Share

04. Awal Dari Kehancuran

last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-15 22:42:54

Malam itu, di sebuah restoran mewah yang terletak di pusat kota, Haka dan Ilona sedang menikmati makan malam. Mereka tidak menyadari badai yang akan datang. Tawa dan percakapan mereka mengalir dengan mudah, merasa aman dalam kebohongan mereka. Namun, malam itu akan menjadi awal dari kehancuran mereka.

Sebab, di balik itu. Di sudut gelap restoran, seorang pria dengan jaket hitam tengah mengamati mereka dengan seksama. Dia mengambil beberapa foto dengan kamera kecilnya, lalu mengirimkan pesan singkat kepada seseorang yang kini berada di sebuah apartemen mewah di lantai atas gedung pencakar langit, Derana menerima pesan tersebut. Ia tersenyum tipis, mengetahui bahwa rencana balas dendamnya mulai berjalan.

Arash telah mengumpulkan bukti-bukti yang memberatkan Haka dan Ilona, termasuk foto-foto dan rekaman percakapan yang bisa menghancurkan reputasi mereka.

“Besok pagi, kita akan mengirimkan semua bukti itu ke media,” kata Arash dengan nada dingin.

“Aku ingin mereka merasakan rasa malu yang sama seperti yang kamu rasakan.”

Derana mengangguk, merasa campuran antara kegembiraan dan ketakutan. “Tapi apa yang akan terjadi pada mereka?”

Arash tersenyum tipis. “Haka akan kehilangan pekerjaannya, dan Ilona akan diusir dari lingkaran sosialnya. Mereka akan merasakan penderitaan yang sama seperti yang mereka berikan padamu.”

Mendengar itu, sekelabat cemas merasuk ke dalam diri Derana. Entah mengapa, dirinya tak yakin dengan rencana awal ini. Namun, Derana tidak bisa menentang itu. Ia hanya bisa mengangguki atas wewenang Arash, berharap rencananya berhasil. Dalam hatinya, doa-doa kecil terucap, memohon agar segala sesuatunya berjalan sesuai harapan.

“Istirahatlah. Siapkan dirimu untuk besok.”

Derana mengangguk untuk kesekian kali. Lalu pergi melenggang ke kamar pribadinya.

Keesokan paginya, berita tentang perselingkuhan Haka dan Ilona sudah tersebar luas. Media sosial pun sudah dipenuhi dengan komentar-komentar pedas, dan reputasi mereka hancur dalam sekejap.

Sebagai CEO sekaligus pemilik perusahaan, Haka langsung menerima deretan telepon dari kolega-koleganya dengan bertubi-tubi. Mereka meminta untuk segera membatalkan kontrak, dan beberapa investor bahkan mengundurkan diri.

Situasi itu semakin memburuk ketika Haka menerima panggilan dari seorang mitra bisnis yang sangat penting, seseorang yang sangat sulit ia dapatkan untuk bekerja sama. Mitra tersebut memintanya untuk datang ke kantor segera.

Di dalam ruang pribadi kantor, Haka sedang marah. Lelaki itu mengobrak-abrik isi meja, kertas-kertas sudah berserakan di lantai, pena-pena terlempar ke segala arah. Pikirannya penuh dengan tanda tanya, mencoba menerka-nerka siapa yang berada di balik menyebarluasnya berita tersebut. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, menambah ketegangan yang sudah memuncak.

Tiba-tiba, pintu terbuka, memperlihatkan sosok sekretarisnya yang masuk dengan wajah cemas.

“Pak Haka, ada kabar lain,” katanya sambil menyerahkan sebuah tablet.

Di layar, terlihat konferensi pers Derana dan Arash yang kemarin mengumumkan pernikahan mereka. Menyaksikan itu membuat Haka tertegun sejenak dengan bola mata membelalak tak percaya.

Lelaki itu sontak menggebrak meja kerjanya dengan keras, membuat sekretaris Abimanyu itu terkejut di buatnya. Dia memandang nyalang membuat sekretarisnya itu langsung menunduk takut.

“Bagaimana bisa terjadi? Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang? Derana itu masih istriku,” hardiknya dengan suara bergetar.

Sekretaris lelaki itu perlahan mengangkat wajah, menatapnya dengan ragu-ragu. “Maaf Pak, bukankah Anda sudah menerima surat cerai beberapa hari lalu. Mungkin Anda lupa membukanya.”

Tatapan mengintimidasi itu jelas terpancar ketika Haka mendadak diam, seolah tidak terima dengan pernyataan sang sekretaris, bahwa itu keteledorannya sendiri.

Abimanyu menelan ludah, merasa gugup di bawah tatapan tajam Haka. Membuat tubuhnya bergetar, namun ia berusaha tetap tenang meski hatinya berdebar kencang.

Pada saat itu Haka masih membisu, matanya melirik ke segala arah, seolah-olah menembus ruang dan waktu, sementara alisnya berkerut, menunjukkan kebingungan yang mendalam.

Beberapa hari lalu, ia memang menerima sebuah surat, tapi dalam kekacauan pekerjaannya, ia hanya mengabaikan dan langsung saja memasukkannya ke dalam laci meja kerjanya.

Dengan tangan gemetar, lelaki itu meraih knop dan membuka laci meja dan menemukan surat cerai yang masih tersegel. Perlahan, ia merobek amplop itu dan membaca isinya. Kenyataan itu kini terpampang jelas di depan matanya. Derana telah pergi, dan ia baru menyadarinya sekarang.

Amarahnya semakin memuncak. Urat-urat di leher dan tangannya itu menonjol, bahkan wajahnya memerah seperti bara api.

Ia merasa dikhianati oleh Derana

“Arrghhh! Kurang ajar! Berani-beraninya kamu Derana!”

Setelah berteriak penuh emosi, Haka kembali mengobrak-abrik isi meja dengan brutal, membuat kertas-kertas itu kembali beterbangan, dan barang-barang berjatuhan ke lantai.

Dengan gerakan cepat dan kasar, Haka meraih jasnya dan keluar dari ruangan, langkahnya berat dan penuh kemarahan. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah, dengan pikiran yang berkecamuk.

Namun, baru saja ia menginjakkan kakinya di ambang ruang tamu, lelaki itu sudah menemukan Ilona tengah tersedu-sedan.

“Apa yang terjadi?” tanya Haka dengan suara yang cukup keras.

Ilona mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. “Semua orang sudah tahu tentang kita. Aku diusir dari klub sosial, dan teman-temanku tidak mau berbicara denganku lagi.”

“Siapa yang melakukan itu?” teriak Haka yang hanya dijawab dengan gelengan kepala Ilona.

Haka merasakan amarah yang semakin membara di dalam dadanya. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan diri agar tidak meledak.

“Kita akan mencari tahu siapa yang melakukan ini,” katanya dengan tatapan tajam.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan hidup kita.”

Ilona menatap Haka dengan mata yang penuh ketakutan. “Tapi bagaimana caranya? Sedangkan kita tidak tahu siapa yang menaruh dendam itu. Mereka pasti punya kekuatan dan pengaruh yang besar sehingga berita-berita itu cepat menyebar luas.”

Haka mendekati Ilona, menggenggam tangannya erat. “Kita akan melawan mereka bersama. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian.”

Saat mereka berdua berdiri di sana, Haka melihat sekelebat bayangan yang melintas di dekat jendelanya. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

“Ilona, tunggu di sini,” bisiknya. Ia melangkah maju, mencoba melihat lebih jelas. Apakah selama ini ada yang diam-diam mengintai mereka?

“Siapa di sana?” batinnya berkata penuh tanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   49. SIMFONI ABU DAN KEBEBASAN

    Dunia seolah melambat di bawah raungan alarm yang memekakkan telinga. Cahaya lampu kristal di langit-langit aula mansion Adhitama berkedip liar, memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas karpet merah. Derana berdiri diam, kakinya berpijak kokoh di atas lantai yang mulai bergetar hebat akibat sistem penghancur diri yang diaktifkan oleh ibunya sendiri.Di hadapannya, Elena Adhitama tidak lagi tampak seperti ratu bisnis yang tak terkalahkan. Dengan pemantik api perak di tangannya, wajah Elena memancarkan kegilaan yang murni—sebuah kehampaan jiwa yang telah menelan segalanya demi angka-angka di atas kertas dan kekuasaan yang fana. Bagi Elena, kehancuran adalah pelukan yang lebih baik daripada kekalahan.“Kenapa, Ibu?” suara Derana mengalun tenang di tengah kekacauan, sebuah kontras yang tajam dengan kepanikan para direktur yang kini berebut lari menuju pintu keluar. “Apakah singgasana ini begitu berarti bagimu hingga kau lebih memilih menjadi abu bersamanya daripada melih

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   48. KEDALAMAN YANG MEMBISU

    Dingin adalah sensasi pertama yang menyapa kesadaran Derana—dingin yang tidak hanya menggigit kulit, tetapi merasuk ke dalam sumsum tulang dan membekukan aliran darahnya. Di bawah permukaan laut yang hitam pekat, suara ledakan kapal nelayan tadi terdengar seperti dentuman tumpul yang jauh, sebuah gema dari dunia atas yang baru saja ia tinggalkan. Cahaya api yang berkobar di permukaan air tampak seperti gumpalan emas yang perlahan memudar, berganti dengan kegelapan abadi yang menawarkan ketenangan sekaligus kematian.Paru-paru Derana mulai berontak. Gelembung udara terakhir yang ia miliki meluncur keluar dari bibirnya, menari-nari menuju permukaan sebelum akhirnya pecah. Ia merasa tubuhnya semakin berat, ditarik oleh gravitasi laut yang tak kenal ampun. Namun, tepat saat pandangannya mulai mengabur dan kesadarannya nyaris terputus, sebuah cengkeraman kuat melingkari pinggangnya.Seseorang dengan perlengkapan selam lengkap sedang membawanya bergerak menjauh dari zona ledakan, menyelinap

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   47. TOPENG YANG RETAK

    Cahaya fajar di ufuk timur merayap lambat, mewarnai langit dengan semburat jingga yang tampak seperti luka yang baru mengering. Di atas dek kapal nelayan yang berguncang pelan mengikuti ritme ombak, Derana merasa waktu seolah membeku. Bisikan terakhir Arash yang sekarat masih terngiang di telinganya, berputar-putar seperti gema di dalam gua yang gelap. “Jangan percayai dia... dia bukan saudara kembarku.”Derana menatap punggung pria yang berdiri kokoh di kemudi kapal. Pria yang selama beberapa jam terakhir ia anggap sebagai Julian sesungguhnya, sang penyelamat sekaligus aliansi terakhirnya. Namun sekarang, setiap detail pada pria itu tampak mencurigakan. Bagaimana cara ia bergerak, bagaimana ia tidak memiliki luka sedikit pun setelah ledakan gudang, dan yang paling mematikan—tato kecil di belakang lehernya yang menyerupai simbol ular yang menggigit ekornya sendiri. Simbol yang pernah ia lihat dalam dokumen hitam milik Haka sebagai tanda pengenal organisasi tentara bayaran elit, The Si

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   46. PERMAINAN DI BALIK TIRAI

    Dinding lorong fasilitas medis yang putih bersih itu kini tampak seperti jeruji penjara yang dingin dan steril di mata Derana. Setiap langkah kakinya yang pelan di atas lantai vinil terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang di telinganya. Di balik pintu kayu yang baru saja ia lewati, ia mendengar suara Guntur—pria yang ia anggap sebagai pelindung terakhirnya—sedang menyerahkan nyawanya kepada sang ibu, Elena, lewat seuntai kabel telepon satelit.Darah Derana seolah mendidih, namun ia tidak membiarkan amarah itu meledak di permukaan. Ia menarik napas panjang, memaksa paru-parunya untuk menghirup aroma antiseptik yang menyesakkan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang. Selama ini ia berpikir bahwa Julian Asli dan Julian Bayangan adalah pemain utama, namun kenyataannya, mereka semua hanyalah karakter dalam naskah horor yang ditulis oleh ibunya sendiri.Satu tahun. 365 hari.Derana menyadari bahwa seluruh pernikahannya, kontraknya, ledakan

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   45. PERMATA DI BALIK RERUNTUHAN

    Dunia tidak berakhir dengan dentuman yang megah, bagi Derana, akhir dunia terasa seperti kesunyian yang mencekik, sebuah kekosongan absolut di mana suara napasnya sendiri pun terdengar seperti teriakan yang asing. Ledakan granat Haka di dalam gudang tua itu tidak hanya meruntuhkan struktur kayu yang melapuk, tetapi juga merobek sisa-sisa kemanusiaan yang masih mencoba bertahan di sudut hati Derana.Debu tebal, panas yang menyengat, dan aroma sulfur yang menyumbat tenggorokan adalah hal pertama yang ia sadari saat kesadarannya kembali perlahan. Derana merasa tubuhnya tertimbun sesuatu yang berat namun hangat. Saat ia membuka mata, yang pertama kali ia lihat bukanlah langit malam, melainkan punggung lebar Julian yang melindungi tubuhnya. Pria itu meringkuk di atasnya, menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng hidup dari runtuhan beton dan serpihan kayu yang berterbangan.“Julian...” suara Derana hanya berupa bisikan parau yang hilang ditelan debu.Pria itu bergerak sedikit, mengerang te

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   44. PERJAMUAN DI AMBANG KEGELAPAN

    Malam di dermaga lama tidak pernah benar-benar sunyi—ada simfoni kematian yang dimainkan oleh deru ombak yang menghantam tiang-tiang pancang beton yang mulai keropos, serta siulan angin laut yang membawa aroma garam bercampur karat logam dan minyak solar yang tumpah. Derana berdiri di ujung dermaga, siluetnya tampak tajam di bawah siraman cahaya yang tampak pucat. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak teratur, sebuah genderang perang yang berdenyut di balik dadanya yang sesak. Di tangan kanannya, ia mencengkeram tas kecil yang berisi dokumen-dokumen yang ia ambil dari brankas rahasia ayahnya, sementara tangan kirinya tak lepas dari saku coat wol panjangnya, menyentuh permukaan dingin pistol yang kini terasa seperti bagian dari anatomi tubuhnya sendiri. Derana bukan lagi wanita yang takut pada kegelapan—ia adalah kegelapan itu sendiri. “Kau datang tepat waktu,” suara itu muncul dari balik tumpukan kontainer karatan di sisi kiri dermaga. Suara yang seharusnya familiar, namun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status