MasukPENCARIAN EKSKLUSIF
Posisi: Asisten Pribadi Eksekutif (Kontrak 3 bulan, NDA Ketat) Kualifikasi: Mampu menahan tekanan, loyalitas mutlak, bersedia bekerja di luar jam normal. Gaji: 10x Standar Pasar. Wawancara Terbuka: Pukul 09.00 di Lobi Utama, SKYLINE TOWER. Isabella menatap nama gedung itu: SKYLINE TOWER. Monolit kaca dan baja setinggi seratus lantai yang mendominasi cakrawala kota. Markas besar Vance Global, konglomerat properti dan teknologi paling tertutup di dunia. Orang-orang berbisik bahwa CEO-nya, Sebastian Vance, adalah seorang jenius yang tak kenal ampun, yang mampu menghancurkan pesaing hanya dengan satu panggilan telepon. Itu adalah dunia yang seharusnya tidak pernah ia sentuh. Tapi dengan lutut yang nyaris ambruk karena kelelahan dan keputusasaan finansial, Isabella mengambil keputusan. Ia harus mengambil risiko ini. PAGI HARI DI SKYLINE TOWER. Isabella mengenakan satu-satunya setelan kerjanya yang layak, kainnya terasa tipis dan murahan dibandingkan dengan marmer dingin di lobi utama. Nama perusahaan itu terukir tajam pada lempengan perunggu: VANCE GLOBAL. Lobi itu senyap, luas, dan menekan. Sebuah simfoni arsitektur yang menjeritkan kekuasaan. Isabella melangkah cepat menuju meja resepsionis, fokusnya tertuju pada permohonan yang harus ia ajukan sebelum keberaniannya menguap. Ia terlalu fokus pada garis tebal karpet untuk melihat siapa pun yang ada di sekitarnya. Tiba-tiba, ada yang menghantamnya. Keras. Padat. Bukan beton, melainkan kombinasi kain wol kasmir mahal dan otot baja. Isabella tersentak. Ranselnya meluncur dari bahunya. Kakinya kehilangan pijakan, dan ia nyaris jatuh ke lantai. Sebuah tangan, besar dan sedingin es, mencengkeram erat lengannya, menahannya tetap tegak. Cengkeraman itu terasa menyakitkan dan otoritatif. Isabella mendongak, napasnya terperangkap di tenggorokan. Ia melihat sepasang sepatu pantofel kulit mengilat. Kemudian, setelan yang terlihat seperti bayangan yang dijahit sempurna. Dan akhirnya, wajah itu. Rahang yang tegas, mata tajam dan gelap seperti malam tanpa bulan, serta ekspresi yang sepenuhnya tanpa kesabaran. Aura kemarahan yang tenang memancar dari pria itu. Suara pria itu, dalam dan lambat, membelah keheningan lobi yang mahal. Suara itu lebih dingin daripada marmer di bawah kaki Isabella. "Siapa kau?" Matanya menyipit, mengunci mata Isabella. Cengkeraman di lengan Isabella mengencang selama sepersekian detik, mengingatkannya pada besi dingin. Pria itu tidak hanya menahan tubuhnya, tetapi juga seluruh perhatian Isabella, dan mungkin seluruh lobi yang sunyi itu. Isabella menelan ludah, mencium aroma sandalwood dan vetiver yang tajam—parfum mahal yang berteriak ‘kemewahan’. Ia bisa melihat garis-garis halus pada kain jasnya yang seratus persen wol Italia. Detail itu menusuknya: perbedaan antara kain murahan miliknya dan kekuatan tak tertandingi di hadapannya. Mata pria itu, hitam pekat seperti biji obsidian, memindai wajah Isabella. Itu bukan tatapan ketertarikan; itu adalah tatapan analisis, seperti seorang kontraktor yang mengevaluasi struktur yang rusak. “Aku bertanya, siapa kau?” ulangnya, nadanya sedikit menurun, membuatnya lebih mengancam. Isabella merasakan air mata yang dikeringkan oleh penghinaan Serena dan Julian kembali memanas di matanya, tapi ia memaksanya mundur. Ia telah bersumpah untuk tidak menunjukkan kelemahan lagi. Ia menegakkan bahu, melepaskan lengannya dari cengkeraman Sebastian dengan gerakan halus dan terkontrol. “Saya Isabella, Pak. Saya di sini untuk wawancara terbuka posisi Asisten Pribadi Eksekutif. Saya minta maaf karena menghalangi jalan Anda.” Pria itu mendengus singkat, ekspresi di wajahnya tidak berubah, tetap sedingin patung marmer. Ia melirik tas usang di kaki Isabella dan kemudian kembali ke wajahnya. "Wawancara? Posisi itu sudah diisi sejak lima menit lalu," katanya dengan senyum mengejek yang hanya mencapai sudut bibirnya. "Dan kau terlambat tiga puluh menit. Apalagi, kau terlihat... tidak mampu." Isabella merasakan denyutan tajam di pelipisnya. Ia bisa saja mundur, menundukkan kepala, dan pergi. Tapi ingatan akan obat bibinya dan janji pada dirinya sendiri membuat darahnya mendidih dengan keberanian yang putus asa. "Saya mungkin terlambat, Pak," balas Isabella, suaranya mantap meskipun jantungnya berdebar kencang. Ia mempertahankan kontak mata yang ia tahu pasti sangat menantang bagi pria seperti ini. "Tapi itu karena saya harus berjalan kaki dari ujung kota. Jika Anda menilai kemampuan seseorang dari ketepatan waktu untuk wawancara terbuka—yang notabene tidak terikat—Anda mungkin kehilangan orang yang rela melakukan apa saja untuk pekerjaan ini. Dan mengenai penampilan..." Isabella melihat ke bawah, kemudian kembali menatapnya. "Penampilan saya adalah cerminan gaji terakhir saya." Keheningan melayang. Sebastian tidak langsung merespons. Dia hanya memiringkan kepalanya sedikit. Isabella bisa melihat kilatan ketertarikan yang tidak diinginkan di mata gelap itu, seperti percikan api di lautan es. "Ikuti aku," perintah Sebastian, berbalik tanpa menunggu jawaban. Ia membawanya melewati lorong-lorong berkarpet tebal menuju lift pribadi yang terbuat dari emas gelap. Di dalam lift, ia menekan tombol paling atas: 100. "Kau tahu siapa aku?" tanyanya, suaranya tenang, menghadap pantulan mereka di dinding cermin. "Sebastian Vance. CEO Vance Global. Reputasi Anda mendahului Anda, Pak," jawab Isabella jujur. "Bagus. Jadi kau tahu bahwa waktuku adalah uang," katanya. Pintu lift terbuka, memperlihatkan sebuah ruang kantor yang terasa seperti berada di atas langit. Sebastian bergerak menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu hitam solid. Isabella memperhatikan, ia tidak duduk. Ia berdiri, memaksanya untuk tetap berdiri pula. "Duduk, Isabella. Kita perlu bicara bisnis. Lupakan pekerjaan Asisten Pribadi." Isabella duduk di tepi kursi kulit mahal, sementara Sebastian bersandar di mejanya, melipat tangan di dada. "Aku punya masalah sederhana yang membutuhkan solusi... tidak konvensional," katanya, melirik Isabella dari atas ke bawah. "Keluarga dan Dewan Direksi menekanku untuk menikah. Aku membutuhkan peredam bising, seseorang yang tidak akan menjadi masalah. Aku butuh tunangan palsu."Sebastian menatap foto itu dengan kilat mata yang mematikan, lalu beralih pada Isabella yang mulai lunglai di pelukannya. Bukannya melepaskan, Sebastian justru mencengkeram bahu Isabella, memaksanya berdiri tegak."Kau ingin pergi? Setelah kau baru saja mengakui bahwa kau mengandung anak pria lain?" Sebastian bertanya dengan nada yang sangat rendah. "Bagaimana jika ini hanya taktikmu untuk melarikan diri dariku, Bella?""Demi Tuhan, Sebastian! Bibi Martha dalam bahaya!" jerit Isabella. "Aku tidak peduli kau mau membunuhku nanti, tapi bawa aku ke sana sekarang!"Sebastian tidak menjawab. Ia memberikan kode pada Alex, dan dalam hitungan detik, mereka sudah berada di dalam Rolls-Royce yang melaju membelah malam dengan kecepatan gila.Rumah Sakit Central – 02:00 AMKoridor rumah sakit itu terasa seperti lorong menuju neraka. Begitu pintu lift terbuka, Isabella berlari menuju ruang ICU. Namun, langkahnya terhenti secara kasar. Empat pria bertubuh besar dengan setelan hitam menutup akses ke
Isabella menarik napas panjang, sebuah senyum miring yang provokatif tersungging di bibirnya. Ia tidak mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Sebastian. Sebaliknya, ia melangkah maju hingga dada mereka bersentuhan, menantang maut yang terpancar dari netra pria itu."Kau ingin kejujuran, Sebastian? Baik," bisik Isabella, suaranya kini sedingin es di kutub utara. "Anak ini memang bukan anakmu. Aku memberikan tubuhku padamu hanya sebagai formalitas, tapi aku memberikan sisa hidupku untuk memastikan kau mencintai benih pria lain."Suasana kamar itu seketika menjadi kedap suara. Detak jantung Isabella berpacu, namun ia tetap memasang topeng keberanian. Ia ingin melihat Sebastian hancur. Ia ingin melihat pria yang memiliki segalanya itu kehilangan kewarasannya.Sebastian tidak bergerak. Cengkeramannya tidak mengendur, tapi juga tidak mengencang. Ia hanya menatap jauh ke dalam manik mata Isabella, seolah sedang membaca lembaran-lembaran rahasia yang tersimpan di sana.Isabella... sebegit
"Kalau kau melakukannya, bukan hanya ragaku yang menolak, tapi hatiku juga akan aku tutup rapat untukmu, Pak Sebastian."Suara Isabella bergetar namun tajam, seperti mata pisau yang baru saja diasah. Ia menatap lurus ke dalam mata Sebastian yang kini melebar. Panggilan formal "Pak Sebastian" itu adalah tamparan keras bagi ego sang CEO—sebuah batasan dingin yang ditarik tepat di depan wajah pria yang memujanya.Sebastian tertegun di ambang pintu lift. Ia bisa saja memaksanya masuk ke mobil medis itu. Ia memiliki kekuasaan dan kekuatan fisik. Namun, ancaman Isabella tentang 'hati yang tertutup rapat' adalah satu-satunya hal di dunia ini yang mampu melumpuhkan Sebastian Vance."Baiklah, aku akan menyuruh mereka pergi," ucap Sebastian pelan, suaranya parau karena menelan harga diri. Ia memberi kode pada dokter pribadinya untuk segera pergi. "Aku tidak akan memaksamu untuk diperiksa, tapi kau harus makan dan beristirahat. Itu syarat mutlak."Isabella hanya memalingkan wajah, menyembunyikan
Isabella menyentakkan tangannya dengan kasar saat ia hendak keluar dari mobil. "Lepaskan tanganku jika kau mau aku terus berakting menjadi istrimu."Sebastian hanya diam tanpa berbicara sedikitpun. Baru kali ini ia merasa begitu ketakutan. Takut akan kehilangan wanita yang sangat ia cintai. Tanpa ragu Sebastian menggendong Isabella masuk ke Gedung pusat Vance berdiri yang berdiri angkuh di jantung distrik finansial. "Kalau kau tidak maun menurunkan aku, aku akan berteriak dan memberitahukan para awak media kalau pernikahan kita palsu. Setelah itu kau akan kehilangan segalanya.""Aku tidak takut kehilangan hartaku, yang paling aku takutkan sekarang adalah kehilanganmu. Terserah kau mau bilang pernikahan kita palsu atau kemesraan kita selama ini hanya settingan. Namun yang pasti, cintaku padamu asli. Aku tidak pernah merasa takut kehilangan seperti sekarang, Isabella." Sebastian terus berbicara sambil menggendong istrinya dan menurunkannya di depan ruang rapat. Suasana di dalam ruang
Sebastian menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia mengingat bagaimana Isabella selalu memindahkan serangga kecil ke luar rumah daripada membunuhnya. Ia mengingat bagaimana mata istrinya selalu berbinar setiap kali mereka melewati toko perlengkapan bayi, jauh sebelum konflik ini dimulai."Seorang ibu tidak akan membunuh bagian dari dirinya hanya untuk membalas dendam," bisik Sebastian pada dirinya sendiri. "Bukan Isabella. Dia terlalu suci untuk dosa sekeji itu."Logika Sebastian mulai membedah kejadian semalam. Isabella mengatakan prosedur itu baru saja selesai, namun ia mampu berdiri dan berjalan—meski dengan wajah pucat. Jika itu adalah sebuah gertakan, maka itu adalah gertakan paling brutal dalam sejarah pernikahan mereka. Sebastian menyadari satu hal: Isabella sedang menggunakan senjata yang paling mematikan untuk menghancurkannya. "Apa dia melakukan ini agar aku membenci dan menceraikannya?"Namun, ada satu ketakutan yang lebih besar: Bagaimana jika ia salah? Bagaim
Isabella membekap mulutnya sendiri, meredam isak tangis yang nyaris meledak. Di balik pintu kayu ek yang tebal itu, ia menyandarkan tubuhnya yang lunglai hingga merosot ke lantai. Tangan gemetarnya meraba perutnya yang masih sedikit kram—bukan karena prosedur medis yang dingin, melainkan karena stres yang menggerogoti fisiknya.Di sana, di dalam rahimnya, sebuah nyawa masih berdenyut. Lemah, namun ada.Ia mendengar raungan Sebastian dari luar. Ia mendengar pukulan tangan pria itu pada marmer dan pernyataan cintanya yang menyimpang. Budak? Cinta? Isabella memejamkan mata erat-erat. Kata-kata itu datang terlambat. Luka yang ditorehkan Sebastian dua hari lalu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan permohonan maaf yang bersimbah air mata."Kau pembohong, Sebastian," bisik Isabella pada kegelapan kamar. "Kau mencintai ego dan rasa bersalahmu, bukan aku."Rencana awal Isabella adalah membuat Sebastian sangat membencinya hingga pria itu melemparkan surat cerai ke wajahnya. Ia ingin beb







