ホーム / Fantasi / Kontrak Dengan Raja Kegelapan / Bab 1: Hutang yang Menjemput

共有

Kontrak Dengan Raja Kegelapan
Kontrak Dengan Raja Kegelapan
作者: Deschya.77

Bab 1: Hutang yang Menjemput

作者: Deschya.77
last update 公開日: 2026-06-12 00:51:58

Hujan di kota kecil Aethelgard tidak sekadar turun; ia menghantam. Air bah yang jatuh dari langit seolah berusaha membasuh setiap dosa dan kesedihan yang melekat di jalanan berbatu. Suara gemuruh guntur yang bersahutan di kejauhan terdengar seperti detak jantung dunia yang sedang sekarat. Di dalam sebuah kontrakan kecil yang hanya terdiri dari dua ruangan, Maya Ardelia meringkuk di kursi kayu tua yang kain pelapisnya sudah mulai terkelupas.

Bau lembap bercampur dengan aroma tinta dan kertas lama. Di hadapannya, tumpukan surat peringatan dari bank berbaris seperti tentara yang siap mengeksekusi nasibnya. Total hutang itu... jumlah yang tidak masuk akal bagi seorang gadis yang menghabiskan hari-harinya menggambar ilustrasi pesanan orang asing di internet. Sejak ayahnya meninggal dunia akibat penyakit misterius dua minggu lalu, dunia Maya seolah kehilangan warna. Rumah ini, kenangan yang tersisa dari sosok sang ayah, bahkan haknya untuk merasa aman, kini berada di ujung tanduk.

Maya menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa perih yang menjalar di dadanya. Ia tidak menangis. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis. Ia hanya merasa kosong, seperti cangkang yang tertinggal setelah isinya habis disedot oleh takdir yang kejam. Ia menatap layar komputernya yang redup. *Deadline* untuk ilustrasi sampul novel fantasi yang ia kerjakan tinggal beberapa jam lagi, namun pikirannya buntu. Bagaimana ia bisa menggambar kebahagiaan ketika ia sendiri tidak tahu apakah esok ia masih memiliki atap untuk berteduh?

*BRAK!*

Suara gedoran keras di pintu kayu yang tipis itu membuat Maya tersentak hingga hampir terjatuh dari kursinya. Jantungnya berdegup kencang di kerongkongan.

"Maya! Keluar kau! Kami tahu kau ada di dalam! Jangan berpura-pura tuli!" teriak suara bariton yang kasar. Itu adalah suara penagih hutang dari rentenir lokal yang telah menerornya selama tiga hari berturut-turut.

Maya berjalan perlahan menuju pintu, kakinya yang dingin gemetar di atas lantai kayu yang berderit. Ia membuka grendel pintu dengan tangan yang bergetar hebat. Di sana, di bawah payung besar yang melindungi mereka dari hujan badai, berdiri dua pria bertubuh besar dengan wajah yang tidak ramah. Mata mereka berkilat penuh ancaman, menatap Maya seolah ia hanyalah mangsa yang tak berdaya. Namun, di balik mereka, di sudut lorong yang remang-remang dan tak tersentuh cahaya lampu jalan, sesosok pria lain berdiri.

Ia tidak memegang payung, namun air hujan seolah enggan menyentuh tubuhnya. Jas hitamnya memiliki potongan yang sangat rumit dan mewah, tampak seperti busana dari era yang berbeda—elegan, aristokrat, dan sangat asing. Kulitnya pucat, dan matanya, biru keabu-abuan yang tajam, menembus kegelapan malam seolah-olah ia melihat menembus jiwa Maya. Ada aura dingin yang terpancar darinya, sebuah sensasi yang membuat Maya merasa bahwa jika ia melangkah mendekat, ia akan terjatuh ke dalam jurang kegelapan yang abadi.

"Siapa kau?" tanya Maya, suaranya nyaris berbisik, tenggelam di antara deru hujan yang memekakkan telinga.

Pria itu melangkah maju. Tidak ada langkah kaki yang terdengar di atas genangan air. Ia seolah melayang di atas permukaan dunia yang kasar ini. "Maya Ardelia," suaranya rendah, bergema dengan nada yang tidak wajar. Suara itu tidak terdengar seperti suara manusia biasa; ada resonansi yang membuat bulu kuduk Maya meremang. "Aku melihat kesedihanmu, dan aku melihat potensi besar di baliknya. Kau butuh pelunasan, bukan? Sesuatu yang akan mengubah seluruh hidupmu yang malang ini?"

Maya menatap pria itu, merasakan sensasi aneh—sebuah tarikan di lubuk hatinya yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah-olah ada benang tak kasatmata yang menghubungkan dadanya dengan sosok asing ini. "Aku tidak kenal kau. Dan aku tidak butuh belas kasihan dari orang asing di malam seperti ini."

"Ini bukan belas kasihan, Nona Ardelia," pria itu menyeringai tipis, sebuah seringai yang justru membuat Maya semakin waspada. "Ini adalah bisnis. Aku datang menawarkan jalan keluar dari kehancuranmu. Tanda tangani kontrak ini, dan rumah ini, masa depanmu, semuanya akan kembali menjadi milikmu tanpa ada satupun orang yang berani mengusik tidurmu lagi. Tidak ada lagi penagih hutang, tidak ada lagi rasa lapar."

Pria itu mengulurkan sebuah gulungan kertas kuno yang tampak aneh. Kertas itu tampak bersinar samar di tengah kegelapan. Namun, sebelum Maya sempat menyentuhnya, penagih hutang di depan pintu kembali berteriak, menyadarkan Maya dari lamunannya.

"Hei! Kau bicara dengan siapa, hah?! Jangan coba-coba mengalihkan perhatian kami!" teriak salah satu pria berbadan besar itu sambil mendorong Maya ke samping.

Maya terjatuh ke lantai. Saat ia mendongak untuk melihat pria misterius itu, ia mendapati bahwa lorong itu kini kosong. Pria itu menghilang begitu saja. Tidak ada jejak kaki, tidak ada suara pintu terbuka, tidak ada apa-apa. Hanya aroma kayu manis, wangi dedaunan musim gugur, dan sensasi dingin yang tertinggal di tengah hujan.

"Mimpi," gumam Maya, menatap tangannya yang tadi sempat terulur. "Aku pasti sudah gila karena kurang tidur."

Namun, saat ia kembali berdiri dan menutup pintu dengan tangan yang masih gemetar, ia melihat sesuatu di atas meja kayu di dekat pintu. Sebuah kartu nama berwarna hitam pekat, dengan tulisan perak yang berkilau seolah tertulis dengan cahaya bintang. Di sana tertulis satu nama: Lucien Noctis.

Maya memungut kartu itu. Saat ujung jarinya menyentuh permukaan kartu tersebut, sebuah sengatan listrik kecil menjalar ke lengannya. Kartu itu terasa dingin, seperti es yang baru saja diambil dari dalam gua. Maya merasakan firasat yang sangat kuat bahwa hidupnya yang tenang dan biasa-biasa saja telah berakhir malam ini. Sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih tua, dan jauh lebih gelap baru saja memasuki dunianya, dan ia tidak tahu apakah ia akan mampu menanggung konsekuensinya.

Ia kembali duduk di kursinya, namun kali ini ia tidak bisa fokus pada gambarnya. Ia menatap kartu nama itu, lalu menatap jendela yang basah. Di balik awan hitam itu, ia merasa seolah ada ribuan mata yang sedang mengawasinya. Nama 'Lucien Noctis' seolah-olah memiliki beban yang berat, sebuah kutukan yang terselubung dalam sebuah tawaran manis. Maya tahu, sekali ia melangkah ke jalan ini, tidak akan ada jalan kembali. Namun, di saat yang sama, ia merasa bahwa ia tidak memiliki pilihan lain. Hutang-hutang itu adalah rantai yang mengikat kakinya ke tanah, dan Lucien Noctis, entah siapa dia, baru saja datang membawa kunci untuk memutuskannya—meskipun kunci itu mungkin akan mengikatnya pada rantai yang baru.

Malam itu, Maya tidak bisa tidur. Ia duduk di sana, memandangi kartu hitam itu hingga matahari mulai mengintip di ufuk timur, membawa serta ketakutan sekaligus secercah harapan yang sama-sama mematikan. Ia tahu, ketika pria itu kembali—karena ia yakin pria itu akan kembali—ia tidak akan lagi memiliki kekuatan untuk menolak. Dan disanalah, di ambang pintu antara realitas dan misteri yang baru, Maya Ardelia menanti takdirnya menjemput.

Bersambung…

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 36: Bencana di Perpustakaan Agung

    Meskipun Maya memiliki keteguhan batin dan tekad yang kuat untuk bertahan di lingkungan Istana Bayangan yang asing, proses beradaptasi dengan kehidupan magis yang dipenuhi oleh ribuan Aturan Kuno ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Setiap sudut bangunan raksasa ini menyimpan tradisi kaku, dan ketidaktahuannya akan detail-detail kecil kerap melahirkan insiden yang tak terduga. Pada hari ketiga masa latihannya yang intensif, Nyonya Vespera menugaskan Maya untuk melakukan studi mandiri—mempelajari peta wilayah perbatasan, perjanjian sihir Kuno, serta silsilah keluarga kerajaan dari klan-klan pendiri. Tugas tersebut mengharuskan Maya menghabiskan seluru sorenya di Perpustakaan Agung, sebuah bangunan megah berlapis tujuh yang terpahat langsung di dalam tebing batu obsidian. Perpustakaan ini dikenal sebagai sanctum paling tenang dan dihormati di kerajaan, menyimpan jutaan gulungan perkamen tua dan kitab sihir langka yang dilindungi oleh mantra-mantra pelindung tingkat ting

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 35: Latihan di Atas Kaca

    Mentari pagi baru saja terbit tipis di balik bentangan awan tebal Negeri Bayangan, memancarkan pendaran cahaya keperakan yang dingin menembus jendela-jendela kristal setinggi lima meter di Sayap Mawar Hitam. Setelah peristiwa gempar di Balairung Utama yang menguji batas keberanian dan menegaskan status barunya di hadapan seluruh dewan bangsawan, Maya kini tidak lagi dipandang sebagai sekadar tamu fana yang asing. Namun, berstatus resmi sebagai calon pendamping sang Penguasa Bayangan membawa konsekuensi baru yang jauh lebih berat. Menjadi calon Ratu berarti harus menguasai ratusan protokol diplomatik, silsilah klan Kuno yang rumit, serta tata bahasa tubuh istana yang kaku dan penuh jebakan sosial.Pagi itu, Aula Latihan Khusus di sayap utara istana telah disulap menjadi arena etiket yang amat mencekam. Di tengah ruangan berlantai pualam licin yang dilapisi sihir penyeimbang, berdiri seorang wanita tua bertubuh jangkung dengan jubah abu-abu ketat—Nyonya Vespera, Kepala Instruktur Etiket

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 34: Senyum Sang Penguasa

    Gema bisikan dan desas-desus racun di Balairung Utama perlahan-lahan kembali teratur, meski atmosfer di sekitar pilar-pilar batu obsidian raksasa kini sepenuhnya diwarnai oleh rasa segan serta ketakutan yang amat baru. Keberangkatan Lord Brandon yang tertunduk malu dengan jemari lecet memerah menyisakan ruang hampa yang dipenuhi oleh tatapan takjub dari para tetua klan berdarah murni. Di tengah ruangan yang perlahan kembali bernapas itu, posisi Lucien yang masih merangkul pinggang Maya secara protektif terasa begitu kokoh dan tak tergoyahkan, seolah menjadi benteng pertahanan mutlak yang tak akan pernah bisa ditembus oleh siapa pun bagi sang gadis fana.Lucien menundukkan kepalanya sedikit ke arah kanan, mendekatkan rahang tegasnya ke arah telinga Maya. Kepulan napas hangatnya berhembus halus, menyentuh kulit leher Maya, sementara suara berat sang Raja mengalun sangat rendah—sebuah bisikan privat yang hanya ditujukan khusus untuk pendengaran sang Tunangan Kerajaan seorang."Kau sunggu

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 33: Pelajaran di Balik Cawan Kristal

    Harapan Lady Lysandra untuk melihat Maya hancur, terpojok, dan dipermalukan di hadapan seluruh dewan kerajaan runtuh sepenuhnya hanya dalam hitungan menit berikutnya. Keangkuhan para bangsawan muda yang mengelilingi Maya mendadak memuncak tatkala seorang pangeran muda bertubuh tinggi besar dari klan utama Es Utara—Lord Brandon, keponakan kandung Lysandra—melangkah maju memangkas jarak secara agresif dan demonstratif. Pria itu sengaja mengambil alih panggung provokasi, bermaksud membuktikan superioritas darah murni di depan seluruh hadirin yang menyaksikan dari kejauhan.Wajah Brandon yang tampan dipenuhi keangkuhan murni khas bangsawan yang terbiasa menundukkan klan-klan kecil. Di jemari tangan kanannya terikat cincin bersihir es purba yang memancarkan pendaran hawa beku menusuk tulang, secara sengaja disebarkan ke udara di sekitar mereka untuk mengintimidasi fisik fana sang gadis."Lady Maya," sapa Brandon dengan nada suara meliuk-liuk yang dibuat-buat, membungkuk sangat rendah secar

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 32: Bisikan Gelap di Balik Pesta

    Deklarasi tegas Lucien di atas podium takhta memang sanggup memancarkan dominasi mutlak yang membuat seluruh ruangan bertekuk lutut. Tekanan aura sang penguasa yang berpadu dengan luapan sihir Primordial dari tubuh Maya berhasil membungkam keraguan terbuka para tetua dewan tua. Namun, dinamika di Istana Bayangan tidak pernah sesederhana itu. Begitu ritual pengumuman selesai dan jamuan makan resmi dimulai, Lucien terpaksa berpisah sejenak dari sisi Maya untuk berdiskusi secara mendesak dengan para jenderal perang dan petinggi klan di sudut balairung. Seiring melangkah jauhnya sang Raja, keheningan mencekam yang semula membungkus ruangan perlahan-lahan mencair, berganti menjadi riak bisikan racun yang kian membendung udara pesta.Maya berdiri sendirian di dekat meja panjang bertaplak beludru hitam yang dipenuhi oleh cawan-cawan anggur kristal serta bermacam-macam hidangan buah-buahan sihir yang asing. Kepulan asap dupa berbahan kayu cendana magis membumbung tinggi, mempertegas atmosfer

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 31: Tunangan Sang Penguasa

    Langkah kaki bertempo tegas dari jajaran prajurit berzirah besi hitam bergema teratur di sepanjang koridor utama Sayap Mawar Hitam. Sejak pengakuan Lucien mengenai Kontrak Primordial dan keputusan tegas Maya untuk bertahan di Istana Bayangan, atmosfer di seluruh penjuru istana telah berubah total. Tempat yang semula terasa bagaikan penjara megah penuh bisikan bisu kini berubah menjadi kancah politik terbuka, di mana seluruh mata bangsawan berdarah murni tertuju penuh pada sosok gadis fana yang membawa sihir Primordial tersebut.Pagi itu, Maya berdiri diam di depan cermin kristal berbingkai emas setinggi tubuhnya. Gaun yang mengenakannya kali meunjukkan perbedaan yang amat drastis dari sebelumnya—bukan lagi kain zamrud biasa, melainkan gaun beludru hitam pekat berhiaskan sulaman benang-benang sihir emas yang berpendar halus setiap kali ia menghembuskan napas. Kain gaun itu jatuh dengan sangat anggun, menyapu lantai pualam. Di lehernya yang jenjang, melingkar sebuah kalung batu obsidian

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status