MasukSebastian tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menempatkan dirinya di antara Isabella dan Julian. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Isabella, menariknya erat-erat, hampir posesif. Pemandangan itu adalah tampilan dominasi yang nyata.
"Lepaskan tanganmu dari tunanganku," kata Sebastian kepada Julian, suaranya pelan dan mengancam, seolah sedang memperingatkan hama. "Jika aku melihatmu di sekitar Isabella lagi, aku akan pastikan kau tidak akan pernah lagi bekerja di kota ini." Julian, yang hanya bisa melihat tatapan membunuh Sebastian, memucat dan mundur. Isabella, yang gemetar karena trauma masa lalunya, merasakan perlindungan dari Sebastian. Pelukan di pinggangnya bukan lagi hanya akting; itu adalah perisai. "Aku baik-baik saja," bisik Isabella, setelah Julian pergi. Sebastian tidak menjawab. Ia hanya terus memegang Isabella, pandangannya mengamati kerumunan. Mereka berdua berdiri seperti itu untuk waktu yang lama, terlalu dekat, terlalu intens, seolah-olah mereka adalah satu-satunya dua orang yang tersisa di dunia itu. Momen itu, saat Isabella merasakan detak jantungnya sendiri berpacu melawan kemeja sutra Sebastian, terasa begitu nyata hingga ia lupa itu adalah sandiwara. Sebastian menunduk, matanya yang gelap bertemu mata Isabella. Dia tidak lagi memandang Isabella sebagai kontrak atau properti. Ada keraguan, pertanyaan, dan sesuatu yang berkilau serta berbahaya di matanya. Sebastian menyentuh pipi Isabella dengan ibu jarinya, gerakannya lembut, benar-benar berbeda dari sentuhan-sentuhan kasarnya yang lain. Ia menarik Isabella lebih dekat. Isabella memejamkan mata, membiarkan dirinya jatuh. Kali ini, tidak ada kerumunan. Tidak ada Alistair Moretti. Ini adalah Sebastian dan Isabella. Bibir Sebastian hanya berjarak satu inci— Tiba-tiba, telepon Sebastian berdering. Nada dering khusus yang jarang terdengar, darurat. Sebastian segera melepaskan Isabella, ekspresi di wajahnya kembali menjadi CEO yang kejam. "Ya." Ia menjawab, suaranya menuntut. Ia mendengarkan selama beberapa saat, dan rahangnya mengeras. "Apa? Tapi... bagaimana bisa mereka tahu?" Sebastian memijat pelipisnya, melirik Isabella dengan mata yang dipenuhi kekhawatiran yang belum pernah Isabella lihat sebelumnya. "Sial." Sebastian mengumpat pelan. Ia menatap Isabella, pandangannya kosong. "Dokumen rahasia ... bocor. Seluruh strategi kita sekarang ada di tangan musuh." Sebastian mematikan telepon, pandangannya tertuju pada Isabella seolah ia baru saja melihatnya untuk pertama kalinya. Ketegangan di tubuhnya begitu besar sehingga ia tidak lagi memeluk Isabella sebagai perisai, melainkan sebagai jangkar. "Aku harus pergi," katanya, suaranya kembali datar dan profesional. Ia bergerak cepat ke arah pintu keluar VIP. "Apa yang terjadi?" Isabella mengejar, terengah-engah. Rasa terkejutnya karena hampir dicium hilang sepenuhnya, digantikan oleh kecemasan atas rahasia yang bocor. Mereka kembali ke dalam mobil, Audi hitam meluncur dengan kecepatan berbahaya menembus lalu lintas Aurelia City. Sebastian melemparkan dasinya ke kursi. Wajahnya yang tegang kini terlihat rapuh di bawah cahaya lampu jalanan. "Dokumen merger dengan Moretti. Detail strategis yang hanya diketahui oleh dewan direksi dan beberapa manajer kunci. Semuanya ada di tangan Alistair Moretti. Dia sudah tahu setiap tawaran, setiap kelemahan kita," jelas Sebastian, suaranya tajam seperti pecahan kaca. "Bagaimana mungkin?" Sebastian mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Hanya ada satu cara. Ada tikus di dalam perusahaanku." Isabella terdiam. Tiba-tiba, taruhan kontrak mereka naik sepuluh kali lipat. Ini bukan lagi sekadar sandiwara tunangan; ini adalah mata-mata, pengkhianatan, dan kehancuran finansial. "Aku... aku minta maaf," bisik Isabella. Sebastian menoleh. Kali ini, ia benar-benar menoleh. Matanya tidak lagi menganalisisnya, tetapi melihatnya; kebingungan dan kelelahan terlihat jelas. "Kau tidak perlu meminta maaf," katanya. "Kau tidak ada hubungannya dengan ini. Kau hanya... kontrak." Setibanya di penthouse, Sebastian langsung menuju ruang kerjanya. Isabella berdiri di luar pintu, mendengarkan panggilan telepon yang dipenuhi kemarahan dan instruksi tajam. Setelah dua jam, ruangan itu hening. Isabella mengetuk. "Saya membuatkan teh," katanya, memegang cangkir kamomil yang ia tahu Sebastian akan tolak. Sebastian duduk di kursinya, kepalanya bersandar, matanya terpejam. Dia terlihat hancur. Pria berwibawa yang mengancam Alistair tadi malam kini hanya terlihat seperti pria yang baru saja kehilangan segalanya. "Tinggalkan saja di sana," gumamnya. Isabella meletakkan cangkir itu dan malah duduk di sofa terdekat, menatapnya. Ia tidak pergi. "Apa yang kau inginkan?" tanya Sebastian, membuka matanya yang merah. "Anda terlihat seperti akan hancur," jawab Isabella jujur. "Saya tidak akan pergi. Setidaknya Anda tidak membuang teh itu." Sebastian menatapnya selama keheningan yang panjang. Isabella tidak menunjukkan ketakutan, hanya kekhawatiran yang tulus. Bukan kekhawatiran pada gaji besok, melainkan pada kelelahan di mata pria itu. Tiba-tiba, Sebastian berdiri, berjalan ke jendela kaca besar. "Aku bisa kehilangan segalanya karena tikus itu," katanya, suaranya rendah. "Bukan hanya uang. Warisan. Nama keluargaku. Tapi yang lebih membuatku marah—" Dia berhenti, meremas tangannya. "Yang lebih membuatku marah," ulang Sebastian, berbalik menghadap Isabella, "adalah bagaimana aku bereaksi saat melihat bajingan itu—Julian—menyentuhmu." Isabella menahan napas. Ini bukan bagian dari pembahasan dokumen rahasia yang bocor. "Reaksiku," lanjut Sebastian, suaranya dipenuhi amarah yang bergetar. "Saat dia menyentuhmu, saat dia bilang dia yang menemukanmu... kemarahan itu nyata, Isabella. Posesif itu nyata. Aku tidak melindungimu dari Alistair. Aku melindungimu dari Julian, karena aku tidak ingin dia memilikimu." Itu adalah pengakuan, bukan permintaan maaf. "Aku tidak bisa membiarkan kontrak itu berjalan seperti ini." Sebastian bergerak mendekat, berdiri di depannya. "Aku tidak bisa kembali berpura-pura dingin setelah aku melihat..." Dia menunjuk bibirnya. "Aku tidak tahu apa yang kurasakan padamu. Itu mengganggu, itu tidak nyaman, dan itu tidak rasional. Tapi aku tidak bisa kembali ke kepalsuan." Isabella menahan air mata yang tiba-tiba muncul. Bukan air mata sedih, tapi air mata keterkejutan. Miliarder yang kejam ini baru saja mengakui kerentanannya. "Saya juga tidak bisa kembali," bisik Isabella. Ia berdiri. "Sejak semalam, sejak Julian muncul. Saya tidak memikirkan penghinaan yang ia lakukan, Sebastian." Sebastian mengulurkan tangan, meraih tangan Isabella. Bukan sentuhan yang dominan, melainkan sentuhan yang meminta persetujuan. "Kontraknya mati," kata Sebastian. "Kepalsuan di antara kita secara pribadi mati."Sebastian menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia mengingat bagaimana Isabella selalu memindahkan serangga kecil ke luar rumah daripada membunuhnya. Ia mengingat bagaimana mata istrinya selalu berbinar setiap kali mereka melewati toko perlengkapan bayi, jauh sebelum konflik ini dimulai."Seorang ibu tidak akan membunuh bagian dari dirinya hanya untuk membalas dendam," bisik Sebastian pada dirinya sendiri. "Bukan Isabella. Dia terlalu suci untuk dosa sekeji itu."Logika Sebastian mulai membedah kejadian semalam. Isabella mengatakan prosedur itu baru saja selesai, namun ia mampu berdiri dan berjalan—meski dengan wajah pucat. Jika itu adalah sebuah gertakan, maka itu adalah gertakan paling brutal dalam sejarah pernikahan mereka. Sebastian menyadari satu hal: Isabella sedang menggunakan senjata yang paling mematikan untuk menghancurkannya. "Apa dia melakukan ini agar aku membenci dan menceraikannya?"Namun, ada satu ketakutan yang lebih besar: Bagaimana jika ia salah? Bagaim
Isabella membekap mulutnya sendiri, meredam isak tangis yang nyaris meledak. Di balik pintu kayu ek yang tebal itu, ia menyandarkan tubuhnya yang lunglai hingga merosot ke lantai. Tangan gemetarnya meraba perutnya yang masih sedikit kram—bukan karena prosedur medis yang dingin, melainkan karena stres yang menggerogoti fisiknya.Di sana, di dalam rahimnya, sebuah nyawa masih berdenyut. Lemah, namun ada.Ia mendengar raungan Sebastian dari luar. Ia mendengar pukulan tangan pria itu pada marmer dan pernyataan cintanya yang menyimpang. Budak? Cinta? Isabella memejamkan mata erat-erat. Kata-kata itu datang terlambat. Luka yang ditorehkan Sebastian dua hari lalu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan permohonan maaf yang bersimbah air mata."Kau pembohong, Sebastian," bisik Isabella pada kegelapan kamar. "Kau mencintai ego dan rasa bersalahmu, bukan aku."Rencana awal Isabella adalah membuat Sebastian sangat membencinya hingga pria itu melemparkan surat cerai ke wajahnya. Ia ingin beb
Lampu kristal di penthouse itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kini berada dalam satu ruangan, namun terpisah oleh jurang kematian yang baru saja terjadi.Isabella duduk di sofa beludru, wajahnya sepucat kertas. Ia baru saja tiba dari rumah sakit dua jam yang lalu tanpa sepengetahuan Sebastian. Bau antiseptik masih samar tercium dari balik aroma parfum mahalnya. Di atas meja marmer, sebuah map merah dari rumah sakit tergeletak terbuka—menampilkan laporan medis yang menyatakan bahwa prosedur terminasi kehamilan telah selesai dilakukan.Sebastian berdiri di dekat jendela, membelakangi istrinya. Bahunya bergetar hebat."Kau melakukannya..." suara Sebastian pecah, hampir tak terdengar. "Tanpa bicara padaku, tanpa memberiku kesempatan untuk memohon... kau membunuh anak kita, Isabella."Isabella menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit dengan mata kosong. "Anak kita? Sejak kapan kau peduli? Dua hari lalu, saat aku akan memberitahumu kalau aku hamil, apa yang kau la
Langkah kaki Isabella yang berirama di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati bagi Sebastian. Pria itu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan satu gerakan cepat, Sebastian mencengkeram lengan Isabella—lembut, namun penuh desakan."Lepaskan," desis Isabella tanpa menoleh."Tidak sebelum kau menatap mataku dan mengatakan bahwa pembelaanmu tadi hanya soal angka di atas kertas," suara Sebastian merendah, parau oleh emosi yang tertahan. "Kau menampar Arthur demi 'investasi'? Jangan membohongi dirimu sendiri, Isabella. Kau masih peduli padaku."Isabella berbalik dengan sentakan kasar. Ia tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang lebih menyakitkan daripada tamparan yang ia berikan pada Arthur tadi."Peduli? Kau menyebut ini peduli?" Isabella melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Sebastian yang bergetar. "Aku hanya sedang menjaga agar 'barang daganganku' tidak cacat sebelum di
Dua hari berlalu di dalam penthouse megah itu, namun suasananya lebih menyerupai kamar mayat daripada hunian mewah. Ruangan-ruangan luas dengan dinding kaca yang menampilkan kerlap-kerlip kota terasa hampa. Sebastian dan Isabella bergerak seperti hantu; mereka berada di ruang yang sama, namun terpisah oleh jurang yang tak terlihat.Pagi di hari ketiga dimulai dengan keheningan yang menyesakkan, hingga sebuah paket tanpa nama mendarat di meja marmer ruang utama.Selama empat puluh delapan jam terakhir, Sebastian mencoba segala cara untuk memecah es. Ia mengirimkan bunga peony favorit Isabella—yang berakhir di tempat sampah. Ia meminta chef pribadi memasak hidangan kesukaan istrinya—yang dibiarkan mendingin tanpa disentuh.Isabella hanya makan makanan yang ia masak sendiri. Setiap kali mata mereka tak sengaja bertemu, ia akan menatap Sebastian seolah pria itu adalah noda yang mengganggu pemandangan, lalu pergi tanpa sepatah kata pun."Isabella, kita harus bicara soal rapat pemegang saha
Helikopter itu mendarat di atap gedung pusat Vance Global. Di bawah sana, puluhan lampu lampu flash kamera dari wartawan sudah berkedip seperti ribuan jarum cahaya yang haus akan skandal.Sebastian menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menatap Isabella, hendak menawarkan tangannya untuk membantu istrinya turun, namun Isabella sudah lebih dulu melangkah keluar dengan punggung tegak dan dagu terangkat.'Apa dia memiliki penthouse di setiap gedung Vance Group?' Isabella bertanya-tanya dalam hatinya. 'Aku pikir hanya di Skyline Tower. 'Begitu pintu terbuka, kebisingan dunia luar menyerbu masuk. Sebastian segera melangkah maju, secara refleks meletakkan tangannya di pinggang Isabella—gestur protektif yang biasanya terasa hangat, namun kini terasa seperti besi panas bagi mereka berdua."Tuan Vance! Benarkah ada upaya penculikan?""Nyonya Isabella, apakah Anda terluka?""Bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor kebocoran data medis?"Sebastian mempererat dekapanny







