Share

Bab 4

Penulis: Nyi Ratu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-05 22:51:01

Sebastian merasakan ketegangan itu. "Dia tunanganku," katanya tanpa emosi kepada Elva. "Dia akan pindah malam ini. Pastikan ruang sayap barat disiapkan. Dan Elva, ingat aturannya. Loyalitas mutlak."

Elva mengangguk kaku, sorot matanya yang tidak percaya sedikit melunak, digantikan oleh kepatuhan dingin. "Tentu, Tuan Sebastian."

Sebastian memimpin Isabella ke lorong panjang yang dihiasi karya seni abstrak mahal, tanpa sempat memandang kembali apakah Isabella mengikutinya. "Ruangan ini adalah sayap pribadiku. Jangan pernah masuk tanpa izin." Ia menunjuk pintu kayu gelap. "Kamarmu ada di seberang."

Isabella mengangguk, mencoba mencatat semua aturan tak terucapkan yang melayang di udara.

"Satu hal lagi." Sebastian berhenti di ambang pintu kamar Isabella. Ia bersandar di kusen pintu, menatap Isabella dengan intensitas yang membuat gadis itu merasakan sensasi sentuhan yang sama seperti di lobi tadi pagi. "Di tempat ini, kau adalah tunanganku. Ini adalah bisnis. Di mata publik, kita sedang jatuh cinta. Di balik pintu ini, kau hanyalah kontrak. Jangan tertipu olehku, Isabella."

Isabella menatap cincin berlian yang kini melingkari jarinya. Beratnya terasa seperti beban janji dan kebohongan. "Saya mengerti, Pak Sebastian. Saya tidak mencari cinta di sini. Saya hanya mencari solusi."

Sebastian menyeringai tipis, ekspresi yang lebih mengganggu daripada kemarahan. "Bagus. Sekarang, Elva akan memberimu kartu yang dijanjikan. Besok, aku tidak ingin melihatmu dalam setelan murah itu lagi. Beli sesuatu yang pantas. Kita ada acara makan malam amal besok malam."

Keesokan harinya adalah badai pembaruan. Kartu kredit itu terasa seperti senjata berbahaya di tangan Isabella. Ia dibawa oleh sopir pribadi Sebastian ke butik-butik yang bahkan tidak ia ketahui namanya, sementara Elva mengawasi setiap pembelian dengan mata elang.

Pakaian lamanya disingkirkan. Rambutnya yang kusam kini diberi kilau dan volume baru. Wajahnya yang polos kini dilapisi riasan yang menyembunyikan kelelahan, menonjolkan tulang pipi dan matanya yang besar.

Puncaknya terjadi pada pemilihan gaun. Di sebuah butik privat, Isabella berdiri di depan cermin, mengenakan gaun malam sutra berwarna navy yang anggun, tanpa tali, yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan bahunya yang ramping.

Saat Sebastian masuk ke ruang ganti untuk pemeriksaan terakhir, Isabella merasakan udara di sekitar mereka menipis. Pria itu, yang biasanya bergerak dengan kepastian yang tergesa-gesa, terdiam di ambang pintu.

Matanya yang dingin memindai Isabella, mulai dari kilauan berlian di lehernya hingga ujung kaki. Isabella menahan napas. Ia menantikan cemoohan, kritikan, atau instruksi dingin.

Yang ia dapatkan hanyalah keheningan. Rahang Sebastian mengeras, matanya berkedip sekali—hanya sekilas—sebelum ia mendapatkan kembali kendali atas ekspresinya.

"Ambil gaun itu," katanya, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya. Ia tidak memberikan pujian, hanya perintah. "Berlatihlah berjalan. Jangan sampai tersandung. Kau adalah tunangan pewaris Vance Global. Bertingkahlah seperti itu."

Malam itu, Isabella dan Sebastian memasuki ruang jamuan hotel bintang lima. Kilauan kristal, aroma sampanye, dan bisikan masyarakat kelas atas menyambut mereka.

Sebastian segera meraih tangan Isabella. Sentuhannya kering dan hangat. Dia tidak sekadar menggenggamnya; dia mengintegrasikan Isabella ke dalam keberadaannya. Isabella mengangkat kepalanya, memaksakan senyum yang ia harap terlihat seperti kebahagiaan, bukan kecemasan.

"Ingat," bisik Sebastian, senyum palsunya terpasang sempurna untuk kerumunan, "Senyum. Jangan bicara kecuali ditanya. Jika ada yang bertanya tentang bagaimana kita bertemu, katakan... cinta pada pandangan pertama di sebuah galeri seni. Dan jangan pernah lepaskan tanganku."

Isabella mengangguk. Mereka menjadi pusat perhatian. Bisikan berhenti dan dimulai lagi saat mereka berjalan.

Di tengah ruangan, Sebastian menghentikan langkah mereka di hadapan seorang pria paruh baya yang memiliki sepasang mata licik dan seringai angkuh—Alistair Moretti, pesaing utama Sebastian di sektor properti.

"Sebastian, anak muda. Akhirnya kau membawa pasanganmu. Kami kira 'tunangan' ini hanya omong kosong untuk menenangkan dewan direksi," cibir Alistair Moretti.

"Tentu saja tidak, Alistair," balas Sebastian dengan suara halus namun mematikan. Ia menarik Isabella sedikit lebih dekat. "Kenalkan, tunanganku, Isabella. Sayangnya, ia terlalu mempesona untuk kuperlihatkan pada orang banyak sampai semuanya resmi."

Saat Isabella hendak membungkuk, matanya menangkap gerakan di belakang Alistair.

Di sana, di antara kerumunan, Julian dan Serena baru saja memasuki ruangan.

Wajah Serena, yang penuh dengan kepercayaan diri, tiba-tiba memucat ketika matanya bertemu dengan mata Isabella. Tentu saja, Serena mengenali tunangan CEO Vance Global itu—dialah wanita yang kemarin malam ia cap miskin dan membosankan. Penghinaan yang dirasakan Isabella tadi malam kini berbalik, menampar wajah Serena dengan kekuatan seratus kali lipat.

Serena mencengkeram lengan Julian. Julian hanya bisa menatap Isabella, lalu cincin berlian di jarinya, lalu Sebastian Vance yang memancarkan aura bahaya dan kekayaan di samping Isabella.

Julian dan Serena mencoba menghindar, namun Sebastian sudah melihat arah pandangan Isabella. Dia merasakan ketegangan yang mengalir di lengan gadis itu.

"Ada yang menarik?" tanya Alistair Moretti dengan nada curiga, mengikuti pandangan Sebastian yang kini terarah pada Julian dan Serena.

Sebastian menyeringai, senyum predatornya kembali. Ia tahu harus memenangkan pertarungan ini. Untuk Sebastian, ini adalah bisnis. Untuk Isabella, ini adalah pembalasan yang manis.

"Tidak ada, hanya dua kenalan lama tunanganku. Mereka terlihat sedikit... terkejut," kata Sebastian santai. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Isabella, menariknya erat-erat.

Alistair tertawa skeptis. "Tunangan? Kau yakin, Sebastian? Mengingat betapa rahasianya kau selama ini, mungkin ini hanya sandiwara untuk memblokir merger. Buktikan padaku. Tunjukkan padaku bagaimana kalian berinteraksi."

Tantangan dilemparkan. Isabella merasakan tubuh Sebastian menegang. Mereka telah didorong ke sudut.

Sebastian mencondongkan tubuhnya ke depan, bayangannya menutupi wajah Isabella. Bisikannya di telinga gadis itu terdengar seperti gemuruh rendah.

"Mereka sedang menonton. Jangan merusak sandiwaraku," bisiknya.

Sebelum Isabella sempat bereaksi, Sebastian menyentuh pinggangnya dengan tekanan yang lebih kuat, memiringkan kepalanya, dan bibirnya mendekati bibir Isabella.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 35

    Sebastian menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia mengingat bagaimana Isabella selalu memindahkan serangga kecil ke luar rumah daripada membunuhnya. Ia mengingat bagaimana mata istrinya selalu berbinar setiap kali mereka melewati toko perlengkapan bayi, jauh sebelum konflik ini dimulai."Seorang ibu tidak akan membunuh bagian dari dirinya hanya untuk membalas dendam," bisik Sebastian pada dirinya sendiri. "Bukan Isabella. Dia terlalu suci untuk dosa sekeji itu."Logika Sebastian mulai membedah kejadian semalam. Isabella mengatakan prosedur itu baru saja selesai, namun ia mampu berdiri dan berjalan—meski dengan wajah pucat. Jika itu adalah sebuah gertakan, maka itu adalah gertakan paling brutal dalam sejarah pernikahan mereka. Sebastian menyadari satu hal: Isabella sedang menggunakan senjata yang paling mematikan untuk menghancurkannya. "Apa dia melakukan ini agar aku membenci dan menceraikannya?"Namun, ada satu ketakutan yang lebih besar: Bagaimana jika ia salah? Bagaim

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 34

    Isabella membekap mulutnya sendiri, meredam isak tangis yang nyaris meledak. Di balik pintu kayu ek yang tebal itu, ia menyandarkan tubuhnya yang lunglai hingga merosot ke lantai. Tangan gemetarnya meraba perutnya yang masih sedikit kram—bukan karena prosedur medis yang dingin, melainkan karena stres yang menggerogoti fisiknya.Di sana, di dalam rahimnya, sebuah nyawa masih berdenyut. Lemah, namun ada.Ia mendengar raungan Sebastian dari luar. Ia mendengar pukulan tangan pria itu pada marmer dan pernyataan cintanya yang menyimpang. Budak? Cinta? Isabella memejamkan mata erat-erat. Kata-kata itu datang terlambat. Luka yang ditorehkan Sebastian dua hari lalu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan permohonan maaf yang bersimbah air mata."Kau pembohong, Sebastian," bisik Isabella pada kegelapan kamar. "Kau mencintai ego dan rasa bersalahmu, bukan aku."Rencana awal Isabella adalah membuat Sebastian sangat membencinya hingga pria itu melemparkan surat cerai ke wajahnya. Ia ingin beb

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 33

    Lampu kristal di penthouse itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kini berada dalam satu ruangan, namun terpisah oleh jurang kematian yang baru saja terjadi.Isabella duduk di sofa beludru, wajahnya sepucat kertas. Ia baru saja tiba dari rumah sakit dua jam yang lalu tanpa sepengetahuan Sebastian. Bau antiseptik masih samar tercium dari balik aroma parfum mahalnya. Di atas meja marmer, sebuah map merah dari rumah sakit tergeletak terbuka—menampilkan laporan medis yang menyatakan bahwa prosedur terminasi kehamilan telah selesai dilakukan.Sebastian berdiri di dekat jendela, membelakangi istrinya. Bahunya bergetar hebat."Kau melakukannya..." suara Sebastian pecah, hampir tak terdengar. "Tanpa bicara padaku, tanpa memberiku kesempatan untuk memohon... kau membunuh anak kita, Isabella."Isabella menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit dengan mata kosong. "Anak kita? Sejak kapan kau peduli? Dua hari lalu, saat aku akan memberitahumu kalau aku hamil, apa yang kau la

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 32

    Langkah kaki Isabella yang berirama di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati bagi Sebastian. Pria itu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan satu gerakan cepat, Sebastian mencengkeram lengan Isabella—lembut, namun penuh desakan."Lepaskan," desis Isabella tanpa menoleh."Tidak sebelum kau menatap mataku dan mengatakan bahwa pembelaanmu tadi hanya soal angka di atas kertas," suara Sebastian merendah, parau oleh emosi yang tertahan. "Kau menampar Arthur demi 'investasi'? Jangan membohongi dirimu sendiri, Isabella. Kau masih peduli padaku."Isabella berbalik dengan sentakan kasar. Ia tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang lebih menyakitkan daripada tamparan yang ia berikan pada Arthur tadi."Peduli? Kau menyebut ini peduli?" Isabella melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Sebastian yang bergetar. "Aku hanya sedang menjaga agar 'barang daganganku' tidak cacat sebelum di

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 31

    Dua hari berlalu di dalam penthouse megah itu, namun suasananya lebih menyerupai kamar mayat daripada hunian mewah. Ruangan-ruangan luas dengan dinding kaca yang menampilkan kerlap-kerlip kota terasa hampa. Sebastian dan Isabella bergerak seperti hantu; mereka berada di ruang yang sama, namun terpisah oleh jurang yang tak terlihat.Pagi di hari ketiga dimulai dengan keheningan yang menyesakkan, hingga sebuah paket tanpa nama mendarat di meja marmer ruang utama.Selama empat puluh delapan jam terakhir, Sebastian mencoba segala cara untuk memecah es. Ia mengirimkan bunga peony favorit Isabella—yang berakhir di tempat sampah. Ia meminta chef pribadi memasak hidangan kesukaan istrinya—yang dibiarkan mendingin tanpa disentuh.Isabella hanya makan makanan yang ia masak sendiri. Setiap kali mata mereka tak sengaja bertemu, ia akan menatap Sebastian seolah pria itu adalah noda yang mengganggu pemandangan, lalu pergi tanpa sepatah kata pun."Isabella, kita harus bicara soal rapat pemegang saha

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 30

    Helikopter itu mendarat di atap gedung pusat Vance Global. Di bawah sana, puluhan lampu lampu flash kamera dari wartawan sudah berkedip seperti ribuan jarum cahaya yang haus akan skandal.Sebastian menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menatap Isabella, hendak menawarkan tangannya untuk membantu istrinya turun, namun Isabella sudah lebih dulu melangkah keluar dengan punggung tegak dan dagu terangkat.'Apa dia memiliki penthouse di setiap gedung Vance Group?' Isabella bertanya-tanya dalam hatinya. 'Aku pikir hanya di Skyline Tower. 'Begitu pintu terbuka, kebisingan dunia luar menyerbu masuk. Sebastian segera melangkah maju, secara refleks meletakkan tangannya di pinggang Isabella—gestur protektif yang biasanya terasa hangat, namun kini terasa seperti besi panas bagi mereka berdua."Tuan Vance! Benarkah ada upaya penculikan?""Nyonya Isabella, apakah Anda terluka?""Bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor kebocoran data medis?"Sebastian mempererat dekapanny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status