เข้าสู่ระบบ“Sayang…” panggil Salsa lagi sambil mengelus wajah Indra.Indra menggeliat.“Sayang, kamu sudah bangun?” Indra malah panik melihat Salsa sudah duduk. Dia bersiap untuk memencet bel, namun Salsa menggeleng dan menahan tangannya.“Kamu sakit?” tanya Salsa serah menatap gelang yang dikenakan Indra.“Jangan pikirkan aku, aku baik-baik saja.”Salsa mengecup tangan Indra, kemudian dia menangis sejadi-jadinya. Hingga akhirnya Indra memeluk Salsa dengan erat. Dia tidak bisa melihat wajah Salsa yang bersimbah air mata seperti itu.“Maafkan atas kebodohanku. Mungkin kamu akan sulit percaya. Tapi, malam itu dia mengirimkan aku sebuah video, mobil kamu berhenti di pinggir jalan. Mobil itu bergoyang dan katanya di dalam kamu sedang bersama dengan orang wanita.”Salsa menjeda kalimatnya.“Dia berjanji akan memberikan video lanjutannya wajah kamu dan wanita itu. Juga memastikan keaslian video itu, tapi aku dijebak diberikan obat perangsang dan setelah itu, dia mengancamku ingin menyebarkan video itu
“Kak Indra, kamu membunuh kak Salsa?!” teriak Dira sambil memeluk Salsa.“Hah?”Indra terlihat bengong, sejak tadi dia tidak melakukan apapun kepada Salsa, sekarang tiba-tiba saja dia dituduh membunuh istrinya sendiri.Sekalipun dia marah dan sangat kecewa kepada Salsa, tidak pernah terbersit pun niat untuk menyakiti Salsa. Dia masih sangat mencintai istrinya itu.“Mas Hasan, siapkan mobil!” teriak Andira.“Iya, Sayang.”Seketika Indra seolah tersadar, dia berlari ke arah Dira dan mendapati Salsa sudah tidak sadarkan diri.“Sayang?” panggil Indra.“Kak Indra! Kita harus segera membawa Kak Salsa ke rumah sakit!” teriak Dira menepuk bahu Indra dengan keras agar sang kakak segera sadar.Indra mengangguk, tanpa pikir panjang dia menggendong Salsa turun ke bawah. Disana, Hasan sudah siap dengan mobilnya.Suasana rumah yang semula tenang kini berubah menjadi hiruk pikuk, Juna menjerit-jerit memanggil ibunya yang kini berada dalam gendongan sang ayah yang berlari menuju mobil.“Tolong jaga J
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Salsa terkejut saat mendengar Indra melarang menyentuhnya.Biasanya setiap kali sakit, Indra sangat manja. Bahkan tidak mau lepas dari pelukannya. Tapi, sekarang bahkan menyentuhnya saja tidak boleh.“Aku gapapa.”Indra melepaskan dasinya dengan kasar, tangannya gemetaran. Adegan demi adegan dalam video itu terbayang di kepalanya. Bagaimana Salsa menari dengan erotis diatas tubuh Leo.Tawa sinis Leo saat menatap kamera begitu jelas, seolah video itu benar-benar dibuat untuk dibagikan kepadanya.Jeritan suara desahan Salsa ketika mereka mencapai puncaknya bersama tidak bisa Indra lupakan.“Sayang, apa aku ada salah?” tanya Salsa.Indra menggeleng dan berlalu menuju kamar mandi.Salsa menatap punggung sang suami dengan heran, ini pertama kalinya Indra bersikap dingin dan mengabaikannya.Tiba-tiba saja Leo menelpon. Salsa tidak menjawabnya, Leo mengirimkan pesan kepadanya dan itu membuatnya rasa ingin mati saja.“[Bagaimana respon suamimu saat melihat video k
“Indra, kamu mau kemana?” tanya Aliman mencoba menahan Indra.Mata Indra memerah, tangannya terkepal bahkan terlihat buku-buku tangannya memutih saking marahnya. Bukan hanya itu saja, dia juga menahan tangis.Bukankah kalau lelaki menangis rasa sakitnya sudah luar biasa? Ada harga dirinya yang terkoyak.Bayangkan saja dia melihat rekaman istrinya yang sedang bercinta dengan pria lain. Dia tahu itu Salsa, istri yang sangat dicintainya.“Aku mau membunuh Leo, Pa,” jawab Indra lemah.“Bukan begini caranya. Jelaskan dulu apa yang terjadi. Kita semua disini tau kalau Leo memberikan terror kepadamu, tapi alasan apa yang paling membuat kamu ingin membunuhnya? Sedangkan yang mengirimkan terror itu bukan cuma Leo.”“Dia mengganggu Salsa,” jawab Indra dengan suara tercekat.Aliman menghela nafas berat. “Dia juga mengirimkan terror kepada Salsa? Bukankah Salsa adalah temannya? Teror apa yang dia berikan untuk Salsa?”Indra terduduk di meja kerjanya, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. L
“Kamu mau apa?” tanya Salsa ketika Indra ingin melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya.“Membukanya.”“Kan belum selesai, kamu belum keluar, Sayang.”“Biar kita bisa bermain bersama.”Salsa menggeleng, dia tidak ingin Indra membukanya. Dia masih ingin diikat seperti itu, dan membebaskan Indra melakukan apa saja pada tubuhnya.“Jadi, mau sampai selesai seperti ini?” tanya Indra sambil memainkan tangannya di dada sang istri.“Iya. Aku ingin setiap kali kita berhubungan, kita mempraktekkan gaya yang ada di buku kamu,” jawab Salsa.Indra tergelak. “Kamu ngapain sih ingat bukuku. Bukuku itu aneh.”“Gapapa. Aku lebih bangga sama kamu yang seorang penulis.”Indra menatap sang istri heran. Dia merasa Salsa semakin aneh saja, dia merindukan mereka yang dulu. Padahal sekarang hidup mereka seharusnya lebih bahagia, mereka juga berkecukupan.Kalau dulu, mereka hidup tidak mewah, hanya saja rasanya terlalu bebas. Salsa membuka klinik vitalitas pria, dan sebenarnya itu adalah lebih tepat disebut
“Aku hanya bertanya dan ingin tahu saja.”Salsa menunduk, membiarkan Indra menikmati wangi rambutnya yang bercampur dengan angin malam yang semakin menusuk kulit.Dia benar-benar galau, rasa bersalah terus menekan dadanya.Dia merasa telah menjadi seorang yang tidak pantas untuk Indra. Saat suaminya sedang menghadapi masalah teror dari orang lain, dia justru membuat kesalahan.Indra semakin yakin ada yang disembunyikan oleh sang istri. Dia membalikkan tubuh itu, sehingga kini mereka saling berhadapan.Tapi, Salsa menunduk. Menghindari tatapan dari sang suami.“Sayang, lihat aku,” ujar Indra membingkai wajah sang istri dengan kedua tangannya.Salsa tersenyum, pandangan mereka bertemu. Hanya saja, Salsa semakin tidak berani menatap Indra lebih lama.“Sayang, aku tidak suka berandai-andai sesuatu yang tidak baik. Kita telah melewati begitu banyak hal, seharusnya saat ini kita hanya tinggal menikmati waktu bahagia saja. Jangan buat hubungan kita menjadi canggung hanya karena pikiran seper







