Home / Romansa / Kontrak 2M Sang Mantan / 14. Saingan yang berat

Share

14. Saingan yang berat

Author: Sha Quenna
last update Petsa ng paglalathala: 2024-11-02 16:24:08

Zira memasang earphone di telinga, memutar musik lewat ponselnya. Ia Menoleh sekilas ke arah Aidan. Sambil mengangkat alis, ia berkata, "ngomong apa?"

Aidan menghela napas, merasa sia-sia telah menyatakan keinginannya. Ia hanya bisa menggeleng lalu berkata, "ah, bukan apa-apa."

Zira mengangkat bahu, lalu membaca naskah film yang diberikan oleh Cita tadi siang. Sedangkan Aidan membuka ponsel, bermain game sambil menemani Zira.

Setelah membaca beberapa lembar, Zira mengernyit sambil berpikir. Ia
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kontrak 2M Sang Mantan   37. Soraya

    Soraya melempar naskah ke atas meja rias begitu adegan terakhirnya selesai direkam.Ia sudah berusaha bersikap profesional sejak pagi. Menghafal dialog, mengikuti arahan sutradara, bahkan tersenyum setiap kali kamera berhenti merekam. Namun, semakin hari, semakin sulit baginya mengabaikan satu hal: hampir semua orang di lokasi syuting seolah memiliki alasan untuk membicarakan Zira.Aidan selalu memperhatikan perempuan itu. Braga terang-terangan menunjukkan ketertarikannya. Bahkan kru yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing kini sering memuji kemampuan Zira.Dan Soraya?Ia hanya diminta bersabar, menyesuaikan diri, serta menerima perubahan adegan yang terkadang membuat perannya terasa semakin kecil.“Lucu sekali,” gumamnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. “Perempuan itu datang belakangan, tapi semua orang bertingkah seolah dia pusat dunia.”Ponselnya bergetar.Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah ia hubungi beberapa hari lalu—kontak yang membantunya mencari infor

  • Kontrak 2M Sang Mantan   36. Ada apa dengan Lala?

    Lala menatap layar ponsel untuk ketiga kalinya dalam lima menit. Ia mengembuskan napas kesal, lalu meletakkan ponsel di atas meja rias. Seharusnya malam ini ia bisa menikmati pesta tanpa memikirkan pekerjaan, tetapi bayangan percakapannya dengan Genji di tepi pantai terus mengganggu pikirannya.Pria itu benar-benar menyebalkan. Tidak punya sopan santun. Tidak tahu cara berbicara kepada perempuan. Dan yang paling menyebalkan, selalu punya jawaban untuk setiap perkataannya. Namun, ada satu hal yang lebih mengganggu Lala. Genji tidak pernah terlihat terkesan oleh statusnya sebagai aktris. Di depan orang lain, Lala terbiasa menerima pujian. Cantik, anggun, lembut, seperti peri yang turun dari langit. Bahkan beberapa penggemarnya menjulukinya peri tak bersayap. Genji justru menyebutnya peri yang kehilangan akal sehat.Menyebalkan!Lala meraih bantal kecil di sofa dan memeluknya erat.“Semoga kamu tersedak bakso!” gerutunya.“Siapa yang mau kamu racuni dengan bakso?”Lala nyaris menjatuhkan

  • Kontrak 2M Sang Mantan   Masih Di sini

    Zira berdiri di atas balkon, agak jauh dari keramaian.Suara musik dari pesta terdengar samar dari dalam ruangan. Sesekali terdengar tawa para tamu yang bercampur dengan suara gelas beradu. Namun, perhatiannya tertuju pada sosok pria yang sedang bercengkerama bersama Joseph, Paus, dan Ipul. "Aidan memang mempesona. Kalau aku wanita, akupun akan menyukainya."Zira menoleh dengan ekspresi takpercaya. "Pantas saja kamu selalu membelanya."Remi tertawa mendengar kelakar adik sepupunya itu. Namun, tidak lama wajahnya tampak serius.“Zizi, aku sebenarnya mau ngomong sesuatu dari tadi.”“Tumben serius. Biasanya kalau kamu mau ngomong, pasti ada korban yang kamu jadikan bahan lelucon.”“Sayangnya, kali ini korbannya aku sendiri.”Zira mengernyit. “Maksudnya?”Remi menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Sepuluh tahun lalu, aku sengaja mengajakmu datang ke rumah Aidan.”Senyum Zira perlahan menghilang.“Kamu sengaja?”Remi mengangguk.“Waktu itu aku tahu Aidan menyukaimu. Aku pikir k

  • Kontrak 2M Sang Mantan   34. Rekonsiliasi

    Taman belakang hotel jauh lebih tenang dibandingkan area utama. Suara musik dari pesta hanya terdengar samar. Lampu-lampu kecil yang menggantung di antara pepohonan membuat suasana malam terasa hangat.Aidan berdiri di dekat pagar kayu sambil memandang kolam. Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar.“Dan.”Aidan menoleh.Remi berjalan mendekat.“Sendirian?”“Iya.”Remi berdiri di sampingnya. “Dari dulu kalau lagi banyak pikiran, kamu memang suka menghilang.”Aidan tersenyum tipis. “Masih ingat?”“Gimana mau lupa?” Remi tertawa kecil.Namun tawa itu perlahan menghilang. Mereka sama-sama tahu ada sesuatu yang belum selesai.“Gila,” ujar Remi akhirnya. “Sepuluh tahun.”Aidan mengangguk. “Lama.”“Banget.”Remi memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Aku dulu sering mikir... aku salah apa?”Aidan menoleh.“Waktu kamu tiba-tiba menjauh, aku pikir mungkin aku pernah melakukan sesuatu.”Remi tertawa hambar.“Aku bahkan sempat mengingat-ingat semua kesalahan yang pernah kulaku

  • Kontrak 2M Sang Mantan   33. Reuni

    Mobil memasuki kawasan Four Seasons Ubud ketika langit mulai gelap. Dari kejauhan, hotel itu terlihat seperti istana yang tersembunyi di antara pepohonan hijau. Lampu-lampu keemasan menyala di sepanjang jalan masuk, memantulkan cahaya lembut di permukaan kolam dan taman.Malam ini seharusnya menjadi malam yang menyenangkan. Pembukaan hotel Paus. Tempat berkumpulnya teman-teman lama. Kesempatan untuk tertawa setelah perjalanan panjang.Namun sejak tadi Aidan justru lebih banyak diam. Tangannya masih berada di setir, sementara pikirannya kembali pada percakapan mereka di perjalanan.Tentang Eden. Tentang masa lalu. Tentang kesalahannya sendiri.Ia masih ingat bagaimana rasanya sepuluh tahun lalu.Hanya satu pelukan antara Zira dan Remi cukup untuk menyalakan kecemburuan yang tidak bisa ia kendalikan. Ia melihat kedekatan mereka. Ia melihat cara Remi memperlakukan Zira. Dan bukannya bertanya, Aidan memilih menyimpulkan sendiri.Ia meragukan sahabat dan wanita yang dicintainya. Bahkan ket

  • Kontrak 2M Sang Mantan   32. Antara Remi dan Aidan

    Genji terkejut dengan pengakuan Lala, tapi dia memilih diam tidak berkomentar apapun lagi. Bahkan tiba-tiba dia merasa menyesal telah ikut campur urusan gadis itu. Mereka menyusuri jalan menuju pantai dalam kesunyian meskipun jalanan masih ramai dengan wisatawan. *** Cahaya mentari menerobos lembut dari celah jendela kamar Zira. Entah sudah berapa kali bunyi alarm, perempuan itu enggan untuk mematikan. Bersyukur kamar hotel kedap suara, tidak akan ada yang mengirim surat keluhan atas tindakannya. "Eden, Mama merindukanmu." Setetes air mata perlahan turun ke pipinya. Suara alarm seolah menjadi musik atas kesedihan yang kembali menyeruak. Zira membuka liontin yang selalu menghiasi leher cantiknya. Ia pandangi wajah bayi mungil yang masih berwarna merah. Di antara air mata, senyum masih sempat terukir kala wajah Eden tampak indah karena kilauan cahaya matahari. Ia benar-benar menikmati waktu berdua dengan sang anak, meski hanya dalam sebentuk gambar. Perempuan itu bahkan tidak sada

  • Kontrak 2M Sang Mantan   6. Selalu Ada Alasan Bersamamu

    Zira tersenyum lebar ketika tiba di taman parkour. "Wow!" Matanya berbinar-binar melihat beberapa orang melompat dan berlari dari satu rintangan ke rintangan lainnya, tubuh mereka seolah melayang di udara."Look!" David menunjuk satu rintangan di mana ada sebuah bangunan yang lebih tinggi dibanding

  • Kontrak 2M Sang Mantan   5. Kembali ke Titik Awal

    Hari pembacaan naskah tiba. Zira berjalan penuh percaya diri dalam balutan jeans dan kemeja santai menuju Best Entertainment, perusahaan media milik Braga. Ketika sampai di lobby, ia bertemu dengan Jerry yang baru keluar dari lift."Zizi, pagi sekali datangnya," sapa Jerry sopan.Zira mengangkat al

  • Kontrak 2M Sang Mantan   4. Kencan?

    Zira duduk terpaku, menatap Aidan yang kini sangat dekat. Bahkan, aroma khas tubuh pria itu menyeruak hingga ke inderanya. Jantung Zira bertabuhan seperti genderang yang memukul-mukul di dalam dada. Ia menyilangkan kedua tangan menutup dada saat Aidan mendekatkan wajahnya."Kamu mau apa?" tanya Zir

  • Kontrak 2M Sang Mantan   3. Benarkah jantungku berdetak lebih kencang karenamu?

    Setelah rapat, Zira berpamitan dengan Braga dan yang lainnya. Ia berjalan ke lobby sambil memesan taksi online. "Jam padat seperti ini susah untuk memesan taksi, bareng denganku saja."Zira menoleh ke sumber suara yang sangat ia hafal. "Tidak, terima kasih," ucapnya ketus lalu kembali mencoba meme

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status