공유

Bab 6

작가: Nyi Ratu
last update 게시일: 2025-11-05 23:22:32

Sebastian tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menempatkan dirinya di antara Isabella dan Julian. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Isabella, menariknya erat-erat, hampir posesif. Pemandangan itu adalah tampilan dominasi yang nyata.

"Lepaskan tanganmu dari tunanganku," kata Sebastian kepada Julian, suaranya pelan dan mengancam, seolah sedang memperingatkan hama. "Jika aku melihatmu di sekitar Isabella lagi, aku akan pastikan kau tidak akan pernah lagi bekerja di kota ini."

Julian, yang hanya bisa melihat tatapan membunuh Sebastian, memucat dan mundur.

Isabella, yang gemetar karena trauma masa lalunya, merasakan perlindungan dari Sebastian. Pelukan di pinggangnya bukan lagi hanya akting; itu adalah perisai.

"Aku baik-baik saja," bisik Isabella, setelah Julian pergi.

Sebastian tidak menjawab. Ia hanya terus memegang Isabella, pandangannya mengamati kerumunan. Mereka berdua berdiri seperti itu untuk waktu yang lama, terlalu dekat, terlalu intens, seolah-olah mereka adalah satu-satunya dua orang yang tersisa di dunia itu.

Momen itu, saat Isabella merasakan detak jantungnya sendiri berpacu melawan kemeja sutra Sebastian, terasa begitu nyata hingga ia lupa itu adalah sandiwara.

Sebastian menunduk, matanya yang gelap bertemu mata Isabella. Dia tidak lagi memandang Isabella sebagai kontrak atau properti. Ada keraguan, pertanyaan, dan sesuatu yang berkilau serta berbahaya di matanya. Sebastian menyentuh pipi Isabella dengan ibu jarinya, gerakannya lembut, benar-benar berbeda dari sentuhan-sentuhan kasarnya yang lain.

Ia menarik Isabella lebih dekat. Isabella memejamkan mata, membiarkan dirinya jatuh. Kali ini, tidak ada kerumunan. Tidak ada Alistair Moretti. Ini adalah Sebastian dan Isabella.

Bibir Sebastian hanya berjarak satu inci—

Tiba-tiba, telepon Sebastian berdering. Nada dering khusus yang jarang terdengar, darurat. Sebastian segera melepaskan Isabella, ekspresi di wajahnya kembali menjadi CEO yang kejam.

"Ya." Ia menjawab, suaranya menuntut. Ia mendengarkan selama beberapa saat, dan rahangnya mengeras. "Apa? Tapi... bagaimana bisa mereka tahu?"

Sebastian memijat pelipisnya, melirik Isabella dengan mata yang dipenuhi kekhawatiran yang belum pernah Isabella lihat sebelumnya.

"Sial." Sebastian mengumpat pelan. Ia menatap Isabella, pandangannya kosong. "Dokumen rahasia ... bocor. Seluruh strategi kita sekarang ada di tangan musuh."

Sebastian mematikan telepon, pandangannya tertuju pada Isabella seolah ia baru saja melihatnya untuk pertama kalinya. Ketegangan di tubuhnya begitu besar sehingga ia tidak lagi memeluk Isabella sebagai perisai, melainkan sebagai jangkar.

"Aku harus pergi," katanya, suaranya kembali datar dan profesional. Ia bergerak cepat ke arah pintu keluar VIP.

"Apa yang terjadi?" Isabella mengejar, terengah-engah. Rasa terkejutnya karena hampir dicium hilang sepenuhnya, digantikan oleh kecemasan atas rahasia yang bocor.

Mereka kembali ke dalam mobil, Audi hitam meluncur dengan kecepatan berbahaya menembus lalu lintas Aurelia City. Sebastian melemparkan dasinya ke kursi. Wajahnya yang tegang kini terlihat rapuh di bawah cahaya lampu jalanan.

"Dokumen merger dengan Moretti. Detail strategis yang hanya diketahui oleh dewan direksi dan beberapa manajer kunci. Semuanya ada di tangan Alistair Moretti. Dia sudah tahu setiap tawaran, setiap kelemahan kita," jelas Sebastian, suaranya tajam seperti pecahan kaca.

"Bagaimana mungkin?"

Sebastian mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Hanya ada satu cara. Ada tikus di dalam perusahaanku."

Isabella terdiam. Tiba-tiba, taruhan kontrak mereka naik sepuluh kali lipat. Ini bukan lagi sekadar sandiwara tunangan; ini adalah mata-mata, pengkhianatan, dan kehancuran finansial.

"Aku... aku minta maaf," bisik Isabella.

Sebastian menoleh. Kali ini, ia benar-benar menoleh. Matanya tidak lagi menganalisisnya, tetapi melihatnya; kebingungan dan kelelahan terlihat jelas.

"Kau tidak perlu meminta maaf," katanya. "Kau tidak ada hubungannya dengan ini. Kau hanya... kontrak."

Setibanya di penthouse, Sebastian langsung menuju ruang kerjanya. Isabella berdiri di luar pintu, mendengarkan panggilan telepon yang dipenuhi kemarahan dan instruksi tajam. Setelah dua jam, ruangan itu hening.

Isabella mengetuk. "Saya membuatkan teh," katanya, memegang cangkir kamomil yang ia tahu Sebastian akan tolak.

Sebastian duduk di kursinya, kepalanya bersandar, matanya terpejam. Dia terlihat hancur. Pria berwibawa yang mengancam Alistair tadi malam kini hanya terlihat seperti pria yang baru saja kehilangan segalanya.

"Tinggalkan saja di sana," gumamnya.

Isabella meletakkan cangkir itu dan malah duduk di sofa terdekat, menatapnya. Ia tidak pergi.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Sebastian, membuka matanya yang merah.

"Anda terlihat seperti akan hancur," jawab Isabella jujur. "Saya tidak akan pergi. Setidaknya Anda tidak membuang teh itu."

Sebastian menatapnya selama keheningan yang panjang. Isabella tidak menunjukkan ketakutan, hanya kekhawatiran yang tulus. Bukan kekhawatiran pada gaji besok, melainkan pada kelelahan di mata pria itu.

Tiba-tiba, Sebastian berdiri, berjalan ke jendela kaca besar.

"Aku bisa kehilangan segalanya karena tikus itu," katanya, suaranya rendah. "Bukan hanya uang. Warisan. Nama keluargaku. Tapi yang lebih membuatku marah—"

Dia berhenti, meremas tangannya.

"Yang lebih membuatku marah," ulang Sebastian, berbalik menghadap Isabella, "adalah bagaimana aku bereaksi saat melihat bajingan itu—Julian—menyentuhmu."

Isabella menahan napas. Ini bukan bagian dari pembahasan dokumen rahasia yang bocor.

"Reaksiku," lanjut Sebastian, suaranya dipenuhi amarah yang bergetar. "Saat dia menyentuhmu, saat dia bilang dia yang menemukanmu... kemarahan itu nyata, Isabella. Posesif itu nyata. Aku tidak melindungimu dari Alistair. Aku melindungimu dari Julian, karena aku tidak ingin dia memilikimu."

Itu adalah pengakuan, bukan permintaan maaf.

"Aku tidak bisa membiarkan kontrak itu berjalan seperti ini." Sebastian bergerak mendekat, berdiri di depannya. "Aku tidak bisa kembali berpura-pura dingin setelah aku melihat..." Dia menunjuk bibirnya. "Aku tidak tahu apa yang kurasakan padamu. Itu mengganggu, itu tidak nyaman, dan itu tidak rasional. Tapi aku tidak bisa kembali ke kepalsuan."

Isabella menahan air mata yang tiba-tiba muncul. Bukan air mata sedih, tapi air mata keterkejutan. Miliarder yang kejam ini baru saja mengakui kerentanannya.

"Saya juga tidak bisa kembali," bisik Isabella. Ia berdiri. "Sejak semalam, sejak Julian muncul. Saya tidak memikirkan penghinaan yang ia lakukan, Sebastian."

Sebastian mengulurkan tangan, meraih tangan Isabella. Bukan sentuhan yang dominan, melainkan sentuhan yang meminta persetujuan.

"Kontraknya mati," kata Sebastian. "Kepalsuan di antara kita secara pribadi mati."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 44

    Sebastian membatu. Otot lengannya yang semula melingkar hangat kini mengeras bak baja, berubah dari dekapan protektif menjadi cengkeraman kaku yang menyakitkan. Ia menunduk, menatap puncak kepala Isabella dengan kilat mata yang mengerikan—sebuah perang batin antara sisa-sisa cinta dan kebencian yang mendidih secara instan.Isabella tersentak dalam isaknya. Ia merasakan suhu tubuh Sebastian anjlok, berubah menjadi sedingin es yang siap menghimpitnya."Sebastian? Kau menyakitiku..." bisik Isabella, mendongak dengan mata sembap mencari kepastian.Tanpa sepatah kata, Sebastian melepaskan dekapannya. Ia membiarkan Isabella berdiri goyah sendirian di tengah koridor rumah sakit yang remang. Dengan gerakan kasar, ia menyambar liontin giok dari jemari istrinya, membaliknya, dan menatap simbol itu dengan intensitas yang sanggup membakar."Simbol ini..." suara Sebastian rendah, parau seperti geraman binatang buas yang terluka. "Ini bukan sekadar perhiasan, Bella. Ini adalah The Jade Serpent. Lam

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 43

    Mobil itu mendecit keras saat sang sopir melakukan u-turn tajam di tengah jalanan yang sepi. Sebastian tidak membuang waktu untuk bertanya; ekspresinya mengeras, rahangnya terkatup rapat seolah ia baru saja menerima kabar tentang retaknya benteng pertahanan terkuatnya.Isabella terpaku. Rasa lelah yang baru saja akan menidurkannya menguap seketika, digantikan oleh debar jantung yang menyakitkan. Bibinya—satu-satunya keluarga yang tersisa, sosok yang selama ini menjadi sandaran di tengah badai hidupnya—kini berada di ambang maut dengan sebuah rahasia.Kembali ke rumah sakit, suasananya sudah berbeda. Lorong yang tadi penuh dengan polisi kini terasa lebih sunyi, namun jauh lebih menekan. Sebastian menggenggam tangan Isabella, langkahnya lebar, menyeret wanita itu menuju ruang rawat darurat yang kini dijaga ketat oleh dua pria berlogo elang.Di dalam ruangan, bau obat-obatan menyengat tajam. Suara detak jantung dari monitor terdengar lemah dan tidak beraturan."Bibi..." bisik Isabella, l

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 42

    Perjalanan menyusuri koridor rumah sakit terasa seperti membelah dua dunia. Di belakang mereka, kekacauan, anyir darah, dan rintihan Damian sepenuhnya menjadi urusan Hector dan pasukannya. Di depan mereka, lorong steril mulai dipenuhi kilatan lampu merah dan biru dari mobil polisi yang baru tiba.Namun, anehnya, tak ada satu pun aparat penegak hukum yang berani menahan langkah Sebastian. Bukannya menginterogasi, beberapa polisi yang berpapasan justru menunduk hormat sambil membuka jalan, seolah sudah ada 'perjanjian tak tertulis' tentang siapa penguasa sesungguhnya di kota ini.Isabella menyadari kejanggalan itu. Cengkeramannya di kerah kemeja Sebastian mengerat. Kekuatan rahasia. Aparat yang bungkam. Berapa lapis sebenarnya kedok pria yang berstatus sebagai suaminya ini?Sebastian membawa Isabella keluar dari lobi dan langsung masuk ke dalam sebuah SUV hitam antipeluru modifikasi yang sudah menanti dengan pintu terbuka. Begitu pintu tertutup, material kedap suara mobil itu seketika m

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 41

    Tangan Damian yang gemetar dan basah oleh alkohol meraba lantai secara acak, berusaha menemukan pemantik api perak yang sempat terjatuh saat ia melolong kesakitan tadi. Jemarinya akhirnya menyentuh benda logam dingin itu. Dengan sisa tenaga dan tawa sumbang yang bercampur rintihan, ia memutar roda pemantiknya. Percikan api menyala, siap dilemparkan ke arah genangan alkohol yang mengalir mendekati selang oksigen Bibi Martha."Awas!" Sebastian meraung.Dalam sepersekian detik yang terasa seperti gerakan lambat, Sebastian mendorong tubuh Isabella menjauh, melindunginya dengan punggungnya. Tangan kanannya yang memegang belati bergerak kilat, melemparkan bilah tajam itu membelah udara.Jleb!Belati itu menancap tepat di pergelangan tangan Damian sebelum ia sempat melempar pemantiknya. Damian menjerit histeris, pemantik perak itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke sudut ruangan yang aman dari tumpahan alkohol maupun tabung oksigen.Bersamaan dengan jatuhnya pemantik itu, pintu ruang ICU d

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 40

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang ICU. Isabella merasakan dunianya seolah runtuh, namun di tengah guncangan hebat itu, sebuah sisa logika tetap bertahan di benaknya. Ia menatap Damian dengan pandangan kosong, membiarkan pria itu membangun narasi palsunya.Isabella tahu persis siapa ayah dari bayi ini. Tidak pernah ada pria lain selain Sebastian. Namun, saat melihat keraguan yang mulai menggores wajah keras suaminya, Isabella memilih untuk bungkam. Jika ia membantah sekarang, Damian mungkin akan segera menghentikan aliran nyawa Bibi Martha. Ia perlu tahu sejauh mana kegilaan ini akan berlanjut."Jadi..." suara Sebastian pecah, lebih mirip geraman binatang buas yang terluka. "Semua ini... pelarianmu, kebencianmu, bahkan anak itu... adalah bagian dari rencana Damian?"Isabella tidak menjawab. Ia hanya menunduk, membiarkan rambutnya menutupi ekspresi wajahnya, memberikan kesan bahwa ia tertangkap basah. Ia harus menjadi aktris terbaik malam ini demi keselamatan Sebastian dan Bibi

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 39

    Sebastian menatap foto itu dengan kilat mata yang mematikan, lalu beralih pada Isabella yang mulai lunglai di pelukannya. Bukannya melepaskan, Sebastian justru mencengkeram bahu Isabella, memaksanya berdiri tegak."Kau ingin pergi? Setelah kau baru saja mengakui bahwa kau mengandung anak pria lain?" Sebastian bertanya dengan nada yang sangat rendah. "Bagaimana jika ini hanya taktikmu untuk melarikan diri dariku, Bella?""Demi Tuhan, Sebastian! Bibi Martha dalam bahaya!" jerit Isabella. "Aku tidak peduli kau mau membunuhku nanti, tapi bawa aku ke sana sekarang!"Sebastian tidak menjawab. Ia memberikan kode pada Alex, dan dalam hitungan detik, mereka sudah berada di dalam Rolls-Royce yang melaju membelah malam dengan kecepatan gila.Rumah Sakit Central – 02:00 AMKoridor rumah sakit itu terasa seperti lorong menuju neraka. Begitu pintu lift terbuka, Isabella berlari menuju ruang ICU. Namun, langkahnya terhenti secara kasar. Empat pria bertubuh besar dengan setelan hitam menutup akses ke

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 5

    Bibir Sebastian berhenti hanya sejengkal di atas bibir Isabella, cukup dekat hingga Isabella bisa merasakan kehangatan napasnya yang beraroma mint dan oak, cukup dekat hingga kecanggungan yang tersisa dari penghinaan Alistair Moretti mencair menjadi antisipasi yang memalukan. Namun, sebelum sentuh

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 3

    Isabella tertegun. Butuh beberapa detik baginya untuk memproses kata-kata itu. "Saya tidak mengerti, Pak." Sebastian menyeringai. "Sederhana. Aku akan membayar semua utang yang kau miliki, tanpa batas. Aku akan memberimu gaji bulanan sepuluh kali lipat dari gajimu saat ini. Aku akan memberimu kart

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 7

    "Apa artinya ini bagi kita? Di depan umum?" tanya Isabella, suaranya tercekat, matanya mencari jawaban di wajah Sebastian. Sebastian melangkah maju, menjembatani jarak di antara mereka. Ia tidak menjawab, tetapi rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang. Ini bukan lagi soal bisnis; ini adalah p

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 4

    Sebastian merasakan ketegangan itu. "Dia tunanganku," katanya tanpa emosi kepada Elva. "Dia akan pindah malam ini. Pastikan ruang sayap barat disiapkan. Dan Elva, ingat aturannya. Loyalitas mutlak." Elva mengangguk kaku, sorot matanya yang tidak percaya sedikit melunak, digantikan oleh kepatuhan d

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status