Teilen

34. Rekonsiliasi

last update Veröffentlichungsdatum: 07.10.2026 21:23:10

Taman belakang hotel jauh lebih tenang dibandingkan area utama. Suara musik dari pesta hanya terdengar samar. Lampu-lampu kecil yang menggantung di antara pepohonan membuat suasana malam terasa hangat.

Aidan berdiri di dekat pagar kayu sambil memandang kolam. Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar.

“Dan.”

Aidan menoleh.

Remi berjalan mendekat.

“Sendirian?”

“Iya.”

Remi berdiri di sampingnya. “Dari dulu kalau lagi banyak pikiran, kamu memang suka menghilang.”

Aidan tersenyum tipis.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Kontrak 2M Sang Mantan   34. Rekonsiliasi

    Taman belakang hotel jauh lebih tenang dibandingkan area utama. Suara musik dari pesta hanya terdengar samar. Lampu-lampu kecil yang menggantung di antara pepohonan membuat suasana malam terasa hangat.Aidan berdiri di dekat pagar kayu sambil memandang kolam. Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar.“Dan.”Aidan menoleh.Remi berjalan mendekat.“Sendirian?”“Iya.”Remi berdiri di sampingnya. “Dari dulu kalau lagi banyak pikiran, kamu memang suka menghilang.”Aidan tersenyum tipis. “Masih ingat?”“Gimana mau lupa?” Remi tertawa kecil.Namun tawa itu perlahan menghilang. Mereka sama-sama tahu ada sesuatu yang belum selesai.“Gila,” ujar Remi akhirnya. “Sepuluh tahun.”Aidan mengangguk. “Lama.”“Banget.”Remi memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Aku dulu sering mikir... aku salah apa?”Aidan menoleh.“Waktu kamu tiba-tiba menjauh, aku pikir mungkin aku pernah melakukan sesuatu.”Remi tertawa hambar.“Aku bahkan sempat mengingat-ingat semua kesalahan yang pernah kulaku

  • Kontrak 2M Sang Mantan   33. Reuni

    Mobil memasuki kawasan Four Seasons Ubud ketika langit mulai gelap. Dari kejauhan, hotel itu terlihat seperti istana yang tersembunyi di antara pepohonan hijau. Lampu-lampu keemasan menyala di sepanjang jalan masuk, memantulkan cahaya lembut di permukaan kolam dan taman.Malam ini seharusnya menjadi malam yang menyenangkan. Pembukaan hotel Paus. Tempat berkumpulnya teman-teman lama. Kesempatan untuk tertawa setelah perjalanan panjang.Namun sejak tadi Aidan justru lebih banyak diam. Tangannya masih berada di setir, sementara pikirannya kembali pada percakapan mereka di perjalanan.Tentang Eden. Tentang masa lalu. Tentang kesalahannya sendiri.Ia masih ingat bagaimana rasanya sepuluh tahun lalu.Hanya satu pelukan antara Zira dan Remi cukup untuk menyalakan kecemburuan yang tidak bisa ia kendalikan. Ia melihat kedekatan mereka. Ia melihat cara Remi memperlakukan Zira. Dan bukannya bertanya, Aidan memilih menyimpulkan sendiri.Ia meragukan sahabat dan wanita yang dicintainya. Bahkan ket

  • Kontrak 2M Sang Mantan   32. Antara Remi dan Aidan

    Genji terkejut dengan pengakuan Lala, tapi dia memilih diam tidak berkomentar apapun lagi. Bahkan tiba-tiba dia merasa menyesal telah ikut campur urusan gadis itu. Mereka menyusuri jalan menuju pantai dalam kesunyian meskipun jalanan masih ramai dengan wisatawan. *** Cahaya mentari menerobos lembut dari celah jendela kamar Zira. Entah sudah berapa kali bunyi alarm, perempuan itu enggan untuk mematikan. Bersyukur kamar hotel kedap suara, tidak akan ada yang mengirim surat keluhan atas tindakannya. "Eden, Mama merindukanmu." Setetes air mata perlahan turun ke pipinya. Suara alarm seolah menjadi musik atas kesedihan yang kembali menyeruak. Zira membuka liontin yang selalu menghiasi leher cantiknya. Ia pandangi wajah bayi mungil yang masih berwarna merah. Di antara air mata, senyum masih sempat terukir kala wajah Eden tampak indah karena kilauan cahaya matahari. Ia benar-benar menikmati waktu berdua dengan sang anak, meski hanya dalam sebentuk gambar. Perempuan itu bahkan tidak sada

  • Kontrak 2M Sang Mantan   31. Bagaimana jika mereka bertemu?

    Zira menghela napas panjang, merebahkan tubuhnya di atas ranjang queen size. Sambil memandang langit kamar, ia pun berpikir akan pertanyaan Remi.Ia sadar betul kalau pria itu akan senang mengetahui jika hubungannya dengan Aidan sudah mulai membaik. Namun, bagaimana jika kedua pria itu bertemu? Akankah tetap baik-baik saja?Letih yang menyergap perlahan mengalihkan beban pikiran wanita itu. Matanya semakin redup dan mimpi pun datang menyambut.Dalam tidurnya, ia melihat seorang anak kecil tersenyum padanya. Ia pun menghampiri anak tersebut, tapi ketika tangannya hendak meraih pundak si anak kecil, tiba-tiba senyum itu menghilang bersamaan dengan fakta ia hanya sendirian di taman bunga itu.Tanpa sadar, air mata menetes dari sudut matanya. Ia merasakan luka dan perih yang teramat sangat. Saat itulah, matanya kembali terbuka. Zira menangis sendirian dalam kamar. Terakhir kali ia memimpikan anak kecil itu 2 tahun lalu, dan sekarang mimpi itu kembali hadir."Eden," gumamnya penuh kesedih

  • Kontrak 2M Sang Mantan   30. Akan ada kejutan?

    Sudah 3 minggu, Zira beserta tim film melakukan syuting di Surabaya. Hari ini mereka akan pindah lokasi ke Bali. Rombongan kru film memilih menggunakan bus dan kapal penyeberangan, sedangkan para artis ada yang memilih naik pesawat. Zira sendiri memilih naik kapal bersama kru, meskipun harus berlama-lama duduk di mobil saat menuju pelabuhan Ketapang. Ia ingin merasakan semilir angin laut.Zira berjalan perlahan menaiki tangga menuju bagian atas kapal. Ia tersenyum tipis saat tiba di anak tangga terakhir. Dilihatnya Aidan sedang berdiri di salah satu sisi kapal sambil memejamkan mata. Ia pun perlahan mendekati pria tersebut."Tidak istirahat?"Zira terkejut lalu terkekeh pelan, "bagaimana kamu tahu?"Aidan membuka mata, menoleh dengan senyum lembut. "Aku hafal aromamu," ucapnya menggoda."Sekarang, kamu pandai menggoda orang ya."Sang sutradara tersenyum, merapikan anak rambut wanitanya yang terurai. Menatap mata Zira dengan penuh kasih sayang. Rasa rindu yang mendalam, suasana yang me

  • Kontrak 2M Sang Mantan   29. Kehebohan di tempat syuting

    Suara baku hantam di gedung tua membahana, menciptakan suasana yang mencekam di tengah malam. Dengan napas terengah-engahnya, seorang perempuan berlari menghindar dari kejaran anak buah Demon. Desingan peluru menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah sumber suara. Di bawah sana, seorang pria muda tergeletak bersimbah darah. Wajah perempuan itu mendadak pucat pasi. Teman klubnya bernasib naas di tangan Demon.Setitik air mata menetes dari sudut matanya. Apakah pria itu yang akan menjadi saudara iparnya kelak? Tidak. Ia harus menyelamatkan Reina. Tangannya mengepal kuat, dengan kecepatan penuh ia kembali berlari hingga suara sang sutradara menghentikan aksinya."Cut!"Aidan tersenyum puas melihat akting Zira dan juga para stuntman. "Kerja bagus semua. Kita istirahat 15 menit."Zira berjalan mendekat ke arah sang sutradara. Duduk di sebelahnya sambil melihat layar monitor."Bagaimana?"Aidan menunjuk layar, "memuaskan. Kamu bisa menyampaikan kemarahan sekaligus takut bersamaan.""Bena

  • Kontrak 2M Sang Mantan   14. Saingan yang berat

    Zira memasang earphone di telinga, memutar musik lewat ponselnya. Ia Menoleh sekilas ke arah Aidan. Sambil mengangkat alis, ia berkata, "ngomong apa?"Aidan menghela napas, merasa sia-sia telah menyatakan keinginannya. Ia hanya bisa menggeleng lalu berkata, "ah, bukan apa-apa."Zira mengangkat bahu, l

  • Kontrak 2M Sang Mantan   3. Benarkah jantungku berdetak lebih kencang karenamu?

    Setelah rapat, Zira berpamitan dengan Braga dan yang lainnya. Ia berjalan ke lobby sambil memesan taksi online. "Jam padat seperti ini susah untuk memesan taksi, bareng denganku saja."Zira menoleh ke sumber suara yang sangat ia hafal. "Tidak, terima kasih," ucapnya ketus lalu kembali mencoba meme

  • Kontrak 2M Sang Mantan   2. Kamu tetaplah sama

    "Jika pihak kedua memutuskan kontrak secara sepihak maka harus mengganti denda sebesar 2M." Zira terbelalak dengan mata membola sempurna setelah membaca sanksi pembatalan kontrak. "Konyol. Ini namanya pemerasan," gumamnya kesal sekaligus tidak percaya.Aidan kembali ke meja makan dengan membawa du

  • Kontrak 2M Sang Mantan   1. Haruskah aku senang bertemu denganmu?

    Dengan tas punggung kecil berwarna krem, Zira berjalan dalam pesawat sambil melihat nomor bangku. Ia tersenyum tipis saat berhasil menemukan tempat duduknya, tapi tidak lama kemudian senyumnya pudar berganti dengan wajah masam. Meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tapi ia sangat mengenali pri

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status