LOGINMax yang sudah diamankan oleh pihak berwajib hanya bisa terdiam atas reka adegan semua yang terjadi beberapa waktu lalu. Untuk pertama kalinya Max melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia miliki. Sejak awal Bagas sudah menang. Mau seterpuruk apa pun yang ia lakukan, Bagas akan selalu kembali menjadi pribadi yang kuat bahkan jauh lebih bahagia.Max mendekati Rosa awalnya karena dia memang tertarik. Namun, ketika tahu wanita itu adalah istri seorang Bagaspati Ekawira niat jahat itu akhirnya muncul. Max memanfaatkan ketidakpuasan Rosa pada suaminya dan memang sengaja mengatur waktu supaya Bagas memergoki mereka yang sedang melakukan ritual ranjang di tempat yang biasanya mereka lakukan.Max tertawa terbahak. Namun, semua rencana yang telah disusunnya ternyata juga meleset. Perpisahan Bagas dan Rosa tidak serta merta membuat pria itu mengalami kehancuran. Pria itu bahkan menikah lagi dan Daya malah membuat Bagas semakin bertambah kuat. Ya, Max iri. Karena Bagas sela
Bagas memilih tidak melibatkan Raka di garis depan. Kali ini Bagas yang akan maju mencari tahu ke sumbernya langsung. Bagas yang akan turun tangan. Dia yang harus menyelesaikan semuanya. Karena ini masalah keluarganya.Bagas menempuh waktu kurang lebih satu jam perjalanan menuju alamat yang diberikan. Sebuah gudang tua di pinggiran kota menjulang dalam kesunyian. Lampu-lampu sebagian besar mati. Hanya beberapa cahaya redup yang masih menyala. Pintu besi di belakangnya mendadak tertutup dengan sendirinya.Braaak!Namun, Bagas tidak terkejut. Karena ia sudah bisa menduganya. “Keluar ….” Suara Bagas bergema. “Aku datang sesuai dengan permintaanmu.”Lalu, terdengar suara tepuk tangan pelan dari lantai dua. Sosok pria dalam bayangan pun muncul. “Apa kabar, Gas?”Bagas mendongak. Max sudah berdiri di sana. Tersenyum. Tanpa topi. Tanpa menggunakan masker. Tanpa pakaian serba hitam. Tanpa pula berusaha menyembunyikan kedoknya.“Gimana keadaan Daya?
Kesadaran Daya kembali perlahan. Langit-langit berwarna putih dan aroma obat membuat dirinya tersadar. Daya menoleh sesaat. Suara mesin monitor yang berdetak pelan di sebelah kanannya semakin memperjelas saat ini dirinya sedang tidak berada di rumah.Lalu, ingatan terakhirnya pun datang. Tangannya mulai gemetar. Daya refleks meletakkan telapak tangannya di atas perut. Ada kelegaan bercampur tangisan. Masih ada.“Sayang ….”Seorang pria yang entah sejak kapan duduk di samping ranjangnya itu mengumbar senyum tampannya di sana. Wajahnya tampak kelelahan. Matanya kemerahan karena kurang tidur. Namun, tangannya tetap menggenggam jemari Daya tanpa berniat melepaskan.“Aku minta maaf.” Daya mulai menangis. “Aku kurang berhati-hati.”Bagas menggeleng pelan, “Kamu nggak salah apa-apa. Kamu itu ibu yang kuat.”“Aku panik, Mas.”Daya menggigit bibirnya. Bayangan kejadian beberapa
Bagas sudah tidak mempedulikan lagi keadaan sekitarnya. Ia hanya menerobos masuk area IGD, mencari siapa pun yang dikenalnya. Kemudian ketemulah Nagisa dan Ratih yang sudah duduk dengan rasa letih di depan pintu yang sudah tertutup rapat.“Papa ….” Nagisa langsung menjulurkan tangannya memeluk Bagas. Dan, dengan pasrahnya menangis saat sang papa menggendongnya erat, “Nagi takut,” katanya lirih.“Sudah nggak apa-apa. Bunda di dalam?” tanya Bagas dan langsung dibalas anggukan oleh Nagisa, “Papa masuk dulu, ya. Tunggu di sini dulu sama mba Ratih.”“Pak Bagas ….” Ratih memberikan amplop putih pada Bagas, “Ini amplop yang dipegang ibu.”Bagas mengangguk kemudian masuk ke dalam. Dunianya berubah runtuh ketik melihat Daya terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya memucat. Pergelangan tangannya sudah dipenuhi selang infus. Yang penting sekarang istrinya itu dalam keadaan baik-ba
“Apa maksudmu?”“Aku pikir selama ini cuma aku yang terlalu sensitif, tapi tampaknya aku salah.”Ingatan Rosa berlarian mencoba menyusun puzzle yang sempat ia abaikan. “Apa kamu masih ingat kejadian Nagisa yang mendadak minta pulang saat menginap di rumahku? Sebenarnya, ada sesuatu yang sempat terjadi di sana.”Suara Rosa terjeda sesaat karena menyeruput es kopi yang sudah mencair sejak tadi. Lalu, ia pun kembali melanjutkan, “Aku terlibat pertengkaran dengan Max di malam sebelum Nagisa minta pulang. Aku memergokinya sedang menatap foto Daya. Dia punya beberapa foto Daya di ponselnya.”Beberapa? Bagas mengeraskan rahangnya. Itu artinya kejadian kemarin bukan yang pertama. Itu artinya bedebah siàlàn itu sudah lama diam-diam mengawasi Daya jauh sebelum istrinya itu hamil. Tanpa sadar Bagas mengepalkan tangannya karena sekarang semuanya sudah jelas dan nyata. Suami Rosa memang benar adalah orangny
Daya masih memandangi layar ponselnya dalam diam setelah panggilan telepon terputus. Dahinya mengernyit. Bagas bukan tipikal yang suka meninggikan suara, dan jika sampai itu terjadi biasanya karena dirinya yang suka membantah. Namun, entah kenapa perasaan Daya mengatakan memang sesuatu sedang terjadi tanpa ia ketahui.“Bu Daya ….” Ratih yang berdiri di sampingnya terlihat ragu-ragu. “Apa bapak marah?”Daya mengembuskan napas panjang. “Nggak tahu. Kamu tahu sendiri bapak nggak pernah ngomong kenceng di rumah. Pasti ada yang nggak beres.” Daya menggeleng pelan berusaha menata kembali suasana hatinya. “Kita masuk lagi, yuk!”Ratih tampak kebingungan. “Bukannya tadi Ibu bilang taksinya sudah dekat? Nanti supirnya malah kebingungan mencari kita.”“Taksinya sudah kubatalkan, Rat. Sudah, ya aku lagi nggak mood membahas apa pun lagi.”Mendengar itu Ratih akhirnya m







