Share

Bab 3

Author: Nyi Ratu
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-05 22:31:39

Isabella tertegun. Butuh beberapa detik baginya untuk memproses kata-kata itu. "Saya tidak mengerti, Pak."

Sebastian menyeringai. "Sederhana. Aku akan membayar semua utang yang kau miliki, tanpa batas. Aku akan memberimu gaji bulanan sepuluh kali lipat dari gajimu saat ini. Aku akan memberimu kartu kredit dengan limit yang cukup untuk membeli seluruh butik di kota ini."

Isabella menghitung cepat dalam kepalanya. Uang itu akan melunasi biaya obat bibinya, melampaui uang sewa, dan bahkan cukup untuk memulai hidup baru. Jumlahnya tak terbayangkan.

"Sebagai imbalannya." Sebastian melanjutkan, nadanya berubah profesional. "Kau akan tinggal di penthouse-ku. Kau akan berpura-pura menjadi tunanganku, bahkan istriku di acara-acara publik, selama enam bulan ke depan. Kau akan melakukan persis seperti yang kuperintahkan, di mana pun, kapan pun."

Isabella merasa pusing. Ini gila. Ini adalah kisah Cinderella yang dijual dengan kontrak hukum.

"Mengapa saya?" Isabella bertanya, memaksa suaranya terdengar netral. "Mengapa bukan model? Atau aktris? Atau seseorang yang—"

"Seseorang yang selevel denganku?" potong Sebastian dingin. "Justru itu. Aku tidak ingin terikat. Model dan aktris memiliki ambisi, mereka memiliki tuntutan, dan yang terpenting, mereka memiliki riwayat. Kau tidak memiliki apa-apa, Isabella. Kau tidak punya koneksi, dan yang paling penting: kau sangat putus asa. Kau adalah kertas kosong. Kau bisa kuhapus bersih dan kulukis ulang sesuai keinginanku. Saat kontrak ini berakhir, kau akan hilang. Tanpa ada ikatan emosional, tanpa drama."

Kata-katanya brutal, menusuk luka yang baru saja terbuka. Namun, Isabella tidak bisa marah, karena itu adalah kebenaran. Ia memang putus asa.

Sebastian menarik laci mejanya, mengeluarkan dua lembar dokumen yang telah dicetak. Kontrak itu tebal, penuh dengan istilah hukum.

"Tanda tangan di sini," ia menunjuk ke baris terakhir dengan pena perak yang mengilap. "Pikirkanlah. Dalam sepuluh menit, kau bisa menyelesaikan semua masalah hidupmu."

Isabella meraih pulpen itu. Saat jari-jari mereka bersentuhan, percikan listrik yang singkat dan tajam menjalari kulit Isabella, membuat napasnya sesaat berhenti. Sebastian menarik tangannya dengan cepat, seolah ia baru saja menyentuh benda panas.

Isabella mengabaikan sensasi itu, fokus pada garis-garis hitam di kertas. Ia membaca cepat, meskipun otaknya menolak memahami detail rumit. Kontrak itu benar-benar berisi klausul ketat tentang menjaga rahasia, larangan kontak fisik di luar acara, dan larangan mutlak untuk jatuh cinta.

Ia meletakkan pena, menatap Sebastian sekali lagi.

"Saya setuju," kata Isabella.

Sebastian menghela napas, seolah baru saja memenangkan pertaruhan kecil yang membosankan. "Bagus."

Ia mendorong sebuah kotak beludru hitam kecil ke arah Isabella. "Ini adalah token. Di depan umum, kita adalah pasangan. Tapi ingat satu hal, Isabella." Ekspresi Sebastian menjadi gelap, matanya menusuk menembus mata Isabella. "Ini adalah transaksi bisnis murni. Jangan pernah tertipu oleh senyumku, atau oleh kemewahan di sekitarmu. Begitu kontrak ini berakhir, kau pergi."

Isabella mengangguk, mengambil kotak beludru itu. Di dalamnya, berkilau cincin berlian yang sangat besar, memantulkan cahaya di kantor itu.

Sebastian mengambil ponselnya. "Aku akan mengirim mobil dan timku untuk mengurus barang-barangmu. Kau akan pindah ke penthouse malam ini. Besok sore, kau akan diajari cara berjalan, bicara, dan berbusana seolah kau adalah tunangan miliarder. Kita punya gala penting di hari Rabu."

Pintu lift kaca di lantai seratus terbuka langsung ke sebuah ruang tamu. Isabella melangkah keluar, ransel dan koper usangnya terasa semakin memalukan di atas karpet beludru abu-abu muda.

Ini bukan apartemen; ini adalah penthouse. Dindingnya yang melengkung terbuat dari kaca, menawarkan panorama 360 derajat Aurelia City yang berkilauan di bawah, tampak seperti permadani yang dijahit dari jutaan berlian. Langit-langitnya setinggi dua kali lipat tinggi normal. Sebuah piano grand berwarna putih berdiri sendirian di sudut, membisu.

Isabella merasa seolah oksigen di ruangan itu terlalu murni untuk paru-parunya.

"Ini adalah tempat tinggalmu selama enam bulan," suara Sebastian memecah kesunyian, lebih dingin dari suhu ruangan yang diatur dengan sempurna. "Apartemen ini terisolasi dari lantai lain. Stafku tinggal di lantai 99. Mereka tidak akan mengganggumu kecuali dipanggil."

Di belakang Sebastian, seorang wanita berpakaian serba hitam dengan potongan rambut bob yang sangat rapi, bernama Elva, menatap Isabella dengan pandangan tajam dan penuh keraguan. Elva adalah kepala pelayan. Tatapannya jelas: apa yang dilakukan gadis malang ini di sini?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 44

    Sebastian membatu. Otot lengannya yang semula melingkar hangat kini mengeras bak baja, berubah dari dekapan protektif menjadi cengkeraman kaku yang menyakitkan. Ia menunduk, menatap puncak kepala Isabella dengan kilat mata yang mengerikan—sebuah perang batin antara sisa-sisa cinta dan kebencian yang mendidih secara instan.Isabella tersentak dalam isaknya. Ia merasakan suhu tubuh Sebastian anjlok, berubah menjadi sedingin es yang siap menghimpitnya."Sebastian? Kau menyakitiku..." bisik Isabella, mendongak dengan mata sembap mencari kepastian.Tanpa sepatah kata, Sebastian melepaskan dekapannya. Ia membiarkan Isabella berdiri goyah sendirian di tengah koridor rumah sakit yang remang. Dengan gerakan kasar, ia menyambar liontin giok dari jemari istrinya, membaliknya, dan menatap simbol itu dengan intensitas yang sanggup membakar."Simbol ini..." suara Sebastian rendah, parau seperti geraman binatang buas yang terluka. "Ini bukan sekadar perhiasan, Bella. Ini adalah The Jade Serpent. Lam

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 43

    Mobil itu mendecit keras saat sang sopir melakukan u-turn tajam di tengah jalanan yang sepi. Sebastian tidak membuang waktu untuk bertanya; ekspresinya mengeras, rahangnya terkatup rapat seolah ia baru saja menerima kabar tentang retaknya benteng pertahanan terkuatnya.Isabella terpaku. Rasa lelah yang baru saja akan menidurkannya menguap seketika, digantikan oleh debar jantung yang menyakitkan. Bibinya—satu-satunya keluarga yang tersisa, sosok yang selama ini menjadi sandaran di tengah badai hidupnya—kini berada di ambang maut dengan sebuah rahasia.Kembali ke rumah sakit, suasananya sudah berbeda. Lorong yang tadi penuh dengan polisi kini terasa lebih sunyi, namun jauh lebih menekan. Sebastian menggenggam tangan Isabella, langkahnya lebar, menyeret wanita itu menuju ruang rawat darurat yang kini dijaga ketat oleh dua pria berlogo elang.Di dalam ruangan, bau obat-obatan menyengat tajam. Suara detak jantung dari monitor terdengar lemah dan tidak beraturan."Bibi..." bisik Isabella, l

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 42

    Perjalanan menyusuri koridor rumah sakit terasa seperti membelah dua dunia. Di belakang mereka, kekacauan, anyir darah, dan rintihan Damian sepenuhnya menjadi urusan Hector dan pasukannya. Di depan mereka, lorong steril mulai dipenuhi kilatan lampu merah dan biru dari mobil polisi yang baru tiba.Namun, anehnya, tak ada satu pun aparat penegak hukum yang berani menahan langkah Sebastian. Bukannya menginterogasi, beberapa polisi yang berpapasan justru menunduk hormat sambil membuka jalan, seolah sudah ada 'perjanjian tak tertulis' tentang siapa penguasa sesungguhnya di kota ini.Isabella menyadari kejanggalan itu. Cengkeramannya di kerah kemeja Sebastian mengerat. Kekuatan rahasia. Aparat yang bungkam. Berapa lapis sebenarnya kedok pria yang berstatus sebagai suaminya ini?Sebastian membawa Isabella keluar dari lobi dan langsung masuk ke dalam sebuah SUV hitam antipeluru modifikasi yang sudah menanti dengan pintu terbuka. Begitu pintu tertutup, material kedap suara mobil itu seketika m

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 41

    Tangan Damian yang gemetar dan basah oleh alkohol meraba lantai secara acak, berusaha menemukan pemantik api perak yang sempat terjatuh saat ia melolong kesakitan tadi. Jemarinya akhirnya menyentuh benda logam dingin itu. Dengan sisa tenaga dan tawa sumbang yang bercampur rintihan, ia memutar roda pemantiknya. Percikan api menyala, siap dilemparkan ke arah genangan alkohol yang mengalir mendekati selang oksigen Bibi Martha."Awas!" Sebastian meraung.Dalam sepersekian detik yang terasa seperti gerakan lambat, Sebastian mendorong tubuh Isabella menjauh, melindunginya dengan punggungnya. Tangan kanannya yang memegang belati bergerak kilat, melemparkan bilah tajam itu membelah udara.Jleb!Belati itu menancap tepat di pergelangan tangan Damian sebelum ia sempat melempar pemantiknya. Damian menjerit histeris, pemantik perak itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke sudut ruangan yang aman dari tumpahan alkohol maupun tabung oksigen.Bersamaan dengan jatuhnya pemantik itu, pintu ruang ICU d

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 40

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang ICU. Isabella merasakan dunianya seolah runtuh, namun di tengah guncangan hebat itu, sebuah sisa logika tetap bertahan di benaknya. Ia menatap Damian dengan pandangan kosong, membiarkan pria itu membangun narasi palsunya.Isabella tahu persis siapa ayah dari bayi ini. Tidak pernah ada pria lain selain Sebastian. Namun, saat melihat keraguan yang mulai menggores wajah keras suaminya, Isabella memilih untuk bungkam. Jika ia membantah sekarang, Damian mungkin akan segera menghentikan aliran nyawa Bibi Martha. Ia perlu tahu sejauh mana kegilaan ini akan berlanjut."Jadi..." suara Sebastian pecah, lebih mirip geraman binatang buas yang terluka. "Semua ini... pelarianmu, kebencianmu, bahkan anak itu... adalah bagian dari rencana Damian?"Isabella tidak menjawab. Ia hanya menunduk, membiarkan rambutnya menutupi ekspresi wajahnya, memberikan kesan bahwa ia tertangkap basah. Ia harus menjadi aktris terbaik malam ini demi keselamatan Sebastian dan Bibi

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 39

    Sebastian menatap foto itu dengan kilat mata yang mematikan, lalu beralih pada Isabella yang mulai lunglai di pelukannya. Bukannya melepaskan, Sebastian justru mencengkeram bahu Isabella, memaksanya berdiri tegak."Kau ingin pergi? Setelah kau baru saja mengakui bahwa kau mengandung anak pria lain?" Sebastian bertanya dengan nada yang sangat rendah. "Bagaimana jika ini hanya taktikmu untuk melarikan diri dariku, Bella?""Demi Tuhan, Sebastian! Bibi Martha dalam bahaya!" jerit Isabella. "Aku tidak peduli kau mau membunuhku nanti, tapi bawa aku ke sana sekarang!"Sebastian tidak menjawab. Ia memberikan kode pada Alex, dan dalam hitungan detik, mereka sudah berada di dalam Rolls-Royce yang melaju membelah malam dengan kecepatan gila.Rumah Sakit Central – 02:00 AMKoridor rumah sakit itu terasa seperti lorong menuju neraka. Begitu pintu lift terbuka, Isabella berlari menuju ruang ICU. Namun, langkahnya terhenti secara kasar. Empat pria bertubuh besar dengan setelan hitam menutup akses ke

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 7

    "Apa artinya ini bagi kita? Di depan umum?" tanya Isabella, suaranya tercekat, matanya mencari jawaban di wajah Sebastian. Sebastian melangkah maju, menjembatani jarak di antara mereka. Ia tidak menjawab, tetapi rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang. Ini bukan lagi soal bisnis; ini adalah p

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 6

    Sebastian tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menempatkan dirinya di antara Isabella dan Julian. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Isabella, menariknya erat-erat, hampir posesif. Pemandangan itu adalah tampilan dominasi yang nyata. "Lepaskan tanganmu dari tunanganku," kata Sebastian kepada Julia

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 2

    PENCARIAN EKSKLUSIF Posisi: Asisten Pribadi Eksekutif (Kontrak 3 bulan, NDA Ketat) Kualifikasi: Mampu menahan tekanan, loyalitas mutlak, bersedia bekerja di luar jam normal. Gaji: 10x Standar Pasar. Wawancara Terbuka: Pukul 09.00 di Lobi Utama, SKYLINE TOWER. Isabella menatap nama gedung it

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 1

    Napas Isabella tercekat, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas tenggorokannya. Udara dingin yang berat, bercampur aroma debu dan parfum asing yang menyengat, menusuk paru-parunya. Matanya memerah, sudut-sudutnya terasa panas seperti terbakar, namun pandangannya membeku pada pemandangan di ru

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status