Mag-log inDerana duduk di sebuah kafe mewah, tangannya gemetar saat memegang cangkir kopi. Matanya terus melirik ke arah pintu, menunggu kedatangan Arash. Pikirannya penuh dengan keraguan dan ketakutan, namun juga ada secercah harapan untuk membalaskan dendam pada suaminya yang telah menghancurkan hatinya.
Kata-kata Arash semalam masih menggema di hati Derana. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasakan semangat baru. Pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, tetapi sebuah titik balik. Derana berharap, dengan bantuan Arash, ia bisa menemukan kembali makna hidup dan tujuan yang selama ini hilang. Arash bukan hanya seorang CEO, tetapi dia juga dikenal sebagai Ikon Industri, seorang pemimpin yang dihormati dan cukup disegani. Kekayaan yang dimiliki lelaki itu sudah tak terhitung dan jaringan koneksi yang dimilikinya sangat membentang luas. Derana sering mendengarnya, jika banyak orang-orang berbondong-bodong mengejar kerja sama dengan Arash, berharap mendapatkan sepotong dari keberhasilannya. Tentu, bertemu dengan pria itu tidaklah mudah. Derana termasuk salah satu perempuan yang beruntung karena memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Arash. Maka dari itu, Derana tidak akan menyia-nyiakan waktu yang langka ini. Lelaki itu memiliki hubungan dengan orang-orang yang berpengaruh, koneksi dan jaringan sosialnya cukup kuat. Dan hal itu yang membuat kesempatan besar bagi Derana, koneksi itu pasti akan memudahkan aksesnya. Dan Derana sangat yakin, jika ia tidak salah orang untuk dijadikan kerja sama. Hampir kopi itu tandas, pintu kafe yang terbuka membuatnya menoleh. Terlihat, Arash masuk dengan langkah mantap. Sosoknya yang tinggi dan berwibawa menarik perhatian semua orang di ruangan itu. Dia berjalan menuju meja Derana dengan senyum tipis di wajahnya. “Maaf membuat Anda menunggu lama,” kata Arash sambil duduk di hadapannya. “Aku tahu Anda juga pasti sangat sibuk.” Derana menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang perjanjian ini,” katanya dengan suara bergetar. Arash mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya dan meletakkannya di meja. “Ini adalah kontrak pernikahan kita. Satu tahun, dan selama itu, Anda akan menjadi istriku. Sebagai imbalannya, aku akan membantu Anda menghancurkan Haka dan Ilona.” “Bagaimana? Waktu semalam sudah cukup untuk berpikir, bukan?” Derana meraih dokumen itu dengan tangan gemetar, lalu membaca setiap kata dengan seksama. “Apa yang kamu inginkan dariku sebagai gantinya?” tanyanya, matanya menatap tajam ke arah Arash. Dirinya masih belum paham, kenapa Arash mempertaruhkan reputasinya? Arash tersenyum dingin. “Aku hanya ingin Anda menjadi istriku yang setia di depan publik. Kita hanya akan berpura-pura menjadi pasangan yang bahagia. Anda tidak perlu tahu alasan lain. “Bukankah tujuan Anda ingin membalas dendam? Jangan khawatir! Di balik itu, aku akan memastikan Haka dan Ilona merasakan penderitaan yang sama seperti yang dia berikan pada Anda,” lanjutnya. Derana terdiam. Kerutan pada keningnya semakin dalam. Dirinya masih tak yakin tentang tujuan lelaki itu. Tetapi, dirinya juga tidak boleh kehilangan kesempatan ini. Derana merasa hatinya berdebar kencang. “Dan jika aku menolak?” Arash mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan fokus intens, seolah-olah menembus jiwa lawan bicara. “Jika Anda menolak, aku akan memastikan hidupmu menjadi lebih sulit daripada yang sudah ada. Anda tidak punya pilihan lain, Derana,” ucapnya dengan suara rendah dan penuh ancaman. Lalu, sembari menegakan kembali posisi duduknya pria itu justru terkekeh. “Anda percaya? Anda memanfaatkan saya, juga sebaliknya. Keputusan sekarang ada di tangan Anda.” Derana menatap Arash dengan mata penuh kebencian, namun dirinya tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk membalas dendam. Dengan tangan gemetar, tanpa berpikir ulang ia segera menandatangani kontrak itu. Derai tawa terurai ketika Arash mengambil dokumen itu dan menyimpannya kembali ke dalam tasnya. “Selamat datang di permainan ini, Derana. Semoga kita berdua mendapatkan apa yang kita inginkan.” Di malam itu, Derana dan Arash menandatangani perjanjian kontrak yang akan mengubah hidup mereka selama setahun ke depan. Derana tidak tahu apa yang menantinya, tetapi ia tahu bahwa ia telah memasuki dunia yang penuh misteri dan manipulasi. “Semoga saja kau tidak membuatku menyesal Arash!” batinnya berkata, sambil memandangi wajah Arash yang penuh teka-teki. Meski tak bohong jika Derana merasa kalut, campuran antara ketakutan dan tekad. Namun, perasaan itu semakin menggebu setelah Arash berdiri dan mengulurkan tangannya. “Mari kita mulai,” katanya dengan nada tegas.Bau kematian itu unik—ia tidak hanya tercium seperti anyir darah atau kepul asap mesiu, tetapi juga menyerupai aroma tanah basah yang baru digali di bawah rintik hujan. Derana berdiri terpaku di balik dinding kaca ruang medis darurat itu, menyaksikan bagaimana tubuh Julian tersentak hebat akibat kejutan listrik dari alat pacu jantung. Garis hijau di monitor masih mendatar, mengeluarkan bunyi statis panjang yang seolah-olah sedang menghitung mundur sisa-sisa kewarasan Derana.Setiap kali tubuh pria itu melenting di atas ranjang, setiap kali pula jantung Derana terasa diremas oleh tangan-tangan tak kasat mata. Inilah pria yang menghancurkan hidupnya dengan kontrak manipulatif, namun juga pria yang memberikan nyawanya sebagai tameng demi membiarkan Derana bernapas satu detik lebih lama. Kenyataan itu terasa seperti racun yang mengalir lambat di pembuluh darahnya—pahit dan mematikan.Di sudut ruangan yang remang, Guntur masih berdiri dengan ketenangan seorang algojo. Ia tidak menunjukkan
Suara ledakan itu bukan sekadar dentuman—melainkan raungan bumi yang memuntahkan isinya. Gelombang panas yang pekat menghantam punggung Derana, melemparkannya hingga wajahnya mencium dinginnya lantai marmer yang kini tertutup debu dan jelaga. Telinganya berdenging hebat, menyisakan senyap yang menyakitkan.Derana terbatuk, paru-parunya berontak menghirup oksigen yang kini bercampur dengan bau mesiu dan plastik terbakar. Di tengah pandangannya yang mengabur oleh asap hitam, ia melihat sosok itu. Julian. Pria yang baru saja memberikan dadanya untuk peluru yang seharusnya menembus jantung Derana.“Julian!” ucap Derana serak, nyaris hilang di tengah deru api yang mulai melahap dinding-dinding apartemen.Ia merangkak, mengabaikan rasa perih di lututnya yang berdarah karena serpihan kaca. Julian tergeletak tak berdaya, darah merah pekat terus mengalir dari bahunya, merembes ke lantai, menciptakan pemandangan mengerikan di atas debu putih reruntuhan. Derana meraih kepala pria itu, memangku d
Udara di koridor itu seolah membeku, terperangkap dalam ruang hampa di mana hanya suara detak jantung Derana yang terdengar—cepat, berisik, dan memuakkan. Moncong hitam pistol di tangannya tidak lagi bergetar. Logam dingin itu kini terasa hangat, seolah menyerap api amarah yang menjalar dari pembuluh darahnya.Haka terpaku. Senyum menyeringai yang tadinya menghiasi wajahnya kini melorot, digantikan oleh kerutan sanksi yang perlahan berubah menjadi horor. Ia menelan ludah, jakunnya naik-turun dengan susah payah.“Kau tidak akan berani, Derana,” suara Haka pecah, mencoba memungut sisa-sisa keberaniannya. “Kau hanyalah gadis kecil yang menangis saat aku membunuh kecoa. Kau tidak punya nyali untuk menembak manusia.”Derana tidak berkedip. Matanya yang dingin menatap tepat ke dalam pupil mata Haka yang mulai mengecil karena ketakutan. “Kau benar, Haka. Aku tidak akan menembak manusia,” bisik Derana, suaranya halus namun tajam seperti silet. “Aku hanya akan membuang sampah ke tempatnya.”Di
Ujung jemari Derana memutih, mencengkeram tas kulitnya begitu erat hingga buku-buku jarinya menonjol. Napasnya memburu, meninggalkan uap tipis yang segera menghilang di udara dingin lorong apartemen yang remang. Setiap langkah kakinya yang gemetar terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca—tajam, menyakitkan, dan siap menghancurkannya kapan saja.Di ujung koridor, bayangan pria berjaket hitam tampak berdiri diam seperti malaikat maut yang menunggu mangsa. Derana membeku, ia tahu pria itu bukan penjaga keamanan. Tatapan pria itu terkunci pada wajahnya, dingin tanpa emosi, persis seperti foto target yang baru saja Haka lemparkan di meja eksekusi.Derana berbalik, hendak lari menuju lift, namun jantungnya nyaris melompat keluar saat sebuah tangan kekar tiba-tiba menyambar bahunya. Sebelum ia sempat berteriak, tubuhnya ditarik paksa masuk ke dalam sebuah unit apartemen yang pintunya terbuka sedikit.“Diam jika kau masih ingin melihat matahari esok pagi,” bisikan itu rendah, ser
“Kamu akan berakhir sama seperti ayahmu.”“Takdirmu ada di tanganku,”Dalam diam, Haka berjanji pada dirinya sendiri. Dendamnya menguar begitu pekat, dengan kegetiran yang tak terucapkan, hingga terasa menguasai setiap helaan napas di sekitarnya.Ia menyeringai, mengingat setiap penghinaan yang pernah diterimanya di masa lalu yang mendorongnya untuk bertindak berani. Ia membayangkan bagaimana hidupnya telah berubah setelah balas dendamnya terwujud—meski begitu, bayangan gelap itu selalu mengikutinya, tak pernah memberinya kedamaian.Pada waktu itu, saat dirinya berdiri di ruang tamu yang megah, Haka memerintahkan pembantu rumah tangganya dengan suara tegas.“Suguhkan teh ini untuk ayah!” Pembantu itu, tanpa curiga, mengambil cangkir teh yang telah disiapkan Haka dengan hati-hati. Teh itu bukan sekadar teh biasa; di dalamnya, Haka telah mencampurkan sesuatu yang mematikan.Haka menyaksikan dengan puas saat ayah Derana menerima cangkir teh itu dengan senyum ramah, tidak menyadari baha
“Ternyata selama ini...” Sembari membekap mulut, Derana berlari sekuat yang dia bisa. Ketika kenyataan pahit itu menghantamnya. Namun, yang lebih menyakitkan adalah ketika kenyataan itu datang untuk kedua kalinya, menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih tersisa. Hatinya yang sudah retak kini hancur berkeping-keping, seolah tak ada lagi yang bisa diselamatkan. “Aku hidup dengan pembohong?” pikirnya, tak percaya dengan kenyataan yang baru saja terungkap. Selama ini, orang yang ia percayai dan cintai ternyata adalah sumber dari semua kesulitan yang ia alami. Bagaimana mungkin ia bisa begitu buta? Bagaimana mungkin ia tidak melihat tanda-tanda pengkhianatan itu? Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa musuh terbesarnya adalah orang yang paling dekat dengannya.Tidak ada alasan lagi untuk dirinya tinggal bersama pembohong itu. Semua kepercayaan telah hancur, dan setiap kenangan manis kini terasa pahit. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk pergi“Ya! Teror yang selama i







