Short
Arsitek Kecantikan Para Dewi

Arsitek Kecantikan Para Dewi

Par:  ErhaComplété
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
9Chapitres
6Vues
Lire
Ajouter dans ma bibliothèque

Share:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Aku adalah sang penempa di balik para it-girl masa kini. Tugasku sederhana… Mengubah setiap gadis-gadis polos bagai kertas putih menjadi pribadi menawan yang mampu menaklukkan hati siapa pun. Dan langkah pertamanya akan kumulai sendiri, melalui sebuah prosedur bernama uji kecocokan tubuh. Saat duduk di hadapanku, tubuhnya bergetar karena sentuhanku. Namun, dengan kepolosan yang naif serta hasrat yang ada, dia mengikuti ritmeku… memperlihatkan dirinya sesuai apa yang kuinginkan. Aku tahu… aku telah menemukan seorang “murid spesial” yang terbaik.

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1

“Pak… Pak Ganu?” Suaranya pelan… dan bergetar.

Aku memperhatikannya…

Rambut hitam lurus yang terurai, kemeja putih bersih, serta celana jeans kasual.

Meski sederhana, pakaian itu tak mampu menyembunyikan lekuk tubuhya yang indah, yang kini sedikit bergetar karena gugup.

Kain kemeja putihnya yang sedikit menerawang membuat garis dan warna pakaian dalamnya tampak samar. Pandanganku sengaja berhenti sejenak di bagian dadanya yang tertutup rapi itu, lalu mengangguk puas.

'Meski disembunyikan rapat… ukurannya sepertinya cukup bagus,' ucapku dalam hati.

Mungkin karena tatapanku terlalu panas, dia menunduk malu, tangannya refleks terangkat menutupi dadanya.

Namun, mata yang dipenuhi rasa malu dan gugup itu tetap tak bisa menyembunyikan rasa penasaran dan kepolosannya. Begitu murni… seperti selembar kertas putih.

Dan justru karena itu, semakin membuat orang ingin menorehkan warna padanya.

Aku berjalan mendekatinya. Aku tak duduk, hanya berdiri tepat di hadapannya. Bayanganku jatuh menutupi dirinya, membuatnya refleks mundur sedikit, tapi matanya tetap tak berpaling.

Aku pun mengulurkan tangan, mengangkat dagunya perlahan.

“Semua hal penting soal pelatihan ini harusnya sudah disampaikan, ‘kan? Sekarang, aku cuma tekankan satu hal. Kalau nggak sanggup melakukannya… tinggalkan tempat ini sekarang juga.”

Aku menurunkan suara, mataku menatapnya erat.

“Begitu dimulai, kamu harus mematuhi semua permintaanku tanpa syarat. Apa pun bentuk sentuhan, perintah atau hal pribadi lainnya, kamu harus menerimanya tanpa menolak. Toh, hanya orang yang nurut yang akan berhasil, bukan begitu?”

“Aku mengerti.”

Suaranya tiba-tiba menjadi stabil.

“Silakan… kembangkan aku tanpa ragu sedikit pun.”

Aku tersenyum.

Bagus.

Sungguh “murid yang baik”.

“Kalau begitu, sekarang kita mulai sesi eksplorasi mendalam pertama.”

Aku mencondongkan tubuh ke arahnya, satu tangan bertumpu pada sandaran sofa di belakangnya, membuatnya terkurung dalam ruang sempit.

“Pejamkan mata, ikuti instruksiku.”

Dia memejamkan mata, dadanya bergerak perlahan.

Aku bisa merasakan getaran halus dari tubuhnya. Antara gugup atau perasaan bersemangat yang tidak bisa dia kendalikan.

“Sekarang, buka kancing pertama bajumu. Tanpa arahanku selanjutnya, jangan ada gerakan lain apa pun,” ucapku.

Napasnya terhenti sesaat.

Aku menatapnya dalam diam, tapi jelas tak memberi ruang untuk penolakan.

Beberapa saat kemudian, tangannya yang gemetar terulur, lalu perlahan membuka kancing pertamanya.

“Bagus. Sekarang kancing ke dua.”

Dia patuh melakukan sesuai intruksi.

Begitu ucapanku keluar, satu per satu kancing itu dilepaskannya dengan tangannya sendiri. Tubuhnya tampak semakin tegang, jemarinya menarik ujung pakaiannya dengan gelisah. Napasnya bergetar, pipinya memerah.

Tubuh yang semula tertutup pakaian perlahan tersingkap, meski hanya melalui celah kecil. Kulit di balik kain itu memerah samar, bergetar halus karena malu dan gugup.

Saat kerah terbuka hingga melewati batas dada, aku pun bersuara.

“Berhenti,” ucapku.

Tangannya terhenti di kancing berikutnya.

Aku mengulurkan tangan, menyentuh lembut pipinya.

“Selanjutnya, kamu nggak boleh menolak sentuhanku. Dan ketika aku bertanya, kamu harus jawab jujur bagaimana perasaanmu.”

Sentuhanku membuat tubuhnya bergetar. Dia menggigit bibir, lalu mengangguk.

Tanganku mulai menjelajah, membelai lembut garis pipinya menuju bibir. Dia membuka mulutnya tanpa sadar. Saat itulah jari-jemariku merasakan sensasi bibir bawahnya yang basah akibat gigitan kecilnya sendiri, bersentuhan langsung dengan ujung lidahnya yang panas, basah dan lembut.

Suara desahan keluar dari celah bibirnya, seolah dia sendiri terkejut dengan reaksi tubuhnya yang tak terkendali. Sementara itu, aku terus melanjutkan eksplorasi yang lebih mendalam.

Jari-jemariku merayap ke bawah, membelai lembut dagu, leher, hingga lekuk selangkanya. Mataku terpaku pada setiap inci kulitnya yang terekspos, aku mengatur ritme dan tekanan sentuhanku dengan penuh perhitungan.

Saat tekanan sentuhanku ringan, dia meliukkan pinggang secara naluriah. Namun, ketika aku menambah intensitasnya, suara desahan pelan pun keluar dari bibirnya, mengiringi setiap gerakanku pada tubuhnya.

Bercak kemerahan mulai menghiasi kulitnya yang terekspos, menjalar perlahan hingga mencapai batas bra berwarna kulit yang membungkus dadanya. Saat itu, aku menyadari tubuhnya kini bergetar jauh lebih hebat.

“Bagaimana rasanya?” tanyaku.

Tubuhnya tersentak.

“Sangat… sangat aneh…”

“Kamu terganggu? Atau membencinya?”

Dia menggeleng.

“Nyaman.”

Tanganku menyusup ke balik kerah bajunya yang terbuka, mulai membelai puncaknya yang bulat dengan gerakan memutar. Sepasang kelembutan yang putih dan kenyal itu kini pasrah dalam remasanku, membuatnya mendongak pasrah. Dia berusaha keras menahan rasa nikmat yang asing dan tertahankan, sambil mengatupkan bibir demi meredam suara desahannya.

“Pak…”

Kata-katanya seketika berubah menjadi desahan erotis saat jemariku menyentuh puncaknya yang menegang di balik kain bra. Matanya yang semula terpejam kini terbuka paksa, memperlihatkan sorot mata yang lembap dan bergetar, membuatnya tampak rapuh dan tak berdaya.

Sentuhanku semakin menjadi. Melalui lapisan kain itu, aku mulai menambah tekanan remasanku pada puncaknya.

Dia melengkungkan tubuhnya pasrah merasakan sensasi itu. Kakinya pun berusaha merapat hendak meredam gejolak. Namun, posisiku yang berdiri tepat di antara kedua kakinya membuat gerakannya justru menjepit kakiku dengan erat. Aku melangkah maju, lututku sengaja menyentuh pusat sensitivitasnya yang terbungkus celana. Benar saja, aku bisa merasakan sensasi basah yang merembes di sana.

Di tengah suara napasnya yang gemetar, aku tiba-tiba menyentak turun satu sisi cup bra yang dia kenakan hingga ke bawah dadanya, membebaskan satu sisi kelembutan yang selama ini terbelenggu.

Dia berteriak kaget.

Jari-jariku menekan puncaknya, lalu dengan satu sentakan kuat, aku menariknya.

“Mendesah!”

Tarikanku memaksanya untuk membusungkan dada, membuat air mata yang sempat tertahan kini mengalir.

Aku pun melepaskan genggamanku, membiarkannya terkulai lemas di sofa dengan kaki yang kini terbuka pasrah. Tubuhnya bergetar hebat dengan napas yang memburu, sementara kulitnya yang terekspos merona merah, meninggalkan pemandangan menggoda dari sosok yang baru saja kukuasai sepenuhnya.

Puncak yang baru saja kusentuh itu kini tersembunyi di balik kemeja putihnya, membentuk siluet nyata dan menggoda, puncaknya tegak dan keras.

“Cukup untuk hari ini,” ucapku dingin sembari bangkit berdiri.

Dia membuka mata dengan tatapan yang basah dan sayu, tampak sedikit linglung.

“Respon yang bagus.”

Aku lalu mundur selangkah, melihatnya terburu-buru merapikan kancing bajunya.

“Ingat baik-baik sensasi ini, lalu rapikan dirimu.”

Telinganya memerah padam, tangannya sibuk merapikan kemeja.

Aku tahu, benih itu kini telah tertanam.

Karena itu, aku melanjutkan instruksiku.

“Enam hari lagi kita akan bertemu. Gunakan waktu itu untuk menyiapkan diri sebaik mungkin.”

“Aku menantikan kemajuanmu.”

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Latest chapter

Plus de chapitres

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
9
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status