Share

Bab 5

Penulis: Nyi Ratu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-05 23:21:52

Bibir Sebastian berhenti hanya sejengkal di atas bibir Isabella, cukup dekat hingga Isabella bisa merasakan kehangatan napasnya yang beraroma mint dan oak, cukup dekat hingga kecanggungan yang tersisa dari penghinaan Alistair Moretti mencair menjadi antisipasi yang memalukan.

Namun, sebelum sentuhan itu terwujud, Sebastian menarik diri. Gerakannya cepat, klinis, dan tegas, seolah ia baru saja menghindari sengatan listrik.

"Cukup," bisiknya, suaranya kembali menjadi es yang terukir tajam. Sebastian tidak pernah melepaskan senyum palsunya, wajahnya tetap ramah untuk kerumunan yang menonton, tetapi matanya—matanya dingin dan marah. "Kalian sudah melihat buktinya, Alistair. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, Anda bisa bertanya kepada pengacaraku."

Ia menarik Isabella menjauh tanpa menunggu jawaban, tangannya di pinggang Isabella kini terasa seperti belenggu yang dingin.

Di lift, menuju private lounge milik Sebastian, keheningan itu memekakkan telinga. Udara di antara mereka berderak seperti kabel listrik yang telanjang.

Isabella menatap refleksi dirinya di dinding lift yang mengilap. Pipi merah, mata lebar, bibir sedikit terbuka. Ia merasakan sensasi sentuhan yang tertunda, dan kemarahan pada dirinya sendiri muncul. Aku merespons. Aku menunggu ciuman itu.

"Itu murni pertunjukan." Sebastian memecah keheningan, matanya tertuju ke atas, bukan pada Isabella. Ia terdengar seperti sedang memperbaiki data yang salah. "Sebuah manuver untuk memblokir Alistair Moretti. Jangan salah paham, Isabella. Jangan pernah."

Isabella mengangguk, tenggorokannya tercekat. "Saya tahu. Ini hanya... akting."

"Akting yang bagus," katanya, nadanya sedikit lebih ringan, tetapi tatapannya kembali kejam. "Gaun itu cocok untukmu. Sekarang, kembalilah ke penthouse. Aku masih ada urusan."

Isabella meninggalkannya, hatinya berdebar dengan kombinasi kejutan, penghinaan, dan energi yang mengganggu. Ia tahu seharusnya ia merasa lega, tetapi yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang menjengkelkan.

Kehidupan di lantai seratus Skyline Tower adalah eksistensi yang aneh. Siang hari, Isabella menjalani pelatihan menjadi 'tunangan' yang sempurna: belajar etiket, bahasa Prancis dasar, dan mempelajari daftar panjang mitra bisnis Sebastian. Malam hari, ia sendirian di sayap barat yang sunyi.

Kedekatan yang dipaksakan mulai menciptakan retakan pada tembok es mereka.

Suatu malam, Isabella terbangun karena haus. Ia menyelinap ke dapur yang luas dan steril. Sebastian sudah ada di sana. Bukan dalam balutan setelan mewahnya, melainkan hanya celana tidur flanel abu-abu gelap.

Isabella hanya melihatnya sekilas. Punggungnya yang lebar, otot-otot yang terbentuk sempurna, dan bahunya yang tegang. Sebastian berdiri di depan jendela kaca raksasa, memandang ke kegelapan Aurelia City, tanpa menyadari kehadiran Isabella. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu terlihat jauh lebih lelah; garis-garis samar stres terlihat jelas di bawah matanya.

Ia terlihat... rentan. Bukan sebagai miliarder, tapi sebagai seorang pria yang menanggung beban dunia di pundaknya.

Isabella berdeham pelan.

Sebastian berbalik dengan kecepatan kilat, wajahnya langsung kembali mengeras menjadi topeng dinginnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Haus," jawab Isabella singkat, mengambil air.

"Seharusnya kau memanggil Elva," katanya. Namun, alih-alih pergi, ia mengambil satu cangkir porselen dari kabinet. "Aku tidak bisa tidur."

Ia mengambil sebotol Bourbon dari rak tersembunyi.

"Jika Anda mengalami kesulitan tidur," kata Isabella tanpa sadar, "teh kamomil dengan sedikit madu mungkin membantu."

Sebastian mendongak. "Aku tidak minum teh bunga, Isabella. Pergi tidur."

Namun, keesokan paginya, di meja sarapan, Elva meletakkan cangkir di depan Isabella. "Tuan Sebastian meminta saya untuk memesan stok teh kamomil impor terbaik dari Inggris. Katanya, untuk Anda, Nona Isabella."

Isabella mengangkat alisnya. Staf mulai menyukainya. Kebaikan Isabella yang tidak dibuat-buat dan kepolosannya yang tak terhapus pelan-pelan meluluhkan staf yang sinis. Elva sendiri kini tersenyum tipis saat membicarakan jadwal Isabella. Perhatian kecil itu datang dari Sebastian, meskipun pria itu segera menyangkalnya—ia tidak pernah menyebut namanya sendiri.

Seminggu kemudian, saat menghadiri acara peluncuran kapal pesiar mewah baru milik Vance Global, Julian muncul lagi. Kali ini, ia lebih berani.

Julian berhasil menyelinap ke area VIP dan menyergap Isabella saat Sebastian sedang berbicara dengan beberapa Menteri.

"Isabella, kita perlu bicara." Julian memohon, suaranya serak. Ia tidak lagi terlihat angkuh; ia terlihat seperti pria yang baru sadar telah membuang permata demi kerikil. "Serena tidak ada artinya. Itu hanya salah paham. Aku mencintaimu, Bella. Kita bisa kembali, kita bisa..."

Isabella mundur selangkah, wajahnya pucat. "Julian, kita sudah berakhir. Aku sekarang tunangan Sebastian Vance."

"Kau hanya sandiwaranya! Aku tahu kau masih peduli padaku. Aku yang menemukanmu, Bella! Bukan dia!" Julian meraih lengan Isabella dengan kasar.

Dalam sepersekian detik, cengkeraman Julian dihancurkan oleh kekuatan yang lebih besar. Sebastian telah muncul di samping Isabella, seperti bayangan yang terwujud dari udara tipis. Matanya membeku, dan rahangnya mengeras dengan kemarahan yang tenang—suatu bentuk kemarahan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 39

    Sebastian menatap foto itu dengan kilat mata yang mematikan, lalu beralih pada Isabella yang mulai lunglai di pelukannya. Bukannya melepaskan, Sebastian justru mencengkeram bahu Isabella, memaksanya berdiri tegak."Kau ingin pergi? Setelah kau baru saja mengakui bahwa kau mengandung anak pria lain?" Sebastian bertanya dengan nada yang sangat rendah. "Bagaimana jika ini hanya taktikmu untuk melarikan diri dariku, Bella?""Demi Tuhan, Sebastian! Bibi Martha dalam bahaya!" jerit Isabella. "Aku tidak peduli kau mau membunuhku nanti, tapi bawa aku ke sana sekarang!"Sebastian tidak menjawab. Ia memberikan kode pada Alex, dan dalam hitungan detik, mereka sudah berada di dalam Rolls-Royce yang melaju membelah malam dengan kecepatan gila.Rumah Sakit Central – 02:00 AMKoridor rumah sakit itu terasa seperti lorong menuju neraka. Begitu pintu lift terbuka, Isabella berlari menuju ruang ICU. Namun, langkahnya terhenti secara kasar. Empat pria bertubuh besar dengan setelan hitam menutup akses ke

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 38

    Isabella menarik napas panjang, sebuah senyum miring yang provokatif tersungging di bibirnya. Ia tidak mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Sebastian. Sebaliknya, ia melangkah maju hingga dada mereka bersentuhan, menantang maut yang terpancar dari netra pria itu."Kau ingin kejujuran, Sebastian? Baik," bisik Isabella, suaranya kini sedingin es di kutub utara. "Anak ini memang bukan anakmu. Aku memberikan tubuhku padamu hanya sebagai formalitas, tapi aku memberikan sisa hidupku untuk memastikan kau mencintai benih pria lain."Suasana kamar itu seketika menjadi kedap suara. Detak jantung Isabella berpacu, namun ia tetap memasang topeng keberanian. Ia ingin melihat Sebastian hancur. Ia ingin melihat pria yang memiliki segalanya itu kehilangan kewarasannya.Sebastian tidak bergerak. Cengkeramannya tidak mengendur, tapi juga tidak mengencang. Ia hanya menatap jauh ke dalam manik mata Isabella, seolah sedang membaca lembaran-lembaran rahasia yang tersimpan di sana.Isabella... sebegit

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 37

    "Kalau kau melakukannya, bukan hanya ragaku yang menolak, tapi hatiku juga akan aku tutup rapat untukmu, Pak Sebastian."Suara Isabella bergetar namun tajam, seperti mata pisau yang baru saja diasah. Ia menatap lurus ke dalam mata Sebastian yang kini melebar. Panggilan formal "Pak Sebastian" itu adalah tamparan keras bagi ego sang CEO—sebuah batasan dingin yang ditarik tepat di depan wajah pria yang memujanya.Sebastian tertegun di ambang pintu lift. Ia bisa saja memaksanya masuk ke mobil medis itu. Ia memiliki kekuasaan dan kekuatan fisik. Namun, ancaman Isabella tentang 'hati yang tertutup rapat' adalah satu-satunya hal di dunia ini yang mampu melumpuhkan Sebastian Vance."Baiklah, aku akan menyuruh mereka pergi," ucap Sebastian pelan, suaranya parau karena menelan harga diri. Ia memberi kode pada dokter pribadinya untuk segera pergi. "Aku tidak akan memaksamu untuk diperiksa, tapi kau harus makan dan beristirahat. Itu syarat mutlak."Isabella hanya memalingkan wajah, menyembunyikan

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 36

    Isabella menyentakkan tangannya dengan kasar saat ia hendak keluar dari mobil. "Lepaskan tanganku jika kau mau aku terus berakting menjadi istrimu."Sebastian hanya diam tanpa berbicara sedikitpun. Baru kali ini ia merasa begitu ketakutan. Takut akan kehilangan wanita yang sangat ia cintai. Tanpa ragu Sebastian menggendong Isabella masuk ke Gedung pusat Vance berdiri yang berdiri angkuh di jantung distrik finansial. "Kalau kau tidak maun menurunkan aku, aku akan berteriak dan memberitahukan para awak media kalau pernikahan kita palsu. Setelah itu kau akan kehilangan segalanya.""Aku tidak takut kehilangan hartaku, yang paling aku takutkan sekarang adalah kehilanganmu. Terserah kau mau bilang pernikahan kita palsu atau kemesraan kita selama ini hanya settingan. Namun yang pasti, cintaku padamu asli. Aku tidak pernah merasa takut kehilangan seperti sekarang, Isabella." Sebastian terus berbicara sambil menggendong istrinya dan menurunkannya di depan ruang rapat. Suasana di dalam ruang

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 35

    Sebastian menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia mengingat bagaimana Isabella selalu memindahkan serangga kecil ke luar rumah daripada membunuhnya. Ia mengingat bagaimana mata istrinya selalu berbinar setiap kali mereka melewati toko perlengkapan bayi, jauh sebelum konflik ini dimulai."Seorang ibu tidak akan membunuh bagian dari dirinya hanya untuk membalas dendam," bisik Sebastian pada dirinya sendiri. "Bukan Isabella. Dia terlalu suci untuk dosa sekeji itu."Logika Sebastian mulai membedah kejadian semalam. Isabella mengatakan prosedur itu baru saja selesai, namun ia mampu berdiri dan berjalan—meski dengan wajah pucat. Jika itu adalah sebuah gertakan, maka itu adalah gertakan paling brutal dalam sejarah pernikahan mereka. Sebastian menyadari satu hal: Isabella sedang menggunakan senjata yang paling mematikan untuk menghancurkannya. "Apa dia melakukan ini agar aku membenci dan menceraikannya?"Namun, ada satu ketakutan yang lebih besar: Bagaimana jika ia salah? Bagaim

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 34

    Isabella membekap mulutnya sendiri, meredam isak tangis yang nyaris meledak. Di balik pintu kayu ek yang tebal itu, ia menyandarkan tubuhnya yang lunglai hingga merosot ke lantai. Tangan gemetarnya meraba perutnya yang masih sedikit kram—bukan karena prosedur medis yang dingin, melainkan karena stres yang menggerogoti fisiknya.Di sana, di dalam rahimnya, sebuah nyawa masih berdenyut. Lemah, namun ada.Ia mendengar raungan Sebastian dari luar. Ia mendengar pukulan tangan pria itu pada marmer dan pernyataan cintanya yang menyimpang. Budak? Cinta? Isabella memejamkan mata erat-erat. Kata-kata itu datang terlambat. Luka yang ditorehkan Sebastian dua hari lalu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan permohonan maaf yang bersimbah air mata."Kau pembohong, Sebastian," bisik Isabella pada kegelapan kamar. "Kau mencintai ego dan rasa bersalahmu, bukan aku."Rencana awal Isabella adalah membuat Sebastian sangat membencinya hingga pria itu melemparkan surat cerai ke wajahnya. Ia ingin beb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status