แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Nyi Ratu
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-05 21:51:15

PENCARIAN EKSKLUSIF

Posisi: Asisten Pribadi Eksekutif (Kontrak 3 bulan, NDA Ketat)

Kualifikasi: Mampu menahan tekanan, loyalitas mutlak, bersedia bekerja di luar jam normal.

Gaji: 10x Standar Pasar.

Wawancara Terbuka: Pukul 09.00 di Lobi Utama, SKYLINE TOWER.

Isabella menatap nama gedung itu: SKYLINE TOWER. Monolit kaca dan baja setinggi seratus lantai yang mendominasi cakrawala kota. Markas besar Vance Global, konglomerat properti dan teknologi paling tertutup di dunia. Orang-orang berbisik bahwa CEO-nya, Sebastian Vance, adalah seorang jenius yang tak kenal ampun, yang mampu menghancurkan pesaing hanya dengan satu panggilan telepon.

Itu adalah dunia yang seharusnya tidak pernah ia sentuh. Tapi dengan lutut yang nyaris ambruk karena kelelahan dan keputusasaan finansial, Isabella mengambil keputusan. Ia harus mengambil risiko ini.

PAGI HARI DI SKYLINE TOWER.

Isabella mengenakan satu-satunya setelan kerjanya yang layak, kainnya terasa tipis dan murahan dibandingkan dengan marmer dingin di lobi utama. Nama perusahaan itu terukir tajam pada lempengan perunggu: VANCE GLOBAL.

Lobi itu senyap, luas, dan menekan. Sebuah simfoni arsitektur yang menjeritkan kekuasaan.

Isabella melangkah cepat menuju meja resepsionis, fokusnya tertuju pada permohonan yang harus ia ajukan sebelum keberaniannya menguap. Ia terlalu fokus pada garis tebal karpet untuk melihat siapa pun yang ada di sekitarnya.

Tiba-tiba, ada yang menghantamnya. Keras. Padat. Bukan beton, melainkan kombinasi kain wol kasmir mahal dan otot baja.

Isabella tersentak. Ranselnya meluncur dari bahunya. Kakinya kehilangan pijakan, dan ia nyaris jatuh ke lantai.

Sebuah tangan, besar dan sedingin es, mencengkeram erat lengannya, menahannya tetap tegak. Cengkeraman itu terasa menyakitkan dan otoritatif.

Isabella mendongak, napasnya terperangkap di tenggorokan.

Ia melihat sepasang sepatu pantofel kulit mengilat. Kemudian, setelan yang terlihat seperti bayangan yang dijahit sempurna. Dan akhirnya, wajah itu. Rahang yang tegas, mata tajam dan gelap seperti malam tanpa bulan, serta ekspresi yang sepenuhnya tanpa kesabaran. Aura kemarahan yang tenang memancar dari pria itu.

Suara pria itu, dalam dan lambat, membelah keheningan lobi yang mahal. Suara itu lebih dingin daripada marmer di bawah kaki Isabella.

"Siapa kau?" Matanya menyipit, mengunci mata Isabella.

Cengkeraman di lengan Isabella mengencang selama sepersekian detik, mengingatkannya pada besi dingin. Pria itu tidak hanya menahan tubuhnya, tetapi juga seluruh perhatian Isabella, dan mungkin seluruh lobi yang sunyi itu.

Isabella menelan ludah, mencium aroma sandalwood dan vetiver yang tajam—parfum mahal yang berteriak ‘kemewahan’. Ia bisa melihat garis-garis halus pada kain jasnya yang seratus persen wol Italia. Detail itu menusuknya: perbedaan antara kain murahan miliknya dan kekuatan tak tertandingi di hadapannya.

Mata pria itu, hitam pekat seperti biji obsidian, memindai wajah Isabella. Itu bukan tatapan ketertarikan; itu adalah tatapan analisis, seperti seorang kontraktor yang mengevaluasi struktur yang rusak.

“Aku bertanya, siapa kau?” ulangnya, nadanya sedikit menurun, membuatnya lebih mengancam.

Isabella merasakan air mata yang dikeringkan oleh penghinaan Serena dan Julian kembali memanas di matanya, tapi ia memaksanya mundur. Ia telah bersumpah untuk tidak menunjukkan kelemahan lagi. Ia menegakkan bahu, melepaskan lengannya dari cengkeraman Sebastian dengan gerakan halus dan terkontrol.

“Saya Isabella, Pak. Saya di sini untuk wawancara terbuka posisi Asisten Pribadi Eksekutif. Saya minta maaf karena menghalangi jalan Anda.”

Pria itu mendengus singkat, ekspresi di wajahnya tidak berubah, tetap sedingin patung marmer. Ia melirik tas usang di kaki Isabella dan kemudian kembali ke wajahnya.

"Wawancara? Posisi itu sudah diisi sejak lima menit lalu," katanya dengan senyum mengejek yang hanya mencapai sudut bibirnya. "Dan kau terlambat tiga puluh menit. Apalagi, kau terlihat... tidak mampu."

Isabella merasakan denyutan tajam di pelipisnya. Ia bisa saja mundur, menundukkan kepala, dan pergi. Tapi ingatan akan obat bibinya dan janji pada dirinya sendiri membuat darahnya mendidih dengan keberanian yang putus asa.

"Saya mungkin terlambat, Pak," balas Isabella, suaranya mantap meskipun jantungnya berdebar kencang. Ia mempertahankan kontak mata yang ia tahu pasti sangat menantang bagi pria seperti ini. "Tapi itu karena saya harus berjalan kaki dari ujung kota. Jika Anda menilai kemampuan seseorang dari ketepatan waktu untuk wawancara terbuka—yang notabene tidak terikat—Anda mungkin kehilangan orang yang rela melakukan apa saja untuk pekerjaan ini. Dan mengenai penampilan..." Isabella melihat ke bawah, kemudian kembali menatapnya. "Penampilan saya adalah cerminan gaji terakhir saya."

Keheningan melayang. Sebastian tidak langsung merespons. Dia hanya memiringkan kepalanya sedikit. Isabella bisa melihat kilatan ketertarikan yang tidak diinginkan di mata gelap itu, seperti percikan api di lautan es.

"Ikuti aku," perintah Sebastian, berbalik tanpa menunggu jawaban.

Ia membawanya melewati lorong-lorong berkarpet tebal menuju lift pribadi yang terbuat dari emas gelap. Di dalam lift, ia menekan tombol paling atas: 100.

"Kau tahu siapa aku?" tanyanya, suaranya tenang, menghadap pantulan mereka di dinding cermin.

"Sebastian Vance. CEO Vance Global. Reputasi Anda mendahului Anda, Pak," jawab Isabella jujur.

"Bagus. Jadi kau tahu bahwa waktuku adalah uang," katanya. Pintu lift terbuka, memperlihatkan sebuah ruang kantor yang terasa seperti berada di atas langit.

Sebastian bergerak menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu hitam solid. Isabella memperhatikan, ia tidak duduk. Ia berdiri, memaksanya untuk tetap berdiri pula.

"Duduk, Isabella. Kita perlu bicara bisnis. Lupakan pekerjaan Asisten Pribadi."

Isabella duduk di tepi kursi kulit mahal, sementara Sebastian bersandar di mejanya, melipat tangan di dada.

"Aku punya masalah sederhana yang membutuhkan solusi... tidak konvensional," katanya, melirik Isabella dari atas ke bawah. "Keluarga dan Dewan Direksi menekanku untuk menikah. Aku membutuhkan peredam bising, seseorang yang tidak akan menjadi masalah. Aku butuh tunangan palsu."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 44

    Sebastian membatu. Otot lengannya yang semula melingkar hangat kini mengeras bak baja, berubah dari dekapan protektif menjadi cengkeraman kaku yang menyakitkan. Ia menunduk, menatap puncak kepala Isabella dengan kilat mata yang mengerikan—sebuah perang batin antara sisa-sisa cinta dan kebencian yang mendidih secara instan.Isabella tersentak dalam isaknya. Ia merasakan suhu tubuh Sebastian anjlok, berubah menjadi sedingin es yang siap menghimpitnya."Sebastian? Kau menyakitiku..." bisik Isabella, mendongak dengan mata sembap mencari kepastian.Tanpa sepatah kata, Sebastian melepaskan dekapannya. Ia membiarkan Isabella berdiri goyah sendirian di tengah koridor rumah sakit yang remang. Dengan gerakan kasar, ia menyambar liontin giok dari jemari istrinya, membaliknya, dan menatap simbol itu dengan intensitas yang sanggup membakar."Simbol ini..." suara Sebastian rendah, parau seperti geraman binatang buas yang terluka. "Ini bukan sekadar perhiasan, Bella. Ini adalah The Jade Serpent. Lam

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 43

    Mobil itu mendecit keras saat sang sopir melakukan u-turn tajam di tengah jalanan yang sepi. Sebastian tidak membuang waktu untuk bertanya; ekspresinya mengeras, rahangnya terkatup rapat seolah ia baru saja menerima kabar tentang retaknya benteng pertahanan terkuatnya.Isabella terpaku. Rasa lelah yang baru saja akan menidurkannya menguap seketika, digantikan oleh debar jantung yang menyakitkan. Bibinya—satu-satunya keluarga yang tersisa, sosok yang selama ini menjadi sandaran di tengah badai hidupnya—kini berada di ambang maut dengan sebuah rahasia.Kembali ke rumah sakit, suasananya sudah berbeda. Lorong yang tadi penuh dengan polisi kini terasa lebih sunyi, namun jauh lebih menekan. Sebastian menggenggam tangan Isabella, langkahnya lebar, menyeret wanita itu menuju ruang rawat darurat yang kini dijaga ketat oleh dua pria berlogo elang.Di dalam ruangan, bau obat-obatan menyengat tajam. Suara detak jantung dari monitor terdengar lemah dan tidak beraturan."Bibi..." bisik Isabella, l

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 42

    Perjalanan menyusuri koridor rumah sakit terasa seperti membelah dua dunia. Di belakang mereka, kekacauan, anyir darah, dan rintihan Damian sepenuhnya menjadi urusan Hector dan pasukannya. Di depan mereka, lorong steril mulai dipenuhi kilatan lampu merah dan biru dari mobil polisi yang baru tiba.Namun, anehnya, tak ada satu pun aparat penegak hukum yang berani menahan langkah Sebastian. Bukannya menginterogasi, beberapa polisi yang berpapasan justru menunduk hormat sambil membuka jalan, seolah sudah ada 'perjanjian tak tertulis' tentang siapa penguasa sesungguhnya di kota ini.Isabella menyadari kejanggalan itu. Cengkeramannya di kerah kemeja Sebastian mengerat. Kekuatan rahasia. Aparat yang bungkam. Berapa lapis sebenarnya kedok pria yang berstatus sebagai suaminya ini?Sebastian membawa Isabella keluar dari lobi dan langsung masuk ke dalam sebuah SUV hitam antipeluru modifikasi yang sudah menanti dengan pintu terbuka. Begitu pintu tertutup, material kedap suara mobil itu seketika m

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 41

    Tangan Damian yang gemetar dan basah oleh alkohol meraba lantai secara acak, berusaha menemukan pemantik api perak yang sempat terjatuh saat ia melolong kesakitan tadi. Jemarinya akhirnya menyentuh benda logam dingin itu. Dengan sisa tenaga dan tawa sumbang yang bercampur rintihan, ia memutar roda pemantiknya. Percikan api menyala, siap dilemparkan ke arah genangan alkohol yang mengalir mendekati selang oksigen Bibi Martha."Awas!" Sebastian meraung.Dalam sepersekian detik yang terasa seperti gerakan lambat, Sebastian mendorong tubuh Isabella menjauh, melindunginya dengan punggungnya. Tangan kanannya yang memegang belati bergerak kilat, melemparkan bilah tajam itu membelah udara.Jleb!Belati itu menancap tepat di pergelangan tangan Damian sebelum ia sempat melempar pemantiknya. Damian menjerit histeris, pemantik perak itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke sudut ruangan yang aman dari tumpahan alkohol maupun tabung oksigen.Bersamaan dengan jatuhnya pemantik itu, pintu ruang ICU d

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 40

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang ICU. Isabella merasakan dunianya seolah runtuh, namun di tengah guncangan hebat itu, sebuah sisa logika tetap bertahan di benaknya. Ia menatap Damian dengan pandangan kosong, membiarkan pria itu membangun narasi palsunya.Isabella tahu persis siapa ayah dari bayi ini. Tidak pernah ada pria lain selain Sebastian. Namun, saat melihat keraguan yang mulai menggores wajah keras suaminya, Isabella memilih untuk bungkam. Jika ia membantah sekarang, Damian mungkin akan segera menghentikan aliran nyawa Bibi Martha. Ia perlu tahu sejauh mana kegilaan ini akan berlanjut."Jadi..." suara Sebastian pecah, lebih mirip geraman binatang buas yang terluka. "Semua ini... pelarianmu, kebencianmu, bahkan anak itu... adalah bagian dari rencana Damian?"Isabella tidak menjawab. Ia hanya menunduk, membiarkan rambutnya menutupi ekspresi wajahnya, memberikan kesan bahwa ia tertangkap basah. Ia harus menjadi aktris terbaik malam ini demi keselamatan Sebastian dan Bibi

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 39

    Sebastian menatap foto itu dengan kilat mata yang mematikan, lalu beralih pada Isabella yang mulai lunglai di pelukannya. Bukannya melepaskan, Sebastian justru mencengkeram bahu Isabella, memaksanya berdiri tegak."Kau ingin pergi? Setelah kau baru saja mengakui bahwa kau mengandung anak pria lain?" Sebastian bertanya dengan nada yang sangat rendah. "Bagaimana jika ini hanya taktikmu untuk melarikan diri dariku, Bella?""Demi Tuhan, Sebastian! Bibi Martha dalam bahaya!" jerit Isabella. "Aku tidak peduli kau mau membunuhku nanti, tapi bawa aku ke sana sekarang!"Sebastian tidak menjawab. Ia memberikan kode pada Alex, dan dalam hitungan detik, mereka sudah berada di dalam Rolls-Royce yang melaju membelah malam dengan kecepatan gila.Rumah Sakit Central – 02:00 AMKoridor rumah sakit itu terasa seperti lorong menuju neraka. Begitu pintu lift terbuka, Isabella berlari menuju ruang ICU. Namun, langkahnya terhenti secara kasar. Empat pria bertubuh besar dengan setelan hitam menutup akses ke

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 7

    "Apa artinya ini bagi kita? Di depan umum?" tanya Isabella, suaranya tercekat, matanya mencari jawaban di wajah Sebastian. Sebastian melangkah maju, menjembatani jarak di antara mereka. Ia tidak menjawab, tetapi rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang. Ini bukan lagi soal bisnis; ini adalah p

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 6

    Sebastian tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menempatkan dirinya di antara Isabella dan Julian. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Isabella, menariknya erat-erat, hampir posesif. Pemandangan itu adalah tampilan dominasi yang nyata. "Lepaskan tanganmu dari tunanganku," kata Sebastian kepada Julia

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 3

    Isabella tertegun. Butuh beberapa detik baginya untuk memproses kata-kata itu. "Saya tidak mengerti, Pak." Sebastian menyeringai. "Sederhana. Aku akan membayar semua utang yang kau miliki, tanpa batas. Aku akan memberimu gaji bulanan sepuluh kali lipat dari gajimu saat ini. Aku akan memberimu kart

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 1

    Napas Isabella tercekat, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas tenggorokannya. Udara dingin yang berat, bercampur aroma debu dan parfum asing yang menyengat, menusuk paru-parunya. Matanya memerah, sudut-sudutnya terasa panas seperti terbakar, namun pandangannya membeku pada pemandangan di ru

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status