MasukBibir Sebastian berhenti hanya sejengkal di atas bibir Isabella, cukup dekat hingga Isabella bisa merasakan kehangatan napasnya yang beraroma mint dan oak, cukup dekat hingga kecanggungan yang tersisa dari penghinaan Alistair Moretti mencair menjadi antisipasi yang memalukan.
Namun, sebelum sentuhan itu terwujud, Sebastian menarik diri. Gerakannya cepat, klinis, dan tegas, seolah ia baru saja menghindari sengatan listrik. "Cukup," bisiknya, suaranya kembali menjadi es yang terukir tajam. Sebastian tidak pernah melepaskan senyum palsunya, wajahnya tetap ramah untuk kerumunan yang menonton, tetapi matanya—matanya dingin dan marah. "Kalian sudah melihat buktinya, Alistair. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, Anda bisa bertanya kepada pengacaraku." Ia menarik Isabella menjauh tanpa menunggu jawaban, tangannya di pinggang Isabella kini terasa seperti belenggu yang dingin. Di lift, menuju private lounge milik Sebastian, keheningan itu memekakkan telinga. Udara di antara mereka berderak seperti kabel listrik yang telanjang. Isabella menatap refleksi dirinya di dinding lift yang mengilap. Pipi merah, mata lebar, bibir sedikit terbuka. Ia merasakan sensasi sentuhan yang tertunda, dan kemarahan pada dirinya sendiri muncul. Aku merespons. Aku menunggu ciuman itu. "Itu murni pertunjukan." Sebastian memecah keheningan, matanya tertuju ke atas, bukan pada Isabella. Ia terdengar seperti sedang memperbaiki data yang salah. "Sebuah manuver untuk memblokir Alistair Moretti. Jangan salah paham, Isabella. Jangan pernah." Isabella mengangguk, tenggorokannya tercekat. "Saya tahu. Ini hanya... akting." "Akting yang bagus," katanya, nadanya sedikit lebih ringan, tetapi tatapannya kembali kejam. "Gaun itu cocok untukmu. Sekarang, kembalilah ke penthouse. Aku masih ada urusan." Isabella meninggalkannya, hatinya berdebar dengan kombinasi kejutan, penghinaan, dan energi yang mengganggu. Ia tahu seharusnya ia merasa lega, tetapi yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang menjengkelkan. Kehidupan di lantai seratus Skyline Tower adalah eksistensi yang aneh. Siang hari, Isabella menjalani pelatihan menjadi 'tunangan' yang sempurna: belajar etiket, bahasa Prancis dasar, dan mempelajari daftar panjang mitra bisnis Sebastian. Malam hari, ia sendirian di sayap barat yang sunyi. Kedekatan yang dipaksakan mulai menciptakan retakan pada tembok es mereka. Suatu malam, Isabella terbangun karena haus. Ia menyelinap ke dapur yang luas dan steril. Sebastian sudah ada di sana. Bukan dalam balutan setelan mewahnya, melainkan hanya celana tidur flanel abu-abu gelap. Isabella hanya melihatnya sekilas. Punggungnya yang lebar, otot-otot yang terbentuk sempurna, dan bahunya yang tegang. Sebastian berdiri di depan jendela kaca raksasa, memandang ke kegelapan Aurelia City, tanpa menyadari kehadiran Isabella. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu terlihat jauh lebih lelah; garis-garis samar stres terlihat jelas di bawah matanya. Ia terlihat... rentan. Bukan sebagai miliarder, tapi sebagai seorang pria yang menanggung beban dunia di pundaknya. Isabella berdeham pelan. Sebastian berbalik dengan kecepatan kilat, wajahnya langsung kembali mengeras menjadi topeng dinginnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" "Haus," jawab Isabella singkat, mengambil air. "Seharusnya kau memanggil Elva," katanya. Namun, alih-alih pergi, ia mengambil satu cangkir porselen dari kabinet. "Aku tidak bisa tidur." Ia mengambil sebotol Bourbon dari rak tersembunyi. "Jika Anda mengalami kesulitan tidur," kata Isabella tanpa sadar, "teh kamomil dengan sedikit madu mungkin membantu." Sebastian mendongak. "Aku tidak minum teh bunga, Isabella. Pergi tidur." Namun, keesokan paginya, di meja sarapan, Elva meletakkan cangkir di depan Isabella. "Tuan Sebastian meminta saya untuk memesan stok teh kamomil impor terbaik dari Inggris. Katanya, untuk Anda, Nona Isabella." Isabella mengangkat alisnya. Staf mulai menyukainya. Kebaikan Isabella yang tidak dibuat-buat dan kepolosannya yang tak terhapus pelan-pelan meluluhkan staf yang sinis. Elva sendiri kini tersenyum tipis saat membicarakan jadwal Isabella. Perhatian kecil itu datang dari Sebastian, meskipun pria itu segera menyangkalnya—ia tidak pernah menyebut namanya sendiri. Seminggu kemudian, saat menghadiri acara peluncuran kapal pesiar mewah baru milik Vance Global, Julian muncul lagi. Kali ini, ia lebih berani. Julian berhasil menyelinap ke area VIP dan menyergap Isabella saat Sebastian sedang berbicara dengan beberapa Menteri. "Isabella, kita perlu bicara." Julian memohon, suaranya serak. Ia tidak lagi terlihat angkuh; ia terlihat seperti pria yang baru sadar telah membuang permata demi kerikil. "Serena tidak ada artinya. Itu hanya salah paham. Aku mencintaimu, Bella. Kita bisa kembali, kita bisa..." Isabella mundur selangkah, wajahnya pucat. "Julian, kita sudah berakhir. Aku sekarang tunangan Sebastian Vance." "Kau hanya sandiwaranya! Aku tahu kau masih peduli padaku. Aku yang menemukanmu, Bella! Bukan dia!" Julian meraih lengan Isabella dengan kasar. Dalam sepersekian detik, cengkeraman Julian dihancurkan oleh kekuatan yang lebih besar. Sebastian telah muncul di samping Isabella, seperti bayangan yang terwujud dari udara tipis. Matanya membeku, dan rahangnya mengeras dengan kemarahan yang tenang—suatu bentuk kemarahan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan.Sebastian menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia mengingat bagaimana Isabella selalu memindahkan serangga kecil ke luar rumah daripada membunuhnya. Ia mengingat bagaimana mata istrinya selalu berbinar setiap kali mereka melewati toko perlengkapan bayi, jauh sebelum konflik ini dimulai."Seorang ibu tidak akan membunuh bagian dari dirinya hanya untuk membalas dendam," bisik Sebastian pada dirinya sendiri. "Bukan Isabella. Dia terlalu suci untuk dosa sekeji itu."Logika Sebastian mulai membedah kejadian semalam. Isabella mengatakan prosedur itu baru saja selesai, namun ia mampu berdiri dan berjalan—meski dengan wajah pucat. Jika itu adalah sebuah gertakan, maka itu adalah gertakan paling brutal dalam sejarah pernikahan mereka. Sebastian menyadari satu hal: Isabella sedang menggunakan senjata yang paling mematikan untuk menghancurkannya. "Apa dia melakukan ini agar aku membenci dan menceraikannya?"Namun, ada satu ketakutan yang lebih besar: Bagaimana jika ia salah? Bagaim
Isabella membekap mulutnya sendiri, meredam isak tangis yang nyaris meledak. Di balik pintu kayu ek yang tebal itu, ia menyandarkan tubuhnya yang lunglai hingga merosot ke lantai. Tangan gemetarnya meraba perutnya yang masih sedikit kram—bukan karena prosedur medis yang dingin, melainkan karena stres yang menggerogoti fisiknya.Di sana, di dalam rahimnya, sebuah nyawa masih berdenyut. Lemah, namun ada.Ia mendengar raungan Sebastian dari luar. Ia mendengar pukulan tangan pria itu pada marmer dan pernyataan cintanya yang menyimpang. Budak? Cinta? Isabella memejamkan mata erat-erat. Kata-kata itu datang terlambat. Luka yang ditorehkan Sebastian dua hari lalu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan permohonan maaf yang bersimbah air mata."Kau pembohong, Sebastian," bisik Isabella pada kegelapan kamar. "Kau mencintai ego dan rasa bersalahmu, bukan aku."Rencana awal Isabella adalah membuat Sebastian sangat membencinya hingga pria itu melemparkan surat cerai ke wajahnya. Ia ingin beb
Lampu kristal di penthouse itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kini berada dalam satu ruangan, namun terpisah oleh jurang kematian yang baru saja terjadi.Isabella duduk di sofa beludru, wajahnya sepucat kertas. Ia baru saja tiba dari rumah sakit dua jam yang lalu tanpa sepengetahuan Sebastian. Bau antiseptik masih samar tercium dari balik aroma parfum mahalnya. Di atas meja marmer, sebuah map merah dari rumah sakit tergeletak terbuka—menampilkan laporan medis yang menyatakan bahwa prosedur terminasi kehamilan telah selesai dilakukan.Sebastian berdiri di dekat jendela, membelakangi istrinya. Bahunya bergetar hebat."Kau melakukannya..." suara Sebastian pecah, hampir tak terdengar. "Tanpa bicara padaku, tanpa memberiku kesempatan untuk memohon... kau membunuh anak kita, Isabella."Isabella menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit dengan mata kosong. "Anak kita? Sejak kapan kau peduli? Dua hari lalu, saat aku akan memberitahumu kalau aku hamil, apa yang kau la
Langkah kaki Isabella yang berirama di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati bagi Sebastian. Pria itu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan satu gerakan cepat, Sebastian mencengkeram lengan Isabella—lembut, namun penuh desakan."Lepaskan," desis Isabella tanpa menoleh."Tidak sebelum kau menatap mataku dan mengatakan bahwa pembelaanmu tadi hanya soal angka di atas kertas," suara Sebastian merendah, parau oleh emosi yang tertahan. "Kau menampar Arthur demi 'investasi'? Jangan membohongi dirimu sendiri, Isabella. Kau masih peduli padaku."Isabella berbalik dengan sentakan kasar. Ia tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang lebih menyakitkan daripada tamparan yang ia berikan pada Arthur tadi."Peduli? Kau menyebut ini peduli?" Isabella melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Sebastian yang bergetar. "Aku hanya sedang menjaga agar 'barang daganganku' tidak cacat sebelum di
Dua hari berlalu di dalam penthouse megah itu, namun suasananya lebih menyerupai kamar mayat daripada hunian mewah. Ruangan-ruangan luas dengan dinding kaca yang menampilkan kerlap-kerlip kota terasa hampa. Sebastian dan Isabella bergerak seperti hantu; mereka berada di ruang yang sama, namun terpisah oleh jurang yang tak terlihat.Pagi di hari ketiga dimulai dengan keheningan yang menyesakkan, hingga sebuah paket tanpa nama mendarat di meja marmer ruang utama.Selama empat puluh delapan jam terakhir, Sebastian mencoba segala cara untuk memecah es. Ia mengirimkan bunga peony favorit Isabella—yang berakhir di tempat sampah. Ia meminta chef pribadi memasak hidangan kesukaan istrinya—yang dibiarkan mendingin tanpa disentuh.Isabella hanya makan makanan yang ia masak sendiri. Setiap kali mata mereka tak sengaja bertemu, ia akan menatap Sebastian seolah pria itu adalah noda yang mengganggu pemandangan, lalu pergi tanpa sepatah kata pun."Isabella, kita harus bicara soal rapat pemegang saha
Helikopter itu mendarat di atap gedung pusat Vance Global. Di bawah sana, puluhan lampu lampu flash kamera dari wartawan sudah berkedip seperti ribuan jarum cahaya yang haus akan skandal.Sebastian menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menatap Isabella, hendak menawarkan tangannya untuk membantu istrinya turun, namun Isabella sudah lebih dulu melangkah keluar dengan punggung tegak dan dagu terangkat.'Apa dia memiliki penthouse di setiap gedung Vance Group?' Isabella bertanya-tanya dalam hatinya. 'Aku pikir hanya di Skyline Tower. 'Begitu pintu terbuka, kebisingan dunia luar menyerbu masuk. Sebastian segera melangkah maju, secara refleks meletakkan tangannya di pinggang Isabella—gestur protektif yang biasanya terasa hangat, namun kini terasa seperti besi panas bagi mereka berdua."Tuan Vance! Benarkah ada upaya penculikan?""Nyonya Isabella, apakah Anda terluka?""Bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor kebocoran data medis?"Sebastian mempererat dekapanny







