saat ini, ia sedang mempersiapkan perilisan album terbarunya yang bertajuk Anxiety.Album tersebut bukan sekadar kumpulan lagu tentang kesedihan atau kegelisahan. Melalui karya itu, Narendra ingin mengangkat pengalaman seseorang ketika berhadapan dengan kecemasan, mulai dari tekanan untuk memenuhi ekspektasi orang lain, ketakutan akan masa depan, hingga perasaan tidak cukup baik yang kerap sulit diungkapkan. Ia berharap album tersebut dapat m
Malam harinya, Brian beberapa kali melirik Giska yang duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Nampaknya, perempuan itu sedang menyelesaikan pekerjaan, sesekali mengetik cepat sebelum berhenti untuk membaca ulang kalimat di monitornya. Sejak mereka tiba di rumah, Giska belum banyak bicara. Ia hanya sempat bertanya apakah Brian sudah makan, lalu kembali tenggelam dalam pekerjaannya.Brian sempat ingin bertanya apakah Giska membutuhkan bantuan. Namun, ia urung mengatakannya. Ia teringat bagaimana istrinya sering menyelesaikan banyak hal sendiri, bahkan ketika mereka masih menjalani hari-hari seperti pasangan pada umumnya.“Pekerjaanmu masih lama?” tanya Brian memecah keheningan di antara mereka.“Sebentar lagi,” jawab Giska tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Ada beberapa bagian yang perlu aku rapikan. Kenapa, Bri?”“Nggak, cuma nanya saja,” kata Brian kikuk. Kemudian, ia duduk di kursi seberang, membiarkan keheningan kembali mengisi ruang keluarga. Hanya suara dari papa
Brian mengalihkan pandangannya dari Giska, berusaha kembali berkonsentrasi pada buku yang sejak tadi terbuka di pangkuannya. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali melirik ke arah istrinya yang kini berdiri tidak jauh dari sofa. Perempuan itu berbicara dengan suara pelan, sesekali mengangguk sambil mendengarkan lawan bicaranya. Brian tidak bisa mendengar jelas percakapan tersebut, tetapi ia sempat menangkap nama Dion ketika Giska menyebut seseorang di ujung telepon.Laki-laki itu menunduk, memperhatikan halaman bukunya yang belum juga berpindah sejak beberapa menit lalu. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya ketika melihat perempuan itu tampak begitu santai menerima panggilan dari seorang laki-laki pada malam hari. Brian mencoba mengabaikannya, mengingat bahwa Giska memang memiliki rekan kerja yang mungkin perlu menghubunginya untuk urusan pekerjaan.Beberapa menit kemudian, istrinya itu kembali ke sofa. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengambil novel yang tadi diba
Aktivitas bersih-bersih itu berlangsung hingga sekitar pukul sebelas. Sarapan yang telah dimakan pagi tadi seolah terkonversi menjadi energi. Kini, perut mereka kembali terasa kosong.“Aku mau bikin mi instan, kamu mau juga, nggak, Bri?” tanya Giska sambil membuka rak yang berisi stok makanan cepat saji mereka.“Mau, aku yang kuah, ya.” Brian menjawab sambil mengistirahatkan punggungnya yang remuk di sofa ruang ruang tengah.Kurang dari sepuluh menit, aroma penyedap dari mi instan menguar di seluruh penjuru rumah. Perut keduanya makin keroncongan. Tanpa banyak bicara, mereka segera menyantap sajian yang disiapkan Giska itu.“Habis ini ngapain lagi, ya?” Giska menggumam setelah menyeruput kuah terakhirnya. “Mumpung energiku sudah kembali penuh.”Laki-laki di hadapannya nampak berpikir. Otaknya mencari beragam aktivitas yang sekiranya bisa mereka lakukan berdua. Setidaknya mereka bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama.Hingga akhirnya, setelah mereka mencuci piring masing-masing sec
Suara ketukan pintu kamarnya mengusik Minggu pagi Giska yang seharusnya lebih tenang. Ia membuka mata, lalu meraih ponsel di nakas. Belum pukul tujuh. "Kenapa?" tanyanya sambil bangkit dari tempat tidur.Giska berjalan gontai sambil menggaruk kepalanya yang sedikit gatal, membuat rambutnya nampak berantakan. Ia membuka pintu dan mendapati Brian berdiri di depannya dengan kaus putih dan celana pendek berwarna gelap. Tanpa bertanya, dahinya hanya mengerut heran."Mari kita beraktivitas." Brian mengatakannya dengan ceria.Giska langsung melirik jam yang ada di dinding kamar. "Masih pagi, astaga, Brian.""Memangnya kalau hari Minggu harus bermalas-malasan?"Perempuan itu mengangkat alis. "Tumben kamu yang ngomong begitu."Brian tertawa kecil. "Aku sudah bikin sarapan."Giska menatapnya beberapa saat, memastikan laki-laki itu tidak sedang bercanda. "Serius?""Serius. Aku habis bikin roti panggang dan sudah siapin buah potong.""Sebentar. Aku cuci muka dulu."Brian mengangguk, kemudian bera
Alih-alih menuju toko buku, Brian justru mengarahkan mobil ke sebuah pusat perbelanjaan yang cukup sering mereka kunjungi beberapa tahun lalu. Ia sengaja menuju tempat tersebut demi bisa berlama-lama bersama perempuan yang masih sangat dicintainya itu. Dengan anggapan, toko buku di pusat perbelanjaan butuh waktu tempuh lebih lama.Giska baru menyadarinya ketika mobil memasuki area parkir. "Katanya mau ke toko buku, kok malah ke sini?" tanya perempuan yang duduk manis di kursi penumpang itu dengan raut bingung."Memangnya di mal nggak ada toko buku?" Brian terkekeh pelan seolah menikmati kebingungan di wajah istrinya. Kemudian ia mematikan mesin mobil dan turun lebih dulu. Setelah memastikan istrinya sudah keluar, ia berjalan berdampingan dengannya menuju pintu masuk.Toko buku yang mereka datangi berada di lantai tiga. Tidak terlalu besar, tetapi memiliki koleksi novel dan buku nonfiksi yang cukup lengkap. Alat tulis hingga perlengkapan olahraga sampai naik gunung juga tersedia di tok







