MasukIsabella tertegun. Butuh beberapa detik baginya untuk memproses kata-kata itu. "Saya tidak mengerti, Pak."
Sebastian menyeringai. "Sederhana. Aku akan membayar semua utang yang kau miliki, tanpa batas. Aku akan memberimu gaji bulanan sepuluh kali lipat dari gajimu saat ini. Aku akan memberimu kartu kredit dengan limit yang cukup untuk membeli seluruh butik di kota ini." Isabella menghitung cepat dalam kepalanya. Uang itu akan melunasi biaya obat bibinya, melampaui uang sewa, dan bahkan cukup untuk memulai hidup baru. Jumlahnya tak terbayangkan. "Sebagai imbalannya." Sebastian melanjutkan, nadanya berubah profesional. "Kau akan tinggal di penthouse-ku. Kau akan berpura-pura menjadi tunanganku, bahkan istriku di acara-acara publik, selama enam bulan ke depan. Kau akan melakukan persis seperti yang kuperintahkan, di mana pun, kapan pun." Isabella merasa pusing. Ini gila. Ini adalah kisah Cinderella yang dijual dengan kontrak hukum. "Mengapa saya?" Isabella bertanya, memaksa suaranya terdengar netral. "Mengapa bukan model? Atau aktris? Atau seseorang yang—" "Seseorang yang selevel denganku?" potong Sebastian dingin. "Justru itu. Aku tidak ingin terikat. Model dan aktris memiliki ambisi, mereka memiliki tuntutan, dan yang terpenting, mereka memiliki riwayat. Kau tidak memiliki apa-apa, Isabella. Kau tidak punya koneksi, dan yang paling penting: kau sangat putus asa. Kau adalah kertas kosong. Kau bisa kuhapus bersih dan kulukis ulang sesuai keinginanku. Saat kontrak ini berakhir, kau akan hilang. Tanpa ada ikatan emosional, tanpa drama." Kata-katanya brutal, menusuk luka yang baru saja terbuka. Namun, Isabella tidak bisa marah, karena itu adalah kebenaran. Ia memang putus asa. Sebastian menarik laci mejanya, mengeluarkan dua lembar dokumen yang telah dicetak. Kontrak itu tebal, penuh dengan istilah hukum. "Tanda tangan di sini," ia menunjuk ke baris terakhir dengan pena perak yang mengilap. "Pikirkanlah. Dalam sepuluh menit, kau bisa menyelesaikan semua masalah hidupmu." Isabella meraih pulpen itu. Saat jari-jari mereka bersentuhan, percikan listrik yang singkat dan tajam menjalari kulit Isabella, membuat napasnya sesaat berhenti. Sebastian menarik tangannya dengan cepat, seolah ia baru saja menyentuh benda panas. Isabella mengabaikan sensasi itu, fokus pada garis-garis hitam di kertas. Ia membaca cepat, meskipun otaknya menolak memahami detail rumit. Kontrak itu benar-benar berisi klausul ketat tentang menjaga rahasia, larangan kontak fisik di luar acara, dan larangan mutlak untuk jatuh cinta. Ia meletakkan pena, menatap Sebastian sekali lagi. "Saya setuju," kata Isabella. Sebastian menghela napas, seolah baru saja memenangkan pertaruhan kecil yang membosankan. "Bagus." Ia mendorong sebuah kotak beludru hitam kecil ke arah Isabella. "Ini adalah token. Di depan umum, kita adalah pasangan. Tapi ingat satu hal, Isabella." Ekspresi Sebastian menjadi gelap, matanya menusuk menembus mata Isabella. "Ini adalah transaksi bisnis murni. Jangan pernah tertipu oleh senyumku, atau oleh kemewahan di sekitarmu. Begitu kontrak ini berakhir, kau pergi." Isabella mengangguk, mengambil kotak beludru itu. Di dalamnya, berkilau cincin berlian yang sangat besar, memantulkan cahaya di kantor itu. Sebastian mengambil ponselnya. "Aku akan mengirim mobil dan timku untuk mengurus barang-barangmu. Kau akan pindah ke penthouse malam ini. Besok sore, kau akan diajari cara berjalan, bicara, dan berbusana seolah kau adalah tunangan miliarder. Kita punya gala penting di hari Rabu." Pintu lift kaca di lantai seratus terbuka langsung ke sebuah ruang tamu. Isabella melangkah keluar, ransel dan koper usangnya terasa semakin memalukan di atas karpet beludru abu-abu muda. Ini bukan apartemen; ini adalah penthouse. Dindingnya yang melengkung terbuat dari kaca, menawarkan panorama 360 derajat Aurelia City yang berkilauan di bawah, tampak seperti permadani yang dijahit dari jutaan berlian. Langit-langitnya setinggi dua kali lipat tinggi normal. Sebuah piano grand berwarna putih berdiri sendirian di sudut, membisu. Isabella merasa seolah oksigen di ruangan itu terlalu murni untuk paru-parunya. "Ini adalah tempat tinggalmu selama enam bulan," suara Sebastian memecah kesunyian, lebih dingin dari suhu ruangan yang diatur dengan sempurna. "Apartemen ini terisolasi dari lantai lain. Stafku tinggal di lantai 99. Mereka tidak akan mengganggumu kecuali dipanggil." Di belakang Sebastian, seorang wanita berpakaian serba hitam dengan potongan rambut bob yang sangat rapi, bernama Elva, menatap Isabella dengan pandangan tajam dan penuh keraguan. Elva adalah kepala pelayan. Tatapannya jelas: apa yang dilakukan gadis malang ini di sini?Sebastian menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia mengingat bagaimana Isabella selalu memindahkan serangga kecil ke luar rumah daripada membunuhnya. Ia mengingat bagaimana mata istrinya selalu berbinar setiap kali mereka melewati toko perlengkapan bayi, jauh sebelum konflik ini dimulai."Seorang ibu tidak akan membunuh bagian dari dirinya hanya untuk membalas dendam," bisik Sebastian pada dirinya sendiri. "Bukan Isabella. Dia terlalu suci untuk dosa sekeji itu."Logika Sebastian mulai membedah kejadian semalam. Isabella mengatakan prosedur itu baru saja selesai, namun ia mampu berdiri dan berjalan—meski dengan wajah pucat. Jika itu adalah sebuah gertakan, maka itu adalah gertakan paling brutal dalam sejarah pernikahan mereka. Sebastian menyadari satu hal: Isabella sedang menggunakan senjata yang paling mematikan untuk menghancurkannya. "Apa dia melakukan ini agar aku membenci dan menceraikannya?"Namun, ada satu ketakutan yang lebih besar: Bagaimana jika ia salah? Bagaim
Isabella membekap mulutnya sendiri, meredam isak tangis yang nyaris meledak. Di balik pintu kayu ek yang tebal itu, ia menyandarkan tubuhnya yang lunglai hingga merosot ke lantai. Tangan gemetarnya meraba perutnya yang masih sedikit kram—bukan karena prosedur medis yang dingin, melainkan karena stres yang menggerogoti fisiknya.Di sana, di dalam rahimnya, sebuah nyawa masih berdenyut. Lemah, namun ada.Ia mendengar raungan Sebastian dari luar. Ia mendengar pukulan tangan pria itu pada marmer dan pernyataan cintanya yang menyimpang. Budak? Cinta? Isabella memejamkan mata erat-erat. Kata-kata itu datang terlambat. Luka yang ditorehkan Sebastian dua hari lalu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan permohonan maaf yang bersimbah air mata."Kau pembohong, Sebastian," bisik Isabella pada kegelapan kamar. "Kau mencintai ego dan rasa bersalahmu, bukan aku."Rencana awal Isabella adalah membuat Sebastian sangat membencinya hingga pria itu melemparkan surat cerai ke wajahnya. Ia ingin beb
Lampu kristal di penthouse itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kini berada dalam satu ruangan, namun terpisah oleh jurang kematian yang baru saja terjadi.Isabella duduk di sofa beludru, wajahnya sepucat kertas. Ia baru saja tiba dari rumah sakit dua jam yang lalu tanpa sepengetahuan Sebastian. Bau antiseptik masih samar tercium dari balik aroma parfum mahalnya. Di atas meja marmer, sebuah map merah dari rumah sakit tergeletak terbuka—menampilkan laporan medis yang menyatakan bahwa prosedur terminasi kehamilan telah selesai dilakukan.Sebastian berdiri di dekat jendela, membelakangi istrinya. Bahunya bergetar hebat."Kau melakukannya..." suara Sebastian pecah, hampir tak terdengar. "Tanpa bicara padaku, tanpa memberiku kesempatan untuk memohon... kau membunuh anak kita, Isabella."Isabella menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit dengan mata kosong. "Anak kita? Sejak kapan kau peduli? Dua hari lalu, saat aku akan memberitahumu kalau aku hamil, apa yang kau la
Langkah kaki Isabella yang berirama di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati bagi Sebastian. Pria itu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan satu gerakan cepat, Sebastian mencengkeram lengan Isabella—lembut, namun penuh desakan."Lepaskan," desis Isabella tanpa menoleh."Tidak sebelum kau menatap mataku dan mengatakan bahwa pembelaanmu tadi hanya soal angka di atas kertas," suara Sebastian merendah, parau oleh emosi yang tertahan. "Kau menampar Arthur demi 'investasi'? Jangan membohongi dirimu sendiri, Isabella. Kau masih peduli padaku."Isabella berbalik dengan sentakan kasar. Ia tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang lebih menyakitkan daripada tamparan yang ia berikan pada Arthur tadi."Peduli? Kau menyebut ini peduli?" Isabella melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Sebastian yang bergetar. "Aku hanya sedang menjaga agar 'barang daganganku' tidak cacat sebelum di
Dua hari berlalu di dalam penthouse megah itu, namun suasananya lebih menyerupai kamar mayat daripada hunian mewah. Ruangan-ruangan luas dengan dinding kaca yang menampilkan kerlap-kerlip kota terasa hampa. Sebastian dan Isabella bergerak seperti hantu; mereka berada di ruang yang sama, namun terpisah oleh jurang yang tak terlihat.Pagi di hari ketiga dimulai dengan keheningan yang menyesakkan, hingga sebuah paket tanpa nama mendarat di meja marmer ruang utama.Selama empat puluh delapan jam terakhir, Sebastian mencoba segala cara untuk memecah es. Ia mengirimkan bunga peony favorit Isabella—yang berakhir di tempat sampah. Ia meminta chef pribadi memasak hidangan kesukaan istrinya—yang dibiarkan mendingin tanpa disentuh.Isabella hanya makan makanan yang ia masak sendiri. Setiap kali mata mereka tak sengaja bertemu, ia akan menatap Sebastian seolah pria itu adalah noda yang mengganggu pemandangan, lalu pergi tanpa sepatah kata pun."Isabella, kita harus bicara soal rapat pemegang saha
Helikopter itu mendarat di atap gedung pusat Vance Global. Di bawah sana, puluhan lampu lampu flash kamera dari wartawan sudah berkedip seperti ribuan jarum cahaya yang haus akan skandal.Sebastian menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menatap Isabella, hendak menawarkan tangannya untuk membantu istrinya turun, namun Isabella sudah lebih dulu melangkah keluar dengan punggung tegak dan dagu terangkat.'Apa dia memiliki penthouse di setiap gedung Vance Group?' Isabella bertanya-tanya dalam hatinya. 'Aku pikir hanya di Skyline Tower. 'Begitu pintu terbuka, kebisingan dunia luar menyerbu masuk. Sebastian segera melangkah maju, secara refleks meletakkan tangannya di pinggang Isabella—gestur protektif yang biasanya terasa hangat, namun kini terasa seperti besi panas bagi mereka berdua."Tuan Vance! Benarkah ada upaya penculikan?""Nyonya Isabella, apakah Anda terluka?""Bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor kebocoran data medis?"Sebastian mempererat dekapanny







