Mag-log inSebastian merasakan ketegangan itu. "Dia tunanganku," katanya tanpa emosi kepada Elva. "Dia akan pindah malam ini. Pastikan ruang sayap barat disiapkan. Dan Elva, ingat aturannya. Loyalitas mutlak."
Elva mengangguk kaku, sorot matanya yang tidak percaya sedikit melunak, digantikan oleh kepatuhan dingin. "Tentu, Tuan Sebastian." Sebastian memimpin Isabella ke lorong panjang yang dihiasi karya seni abstrak mahal, tanpa sempat memandang kembali apakah Isabella mengikutinya. "Ruangan ini adalah sayap pribadiku. Jangan pernah masuk tanpa izin." Ia menunjuk pintu kayu gelap. "Kamarmu ada di seberang." Isabella mengangguk, mencoba mencatat semua aturan tak terucapkan yang melayang di udara. "Satu hal lagi." Sebastian berhenti di ambang pintu kamar Isabella. Ia bersandar di kusen pintu, menatap Isabella dengan intensitas yang membuat gadis itu merasakan sensasi sentuhan yang sama seperti di lobi tadi pagi. "Di tempat ini, kau adalah tunanganku. Ini adalah bisnis. Di mata publik, kita sedang jatuh cinta. Di balik pintu ini, kau hanyalah kontrak. Jangan tertipu olehku, Isabella." Isabella menatap cincin berlian yang kini melingkari jarinya. Beratnya terasa seperti beban janji dan kebohongan. "Saya mengerti, Pak Sebastian. Saya tidak mencari cinta di sini. Saya hanya mencari solusi." Sebastian menyeringai tipis, ekspresi yang lebih mengganggu daripada kemarahan. "Bagus. Sekarang, Elva akan memberimu kartu yang dijanjikan. Besok, aku tidak ingin melihatmu dalam setelan murah itu lagi. Beli sesuatu yang pantas. Kita ada acara makan malam amal besok malam." Keesokan harinya adalah badai pembaruan. Kartu kredit itu terasa seperti senjata berbahaya di tangan Isabella. Ia dibawa oleh sopir pribadi Sebastian ke butik-butik yang bahkan tidak ia ketahui namanya, sementara Elva mengawasi setiap pembelian dengan mata elang. Pakaian lamanya disingkirkan. Rambutnya yang kusam kini diberi kilau dan volume baru. Wajahnya yang polos kini dilapisi riasan yang menyembunyikan kelelahan, menonjolkan tulang pipi dan matanya yang besar. Puncaknya terjadi pada pemilihan gaun. Di sebuah butik privat, Isabella berdiri di depan cermin, mengenakan gaun malam sutra berwarna navy yang anggun, tanpa tali, yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan bahunya yang ramping. Saat Sebastian masuk ke ruang ganti untuk pemeriksaan terakhir, Isabella merasakan udara di sekitar mereka menipis. Pria itu, yang biasanya bergerak dengan kepastian yang tergesa-gesa, terdiam di ambang pintu. Matanya yang dingin memindai Isabella, mulai dari kilauan berlian di lehernya hingga ujung kaki. Isabella menahan napas. Ia menantikan cemoohan, kritikan, atau instruksi dingin. Yang ia dapatkan hanyalah keheningan. Rahang Sebastian mengeras, matanya berkedip sekali—hanya sekilas—sebelum ia mendapatkan kembali kendali atas ekspresinya. "Ambil gaun itu," katanya, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya. Ia tidak memberikan pujian, hanya perintah. "Berlatihlah berjalan. Jangan sampai tersandung. Kau adalah tunangan pewaris Vance Global. Bertingkahlah seperti itu." Malam itu, Isabella dan Sebastian memasuki ruang jamuan hotel bintang lima. Kilauan kristal, aroma sampanye, dan bisikan masyarakat kelas atas menyambut mereka. Sebastian segera meraih tangan Isabella. Sentuhannya kering dan hangat. Dia tidak sekadar menggenggamnya; dia mengintegrasikan Isabella ke dalam keberadaannya. Isabella mengangkat kepalanya, memaksakan senyum yang ia harap terlihat seperti kebahagiaan, bukan kecemasan. "Ingat," bisik Sebastian, senyum palsunya terpasang sempurna untuk kerumunan, "Senyum. Jangan bicara kecuali ditanya. Jika ada yang bertanya tentang bagaimana kita bertemu, katakan... cinta pada pandangan pertama di sebuah galeri seni. Dan jangan pernah lepaskan tanganku." Isabella mengangguk. Mereka menjadi pusat perhatian. Bisikan berhenti dan dimulai lagi saat mereka berjalan. Di tengah ruangan, Sebastian menghentikan langkah mereka di hadapan seorang pria paruh baya yang memiliki sepasang mata licik dan seringai angkuh—Alistair Moretti, pesaing utama Sebastian di sektor properti. "Sebastian, anak muda. Akhirnya kau membawa pasanganmu. Kami kira 'tunangan' ini hanya omong kosong untuk menenangkan dewan direksi," cibir Alistair Moretti. "Tentu saja tidak, Alistair," balas Sebastian dengan suara halus namun mematikan. Ia menarik Isabella sedikit lebih dekat. "Kenalkan, tunanganku, Isabella. Sayangnya, ia terlalu mempesona untuk kuperlihatkan pada orang banyak sampai semuanya resmi." Saat Isabella hendak membungkuk, matanya menangkap gerakan di belakang Alistair. Di sana, di antara kerumunan, Julian dan Serena baru saja memasuki ruangan. Wajah Serena, yang penuh dengan kepercayaan diri, tiba-tiba memucat ketika matanya bertemu dengan mata Isabella. Tentu saja, Serena mengenali tunangan CEO Vance Global itu—dialah wanita yang kemarin malam ia cap miskin dan membosankan. Penghinaan yang dirasakan Isabella tadi malam kini berbalik, menampar wajah Serena dengan kekuatan seratus kali lipat. Serena mencengkeram lengan Julian. Julian hanya bisa menatap Isabella, lalu cincin berlian di jarinya, lalu Sebastian Vance yang memancarkan aura bahaya dan kekayaan di samping Isabella. Julian dan Serena mencoba menghindar, namun Sebastian sudah melihat arah pandangan Isabella. Dia merasakan ketegangan yang mengalir di lengan gadis itu. "Ada yang menarik?" tanya Alistair Moretti dengan nada curiga, mengikuti pandangan Sebastian yang kini terarah pada Julian dan Serena. Sebastian menyeringai, senyum predatornya kembali. Ia tahu harus memenangkan pertarungan ini. Untuk Sebastian, ini adalah bisnis. Untuk Isabella, ini adalah pembalasan yang manis. "Tidak ada, hanya dua kenalan lama tunanganku. Mereka terlihat sedikit... terkejut," kata Sebastian santai. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Isabella, menariknya erat-erat. Alistair tertawa skeptis. "Tunangan? Kau yakin, Sebastian? Mengingat betapa rahasianya kau selama ini, mungkin ini hanya sandiwara untuk memblokir merger. Buktikan padaku. Tunjukkan padaku bagaimana kalian berinteraksi." Tantangan dilemparkan. Isabella merasakan tubuh Sebastian menegang. Mereka telah didorong ke sudut. Sebastian mencondongkan tubuhnya ke depan, bayangannya menutupi wajah Isabella. Bisikannya di telinga gadis itu terdengar seperti gemuruh rendah. "Mereka sedang menonton. Jangan merusak sandiwaraku," bisiknya. Sebelum Isabella sempat bereaksi, Sebastian menyentuh pinggangnya dengan tekanan yang lebih kuat, memiringkan kepalanya, dan bibirnya mendekati bibir Isabella.Sebastian membatu. Otot lengannya yang semula melingkar hangat kini mengeras bak baja, berubah dari dekapan protektif menjadi cengkeraman kaku yang menyakitkan. Ia menunduk, menatap puncak kepala Isabella dengan kilat mata yang mengerikan—sebuah perang batin antara sisa-sisa cinta dan kebencian yang mendidih secara instan.Isabella tersentak dalam isaknya. Ia merasakan suhu tubuh Sebastian anjlok, berubah menjadi sedingin es yang siap menghimpitnya."Sebastian? Kau menyakitiku..." bisik Isabella, mendongak dengan mata sembap mencari kepastian.Tanpa sepatah kata, Sebastian melepaskan dekapannya. Ia membiarkan Isabella berdiri goyah sendirian di tengah koridor rumah sakit yang remang. Dengan gerakan kasar, ia menyambar liontin giok dari jemari istrinya, membaliknya, dan menatap simbol itu dengan intensitas yang sanggup membakar."Simbol ini..." suara Sebastian rendah, parau seperti geraman binatang buas yang terluka. "Ini bukan sekadar perhiasan, Bella. Ini adalah The Jade Serpent. Lam
Mobil itu mendecit keras saat sang sopir melakukan u-turn tajam di tengah jalanan yang sepi. Sebastian tidak membuang waktu untuk bertanya; ekspresinya mengeras, rahangnya terkatup rapat seolah ia baru saja menerima kabar tentang retaknya benteng pertahanan terkuatnya.Isabella terpaku. Rasa lelah yang baru saja akan menidurkannya menguap seketika, digantikan oleh debar jantung yang menyakitkan. Bibinya—satu-satunya keluarga yang tersisa, sosok yang selama ini menjadi sandaran di tengah badai hidupnya—kini berada di ambang maut dengan sebuah rahasia.Kembali ke rumah sakit, suasananya sudah berbeda. Lorong yang tadi penuh dengan polisi kini terasa lebih sunyi, namun jauh lebih menekan. Sebastian menggenggam tangan Isabella, langkahnya lebar, menyeret wanita itu menuju ruang rawat darurat yang kini dijaga ketat oleh dua pria berlogo elang.Di dalam ruangan, bau obat-obatan menyengat tajam. Suara detak jantung dari monitor terdengar lemah dan tidak beraturan."Bibi..." bisik Isabella, l
Perjalanan menyusuri koridor rumah sakit terasa seperti membelah dua dunia. Di belakang mereka, kekacauan, anyir darah, dan rintihan Damian sepenuhnya menjadi urusan Hector dan pasukannya. Di depan mereka, lorong steril mulai dipenuhi kilatan lampu merah dan biru dari mobil polisi yang baru tiba.Namun, anehnya, tak ada satu pun aparat penegak hukum yang berani menahan langkah Sebastian. Bukannya menginterogasi, beberapa polisi yang berpapasan justru menunduk hormat sambil membuka jalan, seolah sudah ada 'perjanjian tak tertulis' tentang siapa penguasa sesungguhnya di kota ini.Isabella menyadari kejanggalan itu. Cengkeramannya di kerah kemeja Sebastian mengerat. Kekuatan rahasia. Aparat yang bungkam. Berapa lapis sebenarnya kedok pria yang berstatus sebagai suaminya ini?Sebastian membawa Isabella keluar dari lobi dan langsung masuk ke dalam sebuah SUV hitam antipeluru modifikasi yang sudah menanti dengan pintu terbuka. Begitu pintu tertutup, material kedap suara mobil itu seketika m
Tangan Damian yang gemetar dan basah oleh alkohol meraba lantai secara acak, berusaha menemukan pemantik api perak yang sempat terjatuh saat ia melolong kesakitan tadi. Jemarinya akhirnya menyentuh benda logam dingin itu. Dengan sisa tenaga dan tawa sumbang yang bercampur rintihan, ia memutar roda pemantiknya. Percikan api menyala, siap dilemparkan ke arah genangan alkohol yang mengalir mendekati selang oksigen Bibi Martha."Awas!" Sebastian meraung.Dalam sepersekian detik yang terasa seperti gerakan lambat, Sebastian mendorong tubuh Isabella menjauh, melindunginya dengan punggungnya. Tangan kanannya yang memegang belati bergerak kilat, melemparkan bilah tajam itu membelah udara.Jleb!Belati itu menancap tepat di pergelangan tangan Damian sebelum ia sempat melempar pemantiknya. Damian menjerit histeris, pemantik perak itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke sudut ruangan yang aman dari tumpahan alkohol maupun tabung oksigen.Bersamaan dengan jatuhnya pemantik itu, pintu ruang ICU d
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang ICU. Isabella merasakan dunianya seolah runtuh, namun di tengah guncangan hebat itu, sebuah sisa logika tetap bertahan di benaknya. Ia menatap Damian dengan pandangan kosong, membiarkan pria itu membangun narasi palsunya.Isabella tahu persis siapa ayah dari bayi ini. Tidak pernah ada pria lain selain Sebastian. Namun, saat melihat keraguan yang mulai menggores wajah keras suaminya, Isabella memilih untuk bungkam. Jika ia membantah sekarang, Damian mungkin akan segera menghentikan aliran nyawa Bibi Martha. Ia perlu tahu sejauh mana kegilaan ini akan berlanjut."Jadi..." suara Sebastian pecah, lebih mirip geraman binatang buas yang terluka. "Semua ini... pelarianmu, kebencianmu, bahkan anak itu... adalah bagian dari rencana Damian?"Isabella tidak menjawab. Ia hanya menunduk, membiarkan rambutnya menutupi ekspresi wajahnya, memberikan kesan bahwa ia tertangkap basah. Ia harus menjadi aktris terbaik malam ini demi keselamatan Sebastian dan Bibi
Sebastian menatap foto itu dengan kilat mata yang mematikan, lalu beralih pada Isabella yang mulai lunglai di pelukannya. Bukannya melepaskan, Sebastian justru mencengkeram bahu Isabella, memaksanya berdiri tegak."Kau ingin pergi? Setelah kau baru saja mengakui bahwa kau mengandung anak pria lain?" Sebastian bertanya dengan nada yang sangat rendah. "Bagaimana jika ini hanya taktikmu untuk melarikan diri dariku, Bella?""Demi Tuhan, Sebastian! Bibi Martha dalam bahaya!" jerit Isabella. "Aku tidak peduli kau mau membunuhku nanti, tapi bawa aku ke sana sekarang!"Sebastian tidak menjawab. Ia memberikan kode pada Alex, dan dalam hitungan detik, mereka sudah berada di dalam Rolls-Royce yang melaju membelah malam dengan kecepatan gila.Rumah Sakit Central – 02:00 AMKoridor rumah sakit itu terasa seperti lorong menuju neraka. Begitu pintu lift terbuka, Isabella berlari menuju ruang ICU. Namun, langkahnya terhenti secara kasar. Empat pria bertubuh besar dengan setelan hitam menutup akses ke
"Apa artinya ini bagi kita? Di depan umum?" tanya Isabella, suaranya tercekat, matanya mencari jawaban di wajah Sebastian. Sebastian melangkah maju, menjembatani jarak di antara mereka. Ia tidak menjawab, tetapi rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang. Ini bukan lagi soal bisnis; ini adalah p
Sebastian tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menempatkan dirinya di antara Isabella dan Julian. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Isabella, menariknya erat-erat, hampir posesif. Pemandangan itu adalah tampilan dominasi yang nyata. "Lepaskan tanganmu dari tunanganku," kata Sebastian kepada Julia
Bibir Sebastian berhenti hanya sejengkal di atas bibir Isabella, cukup dekat hingga Isabella bisa merasakan kehangatan napasnya yang beraroma mint dan oak, cukup dekat hingga kecanggungan yang tersisa dari penghinaan Alistair Moretti mencair menjadi antisipasi yang memalukan. Namun, sebelum sentuh
Isabella tertegun. Butuh beberapa detik baginya untuk memproses kata-kata itu. "Saya tidak mengerti, Pak." Sebastian menyeringai. "Sederhana. Aku akan membayar semua utang yang kau miliki, tanpa batas. Aku akan memberimu gaji bulanan sepuluh kali lipat dari gajimu saat ini. Aku akan memberimu kart







