เข้าสู่ระบบ“Kak, ayo kita pergi,” ajak Dira segera menarik lengan Indra, untuk menghindari konfrontasi lebih lanjut.Indra menggeleng. “Kakak cum mau tanya, ada masalah apa mereka sama kamu. Sampai nama kamu disebut sebagai contoh. Apa mau akreditasi jurusan ini di cabut?”Dosen yang tadi langsung memucat. “Maaf, Pak. Ini ada kesalahpahaman saja.”“Saya, sejak tadi berdiri disana. Dan saya mendengar semuanya,” jawab Indra.Iya, Indra memang sejak tadi menunggu Andira. Mereka akan segera ke restoran untuk makan bersama, acara selesainya Dira kuliah. Tapi, tadi Dira dipanggil diajak kumpul oleh teman-temannya untuk foto bersama dosen-dosennyaKarena sudah cukup lama menunggu dan Sandi mulai rewel, Indra menyusul Dira kesana, malah mendengar pesan bijak dari dosennya dan menjadikan Andira sebagai contoh.Semua orang tahu apa kesalahan Dira. Dia memiliki hubungan dengan dosennya sendiri. Dan tidak semua orang tahu kalau Dira hamil dari hubungan itu, yang mereka tahu hanya Gavin pergi saat hari perni
"Dira, kamu kok diam aja sih. Kita semua kan penasaran," sambung Rinda lagi.Dira tidak peduli dia tetap duduk di kursinya, bersiap untuk mengikuti acara wisuda. Memang tidak banyak lagi teman-teman seangkatan dengannya yang wisuda saat ini.Karena sudah banyak yang wisuda lebih dulu, dan mungkin kini sudah bekerja."Bayar berapa dapat suami sekaligus pengasuh?" tanya Rinda lagi.Sialnya, Rinda malah duduk di sebelah Dira."Rin, aku tidak ada keharusan berbicara denganmu. Kita tidak akrab, jadi urus saja urusanmu sendiri," jawab Dira."Aku penasaran sih sama anak Pak Gavin.""Itu bukan anak Gavin, jadi kamu tidak perlu penasaran.""Wow, benarkah?"Sejak dulu, semua orang sudah tahu kalau Rinda menyukai Gavin. Dia sering sekali berusaha menarik perhatian Gavin.Apalagi saat di kelas, Rinda akan sangat aktif bertanya bahkan kadang hal yang sudah tahu jawabannya. Tapi, sayangnya semua usahanya itu tidak membuahkan hasil. Gavin malah menyukai Andira.Dan ketika Gavin dan Andira semakin
“Oh sorry,” ucap Indra merasa tidak enak, apalagi saat itu Hasan menyaksikan adegan itu langsung.“Tidak apa-apa kok, Pak.”Indra hanya mengangguk, kembali menghisap rokoknya tanpa mempedulikan Puput lagi. Wanita itu tampak mengutak atik beberapa bagian pengaturan. Entah, Indra sendiri tidak paham.Yang pasti, Puput berkali-kali mencoba menggoda Indra.“Sudah selesai, Pak. Nanti kalau ada masalah lagi, bisa panggil saya saja, Pak,” ujar Puput setelah beberapa saat kemudian.“Oke. Apakah kamu karyawan baru?” tanya Indra kemudian.Puput mengangguk. “Iya, Pak. Saya baru sekitar dua bulan gabung disini.”“Siapa yang menyuruh kamu kesini?”“Pak Ronald.”“Oke.”Setelah Puput pergi meninggalkan tempat itu, Indra hanya menggelengkan kepalanya. Dan tersenyum ke arah Hasan.“Karyawan seperti ini yang bahaya, dia datang dengan menunjukkan tubuhnya yang seksi. Seharusnya, kita memiliki aturan berpakaian untuk semua karyawan terutama yang wanita. Jangan sampai yang seperti ini lolos lagi masuk ke
Plak!Sebuah tamparan mendarat dengan tegas dan jelas di wajah Gavin. Tangan besar itu meninggalkan bekas di wajahnya.“Sudah aku beri kau satu kali kesempatan hidup, mengapa kau sia-siakan? Berani sekali kau datang ke rumahku lagi!”Aliman sudah mencapai puncak emosinya.Dia akan diam kalau orang mengusiknya, akan dimaafkan dianggap angin lalu. Tapi, kalau orang sudah berani mengganggu istri, anak-anak dan cucunya, tunggu saja kehancurannya.Lihatlah, sekarang Tomy tidak mampu berkutik, mau tidak mau, suka tidak suka Tomy menjalani hukumannya setelah terbukti melakukan kejahatan kepada Seva.Sekarang, Gavin mencoba menunjukkan taringnya. Dan itu salah alamat, yang ada dia akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri. Dia pikir, karena Dira mencintainya dia akan mendapatkan Dira kembali dengan mudah.Ternyata, Dira telah menemukan orang yang lebih baik. Dan satu yang membuat Gavin penasaran, anak siapa yang Dira gending.“Pa…” panggil Gavin.“Jangan panggil aku begitu, aku bukan
“Kenapa kamu sudah bebas?” tanya Aliman.Aliman tahu, seharusnya Gavin masih dikurung di dalam penjara menerima hukuman akibat apa yang dia lakukan.Sebenarnya Gavin juga tampak terkejut melihat Andira menggendong anak. Dia tahu kapan Andira menikah, tapi dia ingin bertanya tentu saja takut.“Aku mendapat keringanan dan membayar,” jawab Gavin pelan.“Ini bukan rumahmu, untuk apa kau pulang kesini?”“Aku minta maaf dan ingin memulai semuanya dari awal. Aku tahu aku salah, tidak seharusnya aku meninggalkan Andira saat pernikahan. Aku sudah menyadari kesalahanku.”Sedangkan Dira hanya diam, sedikitpun dia tidak ingin melihat lagi wajah Gavin. Dan dia tidak akan pernah mengenalkan kepada Sandi siapa ayah kandungnya. Biarlah yang Sandi tahu kalau ayahnya adalah Hasan.“Mas Hasan, ayo ke kamar,” ujar Dira memanggil Hasan.Hasan bingung, dia menatap Indra dan Aliman bergantian. Dia sekarang tahu siapa lelaki itu, sudah pasti itu Gavin. Lelaki yang telah meninggalkan Dira dan membuat keluarg
“Kamu malu gak punya mertua kayak gitu?” tanya Salsa kepada Indra.Indra menggeleng. “Ngapain malu.”“Kamu berasal dari keluarga yang jelas asal usulnya. Memiliki seorang ayah dokter dan berpengaruh, sedangkan aku? Papa hanya terkenal sebagai orang jahat,” jawab Salsa.Indra meraih tangan Salsa dan mengecupnya lembut. “Kamu kayak gak tau bagaimana perjuanganku mencari orang tua.”“Tapi, sekarang sudah ketemu. Dan aku yang tidak ada habisnya, hilang bertahun-tahun tanpa gangguan. Dan saat Papa ada merasa bakal dapat keuntungan dariku, dia akan muncul lagi.”“Jangan dipikirkan.”Keduanya kembali ke rumah, untuk hari ini Indra masih akan beristirahat di rumah. Besok, dia baru akan kembali ke kantor dengan segala permasalahan yang menanti.“Loh, mana Juna? Dirawat?” tanya Dira khawatir saat melihat Juna tidak ikut pulang.“Dia mau sama kakeknya, dia baru lihat kalau Papa itu dokter,” jawab Indra.“Jadi, tadi Papa langsung yang periksa dia?”“Iya. Dan Juna baru tahu kalau kakeknya dokter,







